Sea - 13

1686 Kata
 Ketika sampai di rumah, Randu menoleh ke samping dan mendapati Jinan yang tertidur pulas. Sepertinya gadis itu kelelahan. Randu menghela napasnya sejenak, ia memegang stir kemudi dengan kencang. Masih teringat di otaknya kejadian tadi yang begitu mengenaskan dan memperihatinkan untuk Jinan. Untung saja, dirinya tak langsung pergi setelah menanyai tentang penjaga WC itu kepada pengganti penjaga WC yang baru. Ya, pria itu mengakui bahwa ia melihat penjaga WC sebelumnya membawa paksa seorang gadis. Dan ia disuruh untuk tutup mulut, tak memberitahukan hal itu kepada siapapun. Namun, karena Randu sudah terlanjur emosi, ia pun langsung memukul pria itu sampai tepar. Orang-orang berdatangan, berusaha melerai mereka. Setelah ia berhasil dilepaskan dari pria itu, pria itu langsung meminta maaf kepadanya.  Randu menanyakan kemana penjaga WC sebelumnya membawa Jinan, namun penjaga WC yang baru itu menggeleng dan tak tahu kemana dibawanya gadis itu. Orang-orang yang datang pun menjadi bingung dan menanyai permasalahannya. Randu menceritakan semuanya, ia berkata bahwa istrinya hilang dibawa oleh penjaga WC sebelumnya. Dan ia tak tahu kenapa tiba-tiba saja mulutnya berbicara bahwa Jinan adalah istrinya. Yang ada dipikirannya saat itu adalah Jinan dapat ditemukan secepatnya, ia takut gadis itu terluka dan mengalami hal-hal yang mengerikan lainnya. Akhirnya, orang-orang itu menawarkan bantuan mereka. Mereka pun bersama-sama mencari keberadaan Jinan. Randu hampir frustasi karena tak menemukannya dimanapun. Tetapi, ia tak ingin menyerah. Saat melihat sebuah bangunan ruko tua yang tak diurus lagi, entah kenapa Randu merasakan hal yang janggal. Ia memutuskan untuk mengeceknya dan benar saja ... saat dirinya dan para bapak-bapak itu masuk ke dalam bangunan itu, terdengar suara minta tolong dari seseorang. Jantung Randu berdetak begitu cepat saat tak asing mendengar suara itu ... itu suara Jinan. Ia pun berlari tak ingin membuang-buang waktu lagi. Dan saat melihat pemandangan menyakitkan di depannya, pikiran Randu langsung kacau. Ia menarik tubuh pria itu dari atas tubuh Jinan dengan sekuat tenaga. Lalu, ia memukulnya begitu kencang. Emosi sudah tak bisa ia tahan. Ingin sekali ia membunuh pria itu, namun bapak-bapak yang bersamanya tadi melerai mereka, dan berkata padanya akan membawanya ke pihak polisi. Randu memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membukanya dan menoleh melihat gadis itu yang masih terpejam. Matanya meneliti wajah cantik milik Jinan. Karena kecantikan gadis itu dan juga pesonanya ... banyak sekali orang yang ingin menyakitinya. Tadi saja, pengepul ikan langganannya meminta untuk dikenalkan kepada Jinan untuk dijadikan istri ketiga. Randu tak habis pikir. Ia juga jadi teringat bagaimana pelukan kencang nan erat yang Jinan lakukan kepadanya saat itu. Jujur saja, jantungnya tak berdetak normal saat itu ... ia merasakan jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Mengapa efeknya sampai seperti ini? Randu meremas rambutnya frustasi. Sudahlah, ia tak ingin mengingat-ingat hal itu lagi. Tangannya bergerak menyentuh lengan Jinan dan menggoyangkannya agar gadis itu terbangun dari tidurnya. "Jinan ... bangun ... kita sudah di rumah ..." ucap Randu. Randu melihat tubuh Jinan yang menggeliat, dengan cepat ia menarik tangannya dari lengan gadis itu. Lalu, dengan perlahan mata gadis itu mengerjap dan akhirnya terbuka lebar. Randu tersenyum kecil menatapnya. Jinan seperti anak-anak jika bangun tidur sangat menggemaskan, itu yang Randu lihat. "Oh ... sudah sampai ya?" ucapnya Jinan pelan. "Apa ... bibirmu masih sakit?" tanya Randu. "Eh ..." ucap Jinan kikuk. Tangan kanan gadis itu langsung menyentuh ujung bibirnya yang sedikit robek tadi. "Sudah nggak terlalu," jawabnya. "Syukurlah ... semoga