Sepanjang lorong yang ramai, sepasang suami istri paruh baya tengah berjalan cepat untuk sampai ke tempat yang menjadi tujuan utama. Mereka mendapat kabar bahwa telah ditemukan salah satu penumpang pesawat dalam keadaan hidup, tapi penumpang tersebut mendapatkan luka yang cukup berat.
"Mana Hasya? Mana Hasya, pak?!" ucap wanita paruh baya itu ketika mendekati seorang polisi yang tengah berjaga di depan pintu rawat.
"Sudah ditangani dokter, bu, tapi kami belum tau penumpang itu Hasya atau bukan, karena tidak ada identitas yang kami temukan. Dan kami juga sudah menelepon beberapa keluarga korban lain yang juga sedang mencari keberadaan korban agar mereka pun segera datang ke sini."
Wulan melihat ke arah kaca ruang ICU. Di sana terlihat jelas seorang wanita tengah berbaring dengan alat - alat medis di tubuhnya. Dan kaki Wulan terasa lemas seketika ketika melihat wajah wanita itu.
"Dia bukan Hasya," gumamnya pelan. Wanita itu terduduk lemas sambil menyenderkan punggungnya di tembok. "Itu bukan Hasya."
"Permisi pak, kami mendapat kabar dan disuruh untuk ke sini." Seorang wanita berusia 70 tahunan berjalan cepat mendekati polisi yang sedang berjaga ditemani oleh seorang anak lelakinya. "Dia anak saya, pak, dia Reyna anak saya," ucap wanita dengan tangis harunya.
Elusan lembut Wulan rasakan di kedua lengannya. Wanita paruh baya itu menoleh dan langsung memeluk suaminya dengan erat. "Mana Hasya, Pa?!" ucapnya dengan histeris. "Bawa Hasya pulang, Pa! Hasya masih hidup kan? Mama mau Hasya ..."
"Ma ... kita berdoa terus supaya Hasya baik-baik saja dan cepat ditemukan." Tangan kekar milik pria itu yang sudah termakan usia mengelus pelan kepala istrinya dengan sayang. "Kita harus optimis kalau Hasya pasti akan ketemu."
"Apa ... Hasya masih hidup? Ya Tuhan ... dia anakku satu-satunya ... dia putriku ... jangan ambil dia dulu, dia masih muda ..."
"Ma ..."
"Hasya masih hidup! Mama yakin Hasya masih hidup! Hasya gak mungkin meninggal ... dia gadis yang kuat ... dia gak mungkin pergi ninggalin kita, Pa!"
Sepasang suami istri itu tengah dilanda ketakutan yang begitu hebat. Sejak ada kabar jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh putri mereka terdengar dimana-mana, hingga saat ini belum ada korban yang ditemukan atas nama putrinya. Mereka hanya ingin putri mereka dapat ditemukan ... dalam keadaan hidup ataupun sudah tak bernyawa lagi.
•••••
"Loh, ini 4 ditambah 5 dikurangi 3 masa hasilnya 7, salah ini, sayang ..." ucap Jinan seraya menunjuk hasil penjumlahan dan pengurangan yang sudah diisi oleh Cantika.
Gadis kecil itu cemberut. Lalu ia menggaruk kepalanya sendiri. "Terus berapa? Aku udah ngitung betul-betul tau."
"Coba hitung lagi, matematika itu emang harus teliti banget, kalau nggak ya gini hasilnya, Cantika," kata Jinan dengan senyumannya yang lebar.
Malam ini, ditemani oleh sebuah lampu minyak yang tamaran, Jinan tengah membantu Cantika mengerjakan tugas sekolahnya. Walaupun dalam keadaan yang tak begitu terang, tetapi Cantika dengan semangatnya belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Bahkan gadis kecil itu langsung meminta kepada Jinan sendiri agar mau menemaninya belajar. Dan Jinan pun tak bisa menolaknya karena ia juga suka melihat antusias Cantika dalam belajar yang begitu besar.
"Nih sini aku bantuin ngitung ... 4 ditambah 5, 4 jari ditambah 5 jari jadi ada berapa sekarang?" ucap Jinan seraya memperagakannya dengan menunjukkan jari-jari tangannya ke hadapan Cantika.
"Satu ... dua ... tiga ... empat ... ehm, sembilan!" Cantika berucap dengan semangat.
"Nah betul, sekarang kita kurangi 3, jarinya dilipat tiga biar hilang, nah kamu hitung lagi sekarang sisanya berapa?”
Cantik kembali menatap jari-jari tangan Jinan dengan teliti. Lalu ia menghitungnya dengan semangat yang menggebu. “Satu ... dua ... tiga ... ada 6, Kak!”
“Nah, pintar! Ya ampun pintar banget sih anak ini,” ucap Jinan sambil tersenyum lebar. Ia pun membawa Cantika ke pangkuannya. Lalu ia memeluk gadis kecil itu dengan erat. “Kamu inget-inget ya, nanti ngitungnya gitu aja, biar gak salah lagi.”
Cantika mendongak menatap Jinan dengan senyumannya yang mengembang. “Aku mau belajar lagi!”
“Iya, boleh dong, sayang! Mana lagi pr-nya yang belum?”
“Ini ... masih banyak banget, Kak ...” ucap Cantika dengan nada lesu.
“Gak apa-apa kita kerjain satu-satu nanti juga selesai.”
Mereka tak menyadari bahwa kegiatan mereka ada yang memantau. Ya, Kia dan Randu diam-diam menatap kebersamaan antara Jinan dan juga Cantika di balik tembok. Sesekali, mereka melirik untuk melihat apa saja yang tengah Jinan dan Cantika lakukan. “Mereka sudah sangat dekat, Kakak nggak pernah melihat Cantika semanja dan sedekat ini sama orang asing.”
Randu menoleh dan menatap wajah kakaknya dengan lamat.
“Kalau ada keluarga Jinan yang mencarinya ... terus Jinan harus pergi, bagaimana dengan Cantika? Pasti dia begitu kehilangan, kemarin saja waktu Jinan hilang ... dia menangis gak mau berhenti, Ndu.”
“Kita lihat saja nanti ke depannya gimana, Kak.”
“Kamu beneran mau lapor ke kepala desa tentang Jinan?” tanya Kia.
“Ya harus, Kak. Kita memang harus melapor, supaya nanti jika ada yang mencarinya ... Jinan langsung bisa dikembalikan, apa lagi dia sekarang gak ingat apapun, pasti dia juga sedang kebingungan sekarang,” jawab Randu.
“Nggak usah lah, Ndu ... Jinan tuh baik banget, terus juga anaknya mudah diajak berbicara, sopan, pasti itu yang bikin Cantika nyaman sama dia ... Kakak gak bisa bayangin nanti kalau Jinan benar-benar sudah ditemukan oleh keluarganya ... Cantika pasti sedih banget.” Kia menatap hamparan laut di malam hari yang begitu indah. Kedua tangannya menyilang saling mengusap karena ia merasa udara malam sangat dingin.
“Nanti juga akan terbiasa, Kak.”
Kia menatap adik laki-lakinya itu dengan kesal. Selalu saja jawaban Randu seperti itu. Adiknya itu benar-benar tak peka dengan apa yang ia bicarakan. Rasanya Kia ingin sekali menabok kepala Randu sekarang juga. Dari dulu memang Randu iu menyebalkan, Kia pun sampai sekarang bingung menghadapi adiknya sendiri yang sangat susah sekali ditebak orangnya.
“Kenapa marah gitu?” tanya Randu bingung.
“Tau ah, tanya tuh sama tembok!” ucap Kia kesal. Ia pun langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Randu sendiri di depan.
Randu mengernyitkan dahinya. Ia menghela napasnya dengan berat. Merepotkan sekali menjadi perempuan, mereka selalu saja ingin dimengerti. Randu memijat pelipisnya dengan cukup kencang. Sudahlah, ia tak ingin memikirkannya lagi. Semua itu hanya membuatnya pusing.
Ketika Randu berbalik, ia langsung dikejutkan oleh Jinan yang ternyata sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu menatapnya dengan lekat. “Astaghfirullah ...” ucap Randu pelan.
“Kenapa? Kayak ngelihat setan aja,” ucap Jinan.
