"Cukup! We're done, Dika! Gua udah gak bisa melanjutkan hubungan ini," ujar Dinda dingin sambil berdiri.
"Sialaaaan!" kesal Dika. Kata-kata itu terus terngiang jelas dalam ingatan Dika, meninggalkan kecemasan dan ketakutan luar biasa di hati pria muda itu. Dia melangkah lesu memasuki rumah tempat semua canda tawa pernah ia bagi dengan Dinda yang sekarang terasa memudar akibat kebodohannya.
"Apa rencanamu setelah lulus ini, Mas?" tanya Pratama kepada Dika.
"Dika berencana meneruskan S2 ke London, Pak, biar bisa bantu Bapak di perusahaan," jelas Dika.
"Rencana yang bagus, tapi bapak harap kamu menikahi Dinda dulu sebelum mulai studi"
"Tapi Pak, orang tua Dinda pasti tidak setuju karena Dinda juga ingin melanjutkan studi S2 di Prancis," jawab Dika lagi.
"Bapak ingin kamu mengusahakannya atau kamu cukup kuliah di sini dan mulai bantu-bantu Bapak." Dika berdecis kesal, pasalnya ia mulai ragu akan kelanjutan hubungan mereka. Sudah sering kali Dika menolak pembicaraan ini.
Di sisi lain, ada rasa lega di hati Dika mengingat kejadian tadi, pasalnya ia tak perlu lagi mencintai Anita dari belakang. Benar juga, Anita, gadis mungil berkulit sawo matang yang ia sebut sepupu itu, menerobos masuk ke dalam hati Dika saat kedua orang tua mereka sepakat bertemu di tahun ke-5 untuk melamar Dinda.
'Mas pulang ke kos adek sekarang' pesan terkirim ke Anita dan segera dibalas,
'Hati-hati, Mas', singkat namun dibubuhi emotikon kecupan bibir di sana. Dika tersenyum dan melangkah mengambil kunci motornya menuju indekos Anita. Setengah jam berlalu, Dika sudah sampai di kamar Anita, merebahkan badan pada kursi kecil di sana. Tak lama, pintu terbuka. Anita masuk dengan hanya menggunakan handuk. Tetesan air sedikit jatuh membasahi lehernya yang mungil. Seketika, Dika menelan salivanya, bangkit mendekati Anita dan segera melumat bibir kecilnya yang sedari tadi menggoda Dika.
"mmmh.. Mas…" lenguh Anita terkejut.
"Kamu wangi, Anita," bisik Dika.
"Eh, ini ada martabak manis kesukaan Mas. Aku beli tadi di depan. Cobain deh," ujar Anita, menjauh.
"Tapi aku pengennya kamu, kamu lebih manis," bisik Dika sambil mencium telinga Anita.
Tak lama, ia membalas lumatan itu, hingga suasana makin panas membara, menyisakan ingatan jika hal yang terjadi selanjutnya menyisakan hembusan napas berat dan kepuasan yang nyata.
Dinda masih menatap jauh saat Karina menyodorkan secangkir wedang jahe untuknya. Dinda meniupnya pelan, dan menyeruputnya dalam, sedalam rasa lega yang hadir di hatinya saat ini.
Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Motor Karina melaju lambat saat ponselnya berdering, telepon dari Tristan. Awalnya ia mengabaikan karena memang sedang fokus berkendara, namun Karina mulai terganggu ketika dering itu berulang kali datang dan memaksanya meminggirkan motor.
"Kenapa, Na, kok kita minggir?" tanya Dinda, tiba-tiba kaget motor itu berhenti di sisi jalan.
"Bentar gua mau jawab panggilan si Marmut dari tadi nelpon bae." Dinda mengangguk tanda mengerti.
"Halo, apaan?" jawabnya, kesal pada suara di seberang.
"lo dimana gua mo minta tolong urgent, gua nabrak kucing" jawab Tristan cemas
"Emang dasar ada be perkara hidup lo ya, Sharelock sekarang," klik Karina mematikan ponselnya sambil bersungut kesal.
"Kenapa, Na?" tanya Dinda, penasaran.
"Ini si marmut minta kita ke sana, katanya dia nabrak kucing Din," jelas Kirana.
"Ya udah, kita berangkat sekarang."
motorpun melaju kencang, membelah jalanan kota yang mulai sepi, mereka melihat sesosok pria muda yang duduk jongkok sambil menggaruk kepala dan sesekali menoleh ke arah jalan, Kirana memarkirkan motornya dan mereka pun turun menghampiri Tristan,
"lo gimana sih pasti ngebut banget sampe nabrak kucing" pekik Karina kesal
"gaaaaaak demi apa bukan gua yang nabrak!" seru Tristan tak kalah berisik, belum sempat mereka kembali beradu mulut Dinda segera mendekat
"sstt… udah, ayo kita bawa ke klinik kenalan gua, deket sini kok." Tristan segera membungkus kucing yang sudah sekarat itu dan membawanya. Mereka bertiga melaju menuju klinik terdekat.
"Gimana, Dok, kucingnya?" tanya Dinda kepada dokter yang dari tadi menangani si kucing.
"Maaf, Mbak, sepertinya sudah tidak dapat ditolong lagi," ujar dokter.
"ya ampun sayang sekali, tapi dok kami boleh minta bantuan dokter? Kebetulan kami hanya kos dan ini bukan kucing kami. Bisakah dokter memberi tahu di mana kami bisa memakamkan kucing ini?" tanya Dinda lagi.
"Tenang, kami yang akan bantu, Mbak." mereka undur diri, berterima kasih dan berjalan keluar dari klinik
Baru saja Dinda selesai membersihkan badan dan bersiap untuk tidur, tiba-tiba ponselnya berdenting dengan satu pesan dari
Andika: Aku pengen ketemu kamu. Aku minta maaf kalau aku salah, tapi kamu ga bisa tiba-tiba memutuskan hubungan kita. Kita bakal segera tunangan dan menikah, Dinda. Aku ga bisa hidup tanpa kamu. Besok kita ketemu. Kita bicarakan ini baik-baik, ya.
"Tunangan? Nikah? Kata lo, Dika, mimpi pun aku gak pengen lagi," ucap Dinda, geram.
Matahari menyapa hangat mengelus pipi Dinda, pagi ini lebih ringan dari kemarin bahkan dari hari-hari biasa, Dinda bangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karna pagi ini ia harus segera berada di kampus untuk menyelesaikan beberapa urusan yang sempat tertunda, jam menunjukkan pukul 7.30 pagi Dinda menyambar pisang di kulkas dan menyantapnya sembari keluar, di gerbang taxi online sudah menunggunya, Dinda masih mengunyah pisangnya saat tiba-tiba ponselnya berdering, satu nama di sana Pratama Putra Dinda menarik napas dan menekan tombol hijau di ponselnya.
"Mbak Dinda, minggu ini ada jadwal? Sudah lama Bapak tidak berjumpa. Kita makan malam bersama, ya?" ujar suara di seberang, lembut.
"mmm..Dinda lihat jadwal dulu boleh pak, sekarang Dinda sedikit padat di kampus, nanti Dinda akan sampaikan ke mas Dika pak ya" jawab Dinda selembut mungkin kepada ayah Dika itu.
"Baik, Mbak, Bapak tunggu kabarnya ya, sehat selalu, anakku." Klik, sambungan terputus.
Dinda hanya tersenyum pahit mengingat ia dan Dika sudah putus. Semua selesai.
Sore itu di kantin kampus, Dinda dan Kirana menikmati es teler mereka. Kegiatan padat hari ini menguras energi, dan es teler adalah obatnya. Sedang asyik menikmati rasa manis, tiba-tiba kepahitan mendekat. Dari luar, Dika masuk tergesa dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. Ia duduk di depan Dinda mencoba menggenggam tangannya namun langsung di tepis kasar,
"Mo apa lo jangan pegang-pegang," ujar Dinda ketus. Suaranya yang tegas cukup membuat Kirana dan pengunjung lain bergeser menjauh, seakan paham apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kirana bangkit dan mengambil kunci motornya
"Gua di luar kalo sudah telepon aja," ujar Karina, berlalu sambil menepuk pundak Dinda.
"Din, dengar dulu penjelasan aku. Anita itu bukan siapa-siapa. Dia cuma murid aku waktu aku ngajar privat. Kamu inget, kan?" ujar Dika, mencoba lembut. Dinda menatap Dika penuh emosi. Ia pun memejam sebentar lalu mengangkat wajahnya.
"gua gak minat dengar penjelasan apa pun dari lo, karna apa yang gua lihat kemarin semua udah jelas",
"Tapi aku gak mau kita berakhir, Din. Aku cinta kamu dan ortuku udah mempersiapkan pertunangan kita," ujar Dika lagi. Dinda melotot tajam sambil mengepalkan tangannya erat.
"Din, aku minta maaf. Aku janji akan meninggalkan dia dan kembali ke kamu seutuhnya," ujar Dika lagi, padahal baru saja ia ngotot menjelaskan bahwa ia dan Anita tidak ada hubungan apa-apa.
"Gak! Kita udah gak ada hubungan apa pun. Gua udah gak cinta ama lo!" Kata itu menusuk hati Dika. Hal yang ia takuti terdengar jelas: 'gak cinta' membuat hatinya sakit. Perlahan air mata Dika jatuh.
"Aku gak bisa tanpa kamu, Din," tangis Dika. Dinda makin emosi. Napasnya tersengal.
"Heh, jangan nangis, aku malu!!!" bentaknya sembari berdiri dan meninggalkan Dika yang ikut berlari mengejarnya.
"Din, please kasih aku kesempatan lagi. Aku gak bisa tanpa kamu," pinta Dika sambil menarik lengan Dinda.
"lepasin gak atau lo gua tonjok! Ingat, Dika, kita udah putus! Jangan cari-cari gua lagi," pekik Dinda, berlari menuju Kirana yang sudah standby di motor.
"Din dengerin dulu! Kamu gak bisa egois gini, Dinda!" ucap Dika dengan nada meninggi.
"heeei... bentar-bentar, gak perlu teriak kan Dik?" Kirana menengahi.
"Temen lo yang duluan selalu teriak-teriak dari kemarin lo denger sendiri kan, Na?" jawab Dika, kesal.
"Kayaknya kalian jangan ketemu dulu, bisa gak? Ini gak akan selesai! Besok lo ngobrol sama gua ya, Dika?" jelas Kirana sambil meninggalkan Dika menyusul Dinda di parkiran motor.
"Siaaaaaaal! kenapa susah banget sih Dinda di ajak ngomong" umpat Dika kesal.