Ke-12

1427 Kata
Pertemuan dengan Saga tadi buat aku cemas. Masalah utamanya bukan pada pertemuan kami yang intens. Namun, bagaimana jika dalam suatu pertemuan kami harus menghadapi banyak orang? Bagaimana aku harus bersikap? Bagaimana kalau aku terlalu canggung dan malah buat yang lain curiga? Di pertemuan tadi, Saga terlihat bisa mengendalikan semuanya. Bersikap biasa, berbicara layaknya teman, bahkan bisa bersikap acuh. Meski setelah rapat selesai ia mengirimkan pesan meminta maaf karena bersikap cuek yang sejujurnya aku syukuri. Yang jadi masalah adalah aku, aku yang tak pandai menipu diri jika bersama Saga. Yang terjadi sejak aku melangkah ke luar dari ruang rapat adalah hening. Meski ada Ahbi yang sejak tadi menceritakan apa yang ada dalam pikirannya mengenai skrip yang akan ia buat. "Jadi gimana Res?" "Gimana?" Aku membulatkan mata menatap Ahbi yang sejak tadi suaranya bahkan terdengar samar di telingaku. "Lo kenapa? Sakit? dari tadi gue liatin setelah keluar dari ruangan rapat malah diem aja?" Ahbi menatapku khawatir. "I-iya sedikit pusing aja gue kayaknya karena kurang tidur." Aku jawab dengan alasan sebisaku. "Yaudah deh, kita omongin besok ya? Lo butuh sesuatu?" tanya Abhi. "Enggak Bi, Thank you." ucapku. "Oke deh, istirahat aja sebentar. Gue tinggal ya?" Ahbi kemudian berdiri dan berjalan ke luar ruangan. Aku menggigit ujung ibu jari, seraya kakiku sejak tadi bergoyang tak jelas. Yang kini jadi pikiranku. Bagaimana kalua aku dan Saga sama-sama berada di Bogor? Gimana kalau antara kami berdua ada yang salah bicara? aku belum siap mundur dari jabatan ini. Masih banyak mimpi dan target yang harus aku penuhi. Mbak Reres, misi. Suara dari luar ruangan menyadarkan ku dari lamunan ku yang berlangsung terus menerus sejak tadi. "Masuk," pintaku. Rangga salah satu anak bagian kreatif interior. Berjalan masuk, kemudian duduk saat aku mempersilahkannya untuk duduk. "Ini mbak aku mau kasih laporan tentang rancangan tata studio terbaru untuk tahun depan. Aku buat sesuai dengan konsep yang mbak minta." ia menyerahkan laporan berupa print desain yang ia buat. "Untuk program?" tanyaku seraya menerima laporan yang Rangga berikan. "Semua yang mbak suruh." Aku memerhatikan, aku kini bahkan lupa konsep seperti apa yang aku minta buat waktu itu. "Aku minta seperti apa kemarin?" tanyaku. "Itu di halaman depan saya lampirkan mbak." Aku segera membalik kertas ke halaman poertama dan benar menemukan poin-poin yan aku minta saat rapat."Oh, good thanks. Untung kamu tulis di sini." Rangga terkekeh. "Kan kami selalu cantumkan sesuai apa yang Mbak minta. Mbak Reres tumben lupa gitu?" Aku ikut terkekeh, iyas aku kalau udah kacau semua jadi berantakan karena mendadak seperti hilang dari otak. Itu alasan aku butuh waktu lebih lama untuk diam setelah kekacauan atau masalah yang aku hadapi. Kalau enggak ya kaya gini buyar semua. "Ini saya pegang dulu deh ya. Nanti aku lihat lagi. Aku lagi agak pusing nih," ini bukan alasan aku memang jadi pusing sekarang. "Oke mbak, aku ke luar ya. Makasih mbak." Rangga kemudian ke luar dari ruangan ku. Sialan memang kalau lagi kacau susah banget ngendaliin diri sendiri. aku memutuskan merebahkan kepala ke atas meja. Rasanya aku butuh rehat sejenak untuk menstabilkan hati dan pikiran. . . Aku terbangun saat seseorang memegang keningku. Tanganku menjangkau dan melepaskannya, Saga? Aku menengadahkan wajah melihat Ms Bumi yang kini berdiri di hadapanku. "Res okay?'' tanyanya kemudian duduk di kursi yang berhadapan denganku. Aku mengangguk, menatap jam di dinding kurang lebih satu jam aku terlelap. "Maaf Mas, agak pusing sedikit tadi." "Sedikit demam sih emang." kata Mas Bumi kemudian mengambil keripik singkong balado yang aku letakan ke dalam toples di atas mejaku. "Kenapa Masa l?" "Gue mau minta ulang data rekanan bidang dan pricelistnya. Gue udah chat dari tadi karena lo nggak balas jadi gue ke sini." "Ah, maaf ya Mas tadi aku nggak konsen banget. Jadi istirahat sebentar malah berlanjut sejam." Ia mengangguk, "Enggak masalah. Gue ngerti belakangan kita emang lagi banyak banget kerjaan." Alhamdulilah kalau Mas Bumi ngerti gini., Ya, kan memang dia yang buat aku selalu bekerja ekstra. Selalu ada saja ini dan itu. Termasuk ini, padahal aku sudah kirim sebulan yang lalu dan aku bahkan kirim ke email pribadi. Apa dia selalu hapus pesan-pesan masuk di email pribadi? Mas Bumi kini asik makan keripik, keenakan banget makan cemilan gratisan. Mana makannya fokus banget. Ia melirik dan tersenyum seolah mengatakan 'gue minta ya?' "Habisin aja Mas," kataku. "Lo mau sesuatu? Kopi? Gue masih ada nih vocer beli satu gratis satu sama potongan diskon dua puluh persen.? "kayaknya Mas Bumi enggak pernah kehabisan voucher deh?" "Hehehehe, gue kan jajan terus. Dapet lagi dapet lagi. Mau enggak mumpung gue baik nih. Kapan lagi lo gue traktir kan?'' Mas Bumi segera menatap ;layar ponselnya sepertinya ia asik memilih kopi yang akan ia pesan. "Makanannya mau ga?' "Aku sih traktiran mau mau aja mAs." "Oke, tunggu gue pesen." Lumayan juga nih kalau dijajanin Mas Bumi gini tiap hari enggak usah keluar ruangan buat cari cemilan. Sebenarnya meskipun sering sekali memberikan pekerjaan yang mendadak, MAs Bumi cukup baik dan sering juga mentraktir aku ataupun beberapa rekan lain. Ya, hanya saja untuk beberapa hal MAs Bumi cukup keras. *** Malam ini aku sudah bersama Saga di tempat tidur kami. Rambut suamiku masih basah karena ia yang pulang sedikit terlambat. Saga duduk dan masih sibuk dengan ponselnya. Aku menatapnya mengintimidasi agar ia menghentikan kegiatannya untukku. Suamiku menoleh kemudian nyengir dengan manis banget. "Kok kamu telat?' tanyaku. "aku bahas masalah untuk soundtrack sitkom kamu tadi." jawabnya lalu memelukku dan merebahkan kepalanya ke bahuku. "Kamu kok bisa santai banget tadi di ruang rapat? Aku gugup dan takut banget sampai pusing kepala aku." Saga menatapku. "Aku gitu ya karena takut kamu ketahuan. Kalau aku kelihatan gugup juga aku takut kamu ngambek.' jawabnya sambil kecup tanganku. "Gimana nih? Terus mau nggak mau kamu kasih tau Brian dong masalah kita?" "Tenang aja, Brian enggak ikut ke Bogor. Aku akan usahakan enggak ajak anak-anak ke perusahaan saat kita rapat dan ada kamu." "Aku takut ketauan," keluhku lagi. Saga duduk tegak lalu membelai kepalaku lembut. "Ya udah, kalau ketahuan kenapa emang? Kita udah cukup kan? aku bisa nafkahi kamu. Studio alu label aku udah jalan kok." "Bukan masalah finansial Ga." "Lalu apa Reres sayang?" "Aku merasa enggak berguna kalau nggak melakukan sesuatu," jelasku. Tentu aku harus mandiri. Sejak dulu selalu diremehkan, kalau saja aku tidak pintar semasa sekolah mungkin saja aku enggak punya teman juga enggak mungkin aku bisa sama-sama Saga saat ini. .Aku harus melakukan sesuatu untuk menunjukkan kalau aku bukan orang yang enggak berguna. Aku punya sesuatu untuk aku banggakan. Harga diriku pasti akan hancur banget kalau aku sampai enggak bekerja. Enggak banyak yang akan mengerti kalau kalian good looking atau paling tidak kalian punya bodi yang bagus. Udah gendut enggak bisa apa-apa? gitu kan kata netizen? "Kasih tau aku siapa yang bilang itu ke kamu. Kamu istri aku, cukup di rumah, jadi istri aku dan jaga anak-anak kita nanti. Kamu itu perfect, sempurna Res. Kenapa selalu merasa kaya gitu?" "Kamu enggak ngerti Saga. Kamu enggak ngalamin apa yang aku rasain jaman sekolah dulu." "Kamu begitu bangga sama kerjaan kamu. Dan nutupin keberadaan aku. Sebenarnya, yang lebih merasa enggak berguna dan enggak dihargai itu seharusnya siapa aku tanya? siapa?" "Maaf maksud aku nggak gitu Ga." Ia hela napas terlihat begitu marah. "Lo tuh egois tau enggak? apa yang enggak gue lakuin buat lo? silent, be silly, all s**t thing. Buat lo, dan lo masih ngerasa enggak berguna? Sekarang gue tanya kalau lo sebagai istri nih, lo ngomong kaya gitu ke orang lain. Menurut lo apa yang mereka pikir? Mereka enggak akan pikir lo enggak berguna. Gue yang akan terlihat enggak berguna. Just try it, silahkan lo coba ngomong itu ke Orang tua lo. Selesai ngomong lo pasti disuruh pisah sama gue. Dahlah, gue capek debat masalah ini terus." Saga marah lalu berjalan ke luar kamar meninggalkan aku disini sendirian. Saga enggak salah selalu aku yang enggak bisa memahami Saga yang sudah banyak mengalah. Bisa-bisanya aku bilang merasa enggak berguna di depan orang yang udah kasih segalanya buat aku? Maaf ya Ga ... Yang bisa aku lakuin sekarang ya cuma nangis di kamar. Sering banget egois dan mementingkan perasaan sendiri tanpa memikirkan perasaan Saga. Reres emang egois banget. *** . . . . . halo assalamualaikum akak Buna. aku mau minta maaf kalau aku masih bolong2 Updatenya.. karena aku masih usaha selesaiin ceritaku yang lain. kebetulan aku ada kerjaan juga sampai Desember disamping kerjaan lain. aku ngajar, jualan cover juga, kerja Freelance input data juga. jaku usahain ngetik sedikit2 setiap waktu senggang.. maaf juga jadi jarang bales komen. kalau udsh senggang aku pasti kembali normal balesin komenn. tapi, jangan bosan komen ya akak Buna . itu jadi buat aku semangat ngetik. sehat-sehat ya semua..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN