Sea - 10

1387 Kata
 Sepanjang perjalanan menuju kota, kedua manusia berbeda jenis kelamin dan usia itu hanya saling diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.  Jinan, terus menatap jalan raya yang padat dipenuhi oleh kendaraan. Ia bahkan kagum saat melihat sebuah mobil sedan mewah nan kinclong berwarna hitam. Ia membayangkan jika dirinya berada di dalam sana. Pasti tidak akan merasakan kepanasan seperti dirinya saat ini. Jinan menghela napasnya pelan. Ia membuka kaca mobil lebih lebar agar jika ada angin yang datang akan lebih banyak yang masuk ke dalam mobilnya. Keringat sudah membasahi pelipisnya, beberapa kali ia juga ia sudah mengusapnya. Semua itu tak lepas dari pandangan Randu. Pria itu hanya diam. Walaupun ia tahu gadis di sebelahnya kini merasa kepanasan. Dari cara duduknya yang tak mau diam dan juga tangan gadis itu yang terus bergerak mengipasi wajahnya sendiri. Tetapi, hebatnya ... gadis itu tak pernah mengeluh kepadanya. Mungkin saja, ini karena perkataannya tadi yang bilang bahwa gadis itu akan menyusahkannya jika ikut ke kota. Buktinya saat ini, gadis itu memilih diam dan tak berbicara banyak kepadanya. “Panas?” suara bariton itu keluar dari bibir Randu. Jinan menoleh, keningnya mengerut sedikit. Gadis itu pun menggeleng pelan. “Nggak.” “Jangan bohong, dari tadi saya lihat kamu ngipasin wajah kamu terus, itu juga keringet udah banjir, mau berhenti ngadem dulu tidak?” tanyanya. Jinan tertarik dengan tawaran Randu. “Ehm, nggak usah. Nanti kita semakin lama sampai ke kota. Lagian juga ... nanti pasti ada angin masuk, mungkin sekarang anginnya lagi malas untuk berhembus.” “Hah? Kamu ini bicara apa?” “Ya, anginnya gak datang-datang dari tadi ... makanya kepanasan. Mungkin, anginnya malas untuk berhembus,” jawab Jinan. Randu tersenyum kecil. Gadis ini ... selalu saja membuatnya takjub akan perkataannya. Kadang ada yang ngawur, tapi juga ada yang betul. Randu jadi berpikir ... sebelum gadis itu lupa ingatan ... pasti dia memiliki banyak sekali teman, karena Jinan termasuk orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Bahkan dengan cepat ia bersahabat dengan keponakannya. Yang ia tahu, Cantika termasuk gadis kecil yang susah untuk diajak berteman.  “Ada-ada saja,” celetuk Randu. Ia pun semakin menambah kecepatan mobil pick-up yang dikendarainya.  Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah pasar besar yang berada di kota. Jinan langsung turun, diikuti oleh Randu setelahnya. Gadis itu sudah tak kagum lagi, karena ia sudah pernah sebelumnya diajak ke pasar ini bersama Cantika dan juga Kia. Jinan mengamati lingkungan sekitar yang tak bersih, namun tak terlalu kotor juga. Ada beberapa plastik sampah bekas makanan ringan yang berserakan. Orang-orang pun berlalu-lalang dengan tertib dan tak saling mendorong, padahal kondisi pasar saat ini sedang ramai. Lalu, kepalanya menoleh melihat Randu yang kini sedang mengangkut satu per satu box berisikan ikan dari belakang mobil. Ia jadi teringat perkataan Randu sebelumnya bahwa dirinya akan menyusahkan pria itu jika ia ikut bersamanya. Kali ini, ia akan membuktikan bahwa ia tak akan menyusahkan pria itu. Ia pun berjalan mendekati Randu, menaiki belakang mobil pick-up itu dengan pelan karena dirinya memakai rok yang panjangnya setengah betis. Oleh karena itu, ia harus lebih berhati-hati karena nanti bisa saja roknya tersingkap saat ia naik. “Mau ngapain?” tanya Randu sambil berkacak pinggang melihat Jinan yang kini sudah berada di atas mobil bersamanya. “Ya, mau bantu kamu lah,” jawab Jinan. “Nggak usah, kamu duduk aja di sana tuh,” ucap Randu seraya menunjuk sebuah bangku di bawah pohon kelapa yang bersebelahan dengan tukang penjual es kelapa. “Nggak mau! Aku mau bantu kamu, Ndu,” ujar Jinan jengkel.  Randu menghela napasnya pelan. “Memangnya kamu bisa apa?” Jinan menatap Randu dengan tatapan penuh tantangan. “Jangan sekali-kali meremehkanku, aku bisa mengangkatnya dan membawa box ikan ini turun,” ucap Jinan dengan percaya diri. Lalu, ia meringis pelan setelah menatap dengan lekat box ikan yang lumayan besar. Huh, itu pasti sangat berat. Randu mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan gadis itu. Lalu, ia pun tersenyum miring. “Benarkah? Ya sudah, coba kamu angkat itu dan bawa ke bawah, jangan sampai tumpah!” ucapnya menantang Jinan. Gadis itu menarik napasnya kuat-kuat sebelum akhirnya menundukkan tubuhnya untuk mengangkat box berisikan ikan yang berwarna putih itu. Ia menggeram saat merasakan bahwa box itu sangat berat, bahkan ia hanya mampu menggesernya tanpa mengangkatnya. Ia terus mencobanya, namun sama sekali tak berhasil. Box itu benar-benar berat. Ia tak habis pikir ... sebenarnya ada apa di dalamnya?  “Apa box ini isinya monster ikan? Kenapa berat sekali, Randu ...” ucap Jinan seraya menghapus keringat yang keluar dari pelipisnya. “Apa saja isinya ...” lanjutnya sambil menatap horor box putih besar itu. Randu tertawa pelan. “Ya, ikan. Jadi, kamu nggak bisa? Mengangkatnya saja tidak bisa, jangan sok bisa untuk membawanya ke bawah, yang ada nanti ikan saya semuanya tumpah dan saya rugi besar.” Jinan mengerucutkan bibir mendengarnya. “Ya, salah boxnya, kenapa berat sekali? Aku kira tak akan seberat ini,” ucap Jinan. “Ya wajar berat, isinya aja 30kg ikan. Pantas kamu tak akan bisa mengangkatnya sendiri.” “Apa?! 30kg?! Astaga ... banyak sekali ... itu makanya aku hanya bisa menggesernya saja tanpa bisa mengangkatnya ... ternyata isinya sangat banyak, dan ini ada ...” ucapan Jinan terhenti sejenak. Gadis itu menunjuk satu per satu box seperti sedang menghitungnya. “Ada 8 box, astaga ... bagaimana bisa kamu mendapatkan ikan sebanyak ini?” lanjut Jinan dengan tatapan tak percaya. “Bisa. Saya dan Bang Danu buktinya bisa. Ya sudah, mending kamu turun dan duduk di sana. Biar saya yang mengangkat ini semua ...” ucap Randu. “Nggak ... aku akan bantuin kamu, kita angkat sama-sama.” Randu menghela napasnya pelan. “Sebenarnya tidak usah, Jinan. Saya bisa mengangkatnya sendiri. Tapi, karena kamu memaksa ... ya sudah ... cepat bantu saya agar semuanya bisa selesai dengan segera.” Jinan mengangguk seraya tersenyum kecil. Ia pun membantu Randu mengangkat satu per satu box ke bawah. Dan satu hal yang membuat Randu tercenung ketika tak sengaja melihat rok yang digunakan oleh Jinan tersingkap karena terbawa oleh angin yang berhembus. Ia tak bisa membiarkan Jinan terus membantunya, ia melihat ke arah sekitar yang cukup ramai. Ia tak mungkin membiarkan orang-orang melihatnya. Apa lagi gadis itu sepertiny taks sadar. “Jinan, cukup, kamu mending duduk saja sekarang,” ucap Randu menahan tangan gadis itu yang kini ingin mengangkat salah satu box bersamanya. Jinan mengerutkan keningnya bingung. “Kenapa? Kan aku mau bantuin kamu.” “Nggak usah, saya bisa sendiri. Kamu mending duduk di sana!” ucap Randu sembari melirikan matanya ke bangku yang sebelumnya sudah ia tunjuk. “Nggak! Aku mau bantuin kamu pokoknya!” ucap Jinan kesal. “Jinan! Tolong dengar apa kata saya ... kalau kamu terus membantu saya ... apa kamu ingin melihat orang-orang memperhatikan dirimu karena rokmu tersingkap ketika terkena angin?”  Jinan tekejut. Tubuhnya mendadak menjadi kaku. “Apa? Jadi ... kamu melihat rok ku tersingkap? Astaga ...” ucap Jinan dengan tatapan tak percaya. Ia sangat malu sekarang. “Tidak, hanya sedikit. Makanya, saya peringatkan kamu untuk duduk saja dan tak usah membantu. Nanti kalau ada angin yang cukup besar dan menyingkap rok yang kamu pakai ... itu bahaya besar, apalagi keadaan pasar sangat ramai.” “Kamu benar juga. Tapi aku ingin membantumu, Randu ...” “Ck! Kenapa kamu susah sekali dibilangin? Saya bilang duduk saja ya duduk sana! Apa kamu senang jika orang-orang melihat rokmu tersingkap?!” Lagi dan lagi ... sepertinya ucapan dirinya terlalu berlebihan. Buktinya ... saat ini Jinan tengah menatapnya dengan sedih. “Kenapa kamu selalu berpikiran negatif tentang aku? Aku tak sampai berpikir seperti itu. Aku hanya ingin membantumu karena aku tak mau menyusahkanmu seperti apa yang kamu bilang kepada Bang Danu ... semua yang aku kerjakan pasti selalu salah di matamu.” Ucap Jinan. Gadis itu pun dengan segera turun dari atas mobil. “Jinan ... saya nggak bermaksud seperti itu,” ucap Randu dengan perasaan yang menyesal saat ini. Rasanya ... ia ingin sekali menjahit bibirnya sendiri agar tak pernah mengatakan hal negatif kepada Jinan. Entah kenapa ... ia selalu was-was melihat beberapa pria yang ia pergoki tengah menatap Jinan secara terang-terangan. Ia menatap Jinan yang kini sudah duduk di bangku yang ia tunjuk sebelumnya. Gadis itu tak menangis, tapi wajahnya menunjukkan raut muka yang sedih. Kakinya tak ingin diam, bergerak mengacak tanah yang dipijaknya. Dan kali ini ... ia kembali menyakiti hati gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN