We're Done Dika!

1350 Kata
Dinda mendekat. Matanya memandang lurus, tanpa senyum ramah dan tatapan manja seperti biasanya. Hanya ada amarah dalam diam. Dia mengangkat tubuhnya dari sandarannya dan tersenyum sangat lebar, lalu membuka kedua tangan bersiap menerima Dinda di pelukannya. Dinda berhenti di depan pria itu dan berkata. "Di mana mejanya?" dingin, tatapannya lurus dan tegas, sambil menepis tangan Dika yang membuatnya bertanya dalam hati: ada apa dengan Dinda. Takut makan malam yang sudah ia pesan tadi menjadi dingin, Dika menunjukkan jalan menuju meja. Dinda menaiki anak tangga pelan, disusul Karina. Belum sempat Karina melangkah, tiba-tiba lengan Karina diraih Dika. Karina menoleh sambil memajukan dagunya, bingung dengan sikap Dika. "Lo ikut ke atas?" tanya Dika, berbisik, yang rupanya terdengar di telinga Dinda. "Nana ikut!" sahut Dinda sedikit keras. Mereka naik hingga sampai di ruang atas yang berisikan 2 meja, salah satunya telah dihias sedikit berbeda dari yang lain, dengan makanan favorit Dinda tersaji rapi. Karina memilih duduk di meja lainnya. Memberi ruang untuk mereka, Karina membuka menunya dan memanggil pelayan yang sudah standby dan memesan makannya tanpa peduli meja seberang mulai terasa dingin dan kaku. "Hi, kamu cantik banget malam ini, sayang," ujar Dika, mencoba mencairkan suasana musim salju di meja mereka. Dinda hanya tersenyum sinis dan meneguk air putih di sampingnya pelan. "Mmm… aku seneng banget malam ini kamu datang dan dandan—" belum selesai, Dinda segera memotong, "Udah bisa mulai makan?" ujarnya, membuat Dika menghentikan kata-kata pujian mautnya dan segera mempersilakan Dinda menyantap makanannya. Suasana di meja makan mereka dingin; hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar serta alunan musik yang mulai terasa berat. Karina sesekali melirik sahabatnya, memastikan Dinda baik-baik saja. "Ehm, gimana kegiatan kampusmu, sayang? Aku lihat kamu mulai sibuk dengan proposal skripsi. Persiapannya lancar?" tanya Dika, berusaha mencairkan suasana. "Lancar," jawab Dinda singkat dan datar, membuat Dika menyadari ada yang tidak beres dengan kekasihnya. "Kalau ada yang perlu aku bantu, kasih tahu aku ya, sayang, siapa tahu kita bisa lulus bareng," lanjut Dika sambil meraih tangan Dinda dan tersenyum hangat. 'GA PENGEN!' teriak Dinda dalam hati, ia mulai kesal melihat wajah laki-laki kurang ajar itu. "Ya, kalau aku perlu bantuan nanti aku kabari," jawabnya, mencoba mengapresiasi niat baik Dika. Dinda berusaha melepas genggaman Dika, namun segera ia mengeratkan genggamannya. Dia merogoh paper bag yang sedari tadi duduk manis di sampingnya, mengeluarkan bouquet bunga yang tadi di-spill ke Kirana. "Ini buat kamu, happy anniversary, sayang, aku bahagia banget akhirnya kita bisa melewati 4 tahun ini dengan penuh kebahagiaan," ujar Dika sambil mengelus punggung tangan Dinda dan mengecup keningnya. Dinda menarik kepalanya. Rasa jijik mengitari hati Dinda. Karina, yang melihat momen itu, langsung cemas saat menatap manik mata Dinda yang mulai menghitam, tajam, menahan emosi. "kamu kenapa sayang, kayaknya gelisah banget?" tanya Dika "Gak apa-apa, cuma kegerahan aja di sini," jawabnya singkat. "Mau pesan minuman dingin lagi biar gerahnya hilang?" Dengan cepat, Dinda menggeleng menolak. Tak lama, Dika berdiri memberi kode kepada pelayan di bawah, entah apa rencana selanjutnya, namun Dinda sudah tak dapat menahan emosinya lagi saat melihat ponsel Dika menyala dengan notifikasi satu pesan masuk dari ANITA: Sayang, kamu di mana? Pesan itu terbaca jelas tanpa Dinda perlu membukanya. Ingin sekali rasanya menghapus wallpaper Dika di mana foto Dinda tersenyum manis. Dika kembali duduk dan tersenyum semanis mungkin, mencoba kembali menggenggam tangan Dinda. "Sayang, terima kasih ya kamu sudah bersedia bersama aku selama kurang lebih 4 tahun dan sekarang kita sudah 5 tahun bersama. Aku merasa jadi orang paling bahagia bersama kamu," gombal Dika. Pelayan pun datang sambil membawakan cake cantik berwarna soft pink dengan renda merah, cake mungil bergaya Victorian nan elegan, membuat orang meleleh melihatnya. Namun, tidak bagi Dinda yang dari tadi geram oleh pesan dari Anita, selingkuhan pacarnya yang 2 minggu lalu bermesraan di rumah Dika yang kosong. Bayangan napas yang memburu, suara kecapan dari bibir yang bertaut, erangan kecil namun dalam dari mulut Dika dan Anita membuat napas Dinda semakin berat dan tajam. Moment yang sungguh romantis bagi Dika seketika berubah menjadi huru-hara saat ponsel Dika berdering dari seberang. Dinda dapat melihat nama siapa di sana:Anita. Belum sempat Dika menekan tombol merah di ponselnya, Dinda menyambar ponsel itu dan menekan tombol hijau di sana: "Mas, di mana sih kok gak balas pesan aku?'" Dinda tersenyum sinis dan menekan tombol loudspeaker jawab bisiknya. "Iya, aku lagi makan malam di luar," jawab Dika, gugup dengan wajah memucat, takut. "Kamu jadi ke kosku, kan? Aku kangen, Mas." Seketika, mata Dika terbelalak mendengar kata-kata yang tak seharusnya Dinda dengar. Dinda mengangkat cake cantik itu lalu melemparnya ke wajah Dika. "b*****t KAU DIKA!!!" cerca Dinda yang sontak membuat semua mata memandang meja mereka, pelayan pun segera naik untuk memastikan semua baik-baik saja dan kembali turun saat Karina memberikan kode untuk segera menjauh. Dika yang dari tadi tidak tahu ada apa dengan kekasihnya merasa sangat terkejut dan emosi dengan sikap Dinda, ditambah cacian yang baru saja Dinda lontarkan. "kamu kenapa Dinda!!" teriaknya kesal, "KENAPA?! Dasar laki-laki munafik!" hardik Dinda. Napasnya mulai tersengal menahan emosi. "Ya, tapi aku tidak tahu apa salahku sampai kamu berbuat begini. Oh, telepon tadi? dia sepupuku Dinda, memang cara bicaranya kurang sopan" ujar Dika membela diri sambil menyentuh tangan Dinda mencoba menggenggamnya erat, seketika Dinda menepis kasar "Sepupu katamu? Dari keluarga siapa Bapak? Mama? Kok aku gak pernah liat?!" jawab Dinda, geram. Tentu saja, waktu pacaran yang sudah hampir 5 tahun, sangat tidak mungkin bagi Dinda untuk tidak kenal baik dengan keluarganya. "Dia sepupu jauhnya Mas Dirga, calon suami Mbak Ami," jelas Dika. "Hah?! Itu sepupu Mas Dirga, bukan sepupu kamu, Dika? memang boleh sedekat itu?" timpal Dinda dengan suara yang makin meninggi. Kirana mendekat sambil merangkul bahu Dinda untuk menenangkan. "Sebentar, guys, ini tempat umum, bisa gak kalian duduk dan bicara dengan volume yang normal?" Karina mengingatkan mereka bahwa ada orang lain yang terganggu. Suasana sedikit mereda. Kirana duduk di meja mereka sambil melihat sahabatnya yang sedari tadi menahan amarah hingga wajahnya merah padam. "Oke, gua bukan mau ikut campur, tapi sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?" ujar Karina, memulai percakapan. "Aku juga gak ngerti, Na. Aku gak tahu apa-apa tiba-tiba Dinda marah, teriak ke aku sampai lempar kue dan mengacaukan momen aniv yang udah aku siapkan dari kemarin," ujar Dika, kesal. "Oh, jadi ini masalah kue? Masalah untung rugi? Norak lo!!" hina Dinda, "Lihat kan sohib lo Na? Aku gak tahu kalo dia sekasar ini, dan ini buat aku emosi karna aku gak tahu apa-apa" jawaban Dika sontak membuat Dinda makin emosi dan.. "Kamu beneran gak ngerti apa kamu gak punya hati, Dika?!!" tanya Dinda dengan suara meninggi. Karina paham betul dengan emosi sahabatnya, meski ia pun ragu mengapa Dinda sungguh berapi-api meluapkan emosinya. "Serius, aku gak ngerti, sayang, aku salah apa?" tanya Dika, mulai merendahkan suaranya. Jelas saja, mata Dinda melotot. "Kamu!!!! Apa telepon tadi gak cukup menjadikan aku emosi?" jawab Dinda, geram. "Aku sudah jelasin, Anita itu sepupuku sayang, baru datang dari Gersik," ucapnya santai. "Kamu bilang dia sepupu Mas Dirga yang benar yang mana, Dika?" Delik, Dinda makin geram. "Yaa… Mas Dirga calon ipar aku, bentar lagi jadi kakak ipar aku, artinya dia juga sepupu aku dan akan jadi sepupu kita juga, Din," jelas Dika, masih pura-pura polos. Dinda mengusap wajahnya kasar, mengubah ikatan rambutnya jadi messy bun dan menyilangkan tangan di dadanya. "Dengar ya, Andika Putra! Aku gak setolol itu untuk percaya sama pembelaanmu, lagian sepupu waras mana yang mau diajak b******u di kasur sepupunya saat rumah kosong!" jawab Dinda tegas. Sontak membuat wajah Dika seketika pucat pasi mendengar kata-kata Dinda. "Lo bilang apa, Din?" sela Karina. "Tanya aja ama keong racun ini, sama siapa dia mendesah di kasur 2 minggu lalu," jawab Dinda dengan wajah merah menahan emosi. "Din, aku--" belum selesai kata-kata Dika, Dinda menyela, "Cukup! We're done, Dika! Gua udah gak bisa melanjutkan hubungan ini," ujar Dinda dingin sambil berdiri. Dika mengejar mereka, namun Dinda meminta Karina segera melajukan motornya. "Din, kasih aku waktu buat jelasin semuanya." Dika menghadang mereka. "Dik, minggir! Ini bukan waktu yang tepat. Kasih Dinda waktu. Mungkin besok lo bisa bicara lagi," ujar Karina, kembali menengahi dan melajukan motornya, meninggalkan Dika serta kesesakan di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN