Radjini pikir, saat ini adalah waktu yang paling tepat bertemu sumber kewarasaannya. Titik yang dirinya ingin tuju saat usaha kabur dari Rumah Sakit Jiwa berjalan tak semulus yang ia harapkan. Sudah hilang akal, nyaris diculik dan diperkosa bukanlah suatu pengalaman indah yang harus diceritakan, bahkan diingat pun membuat batin bergetar hebat. Luka yang tak terlihat itu kembali mengangga. Pria yang sudah berjanji untuk membantunya sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Radjini tahu dirinya dipermainkan dan Agha walau masih sering membuat dirinya waspada jelas membuktikan ucapannya. Radjini bingung menguraikan perasaannya saat ini. Mobil mewah Agha sudah memasuki halaman luas yang sepertinya tak berujung. Radjini rasanya belum pernah masuk ke pekarangan rumah orang yang halaman d

