3. Memutus Hubungan

891 Kata
Lagi, Mama membeku di tempat. Ia terlihat sangat malu. Bagaimana mungkin ia bisa menggaet menantunya sendiri? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? ***** Jiwaku semakin terkoyak. Menyadari Mas Jayendra sama sekali tak menyusul. Sekadar mengetuk pintu pun tidak. Apa dia sudah tak ingin beristrikan ku lagi? Kedua mataku sudah seperti disengat lebah. Kuyupnya bantal dibanjiri hujan dari mataku yang terus mengalir. Pipiku yang mengembang lembap, penuh dengan jejak kecewa. Aku masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Sudah matikah hati mereka? Bisa-bisanya berbuat nista melebihi hewan di jalanan. Berjam-jam aku meratap. Tak sadar matahari sudah naik ke puncak. Bias cahaya tergambar di gorden berwarna lembut. Menarik napas panjang, kubuang perlahan. "Papa, pasti Papa sangat sedih, kan, di atas sana?" Lirih kutengadah menatap langit kamar. Seutas jaring laba-laba terpajang di salah satu sudut ruangan. Pertanda, kamar ini memang jarang disentuh, apalagi dibersihkan bagian atasnya. Badanku ambruk di atas kasur. Tulang-tulang tubuhku seperti tak mampu menopang badan agar bisa bangkit. Aku kehilangan banyak tenaga. Terbakar oleh emosi yang meledak. Membakar seluruh jiwa. Bahkan, aku melewati dua rakaat subuh. Beranjak ke kamar mandi, terlalu berat rasanya. Lebih tepatnya, aku tak sudi lagi melihat dua wajah yang menjijikan itu. Seorang ibu yang seharusnya menjadi tempat pulang yang paling nyaman. Malah menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping. Ibu yang seharusnya jadi teladan, malah memporak-porandakan seluruh kehidupan. Mama sudah gila. Mama sudah tak waras. Emosiku kembali menguasai diri. Aku mengambil sebuah foto yang terpajang di atas nakas. Dua orang yang memakai gaun pengantin putih nampak saling tatap mesra. Foto pernikahanku dengan Mas Jayendra dua tahun lalu. Pring. Kulempar sekuat tenaga ke arah pintu kamar. Serpihan kaca berkilau di mataku. Menangis sejadi-jadinya. Tak bisa lagi kutahan amarah yang terus menggerus akal sehat. "Kenapa aku harus dilahirkan dari wanita menjijikan itu, Ya Allah..." Lama-lama, aku sadar bahwa dengan meratap dan meraung seperti ini tak akan menyelesaikan masalah. Malah aku yang akan terlihat lemah. Berusaha kuhapus jejak air mata di kedua pipi. Membetulkan kembali kerudung yang menempel di kepala. Sudah tak berbentuk. Aku bangkit dari tempat tidur. Sisi lain dalam jiwaku tergugah. Kenapa harus menangis seperti ini? Bahkan, saat jiwaku tersiksa, satu dari mereka tak mengetuk kamarku sama sekali. Apa mereka meneruskan lagi suatu hubungan haram itu? Mengumpulkan energi dan keberanian. Kuatur napas yang masih dicampuri sesenggukan. Helaan napas panjang meniup debu-debu di udara. Aku berjalan melangkah keluar. Kuambil sebuah serpihan kaca yang runcing bagian ujungnya. Memutar kunci hingga pintu terbuka. Mama dan Mas Jay nampak bergelut dengan pikiran masing-masing. Suara pintu terbuka, membuat mereka menoleh cepat ke arahku. Mas Jay segera bangkit menghampiri. Namun, aku cepat melerainya. "Berhenti! Jangan mendekat!" Berteriak, aku mengangkat sepotong beling kaca. Tepat di depan wajahku, ingin rasanya aku membunuh mereka sekarang juga. "Arumi, apa yang kamu lakukan?" Mama terhenyak dengan raut wajah gundah. Berhentilah sandiwara, Ma. Mama bisa khawatir jika aku terluka oleh serpihan kaca. Tapi, dengan perbuatan Mama yang justru teramat menyakitkan, apa Mama tak berpikir hati anaknya akan terluka? Bahkan, hancur tak berupa. "Jangan ada yang maju, atau kutancapkan benda ini di mata kalian!" Kedua manusia itu membeku di tempat. Tanganku bergetar. Bergerak menuju pergelangan kiriku sendiri. Perlahan, kususuri pungung tangan. "Arumi, apa yang sedang kamu lakukan? Berhenti, Arumi. Kamu gila?" Mas Jayendra semakin khawatir saat potongan kaca yang runcing itu sedikit menekan punggung tanganku yang kering. "Kalian yang gila! Kalian yang tak waras!" Segenap keberanian, kugores runcingnya beling itu di kulitku yang sawo matang. Sedikit meringis menahan perih, aliran darah itu bercucuran di atas lantai ubin. Sebuah goresan berbentuk vertikal terukir disana. Melihat aliran itu bertambah deras, Mama panik dan berusaha beranjak dari tempat. "Diam di tempat! Saksikanlah darah yang mengalir dari luka ini." Berlagak kuat, nyatanya aku tak bisa menahan genangan air di mata yang sudah membendung. Menyemburkan luka-luka yang tak terhitung. Bersamaan dengan cairan merah segar berbau nestapa. "Lihatlah, Mas, Ma. Apa yang aku rasakan sekarang, jauh lebih perih daripada luka ini," jeritku membuat cecak di dinding kaget mendengar suara bernada tinggi. "Kalian.. Dua orang yang harusnya menjadi tempat ternyaman untukku, nyatanya malah memberi kesakitan dengan pengkhianatan yang .. Ah! Menjijikan sekali untuk melanjutkan!" Aku menekan setiap kata-kata yang terlontar. "Arumi, aku minta maaf. Aku khilaf," tandas Mas Jayendra tetap di tempat. Tangannya menelungkup di depan dadanya yang bidang. "Iya, Nak. Mama pun benar-benar khilaf," timpal Mama ikut membela diri. "Apapun alasannya, perzinaan mahram itu bukan suatu hal yang bisa dibetulkan. Tak sudi lagi aku melihat wajah-wajah meloya kalian berdua!" "Lantas, kami harus apa, Rum? Kami benar-benar minta maaf," mohon Mas Jayendra dengan wajah memelas. Alah. Sandiwara. Sekarang saja minta maaf. Besok, kalau kejadian lagi, pasti alasannya sama. Berzina itu penyakit. Kalau sudah melakukan, pasti akan ketagihan. Aku berdecak kasar. Membanting tatapan menuju gorden yang masih tertutup. Sementara, matahari berusaha masuk lewat celah-celah lubang kain yang kecil. Tak malukah mereka muncul di hadapanku seperti ini? Jika ingat kembali, rasanya mual di perutku muncul lagi. Memejamkan mata, kuhapus kedua mataku dari tangisan. Kenapa lagi-lagi harus bersedih untuk manusia seperti mereka? "Ceraikan aku, Mas. Dan pergi jauh-jauh dari hidupku!" Mengalihkan pandangan pada Mama, tak ada sedikitpun cinta di hatiku seperti dulu. Surga di bawah telapak kaki ibu? Nyatanya, di tubuhnya kini yang ada neraka. "Dan aku, tak menginginkan hubungan ibu dan anak antara kita berlanjut. Pergilah jauh-jauh dari sini. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Mulai saat ini, anggap saja aku tak pernah dilahirkan dari rahim Anda!" tegasku membuat Mama terkejut. BERSAMBUNG..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN