BAB 11

1539 Kata
Brian pergi meninggalkan Chyntia sendiri. Chyntia mau tidak mau harus membersihkan aquarium dan kolam ikan yang ada di ruangan Joehan. Tapi dia masih penasaran dan ingin menggeledah semuanya. Tadi ia sempat melirik Brian mengambil Flashdisk dari laci Joehan, padahal tadi Chytia tidak melihat itu. Chyntia kembali menggeledah seluruh sudut dan seluruh lemari. Membuka laci dan menelaah dimana ia tadi Brian mengambil Flashdisk. Memasukkan lengannya agak dalam. Meraba-raba apakah ada tempat tersembunyi. Akhirnya ia menemukan sebuah kotak. Kotak yang berbalut kulit buaya yang terlihat indah. Isinya kosong. 'Yah kosong. Tidak ada apa-apa.' Pencarian yang tidak menemukan sesuatu apapun. Chyntia melirik ke arah kolam dan aquarium. 'Pria yang aneh. Kenapa ada kolam dan ada aquarium juga di dalam ruangan kerja. Mungkin dia pikir, pikirannya akan tenang dengan suara air!' Menghembuskan nafas perlahan. Ia ke dalam toilet, mengambil alat-alat yang dibutuhkan untuk membersihkan kolam dan aquarium itu. Perlahan ia keluarkan ikan satu persatu dan ia simpan kedalam ember. Membuka saluran pembuangan air menyikat kolam lalu mengisi dengan air yang baru. Memasukan ikannya kembali. Memberi nama sesuai perintah Joehan. Untung daya ingatnya tinggi dan ikan yang ada motifnya berbeda-beda. Chyntia dengan mudah menamai dan mengingat mereka semua. Setelah membersihkan kolam, Chytia beralih untuk membersihkan aquarium. Tidak lupa ia memberikan sentuhan terakhir dengan menyemprotkan cairan pengkilap pada kaca aquarium. Hampir selama dua jam menunggu Chyntia menunggu. Sangat terasa bosan. Suara nyaring terdengar dari benda pipih berbentuk persegi empat panjang. Ponsel di dalam tas Chyntia menunjukan seseorang menghubunginya. Ia menggeser gambar hijau, menempelkan ponsel pada telinganya. Terdengar suara seorang pria yang berbicara melalui telepon. "Chyntia bagaimana kabarmu? Kakak rindu!" Dia sangat mengkhawatirkan dan merindukan Chyntia. "Chyn baik-baik saja, kak!" Jawab Chyntia dengan santai. "Kamu apa-apaan sih, ide gila ini buat kakak pisah dari kamu!" Terdengar ada kekecewaan yang ia rasakan. "Maaf kak!" "Kakak tidak mengizinkan, tapi kamu tetap memaksa! Kamu keras kepala, Chyn!" "Bukan adeknya kakak kalau aku tidak keras kepala! Itu ciri khas, kan!" Berusaha membela diri. "Ide gila ini jika tidak diselesaikan tepat waktu awas, yah!" Sedikit mengancam. "Iya, iya … bawel!" Chyntia menutup teleponnya. Pekerjaan membersihkan kolam belum selesai. Ia harus mengisi air yang baru dan memasukan ikan-ikannya kembali. Setelah selesai Chyntia merasa lelah dan mengantuk. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tugas itu lumayan membuat tubuhnya terasa pegal-pegal. Selang beberapa menit ia sudah berada di alam mimpi. Dua orang pria tengah berjalan keluar dari ruang meeting. Mereka berdua sangat terlihat hangat dan akrab.  Sebuah notifikasi masuk dan berbunyi yang asalnya dari ponsel Joehan. Ia segera mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya. Notifikasi sebuah kiriman baru di media sosial yang berasal dari seorang wanita cantik. Joehan memperhatikan foto yang baru saja diunggah lewat laman i********:. Wanita berambut hitam nan panjang, tubuh yang tinggi dan terlihat sexy, sedang duduk di cafe dan terlihat sendirian. Joehan tersenyum tipis melihat apa yang ditampilkan pada layar ponselnya. "Lihat apa Joe, sampai kamu senyum-senyum begitu?" tanya Brian. "Kamu mau tau saja, Bri!" Joehan sedikit menjauh dari Brian. "Oh … jadi … tidak mau memberitahu tahu aku?" Brian kesal Joehan menyembunyikan sesuatu darinya. "Tidak usah tahu, Bri." Brian berusaha mengintip dan ia berhasil melihat apa yang ada pada layar ponsel joehan. Ia membulatkan mata, melihat apa yang ditampilkan pada layar ponsel Joehan itu. Layar menampilkan gambar mantan kekasih Joehan yang masih sangat temannya cintai itu. Sebuah kisah cinta yang menyedihkan dan membuat Joehan patah hati. Hingga saat ini pria di sebelah Brian tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Joehan masih ingin tahu bagaimana hidup, wajah serta keseharian mantan kekasihnya melalui media sosial. Segala usaha telah Brian lakukan saat dulu Joehan frustasi. Sahabatnya sempat mogok makan, mogok sekolah dan tidak keluar rumah. Berkat motivasi yang Brian dan kakek Joe berikan, pria itu berhasil bangkit kembali tetapi tidak bisa move on. "Yah … ada yang belum bisa move on! Udah tahun keberapa ini. Hallow!" ejek Brian. "Kamu mengintip, Bri?" tanya Joehan. "Iya! Kamu niat sekali Joe, sampai mengaktifkan notifikasi jika wanita itu mengunggah foto terbaru. Belum tentu dia seperti itu juga." Brian kesal karena sahabatnya teris saja ingin tahu akan keadaan mantan kekasihnya. "Dia sedang tidak memiliki kekasih, Bri. Haruskah aku mendekatinya lagi?" Joehan meminta pendapat. Brian tidak terima. "Apa kamu lupa, dulu dia sangat menyakiti tanpa ada kata maaf. Wanita playgirl itu tidak pantas mendampingimu, Joe!" Brian naik darah. Ia sangat membenci mantan kekasih Joehan. "Dia cinta pertamaku, Bri!"  "Joe, kamu sampai bergonta ganti wanita, tidur bersama dengan wanita berbeda tiap harinya demi melupakan mimpi buruk itu. Kamu malah masih mengharapkan saja cinta darinya? Sungguh bodoh sekali pria di sebelahku ini." Brian menyilangkan tangan di depan d**a. "Belum ada wanita yang bisa membuat aku sepenuhnya melupakan dia, Bri." "Cari Joe, cari …. Buat apa tiap malam gonta ganti jika tidak ada yang kamu suka sama sekali. Usahaku selama ini sia-sia kalau kamu bersikeras untuk tidak melupakannya." "Maafkan aku, Bri. Sungguh sulit untuk melupakan dia. Dia yang dulu sangat berharga dalam hidupku." "Pilih aku atau dia Joe?" tanya Brian. Joe yang merasa sahabatnya marah segera merangkul Brian. "Maaf, Bri. Kalian bukan pilihan. Tidak ada yang bisa tergantikan dan tidak bisa dibandingkan!" Brian menghembuskan nafas kasar. "Sekuat-kuatnya kamu mendekati dia, aku akan kuat juga untuk memisahkan kalian dan menyadarkan kamu, Joe. Wajahmu tampan, hartamu sekarang sangat banyak, popularitasmu tidak diragukan lagi. Masih banyak wanita cantik, sukses dan baik yang pantas mendampingimu!" "Iya sahabatku yang bawel. Sudah, Bri? Kamu mengoceh saja dari tadi!" Joehan menepuk pundak Brian. "Sudah." jawab Brian singkat. Ia sangat kesal pada Joehan yang susah move on. Mereka sampai di ruangan kerja Joehan. Melihat Chyntia yang sedang terlelap tidur. Joehan mendekat, memperhatikan wajah mungil, manis dan cantik, bibir imut nan lucu, hidung mancung dan berukuran tidak terlalu besar khas orang Asia. Brian memperhatikan tingkah jahil Joe saat pria itu sedang menekan-nekan hidung Chyntia. Gadis itu sama sekali tidak terbangun. Joehan akhirnya menutup lubang hidung Chyntia dengan tissue, membuat Chyntia hampir bersin dan gadis itu kesulitan untuk bernafas. Joehan dan Brian tertawa saat melihat Chyntia bangun dengan tissue yang menutupi kedua lubang hidungnya. Chyntia melepas tissue yang membuat hidungnya mampet, melemparnya pada Joehan. "Ih … jahil. Kalian malah menertawakan aku!" Chyntia memajukkan bibirnya yang berwarna merah muda. Sangat terlihat lucu dan menawan. "Capek tau, habis bersihin kolam dan aquarium. Tega ya di bangunin!" "Hey … ini jam kerja. Kamu lupa? Ayo sekarang ikut aku!" ajak Joehan tanpa memberikan waktu untuk Chytia membasuh wajahnya terlebih dahulu. Chyntia kini mengikuti langkah Joehan dan Brian. Brian kali ini yang mengemudi. Joehan duduk di bangku belakang. Chyntia mengikutinya. "Hey … kamu duduk di depan dengan Brian. Kenapa duduk di belakang? Kan bosnya aku!" "Hey … pria menyebalkan ini bawel sekali. Harusnya tadi minta maaf mengganggu orang yang sedang tidur, sekarang malah marah-marah hanya karena perkara duduk di mobil. Hidup anda tidak simple sekali. Giliran aku saja yang salah pasti di suruh minta maaf!" Brian membekap mulutnya. "Uwawww … Chyntia ternyata bawel juga! Good!" Mengacungkan kedua jempolnya. "Lanjutkan, Chyn." "Iya … maaf Nona manis, saya membangunkan tidurnya Nona manis. Sudah ya minta maafnya." Joehan memalingkan wajah. Chyntia tetap duduk di bangku belakang. Joehan melirik ke arah Chyntia dan ingin mengomel kembali. "Diam. Jangan bawel dan jangan banyak berkomentar. Kamu punya salah tadi, dan aku punya jasa telah membersihkan aquarium dan kolam aneh di ruangan CEO!" Chyntia menatap Joehan dengan tajam. Bria tersenyum tipis. Dia baru menyadari sikap baru Chytia yakni bisa juga mengomel dan keras kepala. Brian merasa Chyntia cocok untuk mendampingi Joehan. "Kalian lama-lama seperti tikus dan kucing. Berkelahi terus!" Brian menjalankan mobil dan mengarahkan ke suatu tempat. Brian dan Joehan sudah ada janji bertemu dengan orang yang begitu penting. Ini untuk menyelesaikan kasus yang menimpa Joehan. "Kita jadi ajak join untuk tander ini, Joe?" tanya Brian untuk memastikan. "Orang ini netral ko, Bri. Dia pasti tidak akan menjelekkan diriku. Kita sambil cari informasi lewat dia tentang orang itu." Joehan mempercayai orang yang akan bertemu dengannya saat ini. "Kenapa polisi lama sekali menyelesaikan kasus ini." Brian kesal. "Aku tak tahan ingin segera membereskan masalah ini. Lebih baik jika kau yang menjadi polisinya, Bri. Pasti akan cepat terpecahkan!" "Sayangnya aku lebih tertarik menjadi bodyguard mu, Joe. Gajinya lebih tinggi!" "Dasar kau!" Chyntia mengerutkan dahi. 'Mereka sedang ingin bertemu siapa dan ada masalah apa sampai polisi lama menyelesaikan kasus, dan kasus apa yang menimpa Joehan.' “Kasus apa? polisi? Kenapa kalian berurusan dengan polisi?” Chyntia memberanikan diri untuk bertanya. “Ini salahku yang tidak teliti dan tidak melarang Joehan untuk pergi kesana. Mungkin kalau aku teliti bisa membaca akan adanya masalah dan bahaya, itu tidak akan terjadi. Ya sudah lah, kita sedang terkena sial saja waktu itu. Kamu tidak perlu tahu karena apa. Ini masalah kita pribadi, Chyn.” jawab Brian. “Kenapa aku tidak boleh tahu? lama-lama juga nanti aku tahu sendiri!” “Nanti saja kalau sudah beres masalahnya baru kamu boleh tahu!” jawab Joehan. Tidak lama mereka sampai di sebuah rumah mewah dengan halaman yang sangat luas. Ini dua kali lebih besar dari rumah Joehan. Mereka sudah melakukan janji untuk bertemu siang ini. Seorang pria paruh baya keluar menyambut Joehan. “Hallo, Joe. Apa kabar?” “Baik. Bagaimana dengan kabar bapak? Sudah lama kita tidak bertemu! terakhir kali hanya pada saat tragedi itu.” “Bagaimana perkembangan kasusnya? Apa masih memberatkan namamu dan Brian?” tanya Pria itu pada Joehan. “Masih rumit dan belum ada kejelasan.” Pria paruh baya itu melirik ke arah Brian. “Oh iya … aku lupa untuk menyapamu juga, Bri!” Mereka berdua saling berjabat tangan. Pria paruh baya itu juga melirik ke arah Chyntia. “Siapa gadis cantik yang ikut bersama mu ini, Joe?” “Asisten baruku, Pak!”  “Kenapa wajahmu seperti sering aku lihat, Nona. Apa kita saling mengenal?” Mengerutkan dahi, berusaha mengingat wajah Chyntia. Wajah gadis yang mirip dengan orang yang ia kenal. Chyntia berusaha untuk tidak panik ia membalas jabatan tangan pria paruh baya yang ada di hadapannya. “Mungkin hanya perasaan anda saja, Tuan!” Chyntia tersenyum. “Tidak. Ingatanku biasanya kuat. Kamu mirip ….”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN