“Perkembangan Niha sudah cukup siknifikan. Untuk obatnya sudah bisa dihentikan, boleh diminum kalau benar-benar perlu saja. Hanya saja tetap harus sedia nebulizer untuk pertolongan pertama ya, Mbak.” Asparini tersenyum lebar setelah saling bertukar tatapan dengan Surya. Lega jelas, cucunya sudah membaik. “Terima kasih, Dokter.” Dokter Aryo mengangguk. “Sama-sama. Sekarang Niha sudah bisa pulang dan nggak perlu sering-sering ketemu Dokter lagi ya.” Dokter Aryo yang merupakan Dokter Spesialis paru-paru segera menggapai tubuh kecil Niha yang anteng duduk di atas ranjang priksa segera meraih boneka barbienya dan menyambut uluran tangan Dokter itu. “Niha cembuh?” tanyanya. “Iya,” jawab Dokter seraya menurunkan tubuh mungil itu. “Beneyan?” “Benar.” Niha menatap wajah Dokter yang sudah ha

