Mas Jay, apa ini hadiah ulang tahun pernikahan kita yang kau sembahkan?
Mama, apa sudah tak berfungsi lagi jiwa dan hatimu, yang dulu mengajariku budi pekerti dan etika. Sementara, kini kau mendobrak semuanya
*****
Tatapan kosongku menembus jendela yang mulai dingin. Tetiba, langit berganti warna. Nyala mentari padam perlahan. Gerombolan awan kelabu mulai berdatangan dari arah barat. Gerimis mulai mencipratkan embun di kaca bis ini.
Entah kemana aku akan pergi. Sedari tadi, aku hanya menikmati perjalanan sendu sore ini.
Andai tak terikat pekerjaan, aku sudah melancong jauh ke luar kota. Kalau bisa, ke luar pulau atau luar negeri.
Tak mungkin kutinggal begitu saja pekerjaan yang selama ini memberiku kehidupan. Pekerjaan mulia, yang papa sangat impikan. Ya, menjadi penolong di bidang kesehatan adalah keinginan papa. Awalnya, ia menginginkanku menjadi dokter. Terkendala biaya, akhirnya mampu menjadi perawat saja.
Dalam pekerjaan yang telah kugapai, ada jejak perjuangan dan kerja keras papa yang tak mungkin kuhapus begitu saja.
Tiba di perempatan Cileunyi, mendekati gerbang tol tiba-tiba aku turun begitu saja. Kata hatiku membawa langkah kaki untuk berjelajah di sini.
Gerimis tipis masih menghias udara. Mencari tempat teduh, berangsur menuju sebuah warung nasi pinggir jalan.
Menepis dingin, aku memesan secangkir wedang jahe. Tak enak juga kalau hanya berteduh, tapi tak pesan apa-apa.
Perutku keroncongan. Melihat makanan yang berjejer di etalase kaca, sudah nagih untuk minta jatah. Tapi, mulutku menolak. Tak ada sedikitpun nafsu makan.
"Silakan, Teh," ucap penjaga warung seraya menyodorkan segelas wedang jahe di atas meja.
Kepulan asap panas dari gelas itu menerpa wajahku. Menyeruput sedikit, lalu kusimpan kembali. Banyak orang berteduh di sini. Sekadar berdiri atau bahkan masuk memesan makan.
Kuedarkan pandangan ke jalanan. Berpikir bagaimana nasibku ke depan. Tanpa sadar, setetes air menitik di pipi. Beriring dengan rinai yang kian deras.
Tak ada sanak saudara. Ibu anak tunggal. Sementara, kedua adik papa yang tak lain adalah bibi dan paman merantau di ibukota. Kalau tiba-tiba aku menyusul ke sana, mereka pasti bertanya-tanya.
Aku tak mau keluarga dari papa sampai tahu apa yang terjadi. Selain malu, aku tak mau melukai mereka dan membuat papa bersedih.
Semakin dalam larut bergelut dengan nasib sendiri, aku seperti berada dalam jalan buntu.
Mama dan Mas Jay, sedang apa mereka? Apa mereka bersedih dan menyesal? Atau justru senang akhirnya aku pergi.
"Kamu sepertinya butuh ini."
Suara asing seseorang menyadarkanku dari renungan. Mataku beralih pada sosok berambut klimis yang berdiri tepat di depan wajahku. Tangannya menyodorkan sebuah tisu. Seolah menyuruhku untuk menghapus derai air yang mengalir.
Aku menarik koper yang agak jauh. Merapatkan tas yang isinya uang dan data-data penting.
"Jangan risau ataupun takut. Apa aku terlihat jahat?" Ia menyelidik penampilannya sendiri.
Aku hanya berjaga, barangkali ia komplotan tukang hipnotis yang saat ini sedang marak terjadi di daerah sini.
"Tenang saja. Tisu ini gak mengandung obat bius, kok."
Tetap tak menjawab, aku semakin waspada. Apalah orang ini sebut obat bius segala. Jangan-jangan, dia memang ahli hipnotis.
Melihatku berwajah masam, senyum kecil terbit di bibirnya.
"Ya, udah. Biar aku aja yang pakai tisu ini buat lap air hujan di keningku. Tenang, gak usah kamu lapin. Aku bisa sendiri, kok."
Aku menelan ludah mendengar ia berbicara sendiri sedari tadi. Seolah aku menanggapi, padahal tak sekata pun keluar dari mulutku.
Ia mengusap keningnya yang sedikit basah terkena air hujan. Bekasnya, ia buang ke tong sampai terdekat.
