Sea - 9

1494 Kata
 Seorang gadis tengah duduk di atas kursi kecil di pesisir pantai. Tangannya memegang sebuah ranting kecil, lalu ia menorehkan secara acak gambar atau kata di pasir. Hari ini cukup membosankan karena sahabat kecilnya sedang bersekolah. Akhirnya, ia tak ada teman. Kak Kia pun saat ini tengah sakit, semalam wanita itu menggigil dan benar saja keesokan harinya ia terkena demam. “Jinan ...” Gadis itu menoleh ketika mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Lalu ia tersenyum kecil melihat Bang Danu yang sudah berdiri di sampingnya. “Kenapa, Bang?” “Kamu bisa menemani Randu ke kota? Hari ini, Abang nggak bisa pergi karena Kia sedang sakit ... jadi Abang pikir kamu bisa menemani Randu ke sana.” “Gak usah, Bang ... Randu bisa ke kota sendiri,” ujar pria yang baru saja dibicarakan oleh Bang Danu. Pria itu datang dengan celana jeans panjang yang warnanya sudah pudar dengan kaos oblong berwarna putih.  Jinan menunduk. Ia tadinya antusias untuk pergi ke kota lagi. Namun, karena penolakan dari Randu yang tidak menginginkannya ikut membuat Jinan sedih. Lagi dan lagi pria itu seperti tak ingin dekat dengannya. Ia selalu berjaga jarak darinya. Sebenarnya ... ada apa sih dengan Randu itu? Kenapa ia seperti membenci dirinya? Apa jangan-jangan karena kehadirannya di rumah ini membuat Randu tak suka seperti yang pernah dikatakan pria itu kemarin? Jinan menghela napasnya saat memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu di benaknya. “Jangan gitu, Ndu ... pergilah sama Jinan, dia juga nanti pasti akan membantumu di sana.” Danu berusaha membuat Randu mengerti. “Nggak usah, Bang ... yang ada nanti dia menyusahkan di sana,” ucap Randu seraya menatap Bang Danu dengan serius. Jinan yang mendengarnya ingin membantah, namun ia pikir itu semua akan sia-sia. Ia menggerutu kesal mendengar jawaban Randu, pria itu benar-benar menganggapnya remeh. Tangan Jinan tanpa sadar membuat sebuah nama di goresan pasir menggunakan ranting pohon yang ia pegang. Itu adalah nama Randu dan di sebelah nama pria itu ada sebuah emoticon marah yang dipakaikan tanduk menyerupai iblis. “Randu ... Abang yakin Jinan pasti akan banyak membantumu di sana, jadi apa salahnya mengajaknya ikut? Sekalian juga ajak dia berjalan-jalan, pasti ia bosan saat ini sampai-sampai membuat namamu di pasir.” Ucapan Bang Danu membuyarkan lamunan Jinan. Lalu tatapannya tertuju pada pasir di hadapannya. “Eh ...” Dengan cepat, Jinan langsung mengacak-acak pasir itu dengan kakinya hingga nama yang tertulis di sana menghilang. Dan ia berharap ... pria itu belum melihatnya. Jinan melirikkan matanya untuk melihat wajah pria itu, ternyata harapannya belum dikabulkan saat ini karena pria itu pun tengah menatapnya dengan wajah datar bagaikan tembok rumah. “Ajaklah dia, Ndu ...” ujar Bang Danu lagi. Menghela napas berat. Akhirnya, pria itu pun mengangguk. “Ya udah, kamu ikut saya ke kota ... tapi ingat jangan menyusahkan saya di sana,” ucap Randu. Senyuman lebar terbit di bibir Jinan ketika mendengar ucapan pria itu. Ia mengangguk antusias. “Sebentar ... aku akan mengganti bajuku dulu,” ucapnya seraya berdiri dari bangku kecil yang ia duduki. “Untuk apa kamu berganti baju segala? Baju yang kamu pakai sudah bagus, kurang bagus apa lagi? Lagian ... di sana kamu akan membantu saya ... bukan untuk menggoda para lelaki dengan pakaianmu yang terlalu bagus.” Ucapan Randu kali ini benar-benar menyakiti hatinya. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca, ranting yang ada di tangannya jatuh begitu saja ke atas pasir. “Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Sangat jauh pikiranmu, bahkan aku saja sampai tak berpikiran ke sana. Aku hanya ingin mengganti baju karena aku tak nyaman menggunakan baju ini untuk pergi ke kota ... apa itu salah?” Setetes air mata jatuh di pipinya. Dengan cepat, Jinan menghapusnya, setelah itu ia berlari masuk ke dalam rumah panggung. Randu tercekat. Melihat dari mimik wajah Jinan, gadis itu sepertinya sakit hati ketika ia mengucapkan hal itu. Randu mengutuk bibirnya sendiri yang dengan asal mengatakan hal itu kepada Jinan. “Kamu keterlaluan, Ndu ... kamu tuh udah kayak seorang kekasih yang cemburu kepada pasangannya tanpa alasan yang jelas, dan perkataanmu tadi benar-benar menyakitinya,” ucap Bang Danu. Randu mengangguk. “Aku sudah menyakiti hatinya, Bang. Sekarang ... apa yang harus kulakukan?” tanya Randu dengan gusar. Pria itu menyisir rambutnya dengan jari, lalu memijat pelipisnya dengan sedikt kencang. “Ya, apalagi? Minta maaf lah sana!” titah Bang Danu dengan tegas. “Jangan seperti itu lagi, Ndu ... hati wanita itu lembut, dia sangat berperasaan, sangat mudah untuk menyakitinya namun sangat sulit untuk menyembuhkannya,” lanjutnya seraya menepuk bahu adik iparnya itu. “Aku akan meminta maaf kepadanya, Bang ...”  “Harus sekarang! Jinan itu gadis yang ceria dan mudah tersenyum, tapi kamu lihat tadi ... dia menangis, Ndu! Itu karena ucapanmu, baru kali ini Abang melihatnya menangis.” Randu terhenyak. Ia juga sempat melihat air mata Jinan jatuh tadi, namun dengan cepat juga gadis itu menghapusnya. Kepalanya mendongak menatap langit yang cerah, bisa-bisanya ia menyakiti hati gadis itu yang tak memiliki salah apapun kepadanya. Dengan cepat, Randu berjalan menuju rumah panggung. Ia menaiki tangga dengan tak sabar, lalu berlari menuju kamar Jinan. Randu mengetuk pintu kamar berwarna merah itu beberapa kali seraya memanggil nama gadis itu. “Jinan ... Jinan ...”  “Jinan ... saya minta maaf ... saya tak ada maksud apapun mengatakan hal itu kepadamu ... tolong maafkan saya, Jinan ...” ucap Randu tanpa basa-basi. “Sekarang kamu ingin memakai baju apapun silahkan ... silahkan kamu mengganti bajumu, tapi tolong ... maafkan saya Jinan ... saya menyesal sudah berbicara seperti itu sama kamu.” “Kamu jahat!” ucap Jinan dari dalam kamarnya. Randu menghela napasnya pelan. Dari jawaban yang ia dengar terdengar suara serak basah dari gadis itu. Randu menebak ... gadis itu menangis di dalam kamar. Randu merasa sangat bre-ngsek sekarang karena telah menyakiti hati seorang gadis yang tak berbuat salah apapun padanya. “Iya ... saya jahat sama kamu ... saya sudah sangat jahat ... saya mengakui itu ... jadi, tolong maafkan saya Jinan ...” ucap Randu lagi. Ia mengetuk pintu itu sekali lagi. “Buka pintunya ... saya ingin bicara sama kamu.” “Pergi saja sana! Aku gak mau ngomong sama kamu!” Randu menghela napasnya pelan. “Jinan ... tolong maafkan saya ... saya sangat menyesal mengatakan hal itu kepadamu ... buka pintunya dan biarkan saya masuk ... saya ingin meminta maaf secara langsung kepadamu ... saya ingin berbicara denganmu, Jinan.” Randu masih tak ingin menyerah untuk membujuk gadis itu agar membuka pintu kamarnya. Tak ada jawaban dari gadis itu. Randu merasa frustasi sekarang. Ia mengetuk pintu itu sekali lagi. “Jinan ... buka pintunya atau saya dobrak pintu ini!” ucap Randu dengan cukup kencang. Itu hanya gertakan saja agar Jinan membuka pintu kamarnya, ia sudah kehabisan kata untuk membujuk gadis itu. Dan benar saja ... tak berapa lama kemudian, pintu terbuka sedikit dan Jinan hanya menyembulkan kepalanya dari dalam kamar. Randu tersenyum menatapnya. Ia berjalan semakin dekat. “Jangan dekat-dekat ... cukup berdiri di situ!” ucap Jinan. “Akhirnya ... kamu mau membuka pintu kamar.” “Iya! Karena aku takut kamu ngedobrak pintu ini nanti terus pintunya jadi rusak ... nanti repot harus dibenerin segala,” jawab Jinan cepat. Randu terkekeh pelan mendengarnya. Jinan yang cerewet akhirnya kembali lagi. “Saya minta maaf sama kamu, Jinan ... saya tahu perkataan saya itu sudah menyakitimu ... saya sangat menyesal, Jinan ... bisakah kamu memaafkan saya?” ucap Randu dengan lembut. Matanya terus menatap sebagian kepala Jinan yang menyembul dari balik daun pintu. Terdengar helaan napas panjang dari mulut gadis itu. “Iya, aku maafkan ... tapi jangan mengatakan hal itu lagi, ucapan kamu membuatku sedih ... sekarang pergilah!” Randu tersenyum kecil. Gadis itu sangat baik. Bahkan ia dengan mudahnya memaafkan dirinya yang sudah lancang mengatakan hal tidak-tidak kepadanya. Tangan Randu langsung menahan daun pintu ketika melihat Jinan yang ingin menutup pintunya kembali. “Tunggu!” “Apalagi?” tanya gadis itu malas. “Kamu gak ikut ke kota?” Beberapa detik tak ada jawaban.  “Jinan?” tanya Randu sekali lagi. “Tidak jadi.” “Kenapa begitu? Kamu sudah memaafkan saya, kan? Tadinya ... saya ingin membelikanmu bakso di sana. Rasanya sangat enak ... pasti kamu sangat menyukainya,” bujuk Randu. “Benarkah?” Kali ini, Jinan lebih menyembulkan kepalanya keluar dari daun pintu. Randu mengangguk menatap wajah Jinan yang tampak berbinar. “Seenak itu?” tanya gadis itu. Randu tersenyum kecil. “Iya ... enak banget, kamu juga bebas jajan apa saja di sana. Itu semua untuk menebus kesalahanku hari ini, jadi kamu ikut ke kota?” Dengan cepat, Jinan mengangguk. Senyuman lebar terbit di bibir ranumnya membuat Randu terhenyak. Cepat-cepat ia mengalihkan padangannya ke arah lain. “Baiklah.” “Saya tunggu kamu di luar, cepatlah berganti baju, nanti keburu siang,” jawab Randu. Pria itu langsung pergi meninggalkan kamar Jinan. Ia tak bisa berlama-lama dengan gadis itu. Ia tak bisa semakin jatuh akan pesona yang dihadirkan dalam gadis itu. Entah kenapa ... Randu mulai merasakannya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN