Radjini gentar, ia mulai kebingungan untuk menghadapi pria yang berada dalam satu mobil dengannya ini. Sorot tajam serta intonasi bicaranya tadi seolah sedang menahan amarah dan cemburu. 'Benarkah begitu, cemburu?' Radjini memutus pandangan mereka dan memalingkan wajahnya. Ia bingung dengan dirinya yang bisa menganalisis sosok ini, seharusnya ia merupakan orang asing, bukan? Sementara selama ini yang ada di dalam benaknya hanya berpusat pada anaknya yang entah berada di mana. Radjini melarikan sorot matanya tak fokus entah apa yang dilihatnya di luar sana. Sedangkan mobil masih melaju sedikit melambat karena kemacetan. Radjini tersentak saat dagunya terapit jari ramping nan harum dan dipaksa untuk kembali saling bertukar pandang dengan sorot tajam yang mulai sedikit melembut. “Kamu belu

