“Kamu kangen dengan siapa?” tanya Agha begitu mereka tinggal berdua di kamar. Agha membuka kemeja kerjanya dengan santai di depan Radjini yang duduk di tepi ranjang dengan satu kali terlipat sebelah, apa yang dilakukan oleh Agha membuat wajahnya merona. “Kangen siapa ya?” Radjini bingung mengutarakan karena ia lupa dengan pemilik paras yang melintas di benaknya. Agha tersenyum tipis menatap raut kebingungan pada Radjini yang masih sering menyorot kosong. “Coba diingat-ingat kangen siapa.” Agha harus ekstra sabar, mengingat masih banyak kepingan yang sama sekali dilupakan oleh Radjini. Radjini menggeleng dan kemudian menunduk dalam seraya meremas jempol kakinya sendiri. “Aku nggak tahu namanya. Tapi kangen, d**a Ini sakit di sini kalau ingat,” ujarnya kini seraya menepuk d**a.

