"Satu lagi, Mas. Apa yang kau lakukan dengan perempuan itu, tak akan pernah kumaafkan sampai kapanpun. Ingatlah, karma itu ada. Suatu saat, kau akan rasakan pembalasan setimpal atas perbuatanmu."
*****
Kukemas beberapa setel pakaian dan barang-barang penting ke sebuah koper besar. Sebuah tas punggung dan tas selempanh berisikan alat make-up, dompet dan data pribadi lengkap ke dalamnya. Termasuk surat nikah, yang akan kubawa segera ke pengadilan untuk mengajukan cerai.
Aku benar-benar tak mau menatap batang hidung Mas Jay dan Mama. Jika mereka tak mau pergi, biar aku yang pergi.
Gorden yang sedari tadi tertutup, kusibak perlahan. Silau cahaya matahari sore ini menusuk pupil. Terlihat anak-anak bermain di depan masjid, tepatnya depan halaman rumah. Menunggu waktu ashar tiba. Kebetulan, letak rumahku dan masjid memang berhadapan.
Anak-anak riang. Mereka tertawa tanpa merasakan beban. Hanya bermain, makan, tidur dan bebas melakukan apa yang mereka mau.
Bola yang menjadi rebutan, seolah bukanlah kesulitan. Itu hal menyenangkan walaupun harus berebut dan berbagi dengan orang-orang.
Aku menyentuh kaca jendela. Waktu kecil, jika sedang bermain pasti Mama menyusul. Menyuruhku makan, mandi dan pulang. Tiba-tiba saja aku merindukan hal itu. Lintasan masa lalu itu sejenak menepis bayangan menjijikan malam tadi.
Namun, detik berikutnya aku teringat lagi. Dia bukan mamaku yang dulu. Dia setan yang menjelma menjadi manusia.
Kulirik serpihan kaca yang sama sekali tak kubersihkan. Ah, aku tak peduli jika hal itu membahayakan. Nyatanya, luka oleh beling itu tak seperih apa yang tengah kurasakan.
Lihatlah. Luka di punggung tangan yang tadi kugores dengan kaca sudah kering. Tapi, bagaimana dengan luka di hatiku? Bertambah basah, robek dan melebar.
Kulirik jam dinding yang hendak menunjuk angka tiga. Mataku beredar di sekeliling kamar. Bangunan ini, bangunan yang penuh kenangan.
Aku membangunnya dari hasil kerja kerasku sendiri. Sempat bekerja sampingan di sebuah pabrik sambil kuliah. Juga jualan online sebagai tambah-tambah. Setelah mendapat gelar sarjana, langsung bekerja sebagai perawat, mengabdi di salah satu rumah sakit umum daerah.
Rumah sederhana, tetapi penuh makna. Saat itu masih ada papa.
Kupandang langit-langit kamar yang masih bercucuran keringatku yang belum kering. Haruskah aku tinggalkan?
Aku menghela napas. Kuatlah, Arumi! Ini demi kebaikanmu dan harga diri sebagai seorang istri.
Aku harus pergi sekarang juga. Beberapa figura yang terpajang di dinding, membuat jiwaku merengut.
"Manusia binal!" tuduhku pada potret pria yang memakai baju pengantin di foto itu.
Mas Jayendra yang gagah, baik dan rendah hati. Ternyata itu hanya manipulasi. Pernikahanku kini hanya sebuah ilusi.
Segera kuayunkan kaki mendekati koper yang telah kusiapkan. Kuraih tas selempang lalu kusandangkan di bahu kananku.
Tunggu, aku teringat sesuatu. Sertifikat rumah. Lekas, kubuka nakas yang berada samping tempat tidur. Sertifikat tanah dan rumah ini akan kuambil juga. Untungnya, semuanya atas namaku sendiri.
"Lihat saja, Mas Jay. Kamu gak akan tenang. Kamu akan segera hidup prihatin."
"Maafkan aku, Mama. Itu semua salahmu sendiri. Dengan perlakuanmu yang macam hewan, kau tak pantas disebut ibu."
Aku membatin sendiri. Setelah pergi dari sini, mengurus surat cerai dan akan kujual rumah ini pada orang. Biar mereka terusir dan luntang-lantung di jalanan.
Setelah semuanya selesai, aku akan membuka lembaran baru. Membunuh pikiran tentang mereka berdua agar tak muncul lagi dalam hidupku. Walaupun sakit sekali, saat terpaksa harus memutuskan hubungan dengan seorang ibu.
Mama, yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Justru dia yang menghancurkan hidupku. Kepada siapa lagi aku harus bercerita dan berbagi kisah? Jika semua orang tenang mendekap tubuh ibu, justru tidak bagiku.
Melihatnya, akan terus menambah puing-puing dosa dalam hidupku. Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Tempat kotor, keji dan terkutuk karena telah digoresi aib oleh penghuninya.
Kumasukan surat dan sertifikat tanah ke dalam koper. Menutup kembali, lalu bergegas keluar. Tak sabar melihat mereka selanjutnya seperti apa. Mungkin, aku akan dicap kejam oleh orang-orang. Dikata Malin Kundang versi modern atau anak durhaka.
Jejak langkahku melewati serpihan kaca. Sedikit berhati-hati agar tak mengenai kaki.
Brak.
Pintu terbuka. Hanya ada Mas Jay di ruang tamu yang tengah memijit kepala. Perempuan yang kupanggil Mama itu, entah kemana perginya.
"Arumi, mau kemana?" Mas Jay bangkit dari duduknya. Menghampiri dan berusaha meraih kedua pundakku.
Mundur beberapa langkah, aku menjauh. Jangan sampai tubuhku disentuh lagi olehnya.
"Sudah kukatakan aku mau pergi."
Menggeser kaki ke kanan, mencari jalan untuk melangkah. Mas Jay bergeser, menyejajari tubuhku. Kugeser lagi, ia masih mengikuti.
"Apa, sih, mau kamu?" Beban dipundakku rasanya makin berat. Kalau tak punya iman, sudah kuambil saja pisau dari dapur lalu kutusuk jantungnya.
"Berhenti bersikap kekanakan, Arumi."
Konyol. Dia kira, pengkhianatan merupakan sebuah permainan beklen yang kalau seseorang kalah, bisa diulang lagi?
Tak menggubris, aku melangkah maju. Kutubruk bahunya yang kekar hingga lolos dari cegatannya.
"Arumi. Jangan macam-macam! Atau kau akan-"
"Akan apa? Aku sudah bilang tak akan takut dengan ancaman apapun. Apalagi manusia-manusia binal seperti kalian! Tunggu saja, Mas. Bukan aku yang akan celaka, tapi kau dan perempuan itu yang akan merasakan akibatnya! Meski bukan lewat tanganku, tapi lewat doa-doa orang sepertiku. Orang yang terzalimi. Kau dan perempuan itu akan segera dihimpit derita!"
Segera kupotong ucapan Mas Jay. Sudah salah, masih berani menyangkal dan mengancam. Lelaki macam apa itu? Kini, topengnya terbuka. Wajahnya tak sebening yang kukira.
Sedikit berlari, pijakan langkahku terus melaju dengan pasti. Menuju jalan raya, menaiki sebuah bis yang aku sendiri pun tak tahu akan kemana.
Dari kejauhan, terlihat Mas Jay dan Ibu berlarian menyusul. Segera kukatakan pada sopir, untuk berangkat saja.
Kuambil bagian kursi paling belakang. Sepi. Hanya ada beberapa orang penumpang. Pandanganku berbalik menatap kaca belakang. Menembus benda bening itu hingga tampak pemandangan dua orang yang sedang menatap punggung bis yang kunaiki.
Tanpa terasa, air mataku jatuh lagi. Seiring dengan laju bus yang semakin cepat, aliran bening di mataku juga semakin deras.
Kutumpahkan lagi seluruh perih ini. Tanpa suara. Namun, hatiku semakin riuh dengan konflik batin yang kini menyiksa. Berkecamuk dengan pikiran sendiri, mencoba membesarkan hati.
Mas Jay, apa ini hadiah ulang tahun pernikahan kita yang kau sembahkan?
Mama, apa sudah tak berfungsi lagi jiwa dan hatimu, yang dulu mengajariku budi pekerti dan etika. Sementara, kini kau mendobrak semuanya.
BERSAMBUNG...