keadaanmu cepat membaik," ucap Randu. Jinan tersenyum lebar. "Bolehkah ... jika aku berkata aku senang kamu memberikan perhatianmu kepadaku?" celetuk Jinan. Randu menatap Jinan dengan lekat. Lalu, ia pun tersenyum miring. "Itu hanya karena saya khawatir denganmu, Jinan." Jinan tersenyum semakin lebar. "Tak apa ... itu aku anggap sebagai awal mula kedekatan kita sebagai teman." Randu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah mendengar hal itu. Ya, Jinan bisa menganggapnya hanya sebagai teman. Tetapi, ia tak tahu dengan perasaan dirinya. Setiap berdekatan dengan Jinan ... rasanya sangat berbeda saat ia berdekatan dengan teman wanitanya. Jika ia semakin dekat dengan gadis itu, ia hanya takut perasaannya akan semakin besar. Oh Tuhan ... apakah ia baru saja mengakui bahwa dirinya memiliki perasaan lebih untuk gadis itu? Tidak! Tidak! Randu menggelengkan kepalanya memikirkan itu semua. Jinan menatapnya dengan heran. "Kenapa menggeleng seperti itu? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jinan bingung. Randu langsung tersadar. "Oh bukan apa-apa." "Aku pikir ... kamu nggak mau berteman denganku," ucap Jinan. "Sudahlah, sekarang kamu turun dan cepat masuk ke rumah, nanti saya menyusul." Jinan berpikir sejenak. Lalu, gadis itu pun mengangguk sebagai jawabannya. Ia membuka pintu mobil dan keluar dengan hati-hati. Setelah itu, ia pun berjalan menuju rumah panggung yang sudah menjadi tempat tinggalnya. Semua itu tak lepas dari pandangan Randu, lewat kaca spion mobil, Randu dapat melihat gadis itu yang berjalan sembari menunduk dan memainkan pasir menuju rumahnya. Randu menghela napasnya kasar, lalu menyenderkan tubuhnya di jok mobil. Hari ini benar-benar sangat melelahkan untuknya. Ia juga menatap bajunya yang terdapat bercak darah karena tadi sudah memukuli dua orang ba-jingan. Ia harus segera membersihkan dirinya. Randu sudah tak betah. Akhirnya, ia pun keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya. Ternyata, Jinan sudah tak ada di sana. Gadis itu sudah duluan masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum," ucapnya saat membuka pintu rumah dengan perlahan. "Ndu ... astaga ... kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa wajah Jinan seperti itu? Dan ... Ya Allah ... itu baju kamu kenapa ada darahnya? Ndu ... kenapa ini?" ucap Kak Kia saat pertama kali melihatnya masuk ke dalam rumah. Wajah wanita itu sudah kembali segar tak seperti sebelumnya saat sakit, walaupun masih terlihat sedikit pucat di bibirnya. Randu melihat wajah Kak Kia yanga sangat khawatir. Bahkan, wanita itu menyentuh wajah Jinan dan mengelus lengan gadis itu. Padahal, Jinan adalah orang asing, mereka bukan keluarga, namun Jinan diperlakukan dengan sangat baik oleh kakaknya. Randu tersenyum kecil melihatnya. "Ada sedikit musibah tadi, Kak," jawabnya. "Musibah apa, Ndu?" Bang Danu datang dengan Cantika yang berada di gendongannya. "Astaga ... bajumu penuh darah, cepat ganti!" lanjut pria itu sambil menutup mata putrinya dengan tangannya. "Ayah! Aku gak bisa ngelihat," ucap Cantika memprotes. "Anak kecil dilarang melihat," ucap Bapak satu anak itu. "Baiklah, Randu akan mandi dulu dan mengganti pakaian." "Kamu belum jawab pertanyaan kakak," ucap Kak Kia. "Nanti, setelah Randu mandi dan mengganti pakaiannya dia pasti akan menjelaskannya kepada kita semua. Kamu sabar dan tunggu saja," ucap Bang Danu seraya mengelus lengan istrinya dengan lembut. Ia menatap Jinan dengan kasihan. Gadis itu sudah sangat berantakan. Wajahnya memerah dan ada sedikit robekan di ujung bibirnya. Bang Danu jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka.  