Beberapa detik kutunggu. Aman. Tak terjadi sesuatu padanya. Dugaanku salah. Ia masih berdiri di tempat dengan menunjukan senyum manis.
"Kalau gak keberatan, boleh aku duduk di sini?"
Kurasa, dia orang baik. Namun, aku harus tetap waspada jika dia berbuat yang tidak-tidak. Ini tempat umum, bisa saja sesuatu terjadi. Kupersilakan dia duduk.
"Hujan gini, Teteh mau kemana? Pindahan?"
"Bukan urusan kamu," jawabku singkat.
"Nah, lho. Aku tanya baik-baik, lho. Soalnya, di sini tuh harus hati-hati. Banyak premannya, apalagi lihat perempuan secantik Teteh. Terlebih, orang baru juga."
Kusipitkan mata untuk mengintip wajahnya yang berekspresi bingar. Tak ada gurat preman atau orang jahat. Mendengar penuturannya, aku terdiam.
"Iya, mau pindahan. Lagi cari kosan." Terpaksa, aku berbicara jujur padanya. Mencoba berpikir positif pada pria itu.
"Mau aku carikan yang aman?"
Lagi, kupandang netranya sehingga tanpa sengaja bola mata kami bertemu. Segera, kutolehkan lagi pandanganku menuju lain arah. Hujan masih turun ramai-ramai dengan deras. Menciptakan percikan di bagian bawah koperku sehingga berjejak cokelat.
"Kenapa, sih? Apa aku terlihat seperti penjahat, ya?"
Nampaknya, pria itu peka terhadap sikapku yang sulit diajak berbicara.
"Ya, udah. Kalau kehadiran aku mengganggu, biar aku cari tempat duduk lain, ya."
Sebelum pria itu berhasil beranjak dari tempat duduknya, aku segera menahan. Kukira dia memang orang baik. Sepertinya, aku membutuhkan bantuan untuk carikan indekos yang aman.
Tempat yang sedikit tersembunyi agar tak ada orang yang bisa menemukanku. Termasuk Mas Jay dan Mama.
"Tunggu! Aku terima tawaran bantuannya. Carikan aku kosan yang aman dan nyaman."
Pria itu urung berdiri. Penyambutanku membuatnya memesan secangkir kopi hitam tanpa gula.
"Oke. Nanti, setelah hujan reda aku antarkan, ya."
Aku tersenyum tipis. Kuraih gelas berisikan wedang jahe yang tinggal setengah, meneguknya dengan nikmat. Aroma khas yang menyejukkan tenggorokan. Alirannya menghangatkan badan.
Kugenggam kuping gelas dengan erat. Memandang isinya dengan pekat. Bayangan manusia durjana itu muncul kembali di air wedang yang berwarna keruh. Kenapa rasanya perih sekali?
"Anak rantau darimana?"
Suara ramah pria di sampingku memecah lamunan. Aku mulai berani berbicara padanya, setelah meyakini tak ada niat buruk dalam dirinya.
"Bukan anak rantau. Aku masih orang sini," jawabku tersenyum simpul.
"Oh, benarkah? Darimana?"
"Kenapa? Kalau mau bantu, gak usah banyak basa-basi. Aku sedang pusing."
Sejujurnya, merasa bersalah sekali bersikap bengis pada pria yang berniat baik itu. Tapi, pikiranku benar-benar pening. Tubuh dan jiwaku amat lelah. Bukan saat yang tepat untuk berbasia-basi tak penting dengan orang lain.
Tetap tersenyum, pria itu akhirnya meneguk secangkir kopi yang telah disediakan pemilik warung. Ia tampak tak tersinggung sama sekali dengan ucapanku.
Derai hujan yang jatuh ke tanah menjadi tontonan. Aku memijit kepalaku. Rasanya pusing sekali. Mata sembabku sepertinya meminta waktu untuk istirahat.
"Sepertinya kamu sedang gak baik-baik aja. Saat ini, silakan tenangkan hatimu sendiri. Tapi nanti, aku yang akan membalut luka dan bantu mendamaikan perasaanmu."
Aku tercekat. Apa maksud pria ini? Apa dia tak tahu kalau aku ini istri orang. Eh, bukan. Maksudnya, bekas istri orang karena sebentar lagi statusku akan berubah janda. Miris sekali.
"Jangan kaget jika ucapanku nanti menjadi nyata."
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, wajah tenangnya menghirup aroma khas kopi hingga angin meniupkan wanginya sampai ke hidungku.
Orang gak jelas ini. Andai aku tak butuh bantuan, tak akan kupersilakan duduk disini lagi. Andai tak hujan, aku sudah melenggang dari sini.
BERSAMBUNG...