Saat matahari mulai terbit, Jinan tak ada hentinya melakukan kegiatan yang mengasyikan walaupun hanya sebatas di sekitaran rumah saja. Misalnya, saat pagi ia sudah harus bangun pagi sekali untuk membantu Kak Kia memasak sarapan. Lalu setelah itu, ia membantu Kak Kia mencuci baju-baju kotor. Sebenarnya, ia tak bisa melakukan hal itu. Ia tak tahu caranya sama sekali, namun Kak Kia dengan telaten mengajarinya.
Ia banyak belajar dari wanita itu. Kak Kia dengan sabar dan telaten mengajarinya semua pekerjaan rumah. Sebetulnya, Kak Kia sudah melarang dan tidak ingin dibantu olehnya. Namun, tetap saja Jinan memaksa, karena ia merasa bahwa dirinya hanya berdiam diri saja itu artinya ia adalah manusia yang tidak tahu diri. Sudah hidup menumpang, masa semuanya harus dikerjakan oleh pemilik rumah, Jinan merasa tak enak hati. Lagi pula, ia menikmati semua yang ia lakukan.
Dan siang ini, di bawah matahari yang terik, Jinan sedang bermain bersama Cantika di depan rumah. Mereka membangun sebuah istana pasir kecil. Jinan tersenyum melihat Cantika yang begitu senang ketika melihatnya tengah menyusun pasir hingga membuat sebuah gundukan yang besar. "Ini aku buat sebuah jembatan, biar nanti bisa masuk ke istananya."
"Wah, bagus, Kak!" Cantika memperhatikannya dengan seksama. Gadis kecil itu bahkan sudah duduk di sampingnya dan terus melihat dirinya menyusun pasir seakan tak ingin tertinggal satu detik pun.
“Ini nanti kita pake pelepah pisang buat jembatannya,” ucap Jinan.
“Cantika ...”
Kedua perempuan berbeda usia itu langsung menoleh. Dan mereka pun langsung tersenyum melihat siapa yang memanggil. Jinan menatap Cantika yang kini sudah berdiri dan berlari menuju orang yang memanggilnya. Sedangkan dirinya, ia merapikan bajunya yang sudah dipenuhi pasir, lalu ia berdiri meskipun tetap pada tempatnya.
“Ayah!” teriak Cantika saat sudah berada digendongan Ayahnya. “Ibu, Ayah pulang, Bu!” lanjutnya dengan suara yang tak kalah kencangnya.
“Iya, sayang ...” Kia berjalan keluar dari rumah. Ia menuruni anak tangga dengan cepat, setelah itu ia berjalan menuju suami dan anaknya. Pemandangan itu tak lepas dari tatapan seseorang, siapa lagi kalau bukan Jinan.
Gadis itu menatap kebersamaan yang terjalin di keluarga kecil Kia dengan tatapan sayu. Bibirnya melengkung membuat senyuman kecil saat melihat bagaimana Bang Danu mencium kening istrinya dengan lembut dan mereka berpelukan bertiga bersama anak mereka. Ah, keluarga kecil yang bahagia. Jinan jadi berpikir ... mungkin kalau dirinya memiliki suami, apa dia juga akan diperlakukan sama seperti Kak Kia saat ini? Membayangkannya saja membuat bulu kuduknya meremang.
“Sudah dikunci, Bang!”
Tatapan Jinan teralihkan. Matanya kini menatap seorang pria yang berjalan mendekat dari arah pesisir pantai. Jinan menebak, sepertinya pria itu habis mengurus perahu yang berada tak jauh dari mereka. Perahu yang digunakan untuk menangkap ikan, Jinan melihat ukurannya pun tak terlalu besar dan tak terlalu kecil.
Lalu, matanya membelalak saat melihat pria itu membuka kaos yang dipakainya sampai menampakkan tubuh yang tak terlalu kekar namun memiliki otot yang menonjol di bagian lengan dan juga perutnya. Jinan ingin mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun pemandangan yang kini ia lihat terlalu indah untuk dilewatkan. Tubuh Randu yang memiliki kulit kecoklatan terlihat sangat indah di bawah sinar matahari siang yang begitu terik.
Sampai akhirnya, pria itu memergoki dirinya tengah terang-terangan menatapnya. Sontak, Jinan langsung membuang pandangannya ke arah lain. Ia memejamkan matanya malu. Seperti seorang kucing yang ketahuan mengambil ikan dari dalam rumah. Jinan tak tahu harus melakukan apa sekarang, kakinya mendadak kaku dan tetap berdiri di tempatnya, padahal ia ingin sekali pergi dari sana.
