Aryo tak bisa lagi menahan dirinya tetap berada di hotel. Sungguh, sejaka pertemuan dirinya dengan gadis itu, rasanya ia tak bisa berhenti memikirkannya. Ia seakan masih tak menyangka semua ini akan terjadi. Maksudnya, jika dirinya tidak pergi untuk kebutuhan bisnisnya ke Manado, maka ia tak akan pernah bertemu dengan Hasya bukan? Namun, ini semua seperti sudah ada yang mengatur, dirinya ditakdirkan untuk bertemu dengan Hasya di sini. Seakan-akan Tuhan memberitahukan keberadaan gadis itu lewat dirinya. “Ah! Sh-it!” ucapnya seraya mendudukan tubuhnya di atas kasur. “Hasya … masih hidup ternyata. Astaga … ini kesempatan yang baik, gak boleh disia-siain! Lo harus gerak cepet, Yo!” lanjutnya pada diri sendiri. Setelah itu, ia pun menyambar jaket kulit yang tergantung di dekat lemari. Ia men

