Di sisi lain, seorang gadis tengah bergerak mundur perlahan hingga mengenai tembok kotor di belakangnya dengan kencang. Air matanya mengalir deras melewati pipi putih miliknya. Wajahnya sangat ketakutan seraya menatap seseorang di hadapannya yang tengah menatapnya penuh nafsu. Tangannya merambat menyentuh permukaan tembok di belakangnya yang terasa sangat dingin karena lama tak berpenghuni. Gadis itu menatap seluruh bangunan tempat ia diculik kini, bangunan itu tak terawat bahkan banyak tumbuhan lumut dan akar pohon yang sudah merambat di permukaan tembok.
Gadis itu sangat berharap seorang pria yang ia tunggu akan datang menyelamatkannya. Semoga saja ia sadar karena dirinya yang terlalu lama tak kembali dari WC umum. Ia berharap pria itu mencarinya dan menemukannya. Hanya dirinya ... yang menjadi harapan Jinan saat ini.
“Cantik sekali Nona ini ...” ucap pria yang menculik Jinan.
“Tolong ... jangan mendekat!” ucap Jinan penuh ketakutan saat pria itu berjalan mendekatinya. “Tolong ... lepaskan aku! Tolong ...” lanjut Jinan dengan air matanya yang deras. Suaranya pun menjadi serak dan basah.
“Saat saya pertama kali melihatmu ke kamar kecil itu ... ah rasanya saya menjadi tegang dan ingin sekali merasakanmu, Nona ...” ucap pria itu dengan senyuman iblisnya.
Jinan menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia menatap pria penjaga WC umum yang tadi ia gunakan untuk buang air besar. Ya, penjaga WC itu yang sudah menculik dan membawanya ke bangunan tua ini. Jinan semakin ketakutan. Apa tak ada yang bisa menolongnya? Bagaimana caranya agar dia bisa melepaskan diri dari pria nafsuan di hadapannya kini?
“Berhenti di situ!” Teriak Jinan dengan kencang. “Tolong! Tolong!”
“Jangan berisik!” ucap pria penjaga WC umum itu. Ia sekarang sudah berada di hadapan Jinan. Sangat dekat bahkan ia bisa mencium wangi rambut hitam milik gadis itu. Ah ... dia terbuai akan harumnya, sampai memejamkan mata menikmati aromanya. “Janganlah berteriak, Nona ... percuma saja tak akan ada yang mendengarnya ... kau hanya denganku saat ini ... janganlah membuang-buang tenagamu, cukup menjadi gadis yang penurut!” ucapnya seraya mengelus pipi Jinan.
Jinan bergidik ngeri. Ia menepis tangan pria itu yang sangat kurang ajar menyentuh dirinya. Matanya melotot marah. “Jangan menyentuhku!” ucapnya tepat di hadapan wajah pria itu.
“Hahahahaha ...” terdengar suara tawa pria itu yang membuat nyali Jinan semakin menciut. Lalu, kedua tangan pria itu mencengkeram dengan kencang lengan Jinan hingga gadis itu mengaduh kesakitan. “Jangan berani menyuruhku, Nona! Ingat! Kau di sini hanya bersamaku saja ... tak akan ada yang bisa menolongmu! Jadi, bersikaplan baik dan penurut agar aku tak akan menyakiti dirimu lebih dari ini.”
Jinan langsung memalingkan kepalanya saat pria itu berusaha untuk menciumnya. Ya Tuhan ... bagaimana ini? Tolong siapapun ... tolonglah dirinya ...
Salah satu tangan pria itu menyentuh wajah Jinan dan mengarahkan kepala gadis itu agar menghadapnya. Jinan terus memberontak ... kepalanya ia gerakkan ke kanan dan kiri agar pria itu tak bisa melakukan apa yang ia inginkan. Tetapi, semakin lama cengkeraman tangan pria itu semakin kuat di wajahnya sampai membuat kepalanya menjadi kaku dan tak bisa ia gerakkan lagi.
“Diam dan menurutlah!” ucap pria itu.
Jinan dapat merasakan hembusan napas pria itu. Ia juga mencium wangi tak sedap yang berasal dari mulut pria itu. Sangat menjijikan. Pria berperawakan besar dengan tinggi badan yang terbilang tinggi, lemak di perutnya begitu menumpuk sampai membuat perutnya membuncit, jambang pria itu juga sudah panjang dan sama sekali tak terawat, Jinan sangat ketakutan sekarang. Ia tak mau nasibnya naas di tangan pria itu. Ia tak mau menjadi korban pemer-kosaan.
Saat wajah pria itu kembali didekatkan untuk mencium bibirnya, saat itu pula Jinan langsung menendang s**********n pria itu dengan kencang hingga pria itu melepaskannya dan sedikit menjauh dari dirinya seraya menyentuh bagian intimnya dengan tangan. Suara kesakitan dari bibir pria itu terdengar di telinga Jinan. Rasanya Jinan sangat puas sekarang.
Ia menjadikan ini kesempatan untuk kabur. Di saat pria itu lemah dan tak berdaya seperti sekarang. Dengan cepat, Jinan berlari. Namun, baru sampai pintu rambutnya ditarik dengan kencang oleh seseorang di belakangnya. Rambutnya dijambak begitu kuat hingga rasanya seluruh akar rambutnya akan lepas. Jinan mengaduh kesakitan. Tubuhnya terjatuh lalu orang itu menyeretnya semakin dalam masuk ke dalam ruangan. Usahanya untuk kabur sia-sia. Pria itu tak ingin melepaskannya.
“Sial-an kau! Beraninya melunjak dan berbuat seperti itu padaku!” ucapnya dengan kencang.
“Tolong ... tolong lepaskan aku ...” ucap Jinan penuh permohonan.
Plak!
Satu tamparan mengenai pipi kanan Jinan hingga membekas merah. Jinan pun merasakan perih di pipi dan juga ujung bibirnya yang terasa sakit. Ia menyentuh bagian itu dan terkejut mendapati darah di tangannya. Air matanya mengalir deras. Ia sangat ketakutan.
“Diamlah! Saya tak akan pernah melepaskanmu. Kau terlalu menggoda dan memesona, jangan harap saya akan melepaskanmu, Nona ... kau akan menjadi milikku!”
“Dasar gila!” ucap Jinan. Entah keberanian dari mana ia bisa mengucapkan hal itu.
“Ya, saya memang gila. Saya tergila-gila padamu, Nona.”
Jinan merangkak ke belakang saat pria itu mendekatinya lagi. Ia kemudian berusaha untuk berdiri, namun dengan cepat pria itu menahan tubuhnya dan menjatuhkannya lagi agar terduduk di lantai yang sudah dipenuhi tanah dan lumpur. Pria itu berjongkok di hadapannya. Tangannya mengambil helaian rambut Jinan yang menutupi wajah cantik miliknya.
“Astaga ... kau benar-benar sangat cantik, Nona ... bagaimana bisa saya baru melihatmu sekarang ...” ucapnya seraya berdecak pelan. “Dan jangan harap saya bisa melepaskanmu, Nona ... saya akan terus mengurungmu di sini, tak akan ada yang bisa menemukanmu. Saya akan kembali ke sini untuk memberimu makan dan pakaian ... dan tentu saja untuk melayaniku juga,” lanjutnya.
Jinan menggeleng kencang. Membayangkan itu semua membuatnya merinding. Ia tak mau itu terjadi. Ia tak mau disekap selamanya oleh pria itu di sini. Ia ingin pulang ... ia ingin bermain dengan Cantika. Ia ingin belajar mengurus rumah bersama Kak Kia. Ia juga ingin bercanda bersama Bang Danu.
Randu ... hanya dia satu-satunya yang bisa ia harapkan. Tuhan ... tolonglah ia ... semoga saja Randu mencarinya. Semoga saja pria itu mencari dirinya yang menghilang. Semoga saja pria itu tak meninggalkannya sendiri.
Jinan meremas roknya sendiri. Tangannya bergetar ketakutan. Jantungnya berdetak dengan cepat. Keringat dingin pun sudah membasahi sekujur tubuhnya.
Lalu ia merasakan tangan pria itu yang merambat di betisnya. Dengan cepat, Jinan menghempaskan tangan pria itu dari dirinya. Namun, semua perbuatannya langsung mendapatkan sanksi. Kini, kedua tangannya diangkat dan dikunci oleh tangan pria itu di atas kepalanya. Jinan menggeleng pelan, apalagi ketika merasakan bahwa kedua kakinya sudah dikunci oleh pria itu dengan kedua kaki besarnya.
“Tolong ... jangan ...” ucap Jinan tak berdaya. Ingin memberontak pun rasanya sangat sulit.
Apa ia harus pasrah dan membiarkan pria itu melakukan apapun sesuka hatinya? Ya Tuhan ... jika memang sudah seperti ini takdirnya ... Jinan pun tak bisa mengelaknya lagi.
Ia memejamkan matanya membiarkan air matanya keluar begitu deras. Ia merasakan roknya dengan perlahan diangkat ke atas oleh pria itu. Jinan menangis kencang. Saat merasakan gesekan kasar dari tangan pria itu di pahanya.
“Diamlah! Astaga ... kau benar-benar cantik, Nona ... saya tak sabar untuk memilikimu ...” ucapnya dengan penuh nafsu.
Kepala pria itu semakin dekat ke wajah Jinan berusaha untuk menciumnya. Namun, belum sampai ia melakukan apa yang ia inginkan ... tubuhnya langsung terbanting ke belakang dengan kencang.
“Sial-an kau!” ucap seseorang yang menarik tubuh pria itu dengan kuat. “Baji-ngan! Bang-sat!”
Pukulan demi pukulan ia hadiahi untuk pria yang sudah menculik Jinan. Hingga pria itu menjadi babak belur karena ulahnya.
Jinan membuka matanya. Ia tersenyum haru dengan air mata yang merembes keluar tak ingin berhenti. Ia bagaikan melihat malaikat penyelamatnya. Randu datang ... akhirnya pria itu datang dan menyelamatkannya ...
“Pak! Pak sudah, Pak! Biar kami yang mengurusnya ke pihak yang berwajib!” ucap seorang pria dengan rombongannya. Mereka berjumlah 6 orang. Ternyata Randu tak sendiri.
Randu bangkit dari atas tubuh pria itu. Ia merasa puas melihatnya yang tak berdaya di lantai dengan muka yang memar dan juga darah yang keluar dari setiap baret yang ia berikan untuk pria itu. Lalu, tatapan Randu tertuju kepada Jinan. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat gadis itu yang sangat berantakan.
Dengan cepat, Randu mendekatinya. Ia berjongkok di hadapan Jinan. Matanya menatap seluruh bagian tubuh Jinan. Lalu, ia menarik rok yang tersingkap yang memperlihatkan paha gadis itu agar kembali panjang seperti semula. Randu menatap kasihan kepada Jinan. Wajah gadis itu memerah dengan luka robek di ujung bibirnya.
“Randu ...” ucap Jinan dengan suara seraknya. Matanya menatap Randu dengan sendu. Gadis itu pun langsung memeluk tubuh Randu begitu kencang. Tangannya meremas kaos yang dipakai pria itu. Wajahnya ia tenggelamkan di pundak Randu dan menangis dalam diam dengan pundak Randu sebagai sandarannya.
Randu merasakan pelukan Jinan yang begitu kencang pada dirinya. Tubuh gadis itu bergetar dalam pelukannya. Tangannya dengan perlahan terangkat untuk menyentuh rambut Jinan dan mengelusnya dengan lembut. Randu memejamkan matanya sejenak. Setelah itu, ia membuka matanya dengan perlahan.
“Sudah ... jangan menangis lagi ... kamu sudah aman ... ada saya di sini,” ucap Randu berusaha membuat Jinan lebih tenang. Ia mengelus rambut gadis itu yang terasa sangat halus di tangannya. Wangi harum yang keluar dari rambut milik gadis itu membuat Randu merasa nyaman.
“Aku ... takut ...” ucap Jinan pelan. “Dia membawaku ke sini!”
“Kau baik-baik saja, bukan?” ucap Randu seraya melonggarkan pelukan mereka. Randu menatap Jinan dari ujung kepala sampai ujung kakinya. “Apa yang sudah dia perbuat padamu?” Saat mengucapkan hal itu, sungguh Randu merasa marah.
Jinan menggeleng pelan. “Dia belum melakukannya. Kau datang di saat yang tepat ...” ucap Jinan seraya tersenyum kecil. “Terima kasih, Randu ... terima kasih karena sudah menolongku,” lanjutnya sambil menatap dalam manik hitam milik Randu.
