"Aduh!"
Rintihan kecil keluar dari bibir Berliana. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Namun tak lama kemudian, dia merasakan jika tangan kanannya susah digerakkan, seakan ada sesuatu yang menghambat pergerakannya.
"Liana. Jangan bergerak dulu, nanti infusmu lepas." Berliana menoleh dan melihat Oliver berdiri di sampingnya dengan wajah khawatir.
Wanita itu lalu melihat tangan kanannya yang terpasang infus. Hembusan napas kasar pun keluar dari mulutnya. "Ver. Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Mobilku menabrak sebuah pohon, kamu pingsan dan aku langsung menghubungi ambulans. Syukurlah setelah dilakukan pemeriksaan tidak ada yang serius, kamu pingsan karena terkejut dan anemia," jelas Oliver.
Berliana menunduk setelahnya, merasa bersalah karena telah memukul Oliver di saat pria itu sedang mengemudi.
"Aku minta maaf karena telah membuat kita kecelakaan," ucap Berliana dengan nada bersalah.
"Nggak apa-apa, Liana. Yang penting kamu nggak apa-apa, kamu bisa pulang setelah infusnya habis. Ini aku sudah belikan makanan biar kamu nggak lemas."
"Tapi aku nggak merasa sakit dan mau pulang ...."
Namun sebelum Berliana menyelesaikan kalimatnya, Oliver memotong. "Kamu jelas sakit, Liana. Tunggu infusannya habis, baru kita pulang."
Hening sejenak sebelum Oliver kembali bersuara. "Ini makanlah, aku beli nasi ayam khas Havana. Semoga cocok dengan lidahmu."
Aroma rempah menyeruak saat Oliver membuka sebuah wadah plastik transparan. Bahkan Berliana yang tak merasa lapar pun meneteskan air liurnya.
"Terima kasih."
Berliana mengambil wadah itu dari tangan Oliver dengan tergesa, membuat pria itu tertawa kecil. Dia merasa gemas dengan tingkah wanita itu.
"Sama-sama. Sekarang ayo kita makan. Aku juga sudah memberitahu pihak kantor kita masing-masing mengenai musibah ini. Mereka setuju untuk mengundur meeting sampai lusa."
Berliana menghentikan makannya, lalu menatap Oliver dengan raut nada panik. "Terus apa tanggapan mereka, Ver? Apa bosku atau bosmu marah?"
"Tidak usah khawatir, Liana. Para bos itu nggak akan marah karena kejadian ini. Justru dari kabar yang aku dapat dari sekertaris bosku, bosmu malah khawatir banget sama kamu."
"Benarkah begitu?" gumam Berliana lebih kepada dirinya sendiri.
"Sudah, jangan pikirin pekerjaan terus. Yang ada kamu bakal lama sembuhnya," ucap Oliver berusaha menenangkan Berliana.
"Berliana."
Keduanya menoleh dan melihat Jonathan yang baru memasuki ruang IGD dengan raut wajah tegang. Berbanding terbalik dengan Clara yang menampilkan wajah kesal.
Berliana mengembuskan napas kasar, untung saja dia sudah menyelesaikan makannya. Jika tidak sudah pasti nafsu makannya akan menguap begitu saja.
"Apa yang terjadi?" tanya Jonathan dengan nada datar.
"Hanya kecapekan dan anemia," jawab Berliana singkat.
"Bohong! Aku mendapat kabar kalau kamu kecelakaan. Ini akibatnya kalau kamu pergi dengan sembarang orang!" bentak Jonathan, suaranya naik beberapa nada oktaf.
Seketika suasana IGD menjadi tegang, beberapa perawat dan beberapa orang menoleh ke arah mereka dengan penasaran.
"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya," sahut Berliana dengan nada kesal.
Oliver yang merasakan ketegangan di antaranya keduanya, berinisiatif menenangkan suasana. "Sudah, sudah. Jangan bertengkar lagi. Lagipula Berliana sudah boleh pulang saat infusnya habis."
Namun Jonathan yang sudah tersulut amarahnya langsung mencengkram kerah baju Oliver. "b*****t! Semua ini karena kau yang nggak becus mengemudi!"
Oliver hanya diam, tahu jika meladeni orang yang sedang dikuasai amarah adalah sia-sia.
Sedangkan Clara melihat itu sebagai kesempatan untuk mengambil hati Jonathan, dia segera menghampiri pria itu dan mengusap pelan punggungnya.
"Joe. Jangan terbawa emosi, ini di rumah sakit. Kamu nggak mau 'kan jadi pusat perhatian? Kita selesaikan dengan kepala dingin."
Jonathan akhirnya melepaskan cengkramannya, sekaligus mendorong Oliver dengan kuat, membuat pria itu sedikit terhuyung ke belakang.
Napas Oliver memburu. Andai saja keseimbangannya tidak bagus, dia pasti sudah jatuh dan menabrak tiang infus Berliana.
Berliana yang melihat semua itu, tanpa sadar memegang erat selimutnya. Jantung gadis itu berdebar, bukan karena rasa sakit, tapi karena amarah yang mulai merayapi.
Padahal Jonathan yang awal menyetujui pernikahan ayah Berliana dengan ibunya, menjadikan mereka sebagai saudara tiri. Tapi sekarang pria itu bertindak seperti kekasih yang sedang cemburu.
Jadi sebenarnya apa diinginkan Jonathan darinya? Pikir Berliana di dalam hatinya.
Oliver yang didorong dengan keras, hanya bisa menghela napas panjang. Dia merapikan kerah bajunya tanpa mengeluarkan kata-kata. Dia tahu jika dalam situasi seperti ini, setiap kata yang dia ucapkan hanya akan menjadi bensin yang menyulut api amarah Jonathan.
Dia memilih mundur selangkah, menempatkan jarak antara dirinya dan ranjang Berliana.
Clara kembali mengambil kesempatan itu. Dia beringsut mendekat ke Jonathan, meletakkan tangan di lengan pria itu seolah sedang menenangkannya, namun matanya memancarkan rasa kemenangan tipis saat menatap Berliana yang memucat di ranjangnya.
"Liana ..." Jonathan mengabaikan Oliver dan berbalik menghadap Berliana, suaranya kembali datar namun dingin dan menuntut. "Kita pulang sekarang."
Berliana mengerutkan kening. Dia menunjuk selang infus di tangannya. "Infusku belum habis. Dokter bilang—"
"Aku tidak peduli apa kata dokter," potong Jonathan tajam. "Aku akan mengurus administrasi agar kamu bisa segera pulang. Aku tidak suka kamu berlama-lama di sini, apalagi ditemani ... orang luar," katanya sembari melirik Oliver dengan jijik.
Kata-kata itu membuat Berliana bangkit sedikit di atas ranjang. "Dia bukan 'orang luar', Joe. Dia itu teman kuliah kita, dan dia yang membawaku ke sini!" suaranya meninggi.
"Teman kuliah? Tapi aku tidak menganggapnya seperti itu." Jonathan tertawa sinis.
"Seharusnya kamu tidak usah berkendara dengannya sampai membuatmu kecelakaan! Kamu memang w************n, bisa-bisanya tergoda rayuan dari pria b******n ini."
Berliana terhenyak. Matanya memanas, tak menyangka jika Jonathan akan melontarkan kalimat penuh penghinaan seperti itu.
"Jaga mulutmu, Joe! Gua bukan w************n seperti yang lo bilang. Kami hanya mencari tempat untuk makan malam!" sahut Berliana dengan nada yang tak kalah meninggi.
"Sudahlah, Liana," sela Clara dengan nada mengasihani yang dibuat-buat. "Wajar kalau Joe khawatir. Kalian itu 'kan saudara. Jadi dia tidak mau terjadi apa-apa padamu."
Clara meremas lembut lengan Jonathan, memberikan senyum manis, namun matanya kembali kepada Berliana dengan peringatan tersembunyi.
Berliana menatap Clara, lalu beralih ke Jonathan, merasakan tenggorokannya tercekat. Wanita itu dengan terang-terangan mengkonfrontasi dengannya.
Oliver yang tadinya hanya diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya rendah dan tenang, namun memancarkan kewibawaan yang mengejutkan.
"Joe," panggil Oliver. Pria itu kini melangkah maju lagi, melewati Clara yang langsung memandangnya kesal. "Aku tahu kamu khawatir, tapi yang Berliana butuhkan saat ini adalah istirahat, bukan dimarahi seperti anak kecil. Infusannya sebentar lagi habis dan setelah ini dia boleh pulang."
"Dan satu lagi ... jangan pernah lagi menuduhnya dengan sebutan murahan, terutama di depanku. Aku akan menghajarmu, tak peduli jika sekarang kau adalah kakaknya Berliana."
Kalimat terakhir Oliver yang diucapkan dengan tenang namun mematikan, seperti minyak yang disiramkan ke kobaran api.
Wajah Jonathan memerah, bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa malu karena secara terbuka ditantang. Dia melepaskan diri dari Clara, langkahnya kembali maju, siap untuk menyelesaikan perseteruan ini dengan kekerasan.
"Apa kau mau cari mati, Oliver? Akan aku tunjukkan siapa 'pria b******n' yang kau maksud!" geram Jonathan, tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Berliana yang melihat situasinya semakin memburuk, mencoba bergerak untuk mencegah pertengkaran fisik. "Cukup! Joe, aku bilang cukup!"
Namun, sebelum tangan Jonathan sempat melayang, sebuah suara lain yang berat dan dingin tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Suara itu begitu berwibawa, hingga seketika menghentikan semua gerakan di ruangan itu.
"Jaga tanganmu agar tetap di tempat, Jonathan."