"Kalian, kusumpahi masuk neraka! Orang seperti kalian, tak pantas berada di dunia!"
Aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Ya, siapa yang terkejut melihat suami tercinta ternyata ada main belakang dengan wanita lain. Parahnya, wanita itu adalah ibu kandung sendiri.
Sumpah serapah mulai memenuhi ruangan temaram ini. Lilin mulai membakar dirinya sampai habis. Setengah lagi padam, cahaya itu akan tiada. Napasku kian sesak, bersamaan dengan amarah kang kian menyeruak.
Mas Jayendra menarik lenganku. Berusaha mendekapku ke dalam pelukannya. Sedetik saja tubuhku merapat di dadanya, jiwaku kian terbakar.
Kudorong Mas Jayendra sampai terpental ke belakang. Tak sudi lagi aku disentuhnya.
"Jangan sentuh aku! Kamu sudah menodai rumahku dan kepercayaanku, Mas. Selingkuh dengan perempuan lain adalah hal yang sangat menyakitkan, dan mungkin masih bisa dimaafkan. Tapi, kalau hal itu kamu lakukan dengan orang yang bahkan tak pantas untuk dijadikan selingkuhan, itu bukan kesalahan namanya."
"Arumi, aku gak selingkuh!" Mas Jayendra sudah mulai berani membentak rupanya.
"Apa namanya kalau bukan selingkuh? Hah?"
"Arumi, dengarkan penjelasan Mama, Sayang," imbuh Mama dengan wajah ingin dikasihani.
"Berhenti panggil aku sayang! Tak sudi aku memanggilmu mama lagi!"
"Arumi, aku khilaf," lontar Mas Jayendra dengan wajah penuh gelisah.
"Setan apa yang merasuki tubuh kalian hingga nekad berbuat bejad, hah?"
Bara api dalam jiwaku semakin tertiup angin kencang. Berkobar hingga tatapku pun nyalang.
"Kalian sudah gila! Akan kulaporkan pada aparat setempat untuk segera memberi kalian hukuman setimpal!"
Badanku masih gemetar. Dengan langkah sempoyongan aku berlari keluar kamar. Sebentar, menuju dapur untuk memencet saklar agar rumah tak lagi gulita. Seluruh lampu berpijar. Ternyata, mereka padamkan semalaman untuk menghilangkan kecurigaan orang-orang agar mengira di rumah ini tak ada sesiapa. Lalu, aku berjalan dengan murka hendak keluar.
Azan subuh di masjid dekat rumah terdengar syahdu. Pertanda, beberapa orang pilihan Allah akan segera melaksanakan jamaah subuh di sana.
Tidak. Jangan laporkan pada aparatur setempat. Akan kuberitahu Ustadz Hasan agar memberi hukuman qisas sesuai syariat yang sudah ditentukan. Mereka sudah keterlaluan. Mereka bukan lagi manusia, tapi setan yang menyamar jadi manusia.
Sedikit berlari, beberapa langkah menuju pintu keluar rumah Mas Jayendra menarik lenganku. Menggenggam lenganku begitu kuat. Berusaha menepis, hingga aku kesakitan dan meringis. Akhirnya, cengkeraman terlepas sehingga menimbulkan bekas merah di pergelangan tangan.
"Keterlaluan, kamu, Mas Jay!"
"Ma-ma-maaf, Arumi. Aku gak bermaksud menyakiti kamu. Sini, lukanya aku balut, ya," tawarnya lemah lembut.
Ck. Masih berusaha merayuku, rupanya. Tak tahu malu!
Aku mengangkat tanganku yang merah ke atas. Menunjukan bekas itu tepat di depan wajah pria yang dulu mengikrarkan sumpah di depan orang-orang.
"Sakit ini gak sebanding dengan apa yang kurasakan sekarang. Dengar, Mas. Aku akan tetap lapor dan meminta keadilan dari kalian. Biar kutanya Ustadz Hasan apa hukuman yang pantas untuk pezina b*adab seperti kalian!"
Kembali berbalik badan, tetapi Mas Jayendra segera menghalangi pintu keluar. Aku mundur beberapa langkah. Saat melihat wajah paniknya sekarang, ekspresi yang sama seperti beberapa menit lalu saat kepergok berdua dengan Mama.
Mama, dari arah belakang mendekat dan merapatkan tubuhnya di sisiku.
"Arumi, dinginkan hati kamu, Nak. Pikiran kamu sedang panas. Tenangkan dulu. Jangan lakukan apapun saat kamu dikuasai emosi seperti ini," celetuk Mama berusaha menghentikan niatku.
"Apa? Dinginkan? Tenangkan? Apa Mama bisa mendinginkan nafsu liar Mama itu? Setidaknya berpikir dua kali saat mau melakukan hal, ah, yang bahkan aku tak mau lagi mengingatnya," sergahku bernada tinggi tepat di depan wajah Mama.
Di usianya yang hanya terpaut delapan belas tahun denganku, Mama memang masih terlihat awet muda. Mungkin, karena ia rajin perawatan dan jarang sekali menyentuh cucian.
Berbeda denganku, yang tiap hari bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit umum daerah. Terlebih, sering mendapatkan bagian jaga malam. Pulang, bukannya istirahat. Hampir semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan. Sengaja melarang Mama untuk beberes, sebab aku tak mau menjadi Malin Kundang yang durhaka pada orangtua. Membiarkan Mama lelah di rumah ini, sama saja dengan menjadikannya pembantu.
"Apa yang kamu mau, Nak?" Telapak tangan yang sedari kecil menimangku itu, menyentuh pipiku perlahan.
Namun, sudah terlanjur jijik, aku menjauh. Mundur selangkah agar kulitku tak tersentuh.
"Arumi, melaporkan kekhilafan kita pada orang lain sama saja akan mempermalukan diri sendiri. Mempermalukan nama baik keluarga. Bagaimana kalau keluarga besar kita tahu?" Mas Jayendra menimpal kembali.
Aku sudah tak peduli bagaimana tanggapan orang. Kurasa mereka akan memandang sama sepertiku.
"Persetan dengan omongan orang. Kelakuanmu itu sudah di luar batas wajar. Itu bukan khilaf namanya," dengusku sebal.
"Benar kata Mama, kamu sedang dikuasai emosi. Cepatlah pergi berwudlu, salat dan tenangkan hati kamu. Jangan gegabah, Arumi," protes Mas Jayendra.
Bukan aku yang seharusnya berwudlu, tapi kalian. Manusia-manusia bejad. Kotor. Menjijikan.
"Jangan buat malu keluarga kita dan jangan kecewakan Papa di surga, Arumi," seloroh Mama bersandiwara luka.
"Mama sudah gila? Aku yang sepantasnya bicara seperti itu. Apapun alasannya tak ada hal yang mewajarkan kalian untuk berbuat sebr*ngsek itu."
Mas Jayendra tampak sibuk mengunci pintu. Sengaja agar aku tak bisa keluar dan berbuat apa-apa. Aku tersenyum miring.
Melihat mereka di depanku rasanya semakin muak. Kupikir, ada benarnya apa yang mereka bicarakan. Mengadu pada orang, atau meminta saran pada mereka akan mempermalukan diri sendiri.
Aku tak mau terbawa-bawa menjadi buah bibir dan dikasihani oleh orang banyak. Aku tak mau jadi bahan gosipan orang di luaran.
Mengatur napas seraya mengusap wajah dengan telapak tangan, tatapan nanarku menancap di pupil hitam Mama yang bening itu. Tak sebening perilakunya kali ini.
"Baik, aku takkan laporkan. Tapi, hari ini juga kalian pergi dari rumah ini! Tak sudi rumah yang kubangun dengan penuh keringat ini dinodai oleh suami dan ibuku sendiri!" Menghentakkan kaki, aku berjalan cepat menuju kamar yang masih terbuka. Membantingnya dengan keras hingga tertutup. Kukunci dari dalam agar tak ada orang yang masuk.
Lagi, Mama membeku di tempat. Ia terlihat sangat malu. Bagaimana mungkin ia bisa menggaet menantunya sendiri? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?
BERSAMBUNG...