4. Tak Bisa Kumaafkan

1091 Kata
"Ceraikan aku, Mas. Dan pergi jauh-jauh dari hidupku!" "Dan aku, tak menginginkan hubungan ibu dan anak antara kita berlanjut. Pergilah jauh-jauh dari sini. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Mulai saat ini, anggap saja aku tak pernah dilahirkan dari rahim Anda!" tegasku membuat Mama terkejut. "Arumi, istighfar. Ini Mama, Nak! Mama yang mengandungmu selama sembilan bulan." Getar suara Mama dilanda ketakutan. Picik. Aku tersenyum miring. Siapa yang seharusnya beristighfar? Siapa pula yang mau dikandung dari perempuan seperti dia. Andai aku bisa menawar, tak ingin semuanya terjadi. Melihat mereka diselimuti kepanikan dan ketakutan seperti itu, membuat sedikit amarahku padam. Tiupan angin yang membesarkan kobaran api perlahan melambat. "Sayangnya, aku tak akan pernah menceraikan kamu, Arumi," ucap Mas Jay membuat kedua mataku membulat. "Aku masih mencintaimu, Arumi," sambungnya dengan tatapan seolah bahwa hanya akulah yang ada di hatinya. "Ck. Omong kosong." Cinta macam apa yang dia miliki sehingga berkhianat seperti ini. Dua orang itu masih terus mematung di tempat. Menjabarkan ribuan permintaan maaf dan permohonan agar masalah diselesaikan baik-baik secara kekeluargaan. Jangan sampai aib ini menyebar, keluargaku mendapat cap buruk dari orang lain. "Kalau begitu, aku akan bawa kasus ini ke pengadilan secepatnya. Dan akan kupastikan kalian berdua cepat pindah ke penjara." "Sekarang juga, tinggalkan tempat ini. Dan pergi sejauh mungkin!" Aku tak menggubris permohonan Mama dan permintaan maaf Mas Jay. Bagiku, kelakuan bejad mereka sudah tak bisa lagi dimaafkan. Jahiliyah! Mereka masih tak bergerak. Hanya memandangku, meminta dibelaskasihani. Seolah bertanya, mereka akan tinggal dimana. Sungguh sama sekali tak peduli. Mau di kolong jembatan, kek. Di gua yang penghuninya ular semua hingga digigit kalajengking dan ular berbisa. Aku tak peduli! Yang jelas, aku tak mau manusia-manusia serong itu terlihat lagi oleh kedua mataku. "Kenapa masih diam? Oh, atau mau aku kemasi pakaian kalian berdua?" Aku semakin menantang. Rasanya, bukan lagi kesedihan yang menimpa hati. Melainkan seonggok berang yang ingin kulempar kepada mereka. Aku angkat kaki, kembali ke kamar. Mengambil koper yang tersimpan di atas lemari. Kuambil pakaian-pakaian Mas Jay yang tersusun rapi di dalam lemari. Melemparnya dengan kasar ke dalam koper, kemudian menutup resletingnya. Mendorong keluar. Hingga benda itu kini terpampang di tubuh maskulin Mas Jay. "Ini, ambil. Pergi dari rumahku!" "Arumi, ini Mas, suamimu. Duduklah, Sayang. Kita bicarakan baik-baik, ya." Ternyata, dia masih memelas juga. "Kenapa? Bingung mau tinggal dimana? Takut jadi gelandangan? Hei, Mas. Ini rumahku. Hasil kerja kerasku bekerja siang dan malam. Begitu menyesalnya aku membiarkan rumah yang kubangun dengan keringat ini dinodai begitu saja." Kuedarkan pandangan menuju Mama yang duduk lesu di kursi. Kepalanya tunduk menatap lantai yang sudah basah oleh kucuruan air dari matanya. Ternyata, merasa bersalah juga? Air mata buaya. "Dan kau, wanita kurang ajar. Pergilah bersama lelaki ini! Pergilah ke tempat manapun yang kalian mau. Pergilah, dan kalian bebas melanjutkan kegilaan kalian! Jangan pernah kembali!" Mereka semakin tertekan menguping perkataanku yang semakin dijejali kebencian. Mama hanya menunduk, tanpa menyangkal. Ia mengakui kesalahannya. Mas Jay mengusap wajah dengan telapak tangan. Kemudian, tangannya berkacak pinggang. Mengangkat kepala, raut wajahnya berubah nanar. "Asal kau tahu, Arumi. Ini memang rumahmu. Kuakui belum bisa menjalankan kewajibanku sebagai suami. Aku belum sanggup memberimu rumah. Bahkan, untuk makan sehari-hari, kau yang lebih banyak andil di perdapuran kita. Tapi, bisakah kau berkaca? Apakah kau sudah benar menjalankan kewajibanmu sebagai istri?" Aku mengangkat kedua alis. Apa maksudnya? Selama ini, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Mas Jay. Tak pernah berbuat aneh i luar rumah. Walaupun penghasilanku lebih besar dari dia, aku tak pernah sedikitpun merendahkan. Sehari-hari, aku mengurus rumah sendirian walau lelah dari pekerjaan. Sementara, Mas Jay yang membuka bengkel dekat rumah, walaupun pulang sore tak pernah ia menengok pekerjaan rumah. Alasannya capek. Padahal, bengkel seringkali sepi. Mama, kubiarkan jangan menyentuh pekerjaan rumah. Dia sudah waktunya berisitirahat. Rutinitasnya, hanya mengurus tanaman-tanaman yang ia pelihara di belakang rumah. Menyiram dan mengurusnya setiap hari. Kulakukan itu, agar ia tak kesepian. Tapi, apa yang kudapatkan? Di belakangku, mereka menusukkan belati tajam. "Sudah benarkah kau memberikan nafkah batin untukku, Arumi? Selama ini aku diam dan berusaha mengerti. Tapi, semakin lama kau semakin sibuk dengan karirmu itu." Deg. Jantungku kembali berdenting cepat. Darahku kembali mendidih. Aku, yang mengorbankan waktuku untuk kesejahteraan keluarga. Rela mengalihkan waktu tidur menjadi waktu kerja. Sering mendapatkan bagian malam saat jaga. Itu bukan keinginanku. Dan itu, bukan untuk kesenanganku. Ini semua demi mereka. Kalau hanya mengandalkan bengkel Mas Jay yang sepi, bisa-bisa kelaparan. Bengkel Mas Jay yang terletak di pinggir jalan besar. Bukan jalan raya. Jarang sekali ada kendaraan yang berlalu lalang. "Apapun alasannya, tak ada hal yang membenarkan kalian berbuat zina seperti ini! Apapun, Mas!" Mataku memanas. Ternyata, pengorbananku selama ini, kelelahanku dalam pernikahan ini tak ada harganya di depan Mas Jay. Mama, kenapa ia tega berbuat begitu pada anaknya sendiri? Apa selama ini aku hanya dijadikan mesin pencetak uang saja untuk mereka? Sementara, di belakangku mereka bersenang-senang. "Kau bisa memandangku hina. Tapi, belum tentu kau suci, Arumi. Sebelum kau mengatai suamimu menjijikan, lihatlah dirimu! Sebaik apakah sehingga mulutmu begitu kasar berbual!" Kenapa jadi aku yang disalahkan? Apa aku juga yang harus pergi dari sini? Dari rumahku sendiri. Muak sekali mendengar pembelaan diri Mas Jay. Dia selalu enggan untuk disalahkan. "Cukup, Mas! Jangan memutarbalikkan fakta sehingga aku yang dianggap bersalah. Biar aku yang pergi dari hidup kalian. Silakan teruskan kesenangan kalian. Tapi, ingat satu hal. Jangan pernah cari aku kemanapun!" "Arumi, Mama mohon, jangan-" Mama menyahut, tapi segera kupotong ucapannya. "Jangan panggil namaku lagi. Jangan sebut dirimu itu dengan sebutan mama lagi." Lagi, Mama terdiam. "Ceraikan aku secepatnya! Setelah itu, aku akan menghilang dari hadapan kalian berdua!" Aku kembali melihat wajah Mas Jay. "Aku tak akan pernah menceraikanmu." "Apa maksud kamu?" "Selamanya, kau akan tetap menjadi istriku, Arumi." Aku berdecak. Aneh. Setelah baru saja dia menghadirkku, tiba-tiba menegaskan tak ingin berpisah. "Kalau begitu, biar aku yang urus surat cerai kita ke pengadilan. Persiapkan dirimu, Mas!" "Aku tak akan membiarkanmu bebas dan menyebarkan aibku. Jangan macam-macam, Arumi!" "Terserah! Seluruh dunia tahu mana kebenaran dan kebusukan! Aku tak akan pernah takut dengan ancaman siapapun, termasuk ancaman suami sepertimu dan orang tua macam dia!" Kepalaku menoleh pada Mama. Dia tengah menonton perdebatan kami. Berdebat dengan Mas Jay tak akan ada akhirnya. Andai Mas Jay tahu, sebenarnya aku tak mau memiliki peran ganda seperti ini. Menjadi tulang punggung dan menjadi istri. Andai Mas Jay bisa menafkahiku dengan baik, tak terlalu abai. Pasti setiap hari aku berdandan cantik di hadapannya. Kulangkahkan kakiku kedepan. Tatapan tajamku menusuk bola mata elangnya. "Satu lagi, Mas. Apa yang kau lakukan dengan perempuan itu, tak akan pernah kumaafkan sampai kapanpun. Ingatlah, karma itu ada. Suatu saat, kau akan rasakan pembalasan setimpal atas perbuatanmu." BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN