Seorang gadis tengah duduk di lantai memeluk lututnya. Hanya ada tepukan-tepukan di bagian pundak yang membuat hatinya lebih lega dan tenang. Bulir-bulir air mata membasahi pipi hingga jatuh membasahi celana jeans yang ia kenakan. Lama ia terduduk disitu hingga tak menghiraukan orang yang dari tadi menemaninya. Rasa lapar di perut buncit bergelambir Obel mendera. Ia menahannya karena ingin menemani Chyntia dahulu. Menguatkan hati yang tengah rapuh itu. Barulah ada suara yang keluar dari mulut Chyntia. “Kenapa dia tidak jujur dan membohongiku, Bel. Kenapa?” “Aku tidak tahu, Chyn. Kau yang lebih mengenal dia daripada aku,” jelas Obel yang tidak mau mengambil kesimpulan. Ia takut perkataannya salah dan malah membuat Chyntia semakin bersedih. “Dia mempermainkan aku, Bel. Mungkin karena di