“Pak ... sebaiknya Bapak membawa istri Bapak pulang atau diobati lukanya, orang ini biar kami yang mengurusnya, Bapak tak usah khawatir kami akan membawanya ke kantor polisi!”
Randu menoleh dan menatap seseorang yang dikenal sebagai ketua perkumpulan para pedagang. Randu tersenyum kecil, ia pun mengangguk. “Terima kasih ... atas bantuan bapak-bapak semuanya,” ucap Randu.
“Kami senang kalau akhirnya istri bapak dapat ditemukan,” ucap salah satu dari mereka.
Randu mengangguk kecil. Ia pun langsung menatap Jinan yang kini menatapnya juga. Tatapan gadis itu yang sendu membuatnya merasa sangat kasihan. “Ayo ... kita pulang ...” ajak Randu seraya mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu.
Air mata Jinan kembali menetes. Ia menatap tangan Randu dengan haru. Ia pun mengangguk pelan dan meletakkan tangannya di atas tangan Randu. Pria itu pun langsung menggenggam tangannya dengan lembut.
Randu membantu Jinan berdiri. Setelah itu, ia merapikan rambut gadis itu yang berantakan. Randu tersenyum kecil menatapnya. Ia tahu bahwa gadis itu masih tak terlalu memiliki banyak tenaga. Oleh karena itu, ia merangkul tubuh gadis itu dan membawanya keluar dari bangunan tua tempat dimana Jinan disekap.
Jinan terperangah melihat awan yang sudah menggelap. Berarti sudah agak lama ia dikurung oleh pria itu di sini.
“Saya tidak terlambat kan?” ucap Randu seraya menatap jalanan di hadapannya.
Jinan langsung menoleh dan menatap pria itu. Ia kemudian menggeleng pelan. “Kamu datang disaat yang tepat. Tadinya ... aku sudah pasrah ... aku tak bisa melakukan apapun lagi ... pria itu ... pria itu ...” Jinan sudah tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Ia membayangkan kejadian tadi yang membuatnya kembali takut dan menangis.
Randu paham akan kondisi gadis ifu. Tangannya yang merangkul lengan Jinan, ia mengelusnya dengan lembut berharap bisa memberikan sedikit kekuatan untuknya. “Sudah ... jangan dipikirkan lagi ... kamu sekarang sudah amat bersama saya ... tak akan ada yang bisa menyakitimu lagi ... maafkan saya Jinan ... karena seharusnya saya menunggu kamu di sana, bukannya malah pergi.”
Jinan menggeleng pelan. “Itu semua bukan salahmu.”
Ketika sampai di mobil, Randu membantu Jinan menaiki mobil dengan perlahan. Setelah itu, dengan cepat ia pun masuk ke kursi pengemudi. Sebelum menjalankan mobilnya, tangan Randu terangkat untuk mengambil selembar sapu tangan yang selalu ia bawa di kantung celananya. Ia pun langsung membersihkan ujung bibir Jinan yang mengeluarkan darah dengan sapu tangan miliknya.
Jinan menatapnya dengan lekat. Ia meringis pelan sampai membuat Randu ikut meringis juga.
“Maaf ... apa terlalu kasar?” ucap Randu.
Jinan menggeleng. “Terima kasih sekali lagi ... Randu. Jika tidak ada kamu ... aku gak tau apa yang akan terjadi kepadaku.”
Randu mengangguk mendengarnya. “Saya bilang jangan lagi dipikirkan. Kamu sudah aman bersama saya, Jinan. Pria itu akan mendapatkan hukumannya.” Randu memasukkan kembali sapu tangannya ke dalam kantung celana. “Kita pulang?” ucapnya dengan lembut.
Jinan tersenyum kecil lalu mengangguk.
Randu pun langsung mengendarai mobilnya. Sebenarnya ... banyak sekali pertanyaan di otaknya untuk gadis itu. Namun, Randu menahannya. Ia pikir sekarang bukanlah waktu yang tepat. Melihat Jinan yang baik-baik saja dan tak mendapatkan begitu banyak luka saja sudah membuatnya bersyukur. Ia sudah memikirkan hal negatif dari awal mencari keberadaannya. Dan syukurlah ... ia datang tepat waktu untuk menyelamatkan Jinan.