“Ini sudah semuanya?” tanya seorang pria dengan badan bongsor dan juga kaos singlet yang dipakainya.
Randu mengangguk. “Sudah, Bang. Dijamin kuliatas ikan akan selalu segar seperti biasa,” jawab Randu seraya menunjukkan jempolnya ke arah pria itu.
“Ya, ya ... aku gak pernah kecewa jika memesan di kamu, Ndu ... banyak yang suka juga pelanggan karena ikannya besar-besar.”
“Syukulah ... kalau begitu.”
Randu menatap pria itu yang kini tengah menghitung uang di tangannya. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Jinan. Ia menghela napasnya saat mendapati wajah gadis itu yang masih kelihatan sedih.
“Ini ... sesuai permintaanmu,” ucap pria itu seraya memberikan segepok uang ke tangan Randu.
Randu tersenyum lebar. “Terima kasih, Bang!”
“Ndu ...” panggil pria itu.
Randu mengernyitkan keningnya ketika merasakan tangan besar milik pria itu menepuk kencang bahunya. “Ada apa lagi, Bang?”
“Siapa gadis cantik itu, Ndu? Kenapa baru kali ini ... aku melihatnya bersamamu,” ucapnya lagi. Lalu Randu mengikuti arah pandang pria itu yang kini tengah menatap Jinan dengan tatapan terpesona.
Randu menghela napasnya pelan. “Itu ... dia teman saya, Bang.” Randu tak mungkin berkata jujur kalau Jinan adalah gadis yang ia temukan bersama Bang Danu di laut. Ia malas untuk membahasnya lebih lanjut lagi, pasti nanti pria itu akan menanyainya banyak hal.
Pria itu mendekatkan tubuhnya ke arah Randu. “Kenalkanlah padaku! Astaga ... dia sangat cantik, Ndu ... kali aja dia mau aku jadikan istri ketiga,” ucapnya.
Randu terkejut. Tentu saja. Bisa-bisanya pria ini meminta Jinan menjadi istri ketiganya. Astaga ... hanya karena melihat gadis itu yang cantik membuat pria itu terpesona dan ingin memilikinya. “Hahaha ... janganlah, Bang ... apa dua saja tidak cukup?” ucap Randu seraya menatap pria berusia 40an di hadapannya.
“Ck! Kau tau lah ... yang muda lebih segar dan singset ... istri-istriku yang lain sudah masa kadaluarsa sepertinya ... makanya gadis itu sangat menarik ... kenalkanlah aku padanya, Ndu!” ucap pria itu dengan tatapan yang terus menatap Jinan.
Randu terkekeh pelan, walaupun dalam hatinya ia malah jijik dengan kelakuan pria di hadapannya ini. Tetapi, ia harus menyembunyikannya karena ia tak mau berurusan dengan pria itu. Mereka sudah lama menjalin bisnis dan ia tak mau semua itu hancur dalam sesaat. “Waduh ... nggak bisa, Bang ... saya gak mau ikut-ikutan, itu kan urusan sama dia juga ... lagian dia orang baru di sini, Bang.”
“Ck! Pelit banget kau, Ndu! Cewek cantik kau simpan sendiri!”
“Bukannya begitu, Bang ... dia gak banyak orang yang kenal di sini, jadi saya takut dia nya yang nggak nyaman,” Randu berusaha agar membuat pria itu mengerti.
“Ya sudahlah, terserah ... aku pergi dulu ya ... takut banyak pelanggan di toko,” ucapnya.
Randu menghela napas lega. Akhirnya ... pria itu akan pergi juga. “Iya, bang ... saya juga mau segera pulang.” Randu tersenyum kecil sebelum pria itu pergi dari hadapannya.
Setelah berurusan dengan pengepul ikan langganannya, Randu dengan segera berjalan mendekati Jinan. Ia berdiri di hadapan gadis itu.
Jinan mendongak menatap Randu yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya. Ia menghela napasnya kesal. Lalu mengalihkan pandangannya ke tanah. Tangannya saling memilin satu sama lain, bibir bawah bagian dalamnya ia gigit pelan menggunakan gigi. Ia sangat kesal dengan pria itu sekarang ... pokoknya sangat kesal.
“Kenapa nggak pesan minum? Padahal di sebelahmu ada tukang es kelapa,” ucap Randu.
“Nggak mau,” jawab Jinan cepat.
“Maafkan saya sekali lagi, Jinan ...”
“Udah kebanyakan minta maafnya, udah kenyang aku.”
Randu terhenyak. Sepertinya ia sudah banyak menyakiti hati gadis itu. “Ya sudah, seperti janji ... kita mau makan bakso kan?”
Jinan mendongak, ia menatap Randu dengan lamat. Pria itu mengangkat satu alisnya sambil menatapnya juga. Perutnya sudah sangat lapar sekarang, mendengar kata bakso diucap membuat cacing-cacing dalam perutnya berteriak kencang. Tetapi, ia sedang marah dengan Randu ... jika ia menyetujui ajakannya itu sama saja ia sudah memaafkan pria itu. Hah ... Jinan benar-benar bingung sekarang.
“Saya janji ... saya gak akan berkata seperti itu lagi, Jinan ...” ucap Randu dengan lembut. “Maafkan saya jika selama ini banyak menyakitimu, maafkan saya Jinan ...”
“Makanya kalau ngomong itu disaring, jangan langsung bicara seperti itu ... aku perempuan ... setiap kali kamu mengatakan hal yang tidak-tidak tentangku rasanya sedih dan sakit sekali ... seperti kamu yang paling tahu diriku saja,” ucap Jinan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Randu memejamkan matanya mendengar ucapan Jinan. Sudah begitu dalam ia menyakiti hati gadis itu. Lalu, apakah ia akan menyakitinya lagi nanti? Randu tak tahu. Ia tak bisa memastikannya. Semua yang keluar dari mulutnya selalu saja refleks. “Iya ... tapi kamu juga harus menurut ... jangan membuat saya kesal ... saya tidak akan berbicara seperti itu lagi ... saya cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa,” ucap Randu.
Jinan memutar bola matanya malas. Lalu, tiba-tiba saja perutnya berbunyi cukup kencang. Ia langsung memeluk perutnya sendiri dengan wajah yang menunduk malu. Duh ... bagaimana jika terdengar oleh Randu. Malu sekali dirinya.
“Kamu sudah lapar ... ayo kita beli bakso,” ucap Randu. “Jangan gengsi seperti itu ... perutmu juga perlu diisi, saya gak mau lihat kamu mati kelaparan,” lanjut Randu seraya menarik tangan Jinan agar berdiri dari duduknya. “Ayo ikut saya.”
Jinan mengikuti langkah Randu. Ia menatap tangannya yang digenggam oleh pria itu. Tak seperti dulu yang sangat kencang, tangan Randu kini menggenggam tangannya dengan lembut. Ah ... ya Tuhan ... kenapa setiap kali berdekatan dengan pria itu ... jantungnya selalu berdetak dengan cepat.
Apa mungkin ini karena efek dirinya yang bersentuhan dengan pria. Ya, mungkin saja karena ia tak terbiasa. Karena ia selalu berdua dengan Cantika dan tak pernah dekat dengan Randu. Jadi, ketika pria itu seperti ini kepadanya ... jantungnya seperti sedang lari marathon.
“Wah ... ramai sekali,” ucap Jinan kaget saat melihat antrean yang memenuhi gerobak tukang jualan bakso. Bahkan antreannya sampai pinggir jalan raya.
“Jangan jauh-jauh dari saya ... saya takut kamu hilang,” ucap Randu sambil menatap Jinan.
“Kamu pikir aku anak kecil, aku bukan Cantika, gak bakalan hilang,” jawab Jinan seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
“Ya siapa tahu ... kamu nggak tahu jalan sini, lagi banyak orang juga ... saya takut nanti ada yang ingin berbuat macam-macam sama kamu.”
Jinan tersenyum kecil. Dibalik sikap Randu yang cuek dan selalu bicara menyakiti hatinya, ia juga pria yang cukup perhatian. Kenapa kepribadiannya mudah sekali berubah-ubah seperti ini. Kadang Randu seperti monster yang menakutkan saat marah. Namun, juga bisa berubah menjadi malaikat yang penuh ketenangan dan sikap perhatiannya yang ia berikan kepadanya. Tetapi, tetap saja ... Randu itu menyebalkan.
“Kamu duduk di sana ya, saya yang pesankan ...” ucap Randu seraya menunjuk bangku kosong yang baru saja ditinggali oleh pengunjung sebelumnya. “Cepat Jinan! Sebelum nanti ada orang yang menempatinya,” lanjutnya saat melihat Jinan yang hanya diam saja.
“Iya ... iya!” Gadis itu pun segera pergi dan menduduki tempat yang ditunjuk oleh Randu. Jinan menghela napasnya saat melihat Randu yang tengah mengantre di dekat gerobak.
Tiba-tiba saja, ada seorang pria yang datang dengan senyumannya yang lebar. Jinan mengernyitkan dahinya melihat pria itu. Dia ... sedang tersenyum kepadanya kah? Kepala Jinan menoleh menatap sekitar, ternyata hanya ada dirinya di pojok sini, itu berarti senyuman pria itu ditunjukkan untuk dirinya.
“Hai ... bangku ini kosong ... boleh aku duduk di sini?” tanyanya dengan ramah.
“Eh ... ehm ...” Jinan jadi bingung ingin menjawab apa.
“Tidak bisa! Itu tempat saya, dia datang bersama saya, kamu silahkan cari tempat yang lain,” ucap Randu dengan cepat. Pria itu kini sudah berdiri di hadapan keduanya. Ia dengan segera duduk di bangku kosong yang berhadapan dengan Jinan. Matanya melirik pria itu yang kini masih berdiri di sampingnya.
“Oh, maaf ... aku kira dia sendirian ... ternyata sudah bersama seseorang, kalau begitu aku akan mencari tempat yang lain,” ucap pria itu. Ia tersenyum lembut kepada Jinan sebelum akhirnya pergi dari hadapan Jinan dan juga Randu.
“Seharusnya kamu bilang kalau tempat ini udah ada yang punya,” ucap Randu seraya menatap Jinan dengan lekat.
“Aku ... juga mau bilang begitu,” ucap Jinan pelan.
Randu menghela napasnya pelan. “Ya sudahlah.”
Lalu, keheningan melingkupi mereka berdua. Tak ada yang membuka suara. Mereka hanya diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jinan menghela napasnya. Ia lebih memilih untuk memainkan kuku jari tangannya yang sudah memanjang ... sepertinya harus segera ia gunting karena ada pasir yang nyangkut di sana.
“Permisi Bang Randu ... ini toh pesanannya,” ucap seorang pegawai sambil menaruh dua mangkuk bakso di atas meja.
Jinan menatapnya dengan sumringah. Wangi harum nan menggoda menguar membuat dirinya tak sabar untuk menyicipi bakso di hadapannya. Kalau saja tak ada Randu di sini, mungkin ia akan segera memakan bakso itu tanpa perlu menunggunya.
“Terima kasih, Mas ... harusnya panggil saja nama saya tadi ... biar saya yang ambil sendiri,” ucap Randu.
“Ya Allah, Bang ... udah kayak orang lain aja ... gak apa-apalah, sekali-sekali ... ini siapa? Pacar barumu toh? Sudah tidak sama yang kemarin?”
Randu terkekeh pelan. “Sama siapa sih, Mas? Perasaan saya baru ke sini lagi.”
“Ituloh, Bang Randu ... cewek yang rambutnya pendek,” ucapnya lagi.
Jinan masih diam. Mendengarkan ucapan mereka berdua yang tampak akrab. Mereka membicarakan seorang wanita ... siapa wanita yang dimaksud itu? Jinan jadi penasaran.
“Pilihan Bang Randu tak pernah salah, ayu-ayu sekali pacarnya ... top markotop!”
“Ah, dia cuma teman, Mas ... yang ini juga teman,” jelas Randu. “Terima kasih, Mas ... sudah diantarkan.”
“Iya ... sama-sama Bang Randu ... kalau gitu saya pergi dulu ya,” ucapnya. Lalu ia menatap Jinan dan tersenyum lembut. “Saya pergi dulu, Mbak, permisi.”
Jinan pun mengangguk seraya tersenyum ramah.
“Kenapa belum dimakan?” tanya Randu. “Nanti baksonya kalau nggak panas nggak enak.”
Jinan langsung mendekatkan mangkok berisikan bakso itu lebih dekat dengan dirinya. Ia menyendokkan airnya dan menyuapkannyan ke dalam mulutnya. Dan ya ... rasanya sangat enak. Jinan bahkan sampai memejamkan matanya menikmati kuah bakso itu. Ia jadi tak sabar untuk menyicipi baksonya.
“Gimana enak?” tanya Randu.
Jinan mengangguk dengan semangat. “Ini enak banget!”
“Iya, penjualnya asli orang Wonogiri, saya dengar memang bakso di sana enak-enak, dan untungnya Mas Darjo ngerantau ke sini, jadi saya bisa merasakannya tanpa harus pergi ke daerah itu.”
“Oh ... begitu, kalian sepertinya sudah dekat ya?”
Randu mengangguk. “Saya langganan makan bakso di sini, ya kata kamu tadi ... baksonya enak bikin nagih.”
Jinan mengangguk lagi. Ia jadi teringat akan percakapan Randu dengan Mas Darjo—penjual bakso—tadi. Mereka membicarakan tentang wanita bukan? Jadi, siapa wanita itu? Jinan ingin bertanya ... namun ia tak berani. Lagipula ... siapa dirinya yang ingin tahu sekali tentang kehidupan Randu. Biarlah ia penasaran sendiri, daripada harus menanyakannya kepada Randu.
Mereka makan dalam diam. Randu memperhatikan Jinan yang tampak lahap memakan baksonya. Ia meringis melihat kiah bakso yang sudah memerah begitu pekat dan beberapa kali gadis itu mendesah kepedasan. Air jeruk yang dipesannya pun sudah tinggal setengahnya lagi. “Kamu terlalu banyak pakai sambal,” celetuk Randu.
“Tapi ini jadi tambah enak, pedesnya nagih,” jawab Jinan. Ia pun kembali melahan bakso yang sudah ia potong kecil.
“Iya, tapi nanti perut kamu yang sakit, itu merah banget kuahnya, saya gak bisa bayangin segimana pedesnya,” ucap Randu seraya bergidik ngeri.
“Mau nyoba?”
Dengan cepat, Randu menggeleng. “Tidak, terima kasih. Saya masih sayang sama lambung saya.”
Jinan terkekeh pelan. “Tak apa kalau hanya sekali.”
“Tetap tidak. Saya tidak suka pedas,” jawab Randu. Ia pun kembali melahap baksonya.
“Oh ... nggak suka pedes. Padahal kamu laki-laki masa sama pedes aja nggak suka.”
“Itukan tergantung selera, Jinan. Tidak ada hubungannya dengan gender laki-laki atau perempuan.”
“Jawaban yang pintar!” Jinan memberikan dua jempolnya ke hadapan Randu.
Randu tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya. Tingkah Jinan kadang membuatnya gemas sendiri.
Tak terasa, mereka menghabiskan waktu sampai sore berkeliling menjelajahi pasar seraya kulineran. Itu semua Randu lakukan untuk menebus kesalahannya kepada Jinan. Ia ingin membuat Jinan senang dan tak sedih lagi. Sepanjang hari itupun, hanya senyuman dan tawa yang keluar dari mulut gadis itu. Randu pun ikut senang melihatnya.
“Aduh ... aduh ... perutku sakit ... mau buang air ... ada kamar kecil tidak ya?” ucap Jinan ketika gadis itu baru saja duduk di mobil pick-up.
“Astaga ... yang benar saja? Kan saya sudah bilang jangan terlalu pedas makan baksonya ... sekarang jadi ingin buang ajr kan,” jawab Randu seraya memijit pelipisnya.
“Ya kan aku nggak tau kalau akhirnya begini ... lagian juga udah terlanjur ... sekarang aku sakit perut ... dimana kamar mandi? Ya ampun ... ini sudah tak bisa ditahan lagi,” ucap Jinan seraya meremas perutnya sendiri. Lalu secara tak sadar ia pun mengeluarkan angin dari bokongnya walaupun tak berbunyi namun itu cukup mengeluarkan wangi yang tak sedap.
“Jinan! Kamu kentut! Ya Allah ... cepat keluar, saya antar ke kamar mandi,” Randu menutup hidungnya dengan tangan. Lalu ia kembali turun dari mobil.
“Ah, malu ...” Jinan rasanya ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Ia tak bisa menatap Randu sekarang ... dirinya sudah kepalang malu karena kentut sembarangan.
“Jinan cepat! Jangan sampai kamu buang air di dalam mobil!” teriak Randu dari luar.
“Iya ... iya!” Jinan dengan cepat keluar dari mobil. Lalu ia mengikuti langkah Randu dari belakang. “Maaf ... aku gak bisa nahan tadi,” ucapnya dengan pelan.
Randu menghela napasnya. “Tidak apa-apa, itu wajar. Sehat kok kentut tuh,” jawab Randu seadanya.
Jinan mengerucutkan bibirnya kesal. Tetap saja, ia merasa malu karena hal itu. Mana tadi wanginya benar-benar membuatnya ingin muntah. Haduh ... apalagi Randu yang menciumnya. Jinan benar-benar tak punya muka di hadapan pria itu sekarang!
“Nah, itu kamar mandinya!” ucap Randu seraya menunjuk sebuah WC umum yang tak jauh dari tempatnya parkir mobil. Randu mengeluarkan uang lima ribuan dari kantung celananya. “Pegang ini, untuk bayar nanti, saya tunggu di mobil, kuncinya lupa saya bawa dan masih menggantung di sana.”
“Iya ... iya ... terima kasih!” Dengan segera, Jinan pun pergi menuju WC umum itu.
Randu menatapnya sebentar sampai gadis itu masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi. Setelah itu, ia pun pergi menuju parkiran lagi dan menunggu Jinan di mobil.
Hingga beberapa lama kemudian, Randu merasa curiga karena gadis itu tak kinjung datang. Hari pun semakin sore, Randu jadi khawatir kepada gadis itu yang ia tinggal sendiri di WC umum. Dengan cepat, Randu keluar dari mobilnya tak lupa ia mengambil kunci mobil yang menggantung. Ia bergegas menuju WC umum.
Di sana ia melihat seorang penjaga yang berbeda dari sebelumnya. Randu mengernyitkan dahinya. “Permisi, Pak ... apa Anda melihat seorang gadis memakai rok sebetis dan kaos hijau tua? Tadi dia menggunakan salah satu bilik di sini.”
“Oh, saya baru gantian menjaga sama yang sebelumnya, jadi saya tidak tahu.”
Randu berdecak pelan. Ia pun memeriksa satu per satu bilik yang ternyata di dalamnya kosong tak ada orangnya. Jantung Randu berdetak dengan cepat ... kemana perginya Jinan? Kemana perginya gadis itu?
“Pak ... apa benar bapak tidak melihatnya?” tanyanya sekali lagi.
“Tidak, saya baru menjaga sebentar di sini.”
“Lalu penjaga sebelumnya kemana?” ucap Randu dengan cepat.
“Dia pulang, gantian dengan saya.”
Randu berkacak pinggang. Astaga ... lalu kemana Jinan pergi? Apa gadis itu pergi meninggalkannya lagi seperti dulu? Atau jangan-jangan ada yang berniat jahat kepadanya? Kaki Randu melemas jika memang hal itu yang terjadi. Jantungnya berdetak tak karuan. Kemana ia mencari Jinan sekarang?