Radmila hendak membayar makanannya begitu melihat Willy melintas di depannya. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan mengekori pria itu. “Bang… tunggu, Bang.” Radmila langsung menggapai lengan kemeja Willy yang terlipat sesiku. “Ada apa? Kamu mau cari Jini lagi?” tanya Willy tanpa basa-basi. Radmila menyengir. “Tahu aja, Abang ini. Gimana kabar adikku, Bang? Aku kangen sama dia.” “Tapi dia nggak kangen sama kamu,” jawab Willy dingin. “Tolong jangan ganggu dia lagi.” Radmila jelas tersinggung dengan sikap Willy yang seolah memiliki hak atas Radjini. Padahal dirinyalah keluarga Jini yang sebenarnya. Tangan Radmila terkepal di sisi tubuh, begitu pun dengan raut wajahnya berubah menahan amarah, ia masih tahu diri di mana saat ini berada. Bisa-bisa ia akan diusir dari sini dengan tidak h

