"Ma ... gimana? Udah enak, kan?" tanya Bagas seraya mengelus rambut istrinya yang tengah berbaring di atas ranjang. “Hasya! Mana Hasya?!” Mata wanita itu melirik ke segala penjuru kamar. Mencari sang putri. Tetapi, ia tak menemukannya. Hanya ada dirinya dan juga suaminya di kamar ini. “Ada, Ma. Ada …” jawab Bagas. “Ini nggak mimpi, kan, Pa?” tanya Wulan dengan mata yang berkaca-kaca. “Hasya kita masih hidup, kan, Pa?” lanjutnya dengan suara yang begitu lirih. Bagas tersentuh melihat keadaan istrinya saat ini. Ia benar-benar tak bisa melihat keadaan istrinya sekarang. “Iya, Ma … Hasya kita ada … dia ada … dia hidup. Semuanya bukan mimpi,” jawabnya. “Dia … beneran sudah menikah dengan pria itu?” ucap Wulan dengan pelan. Matanya menatap kosong langit-langit kamar. Ia berharap semuanya

