"Melihatmu yang gemetar seperti ini sangat menyenangkan, Liana," ucap Jeremy lebih seperti ejekan. "Jadi sekarang kamu mengancamku, Jem?" sahut Berliana mencoba mengenyahkan rasa takutnya. "Daripada disebut mengancam, mungkin lebih tepat memberi peringatan, Liana." Jeremy berucap sambil mendekat setengah langkah, membuat Berliana refleks mundur. Nada Jeremy makin rendah dan gelap. "Karena kamu bukan anak kecil lagi. Kamu pasti tahu apa yang terjadi kalau rahasia kecilmu dengan Jonathan itu sampai bocor." Berliana merasakan tengkuknya dingin. Perutnya seperti diaduk. Kata rahasia saja sudah cukup membuat kepalanya berputar. "Jem … jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Berliana menatap nanar sang kakak, napasnya pun terputus-putus. Jeremy tertawa pendek. Tawa yang terdengar menyakitkan

