Cukup Sekian Terima Kasih

1402 Kata
Motor melaju kencang membelah jalanan kota menuju pedesaan nan asri. Hamparan sawah membentang menghantarkan angin sejuk yang menerpa wajah dua gadis belia yang melaju menuju sebuah tujuan yang membahagiakan: ombak, angin, sunset, ya… pantai. Sore itu, Dinda berlarian bebas, membiarkan ombak mendera kakinya, memberikan kesan sejuk yang nyata, sama seperti perasaannya sekarang: sakit dan lega. Puas menikmati sunset sore itu, dua sahabat kembali melaju menuju warung makan tenda favorit mereka. Kali ini, pilihan tertuju pada nasi goreng kambing rempah Sumatera yang ada di seputar kampus. Setelah memesan, Kirana membuka suara sembari menikmati kerupuk yang berjejer rapi di meja. "Udah lega?" tanyanya singkat. "Udah, banget malah," sambut Dinda, tersenyum puas. "Mmm… memangnya secepat itu bisa hilang rasanya?" tanyanya lagi. "Ya nggak, tapi ada rasa nyaman dan aman luar biasa yang gua rasa in seakan selama ini beban hidup gua hilang," jawab Dinda sambil menatap riang es jeruk yang baru saja diantar. "Lo gak sedih?" tanya Kirana lagi. "Sedih karena siapa, Dika? Gak sama sekali, tapi hati gua gak bisa bohong. Gua sedih karena harus pisah juga sama keluarganya," jelas Dinda. Kirana hanya mengangguk kecil. Ia paham betul bagaimana keluarga Dika sangat sayang kepada Dinda, bahkan lebih daripada anaknya sendiri. Namun, pikiran Kirana melayang pada pernyataan Dinda tentang Anita, dan ia pun kembali bertanya. "Din, Anita itu lo tahu dari mana?" "Dari Riska, teman kos gua yang di lantai bawah deket tangga, dia kan satu fakultas sama perempuan itu. Awalnya gua pikir Riska salah sampai perempuan itu bilang bahwa Dika pacarnya," jelas Dinda sambil mulai menyuap nasi goreng itu. "Emangnya mereka sering berduaan di kampus?" tanya Kirana lagi. "Iya, bahkan sering diantar jemput juga," jawab Dinda santai sambil mengangguk. "Serius lo! Jadi selama ini itu laki main petak umpet ama lo? Hebat ya bisa sempet waktu antar-jemput lo dan dia, the power of selingkuh mengerikan," ujar Kirana sambil menggelengkan kepala. "Bukan The Power of Selingkuh, tapi The Power of Menggatal dan sok ganteng," jawab Dinda, memecah gelak tawa di antara mereka. Masih asyik menyantap nasi goreng, tiba-tiba ponsel Dinda berbunyi. Kirana melirik sambil menaikkan dagunya, "Siapa?" tanyanya. Dinda menunjukkan layar ponselnya: Pratama Putra, ayah Dika? Pikir Kirana bingung. Dinda menekan tombol hijau, seketika suara hangat di seberang menyapa, "mbak lagi dimana? maaf bapak ganggu ya, nanti boleh mbak bantu bapak carikan souvenir untuk nikahan mbak Ami?"(saudara perempuan Dika yang sedang mempersiapkan pernikahan mereka minggu depan). "Bisa dong, Pak, kira-kira mau suvenir apa buat pesta nikahannya Mbak Ami, Pak?" tanya Dinda lembut. "Bapak gak tau mbak, nanti ikut seleranya mbak Dinda saja ya," ujar Pria itu terkekeh. "Ya sudah, nanti kalo sudah ketemu semua referensinya, Dinda kirim ke Bapak ya,' sahut Dinda lembut, menutup perbincangan itu. Masih dengan lamunan yang jauh saat Kirana menutup telpon nya dan mendekati Dinda lalu berkata, "Si Marmut ngajak ngopi di cafe biasa, mau nyamperin gak?" tanya Kirana sambil memakai jaket kulitnya. "Lo besok pagi ada kelas gak? Kalau free, kita gass, gua udah kelar minggu ini," jawab Dinda, ikut berdiri. "Aman, ayo gas," mereka pun melaju menuju kafe tempat mereka biasanya menghabiskan waktu bercanda tawa. Masih dengan obrolan yang renyah, asap rokok mengudara, dan nyanyian ringan mereka, tiba-tiba satu pesan masuk ke ponsel Dinda. Keong Racun: Sayang, ini beberapa lagu buat show kita di pesta Mbak Ami ya. Dinda membaca daftar lagu sambil tersenyum sinis dan memasukkannya kembali ke tasnya. tok..tok..tok.. Suara yang cukup nyaring terdengar dari balik pintu kamar Dinda pagi itu. Masih dengan mata yang berat, Dinda bangkit mendekati pintu dan memegang gagang pintunya. Hampir saja ia memutar gagang itu sampai suara Dika di seberang menghentikan gerakannya. "Din, ini aku buka pintunya, sayang," ujar Dika yang sontak membuat Dinda tersulut emosi. tak menunggu lama Dinda merapikan diri, memakai hoodie kesayangannya lalu membuka pintu, senyum Dika merekah, belum sempat Dika melangkah maju, Dinda segera mengunci pintunya dan berjalan melewati Dika, "Ngomong di bawah," ujarnya, menunjuk ke gazebo di halaman parkir indekos itu. "Lo mau apa pagi-pagi ke kos gua?" Tanya Dinda sambil menyilangkan tangan di da**. "Kamu kenapa sih, sayang? Aku datang mau ngajak kamu ke rumah. Bapak mau kamu sarapan di rumah. Lagian aku kangen kamu," ujar Dika, seakan amukannya beberapa hari kemarin tak pernah ada. Sontak Dinda melotot. Wajahnya merah menahan emosi yang sedari tadi ia tahan. "Elo memang gak waras ya, Dik, ngapain masih panggil gua 'sayang', jijik gua dengernya," jawab Dinda, mulai emosi. "Aku gak pernah terima keputusan kamu karena aku gak mau pisah dari kamu," jawab Dika memaksa. "Kenapa? Kan lo udah punya pacar baru, timpal Dinda sengit. "Dia bukan siapa-siapa! Aku cintanya sama kamu, Din." Dika kembali menggombal. "Terserah lo mau terima apa gak, tapi gua gak akan ngebiarin lo wara-wiri di kehidupan gua lagi. Kita udah selesai, mau atau tanpa lo, terima kasih. Jadi jangan datang dan cari gua lagi karena gua udah muak liat muka lo," kata-kata Dinda sungguh menusuk di hati Dika yang tak tahu lagi harus bagaimana agar wanita itu bisa luluh hatinya. "Lo diem di sini, gua siap-siap. Gua terima undangan Bapak, tapi ini untuk yang terakhir kalinya, paham?" Dinda pergi meninggalkan Dika yang mematung memandang punggungnya berlalu. Jalanan pagi masih agak sepi, membuat suasana mereka semakin dingin. Dika hanya bisa diam saat Dinda setuju untuk dibonceng, hanya jika ia tidak mengeluarkan satu kata pun. Motor melaju lambat dan terparkir di halaman rumah Dika yang asri ditumbuhi banyak tanaman. "Itu maksudnya, Pak Dika? Lo sengaja mau bikin keributan apa gimana?" geram Dinda sambil menunjuk ke arah ruang makan. "Aku gak tahu, Din, sumpah!" jawab Dika, menggeleng gugup. "Halo, pagi, anak cantik sudah sampai rupanya," sapa Monica, mama Dika. "Iya ma, baru aja," jawab Dinda. "Pagi, akhirnya Mbak Dinda pulang. Ayo, nak, kita sarapan, ini kenalin Anita murid Dika dulu," ujar Bapak, tersenyum hangat. "Oh, iya mbak Dinda sudah kenal ini sama nak Anita?" tanya bapak lagi. "belum pak..., hai kenalin aku Dinda" seketika Anita tersentak takut melihat tatapan sinis Dinda. "Anita ini dulu katanya adik tingkat Dika waktu SMP, Mbak, terus sempat jadi murid les privat Dika juga, gitu ya, Nak Anita," jelas Bapak lagi. Anita hanya mengangguk pelan. "Oh gitu, terus pagi-pagi ada apa ke mari?" tanya Dinda, menahan emosi. "Tadi Anita kesini mau mengembalikan buku aku yang kemarin dipinjam, iya kan, An?" timpal Dika lagi. "Iya," balas Anita pelan. "Hmm… balikin buku ya, pagi-pagi banget," gumam Dinda sambil mengangguk. "Oh iya, Pak, semua pesanan suvenir sudah Dinda selesaikan, mungkin besok sampai, dan juga dekor panggung sudah selesai dirancang, tinggal eksekusi di venue saja," ujar Dinda, menyela kehangatan yang membuatnya dingin. Bapak merespons dengan tawa riang dan banyak ucapan terima kasih. Waktu berlalu begitu cepat. Dinda pamit pun undur diri kepada ortunya Dika. Meninggalkan Anita yang masih betah berada di sana. "Din, aku antar ya, tunggu aku ambil kunci sebentar," cegah Dika. "Gak usah, aku naik taksi aja," jawab Dinda, berlalu. "Jangan gini nanti aku di marahin bapak Din," pinta Dika memelas. "Harusnya kamu lebih takut aku yang marah daripada bapakmu, Dika," geram Dinda sambil menepis tangan Dika. "Aku gak tau kalau Anita pagi-pagi kesini, Din. Sumpah, aku gak tahu," ujar Dika, meyakinkan. "Kamu mau aku gimana lagi? Udah jelas, perempuan itu pun di sini. Kamu mau aku mikir dan percaya sama bualan kalian tentang senior-junior? Aku masih waras, Dika! Denger baik-baik, kita sudahi semua ini. Aku ikhlas kamu sama dia. Dika, berbahagialah." "Tapi aku yang gak mau semua ini berakhir begini. Aku sayang kamu, Dinda," jelas Dika, memaksa. "Kisah aku sudah selesai di halaman buku kamu, Dika, jadi mari kita saling melepaskan," ujar Dinda, getir, menusuk hati Dika yang masih bersikeras dengan cintanya semunya. dengan ceroboh, Dika maju mencium bibir Dinda kasar, "Kamu sudah gila, Dika!" ujar Dinda sambil mendorong tubuh Dika menjauh. "Maafin aku, Din. Aku gak bermaksud sembarangan, tapi kamu selalu bilang kita putus. Aku gak tahu lagi mau gimana biar kamu tetap sama aku," ucap Dika nanar. "Aku bilang cukup, Dika! Apa perlu aku masuk lagi dan bilang ke ortu kamu kalau sebenarnya kita udah putus!" "NO! Kamu gak bisa bilang gitu ke mereka. Ini salahku. Kasih aku kesempatan, Din," mohon Dika. "Gak, Dik, aku udah mati rasa. Kita cukup sekian dan terima kasih! Sudah pernah diizinkan jadi bagian dari hidupmu, sekarang please let me go," pinta Dinda, sambil berjalan masuk ke dalam taksi. "Aku gak akan menyerah, kita gak akan putus!" jawab Dika menuntut. "Terserah kamu mau terima atau gak, aku gak peduli , permisi. Ayo jalan, Pak," pinta Dinda kepada sopir taksi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN