Mobil melewati gedung-gedung yang menjulang tinggi. Berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit. Joehan memberikan kunci mobil pada seorang pria yang berpakaian serba hitam.
Chyntia ikut turun dan mengikuti langkah kaki Joehan.
"Besok-besok pilihlah pakaian office, Chyn. Jangan samakan pakaian kantor dengan pakaian main! Itu lebih pantas di pakai untuk berjalan-jalan." Joehan melirik penampilan Chytia. Sementara dia terlihat sangat rapi dan tampan dengan jas berwarna abu dan dasi hitam.
"Iya, Joe!" jawab Chyntia. Gadis ini memperhatikan setiap sudut dan jalan yang ia lewati. Semua karyawan memberikan hormat pada Joehan.
Di dalam gedung itu sungguh sangat mewah dan rapi. Joehan sangat memperhatikan kerapihan, gaya, arsitektur dan kemewahan setiap sudut kantornya.
Merek berdua berakhir di sebuah ruangan yang luas dan ada sekretaris dan seorang asisten yang duduk di bangku sebelum pintu ruangan ini.
"Kenalkan ini Chytia, asisten saya yang baru. Jari tugasmu sekarang untuk membantu sekretaris saya, Chyntia dan Brian ya!" ucap Joe pada asistennya yang lama!"
"Baik, Tuan!"
Chyntia ikut masuk ke ruangan lebih besar lagi dan terlihat nyaman. Ada kolam ikan dan aquarium kecil di dalamnya.
Tempat kerja yang nyaman dengan suara percikan air yang membuat hati tenang.
Chyntia memperhatikan setiap sudut di ruangan itu. Berjalan melihat-lihat koleksi serta foto yang terpajang rapi.
"Ini ruangan kerjaku. Untuk sementara waktu kamu duduk di sofa terlebih dahulu. Nanti akan ku belikan meja dan kursi baru!"
"Iya, Joe!" Chyntia masih sibuk melihat-lihat.
"Kamu baru pertama kali masuk ke ruangan seperti ini, Chyn?" tanya Joehan.
Chyntia mengangguk.
"Apa sekarang kau sedang berkuliah Chyn?" Joehan penasaran.
"Kau penasaran Joe?" Di jawab sebuah anggukan oleh Joehan.
"Aku sedang tidak berkuliah. Mana ada uang untuk berkuliah! Aku bekerja paruh waktu dan mengambil job model jika ada yang menawarkan kepadaku!"
"Kumpulkan gaji dariku untuk membeli rumah dan berkuliah, Chyn. Gaji dariku kan lumayan besar!" Di jawab sebuah anggukan oleh Chyntia.
"Hati-hatilah dalam bergaul dan memilih teman Chyn! Apa lagi katamu, kau tidak mempunyai teman ataupun keluarga."
"Iya, Joe. Baru aku tahu kau bawel juga." Chyntia duduk di kursi.
"Kau belum tahu saja kebawelanku!" Berbicara dengan suara kecil.
"Kau bicara apa lagi, Chyn. Aku tidak mendengar perkataanmu!" Joehan menyalakan komputernya.
"Tidak ada apa-apa!"
Terdengar suara ketukan pintu. Joehan mempersilahkan orang yang mengetuk itu untuk masuk.
Terlihat seorang pria berbadan proporsional, manis dan terlihat rapi dengan jasnya.
"Selamat pagi, Joe. Apa kemarin malam kau pulang dengan selamat?" Brian tersenyum dengan manis.
"Iya, tapi aku punya hambatan!" jawab Joehan.
"Kenapa, Joe?" Brian berjalan menuju meja Joehan tidak melirik ke arah Chyntia. Ia belum menyadari ada orang lain selain Joehan di ruangan itu.
"Seseorang meminta tolong dan aku membantunya!"
"Kau berkelahi? Ini ada bekas luka di sudut bibirmu." Memegang wajah Joehan. Brian merasa bersalah.
"Maafkan aku karena kemarin aku malah bersenang-senang!"
"Iya … tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya sendiri, Bri. Aku kan yang menyuruhmu untuk bersenang-senang!"
"Siapa orang yang kau tolong, Joe?" Brian penasaran.
"Kau yang suruh aku menolongnya kan waktu itu?" Memberikan klu.
"Jangan-jangan …."
"Lihat ke arah sana, Bri!" Menunjuk ke arah Chyntia yang tengah duduk di sofa.
Chyntia melebarkan mata, melihat pria yang berdebat dengannya saat di hotel.
"Hey gadis angkuh, tomboy dan sombong yang tidak mau meminta maaf! Namamu siapa?" Melambaikan tangan ke arah Chyntia.
Chyntia memalingkan wajah menepuk keningnya. "OMG. Chyntia, bego sekali kamu, kenapa baru ingat!" gerutunya dalam hati.
Ia kembali melirik ke arah pria yang menyapanya.
"Chyntia. Kamu pria yang di hotel itu kan? Yang berdebat denganku? Dan em … berarti Joehan orang yang bertabrakan denganku?" Menunjuk kedua pria dengan telunjuknya.
"Kamu baru ingat aku, Chyn?" tanya Joehan.
"Jadi kamu ingat kejadian itu, Joe. Kenapa kamu tidak memberitahu aku saat kemarin!" Menyilangkan tangan di depan d**a.
"Jadi kamu menyelamatkan gadis itu, Joe!" Brian tertawa.
"Kemarin seperti tidak peduli. Ternyata diam-diam di belakangku kau menolongnya. Apa kalian tidur bersama semalam?" tanya Brian.
"Kita tidur bersama, ko!" jawab Joehan dengan enteng.
"Eh … eh … enak saja! Kami tidak tidur bersama ko. Joehan bohong!" Chyntia berdiri dan mendekati dua pria tampan itu.
"Apa tadi yang kamu bilang? Joehan tidak peduli? Kalian menyembunyikan sesuatu di belakangku?"
"Joehan menyu—" perkataan Brian terputus. Joehan membekap mulutnya
"Bukan urusanmu, Chyn. Ini masalah pribadi!"
Chyntia menatap Joehan dengan mata sinis.
"Duduk kembali di bangkumu!" perintah Joe.
Chyntia kembali duduk.
Brian mendekat dan berbisik pada Joehan, "katanya kemarin kau tidak peduli dan tidak mau menolong gadis tomboy dan sombong itu?"
"Awalnya kan tidak!"
"Ceritakan padaku!" Brian menyandarkan bokongnya di sudut meja Joehan. Mereka berbicara sambil berbisik-bisik.
"Aku bertemu dengan dia di lift saat dia dikejar dua bodyguard. Dia meminta pertolongan. Aku tidak tega dan akhirnya menolong dia."
"Lantas kenapa bisa kamu di pukuli orang?"
"Aku dipukul dan adu mulut dengan orang yang membeli Chyntia. Kamu tau berapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk membeli atau menyelamatkan dia?"
"Berapa, Joe?" Brian penasaran.
"Dua kali lipat!"
"Jumlah yang lumayan. Lantas kau tidur tidak dengannya? Kan kamu sudah membayarnya, Joe."
"Tidak, Bri. Sudah ku bilang kan. Aku tidak suka gadis yang masih perawan. Aku harus bilang berapa kali kepadamu?"
"Yah … seribu kali, Joe. Sayang sekali, biar aku saja yang tidur dengannya kalau begitu. Itu kan jumlah uang yang bukan sedikit. Tidak icip-icip, Joe?"
"Enak saja. Daripada memberikan kepadamu biar aku saja!"
"Sudah icip-icip, yah?"
"Hanya mencium bibirnya saja!"
"Rasa apa?"
"Rasa jeruk!"
"Itu saja? Tidak yang lain?"
"Iya!"
"Kalau aku di posisimu. Akan ku buka segelnya lebih dulu!"
Mereka berdua tertawa kecil. Tidak ingat bahwa ada orang lain di ruangan itu yang tengah bingung untuk melakukan apa.
"Ehem …." Chyntia mengagetkan dua pria yang tengah asyik mengobrol.
"Kalian sibuk dengan dunia kalian berdua saja! Bagaimana dengan nasibku. Apa lebih baik aku pergi keluar saja?"
"Jangan-jangan! Kamu bosan kan?"
"Iya!" jawab Chyntia dengan ketus.
"Mau tugas dariku?"
Chyntia mengangguk.
"Kalau begitu. Kuras semua air di aquarium dan di kolam ikanku ini. Bersihkan dan ganti dengan air yang baru!" Joehan mengedipkan sebelah matanya pada Brian.
Brian yang mendengar perintah Joe pada Chyntia tersenyum dan membalas kedipan mata Joe.
"Hah … yang benar saja. Ada ofice boy kan? Kenapa harus aku?"
"Ikan-ikanku manja. Dia tidak suka dibersihkan oleh sembarang orang. Jadi kamu yang harus membersihkan kolam dan aquarium di ruanganku. Jangan lupa selamatkan ikanku. Jangan ada yang lecet atau mati. Tidak lupa juga. Berikan mereka nama!"
"Aneh-aneh saja perintahmu. Masa ikannya di berikan nama!"
"Kamu pernah dengarkan. Kucing dan anjing yang dipanggil majikannya? Memang mereka di panggil anjing atau kucing? Mereka di panggil dengan namanya kan?"
"Iya, dengan nama!" jawab Chyntia.
"Maka dari itu. Berikan ikanku nama!" perintah Joehan.
"Iya!"
"Ets … ingat, hati-hati. Ini tugas kedua selama menjabat sebagai asisten!"
Brian kaget dengan ucapan joehan. "Hah … dia menjadi asistenmu, Joe?"
"Benar, Bri. Baca ini!" Menyerahkan map berisi perjanjian Joehan dengan Chyntia.
"Kamu beruntung mendapatkan bos yang baik, Chyn!" Brian mengacungkan jempol pada Chntya.
"Kami akan meeting. Jadi … selesai meeting semua harus sudah beres, oke!"
"Iya, Joe!"
"Ayo kita pergi, Bri!" Joehan mengajak Brian untuk keluar dan melakukan meeting.
"Dah Chyntia. Namaku Brian!" Melambaikan tangan pada Chytia.
Keingintahuan Brian sangat tinggi. Ia mengulik semua alasan Joehan kenapa memiliki ide untuk menjadikan Chyntia sebagai asistennya. Padahal Joe sudah memiliki asisten pribadi.
Joehan menjadikan Chyntia asisten karena membiarkan gadis itu tinggal di rumahnya. Memberikan gaji setiap bulan untuk Chyntia hidup. Padahal semua sudah Joehan tanggung. Uang itu bisa Chytia tabung untuk biaya kuliah atau membeli rumah.
Soal uang Joehan yang banyak di gunakan untuk menyelamatkan Chytia di anggap uang yang tidak seberapa. Dengan itu ia bisa mengikat dan berada dekat dengan Chyntia.
"Ide yang sangat brilian, Joe. Dengan begitu kau bisa mendekatinya!"
"Apa aku terlihat jelas menyukainya. Hey … Bri. Aku hanya ingin mengerjai dan menjadikan dia hiburan saja! Aku tidak menyukai gadis itu!"
"Tidak usah berbohong. Kau dan aku tidak kenal kemarin sore. Aku tahu kamu pasti menyukai gadis cantik itu!"
"So tau kamu, Bri! Dia hanya mainanku saja!" Joehan menyukai Chyntia karena kepolosan dan kelucuan ekspresinya yang spontan.
Berbeda dengan wanita lain yang sudah biasa menghangatkan kasurnya. Mereka terlihat biasa saja. Tidak membuat hatinya berdebar atau membuat bibir Joehan tersenyum.
Joehan merangkul Brian yang tingginya agak sedikit lebih unggul darinya.
Chyntia yang saat ini sedang sendirian dan tengah kesal karena di suruh membersihkan kolam, tangannya mengepal. Pandangannya tertuju pada meja kerja Joehan.
Beranjak dari kursi yang ia duduki lalu merapikan meja kerja Joehan. Menggeledah apakah ada sesuatu yang penting dan berharga.
Chyntia membuka semua lemari di bawah meja kerja. Memeriksa setiap pas bunga dan meja-meja kecil. Siapa tahu dia akan menemukan sesuatu.
Joehan yang sudah sampai di ruangan meeting merasa ada yang kurang. "Bri, sepertinya ada yang ketinggalan!" Memikirkan apa yang tertinggal.
"Apa itu? Flashdisk, berkas kertas-kertas penting atau laptop?" Brian mencoba menebak.
"Ah iya, Bri. Flashdisk. Kalau laptop kan ada di ruangan meeting."
"Oke aku ambilkan!"
Suara hentakan kaki terdengar semakin mendekat ke ruangan Joehan. Chyntia panik karena ada orang yang akan masuk.
"Sedang apa Chytia?" tanya Brian.
"Em … ah … aku sedang mencari alat-alat untuk membersihkan kolam dan aquarium." Alasan yang kurang akurat menurut Chytia. Tapi apa lagi selain itu.
"Oh … jangan cari kesitu. Ada di lemari di toilet ko. Cari saja kesana!" Menunjuk ke arah toilet.
"Kenapa kamu kembali?"
"Ada barang Joehan yang ketinggalan. Jadi aku yang kembali kesini" Brian mengambil Flasdisk di kotak penting yang disembunyikan di laci meja Joehan.
"Aku pergi! Selesaikan tugasmu, dua jam lagi kami kembali!"