Randu menggendong tubuh Jinan masuk ke dalam kamarnya. Ia pun membaringkan tubuh istrinya itu dengan sangat hati-hati seakan takut menyakitinya. “Gimana ini, Kak?” tanya Randu kepada Kak Kia dengan khawatir. Ditatapnya wajah Jinan yang masih memejamkan matanya. Tangan Randu dengan perlahan terangkat untuk mengelus pipi istrinya. “Hei, bangun.” “Sebentar, Kakak ambilkan minyak kayu putih dulu,” Kak Kia pun berjalan keluar kamar Randu. “Kenapa tiba-tiba Jinan pingsan?” tanya Bang Danu penasaran. “Dan tadi, Pak Aryo sepertinya mengenal Jinan.” Randu memejamkan matanya mendengar hal itu. “Jangan bahas pria itu lagi, Bang!” kesalnya. “Ndu, yang kamu lakuin itu salah. Kamu memukulnya astaga, bagaimana kalau dia tidak mau menerima kita?” Randu menatap tajam abang iparnya itu. “Randu tak pe