“Iya, kamu setannya. Ngapain tiba-tiba di sini?” tanya Randu.
Jinan berjalan menuju pagar rumah panggung itu. Kedua tangannya langsung menyentuh pagar yang terbuat dari kayu, dan ia tersenyum merasakan sensasi dingin yang menyapa kulitnya. Lalu, ketika ada hembusan angin yang berasal dari laut menerpa tubuhnya, Jinan pun memejamkan matanya ... menikmati udara dingin yang membuatnya merasa segar kembali.
Randu terdiam. Ia menatap gadis itu dari samping. Matanya tak bisa berkedip melihat bagaimana indahnya ciptaan Tuhan di hadapannya kini. Rambut hitam Jinan yang bergelombang terbang-terbangan dengan acak mengikuti arah angin. Wajah gadis itu yang terlihat sangat menikmati karena memejam begitu erat membuat Randu tak ingin melepaskan pandangannya dari gadis itu.
Kadang, Randu berpikir ... siapa sebenarnya Jinan? Siapa keluarga gadis itu? Kalau dilihat dari wajah dan juga perawakan gadis itu sepertinya Jinan bukanlah gadis yang berasal dari keluarga sembarangan. Ia juga sempat menemukan beberapa perhiasan di tubuh Jinan saat ia menemukan gadis itu. Dan sampai saat ini ... ia masih menyimpannya. Tak tahu kapan akan ia kembalikan ... tapi secepatnya akan Randu kembalikan kepada Jinan.
“Aku cantik, ya?”
Tatapan Randu yang tadinya sedang menatap wajah Jinan langsung teralihkan ke arah lain setelah gadis itu menoleh dan memergoki dirinya tengan memperhatikannya. “Semua perempuan memang cantik,” jawab Randu seadanya.
Wajah Jinan yang tadinya tersenyum lebar langsung berubah menjadi datar. Bibirnya mengerucut sebal. “Jujur aja, aku emang cantik kok,” ucap Jinan dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Ia sengaja ingin menjahili pria di hadapannya kini.
Randu malas menghadapi ocehan Jinan, ia pun ingin beranjak pergi. Namun, Jinan langsung menahan tangannya yang membuat pria itu langsung menatapnya dengan cepat.
“Oh, ehm, maaf,” ucap Jinan seraya melepaskan tangannya dari tangan Randu. “Kamu mau kemana? Kenapa pas aku keluar malah kamu pergi ke dalam?” tanya Jinan dengan kening yang mengerut bingung.
Randu menghela napasnya. “Mau kerja. Bang Danu pasti sudah menunggu.”
“Malam-malam begini?!”
“Iya, nelayan kan memang kerja malam.”
Jinan mengangguk pelan. Ia tersenyum lebar menatap Randu. “Aku pikir ... kamu masih marah terus berusaha menghindariku.”
“Pemikiranmu itu terlalu jauh,” jawab Randu. “Masuk ke dalam. Udara malam nggak bagus buat kesehatan.”
Senyuman Jinan semakin lebar. Ia merasa Randu sudah perhatian kepadanya. “Ih, nggak usah repot-repot kasih perhatian gitu, kan aku jadi malu.”
Randu heran melihatnya. Kenapa Jinan sekarang menjadi seperti gadis yang kurang kasih sayang seperti ini? “Siapa yang kasih perhatian sama kamu?” ucap Randu. “Kalau pun ada nenek-nenek yang berdiri di sini malam-malam, saya juga bakalan bilang hal yang sama ke dia.”
Senyuman di wajah Jinan langsung luntur. Berganti dengan wajah kesal dengan bibir yang cemberut. “Nyebelin banget sih, gak bisa apa bikin aku senang sedikit aja!” Dengan cepat, Jinan pun pergi dari hadapan Randu.
Pria itu langsung terdiam. Memangnya dia salah bicara? Randu pun langsung menggeleng pelan. Ah, sudahlah ... memang semua perempuan merepotkan. Namun, kenapa dari lubuk hatinya yang paling dalam, Randu merasakan perasaan senang ketika Jinan bersikap seperti tadi kepada dirinya? Tidak, ini semua hanya perasaan biasa, pikir Randu dengan cepat.