"Melihat dari ekspresi wajahmu, sepertinya benar kamu mau ke Havana," ucap Oliver dengan nada jahil.
"Terus kenapa kalau aku mau ke Havana? Toh kita nggak satu kerjaan ini. Jadi anggap saja kita nggak saling kenal selama di sana," sahut Berliana kesal.
Oliver menyunggingkan senyum tipis. "Kenapa kita harus bersikap nggak saling kenal? Apa kamu terganggu dengan ketampananku?"
Berliana lagi-lagi mengembuskan napas kasar, lalu berkata. "Aku hanya muak dengan kelakuanmu yang mencari jalang untuk menghangatkan ranjangmu."
"Aku anggap itu pujian. Nah. Itu suara pengumuman yang bilang kalau kita harus masuk pesawat sekarang," ucap Oliver sembari menarik tangan Berliana.
Berliana langsung menepis tangan Oliver. "Hei. Jangan pegang-pegang sembarangan! Aku ini bukan wanita yang bisa kamu kencani."
Oliver langsung mengangkat kedua tangannya. "Santai, Liana. Aku hanya nggak mau kita terlambat masuk ke pesawat."
"Iya, aku tahu itu. Tapi aku bisa jalan sendiri," ucap Berliana lalu berjalan meninggalkan Oliver.
"Hey. Liana. Tungguin aku, dong. Masa kamu mau ninggalin aku!" Berliana bahkan tak memedulikan Oliver yang terus berteriak memanggil namanya.
Rasa pusing yang kembali mendera, membuat Berliana ingin segera memejamkan mata begitu masuk ke dalam pesawat.
Setelah menghabiskan 10 menit untuk berjalan, keduanya tiba di pesawat. Berliana langsung mengembuskan napas kasar saat mengetahui jika Oliver duduk di sebelahnya.
Pesawat mulai mengudara, meninggalkan daratan yang kian mengecil. Berliana menutup mata. Efek kurang tidur dan bercinta semalaman, membuat kepalanya berdenyut.
Oliver yang melihatnya langsung bertanya. "Mau aku panggil pramugari? Kamu sepertinya butuh sesuatu yang manis."
"Aku baik-baik saja dan tidak butuh sesuatu yang manis," jawab Berliana cepat.
"Tapi tanganmu dingin." Oliver tiba-tiba meraih jemari Berliana.
Sentuhan itu membuat Berliana tersentak, dia buru-buru menepis tangan Oliver dan dengan mata menyipit.
"Nggak usah sok perhatian, deh. Aku bisa urus diriku sendiri. Dan jangan sentuh aku sembarangan," ucap Berliana ketus.
Oliver menatap Berliana serius. "Tapi yang aku lihat tidak seperti itu. Kamu butuh bantuan untuk mengurus dirimu sendiri."
Kata-kata yang seharusnya membuat d**a Berliana terharu, malah menyesakkan, karena wajah Jonathan tiba-tiba melintas di benaknya, bersama semua luka dan candu yang ditinggalkan pria itu.
Air mata Berliana hampir luruh, tapi dia buru-buru menoleh ke jendela, menyembunyikan wajahnya.
Sementara itu, Oliver hanya menatap Berliana diam-diam, seolah tahu ada pergumulan besar yang sedang disimpan gadis itu. Namun dia membiarkan saja, menunggu gadis itu sendiri yang bercerita.
***
Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Havana. Udara tropis yang lembap langsung menyambut, dengan aroma asin laut yang terbawa angin. Dari kejauhan terhampar lautan biru kehijauan yang berkilauan, sementara bangunan kolonial dengan cat pastel dan mobil-mobil klasik Amerika tahun 50-an berjejer di jalanan.
“Selamat datang di Havana, cantik. Aku akan menjadi pemandumu selama di sini," ujar Oliver dengan nada menggoda sambil menenteng kopernya.
Berliana mendengus, namun matanya tak bisa berbohong. Untuk sesaat, ada sedikit rasa aman saat Oliver berjalan di sampingnya. Tapi dalam hatinya, bayangan Jonathan masih menjadi rantai emas yang tak bisa dia lepaskan.
"Kamu mau mangkir dari tugas? Lagipula kita ini berbeda perusahaan," ucap Berliana dengan ketus.
Oliver terkekeh kecil, seakan tidak terusik oleh ketusnya Berliana. "Aku nggak bilang mau mangkir dari tugas, Liana. Aku punya urusan sendiri di sini selain pekerjaan. Tapi kalau kebetulan kita bisa bareng, kenapa nggak?"
Berliana meraih gagang kopernya, berjalan lebih cepat agar bisa menjauh. Namun langkah Oliver tetap mengikuti, membuat gadis itu tak dapat menahan kekesalannya.
"Oliver, aku serius. Aku nggak butuh ditemani. Lagian—" suara Berliana tercekat, matanya menatap lantai marmer bandara yang memantulkan bayangan dirinya sendiri. "Aku merasa lebih tenang kalau sendirian."
Oliver menatap punggung gadis itu. Ada sedikit iba, meski bibirnya tetap melengkung dengan senyum khas yang jahil.
"Tenang? Kamu kelihatan lebih seperti orang yang berusaha kabur dari sesuatu. Apa kamu mau kabur dariku? Kenapa? Apa karena kamu takut ketahuan sama Jonathan?"
Berliana berhenti melangkah, sebab kalimat Oliver menusuk tepat sasaran. Tangannya seketika mengepal erat di gagang koper.
"Jangan sok tahu kamu!" sentak Berliana berusaha menutupi rasa gugupnya.
Namun suara Berliana yang bergetar, membuat Oliver mendekat. Dia menurunkan nada suaranya hingga hanya gadis itu yang dapat mendengar.
"Aku heran ... kenapa kamu terlihat ketakutan setiap kali aku sebut nama Jonathan? Apa dia memegang kelemahanmu?"
Berllana buru-buru menoleh, menatap Oliver dengan mata menyipit. "Nggak usah sebut nama dia lagi. Aku muak mendengarnya."
Oliver menaikkan sebelah alisnya saat mendengar tingkah laku Berliana yang impulsif.
"Santai, Liana. Aku 'kan nanya baik-baik. Kenapa kamu jadi marah seperti ini? Apa karena dia sekarang adalah kakakmu?" tanya Oliver dengan nada serius.
"Dia bukan kakakku dan tidak akan pernah jadi kakakku! Sekarang minggir, karena aku mau ke hotel untuk istirahat. Jadi jangan ikuti aku, atau aku akan melaporkanmu sebagai penguntit."
Setelah mengatakan itu, Berliana berbalik dan meninggalkan Oliver yang hanya dapat menatap punggung gadis itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
***
Berliana tiba di hotel yang disediakan oleh perusahaan selama berada di Havana. Kamar luas dengan balkon yang menghadap laut Karibia seharusnya memberi ketenangan, tapi pikirannya malah semakin kacau.
Karena begitu memasuki kamar, dia melihat Jonathan yang sedang menyesap tequila dan duduk santai di sofa. Pria itu tersenyum lebar, yang bagi Berliana terlihat seperti predator yang ingin memangsa buruannya.
"Mau apa kamu ke mari? Terus dari mana kamu tahu aku menginap di sini?" tanya Berliana yang mencoba untuk berani.
"Tentu saja untuk berlibur," jawab Jonathan dengan santai.
"Kalau begitu, kamu bisa menginap di tempat lain. Jangan di tempatku!" sentak Berliana.
Jonathan tertawa sinis, membuat bulu kuduk Berliana meremang.
"Kenapa aku tidak boleh di sini? Ingat Liana, tubuh ini milikku. Jadi kapanpun aku menginginkannya, kamu harus siap."
Berliana meneguk salivanya dengan susah payah, saat ini Jonathan terlihat berbahaya di dalam ketenangannya. Dia tidak boleh salah bicara, atau pria itu pasti akan menepati ucapannya barusan.
"Joe ... aku ini masih pegawai yang membutuhkan pekerjaan, jadi biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku," pinta Berliana dengan nada lelah.
Namun sebelum Jonathan membalas ucapan Berliana, ponselnya berdering.
"Halo. Clara. Kamu sudah sampai mana? Oke, aku akan turun sekarang." Bahkan tanpa memutuskan sambungan telepon, Jonathan melangkah keluar dari kamar Berliana.
Wajah Jonathan yang melembut, membuat Berliana tertegun. Di dalam hati dia bertanya-tanya siapa Clara. Apakah wanita itu hanya teman atau lebih dari itu?
Tanpa sadar Berliana mengikuti Jonathan, matanya dengan lincah mengikuti pergerakan pria itu yang berjalan mendekati seorang wanita berpakaian elegan dengan balutan gaun merah selutut, dan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai.
Wajah Jonathan dihiasi senyum hangat yang tampak begitu tulus. Senyum yang sudah lama tidak pernah Berliana lihat dari Jonathan.
Dari jarak beberapa meter, Berliana berdiri mematung di balik pilar lobi hotel. Dia menatap nanar pemandangan di depannya dengan d**a sesak.
Dia tak menyangka jika senyum dan kelembutan Jonathan yang dulu pernah menjadi miliknya, kini harus dimiliki oleh wanita lain. Pria itu bahkan meraih tangan yang dipoles kutek merah dan mengecupnya lembut.
"Clara …" suara Jonathan terdengar rendah namun penuh ketulusan. "Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah lama menunggu."
"Maaf. Penerbanganku delay. Oh, kasihah sekali kamu jadi lama menungguku," sahut Clara sembari tertawa kecil.
Berliana semakin terkejut, dia melangkah mundur perlahan, tak ingin melihat pemandangan yang semakin mengiris hatinya. Namun, langkah kecilnya justru menginjak pot tanaman yang terletak di sudut pilar dan menimbulkan suara yang cukup keras.
Jonathan menoleh cepat dan menyunggingkan senyum yang membuat Berliana terpaku di tempatnya berdiri.