“Jinan ... ayo masuk, kita makan siang dulu.”
“Ah, iya ... iya, Kak,” jawabnya dengan cepat.
“Ayo, Kak Jin,” ucap Cantika yang kini sudah berada di sebelahnya. Lalu, gadis kecil itu menggenggam tangannya dengan erat dan menariknya agar bisa ikut bersamanya.
“Kok kamu panggil aku Jin, sih, kan aku manusia, bukan Jin, Cantika,” ujar Jinan dengan kening mengerut.
“Lucu, Kak ... emang nama Kakak kan Jinan, yaudah mulai sekarang ... aku panggil Kakak ya Kak Jin.”
Jinan tersenyum kecil. Ia mengacak lembut rambut hitam panjang gadis kecil itu. “Iya iya ... terserah kamu.”
“Ih, Kak Jin, rambut aku baru aja disisir, sekarang udah acak-acakan lagi.”
Kekehan pelan terdengar dari bibir Jinan. “Iya deh, maaf ya ... abisnya kamu gemes banget. Eh, pelan-pelan aja naik tangganya, nanti jatuh, Cantika!” Jinan memperingati gadis kecil itu yang langkahnya cepat saat menaiki tangga rumah panggung mereka.
Saat sudah sampai di dalam, Jinan menatap yang Kia tengah menyiapkan makanan di atas karpet. “Sini aku bantu, Kak,” ucap Jinan seraya mengambil tumpukan piring dari tangan Kia. Jinan tersenyum lembut menatapnya, lalu ia menaruh piring itu satu-satu di atas karpet.
“Nggak usah, Nan. Ini udah selesai juga, kamu duduk aja di situ sama Cantika.” Kia berkata dengan lembut.
“Gak apa-apa, Kak. Jinan suka kok bantuin Kak Kia begini,” jawabnya dengan cepat.
“Ih, Kak Jinan sini duduk!” Cantika menarik tangannya hingga ia duduk di samping gadis kecil itu.
“Cantika ... gak boleh begitu, gak sopan!”
“Gak apa-apa, Kak,” ucap Jinan seraya menggeleng pelan dengan senyuman kecil. Tangannya bergerak mengelus lembut pipi gembul milik Cantika. “Cantika pasti mau makan deket sama aku, ya?”
Cantika mengangguk. Gadis kecil itu langsung memeluk perut Jinan dengan posesif. “Aku kan cuma mau makan sama Kak Jin, Bu.”
Kia menghela napasnya pelan. “Iya gak apa-apa ... tapi jangan asal tarik begitu, Kak Jinannya kaget. Minta maaf sekarang ... kalau dia marah sama kamu gimana hayo?”
Bibir Cantika langsung mengerucut mendengar ucapan ibunya. Kepalanya mendongak menatap wajah Jinan yang kini tengah menatapnya juga. “Maaf ya, Kak Jin. Cantika nggak akan ngulangin lagi, jangan marah sama aku ... nanti aku nggak ada temen lagi.”
Dengan gemas, Jinan mencubit pelan pipi Cantika, lalu menciumnya dengan lembut. “Nggak kok, aku gak marah, jangan cemberut gini ah, cantiknya hilang!”
Cantika langsung tersenyum lebar. “Tuh, Bu ... Kak Jin gak marah sama aku!”
“Lain kali jangan begitu.”
“Kak Kia dulu ngidam apa sih waktu hamil Cantika? Kok jadi lucu gemesin gini sekarang,” ucap Jinan seraya memangku Cantika di pengkuannya.
“Dia tuh ribet pas hamil, Nan ... makanya pas lahir anaknya jadi pecicilan gini.”
Jinan menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sudah menjawab pertanyaannya. Ternyata itu Bang Danu. Namun, ia menyesal sekarang ... seharusnya ia tak menoleh ke belakang. Jadinya, ia kembali menatap Randu yang kini tengah menatapnya juga. Apalagi, pria itu masih bertelanjang d**a dan hanya menggunakan celana jeans belel berwarna hitam. Cepat-cepat, Jinan mengalihkan pandangannya lagi. Ia pun menatap hidangan makanan di hadapannya. Itu lebih baik.
“Kalau kamu jadi Abang dulu ... aduh ... udah deh nggak bakalan sanggup,” lanjut Bang Danu.
“Oh, jadi kamu nggak ikhlas sekarang?” tanya Kak Kia dengan wajah yang sudah jutek. Kedua tangan gadis itu menyilang di perutnya.
“Eh, nggak gitu sayang ... kan cuma nginget-nginget masa-masa hamil kamu aja ...” ucap Bang Danu dengan cepat. Bahkan pria itu kini sudah menatap istrinya dengan senyuman yang begitu manis.
“Heleh ... alasan!”
“Ngidam itu apa Kak Jin?” Cantika mendongak menatap wajah Jinan.
“Ehm ... apa ya ... ngidam itu kayak permintaan ibu hamil, sayang ...” jelas Jinan.
“Kak Jin pernah ngidam?” tanya gadis kecil itu dengan polos.
“Hah? Nggak ... aku kan belum pernah hamil,” jawab Jinan.
“Oh ... begitu,” ucap Cantika sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Randu mandi duluan ya, Bang.” Pria itu langsung berjalan menuju kamar mandi. Setelah sebelumnya ia menyaksikan kedekatan antara perempuan asing dengan keponakannya. Hah ... benar apa yang dikatakan Kak Kia ... mereka sudah sangat dekat ternyata.
“Randu ... mana bajunya? Kok udah dibuka begitu, ada Jinan loh ...” ucap Kak Kia.
“Ck! Gerah, Kak ... udahlah mah cepet-cepet mandi, gak enak.” Pria itu pun sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
“Maafin Randu ya, Nan. Dia emang orangnya begitu.”
“Eh ... iya, Kak.” Jinan tersenyum kikuk.
“Ya udah sekarang kalian makan. Pasti udah lapar kan.” Kia ikut duduk bersama Jinan dan juga Cantika. “Abang mau mandi dulu atau makan?”
“Makan dulu deh, ada Randu juga di kamar mandi.”
Kak Kia mengangguk. Dengan telaten wanita itu menyiapkan makanan untuk suaminya. Dan ya ... semua itu tak lepas dari penglihatan Jinan. Ia berharap ... di masa depan ... saat dirinya menikah kelak bisa menjadi istri seperti Kak Kia. Wanita itu benar-benar definisi ibu dan istri yang baik.
•••••
Matahari sudah hampir terbenam. Langit berubah warna menjadi jingga kekuningan. Angin berhembus dengan kencang dari arah laut membuat seorang gadis yang tengah menjemur pakaian langsung mengucek matanya karena kelilipan oleh pasir.
“Jinan ...”
“Duh ... perih, mataku perih!” ucapnya dengan panik. Ia terus mengucek salah satu matanya dengan kencang.
“Ya, jangan dikucek gitu, nanti matanya tambah sakit.”
“Terus harus digimanain lagi?! Ini udah sakit,” ucap Jinan kesal.
“Sini ... biar saya bantu.”
Jinan merasakan tangannya yang sedang mengucek matanya dipegang oleh seseorang. Lalu orang itu menarik tubuh mendekat. Dan salah satu tangan orang itu kini tengah membuka matanya yang kelilipan. Jinan mengerjap-ngerjap saat merasakan udara yang keluar dari bibir orang itu menerpa matanya. Beberapa kali sampai ia merasa sudah agak mendingan.
“Udah? Masih sakit?” tanyanya.
“Udah gak terlalu. Terima kasih, Randu,” ucap Jinan dengan senyumannya yang lebar.
“Hm ... sekarang kamu ikut saya,” ucapnya seraya menatap wajah Jinan dengan lekat.
Kening gadis itu langsung mengerut dalam. “Kemana? Aku belum selesai menjemur pakaian,” jawab Jinan penasaran.
“Kita akan menemui kepala desa sekarang, saya harus melapor atas ditemukannya kamu di laut, supaya dia juga tahu bahwa ada orang asing di desanya. Dan juga ... kalau ada kabar apapun, dia pasti memberitahumu.”
Jinan menghela napasnya dalam. “Aku sudah betah di sini, ada Cantika, Kak Kia, Bang Danu ... mereka semua baik.”
Randu memutar bola matanya mendengar ucapan Jinan. “Apa kamu tidak ingin bertemu keluargamu? Apa kamu tak mau tahu siapa diri kamu sebenarnya? Apa kamu ingin terus menerus tak ingat siapa kamu dan tinggal di sini bersama kami yang hanya orang asing untukmu?!” ucap Randu kesal.
Jinan menundukkan kepalanya. “Jadi kalian menganggapku orang asing ya? Padahal ... aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku ... aku gak merasa kehilangan keluargaku ... karena itu semua tergantikan dengan hadirnya kalian, aku jadi tak ingin mengingat siapa keluargaku sebenarnya.”
“Jangan gila! Kamu gak mungkin tinggal di sini selamanya! Ayo ... ikut saya ke rumah kepala desa,” ucap Randu sambil menarik tangan Jinan agar gadis itu berjalan mengikutinya.
“Kamu tuh nggak seperti Kak Kia dan Bang Danu ya, mereka baik ... mereka sopan, lah kalau kamu udah kayak banteng main nyeruduk aja, lepasin! Sakit tanganku!” ujar Jinan.
Randu langsung melepaskan cekalan tangannya pada tangan Jinan. Lalu, pria itu menghela napasnya pelan. “Makanya, dengerin apa kata saya ... saya juga akan memperlakukan kamu dengan baik.”
“Memangnya kamu siapa? Orang tuaku? Bukan kan?” ucap Jinan ngotot.
“Jangan banyak tingkah, sekarang kamu hanya perlu menuruti ucapan saya, ini juga demi kelangsungan hidup kamu, saya ingin kamu secepatnya ditemukan oleh keluargamu ... apa kamu gak mikir keadaan keluargamu sekarang bagaimana? Pasti mereka tengah bingung mencarimu, Jinan ...”
Jinan terdiam mendengar semua ucapan Randu. Perkataan pria itu ada benarnya juga. Bagaimana keluarganya sekarang? Apa mereka tengah kebingungan mencari dirinya? Dan siapa keluarganya? Tiba-tiba saja kepalanya menjadi sangat pusing, Jinan hampir saja jatuh tersungkur jika tidak ada tangan Randu yang menahan tubuhnya.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Jinan langsung melepaskan diri dan sedikit menjauh dari Randu. Ia mengeleng pelan. “Aku gak apa-apa ... benar apa katamu, pasti sekarang keluargaku sedang mencariku kemana-mana.”
“Jadi, ikut saya ke rumah kepala desa?”
Dengan berat hati ... Jinan mengangguk. Ia pun mengikuti langkah Randu menuju rumah kepala desa itu. “Aku ... ingin bertanya ...”
Randu menoleh ke belakang dan menatap gadis itu dengan kening yang mengerut. “Apa? Tanyakan saja.”
“Kenapa ingin dekat denganmu susah sekali ya? Padahal aku sudah berusaha, tapi kamu tetap saja begitu.”
“Apa?”
“Sudahlah, lupakan.”
“Apa maksudmu, Jinan? Ada apa memangnya denganku?”
“Kamu tak seperti Kak Kia, Bang Danu dan Cantika, mereka langsung bisa dekat denganku ... tapi kenapa rasanya denganmu ... semuanya menjadi sulit? Kenapa kamu berbeda dengan mereka? Kamu selalu memarahiku, menjauhiku, apa kamu tak ingin berteman denganku seperti mereka?” tanya Jinan dengan wajah sedihnya.
Hah ... teman ya? Jadi ... yang dimaksud oleh gadis itu tentang kata ‘dekat’ adalah hanya sebatas teman. Padahal, Randu sudah berpikiran yang tidak-tidak. Ia pikir ... Jinan ingin menjalin hubungan yang serius dengannya. Ah, Randu langsung memukul kepalanya sendiri memikirkan hal itu.
Hanya satu alasannya mengapa ia tak ingin terlalu dekat dengan Jinan, yaitu karena perasaan. Ia tak ingin jika nantinya terlalu dekat dan selalu bersama dengan gadis itu ... ada suatu perasaan yang muncul di hatinya untuknya. Setiap menatap Jinan, Randu selalu tak bisa melepaskan tatapannya dari pesona yang dimunculkan oleh gadis itu. Entah kenapa ... seperti magnet yang mengikatnya dengan kuat, matanya tak ingin lepas memandang keindahan fisik dari Jinan. Ia tak munafik, dirinya adalah pria dewasa yang normal, dan itulah yang ia takutkan ... perasaan asing yang muncul yang nantinya bisa menyusahkan dirinya sendiri. Randu tidak ingin itu terjadi ... apalagi Jinan adalah orang asing yang tak tahu asal-usulnya.
Randu hanya ingin mejaga perasaannya sendiri.