Ada rampok kah? Pencuri? Atau apa? Sampai membuat baju Randu terdapat bercak darah dan juga wajah Jinan yang mengenaskan. "Kak Kia mau kemana?" ucap Jinan seraya menahan tangan Kia yang ingin pergi. "Mau ngambil air hangat, itu lukamu perlu dikompres, Jinan." Jinan menggeleng dengan cepat. "Nggak perlu, aku bisa sendiri, Kak Kia tak perlu melakukan itu. Kak Kia baru saja sembuh, biar aku saja, aku juga bisa sendiri." "Tapi, Jinan ..." "Aku tak ingin merepotkan Kak Kia ... jadi, biarkan kali ini aku yang melakukannya sendiri, lagi pula ini hanya luka kecil, pasti akan segera sembuh," ucap Jinan seraya tersenyum lembut. Kak Kia menatap Jinan dengan lekat. Wanita itu pun ikut tersenyum. Jinan gadis yang baik. Tetapi, naas nasibnya membawa dirinya sampai ke sini. Gadis itu masih belum mengingat apapun. Ia hanya berharap semoga Jinan segera mengingat siapa dirinya yang sebenarnya ... agar mereka dapat membantu Jinan bertemu keluarganya semampu mereka. Pasti keluarga Jinan sangat mengkhawatirkan gadis itu sekarang. ••••• Di rumah mewah, seorang wanita setengah baya tengah berdiri di atas balkon sembari melihat ke arah langit yang dipenuhi bintang-bintang. Lalu, datanglah seorang pria paruh baya mendekatinya. Tangan besar pria itu menyentuh kedua pundak milik istrinya.  "Sudah malam, waktunya tidur," ucapnya dengan pelan. Wanita setengah baya itu menggeleng pelan. "Dimana anakku? Kenapa sampai sekarang belum juga ditemukan?" jawabnya dengan sedih. Pria itu menumpukkan dagunya di pundak kiri istrinya. "Mereka juga sedang berusaha mencari keberadaan Hasya, Ma ..." "Waktunya hanya tersisa satu hari, kalau sampai besok Hasya belum juga ditemukan ... maka mereka akan berkata bahwa Hasya sudah meninggal," ucapnya dengan isak tangis. "Kita terus berdo'a untuk keselamatan Hasya, semoga besok ada keajaiban." "Kita sudah mengadakan kajian di rumah ini untuk mendoakan Hasya dan berharap anakku pulang dengan selamat, namun sampai saat ini tak ada kabar baik yang kita dapatkan ... semua yang kita lakukan sia-sia saja." Tiba-tiba saja telepon dari kantung celana pria itu berbunyi. Ia pun dengan cepat mengangkatnya. "Iya, halo ... ada apa, Nak Aryo?” tanyanya. “Apa sampai sekarang belum ada kabar mengenai Hasya?”  Pria paruh baya itu memejamkan matanya mendengar ucapan dari Aryo—pria yang mereka jodohkan dengan Hasya. “Belum ada.” “Saya sangat berharap Hasya segera ditemukan, dan mudah-mudahan keadaannya baik-baik saja.” “Ya, semoga saja begitu. Terima kasih atas doanya, Nak Aryo.” “Dan setelah Hasya ditemukan ... kalau dia masih dalam kondisi hidup ... saya ingin pernikahan kami secepatnya dilaksanakan.” “Ya, bagaimana nanti saja,” ucapnya seraya memijat keningnya sendiri. “Saya sudah sangat mencintai Hasya, Pak ... saya sangat berharap Hasya masih hidup ... saya ingin sekali menikah dengannya.” “Kita doakan yang terbaik untuk Hasya. Kalau begitu ... saya tutup dulu teleponnya, sudah malam ...” ucapnya. Setelah mendapatkan persetujuan dari lawan bicaranya, ia pun langsung menutup teleponnya. “Siapa, Pa?” tanya sang istri. Pria itu menghela napasnya. “Nak Aryo.” “Apa yang dia katakan?” “Dia berharap Hasya segera ditemukan, dan berdoa supaya Hasya baik-baik saja ... setelah itu, ia ingin menikah dengan Hasya, Ma ... jika Hasya masih hidup, dia berkata dirinya sangat mencintai putri kita.” Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan haru. “Aryo anak baik. Tetapi, Hasya sangat menentang perjodohan ini. Mama tak habis pikir ... seharusnya ia tak sampai kabur ... kalau kejadiannya begitu pasti saat ini Hasya masih bersama kita. Kita juga pasti saat ini sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Nak Aryo ... walaupun Hasya tak menginginkan pernikahan itu sama sekali.” “Apa kita terlalu memaksanya?”  Wanita itu mengidikkan bahunya. “Tak tahu. Semoga saja ... anakku segera ditemukan ... dalam keadaan baik-baik saja,” harapnya sambil memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN