"Jangan kaget jika ucapanku nanti menjadi nyata."
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, wajah tenangnya menghirup aroma khas kopi hingga angin meniupkan wanginya sampai ke hidungku.
Orang gak jelas ini. Andai aku tak butuh bantuan, tak akan kupersilakan duduk disini lagi. Andai tak hujan, aku sudah melenggang dari sini.
*****
Di sebuah bangunan kecil dua petak. Satu ruangan kamar tidur dan ruang tamu yang kubagi menjadi dapur. Kamar mandi kecil di belakang, dekat dengan kamar tidur.
Aku akan memulai perjalanan baru. Tanpa Mas Jay, tanpa Mama. Setelah membayar biaya sewa per bulan, aku langsung mendapat kunci kos.
"Jadi, siapa namamu? Kita belum berkenalan, lho," ujar pria yang sedari tadi menemani perjalanan.
Ah, ya. Kami memang belum saling memberitahu nama. Sepanjang perjalanan, tak hentinya dia mengajakku berbicara. Kupikir, orang ini asyik juga.
"Arumi," jawabku singkat.
"Cakra," sambungnya dengan tangan terulur.
Lantas, kutolak dengan menelungkupkan kedua telapak tangan di d**a. Ia segera menurunkan ukuran tangan itu.
"Boleh simpan nomornya?"
"Buat apa?"
"Barangkali butuh bantuan lagi, kamu bisa hubungi aku."
Aku tersenyum pasti. Kurasa, modusnya sama seperti pria lain. Ngajak berkenalan, ujungnya ingin pendekatan. Aduh! Aku ini bukan perawan lagi.
"Disini banyak orang, kok. Kita gak perlu bertukar nomor. Kalau sudah, kamu boleh pergi," jawabku datar.
Bagaimanapun aku harus tetap menjaga diri. Jangan sampai dicap buruk oleh orang lain, dengan status di kartu keluargaku yang masih istri orang.
Lelaki bernama Cakra itu menautkan kedua alis. Mungkin, untuk ukuran lelaki setampan dia, mustahil perempuan menolak saat diminta nomor.
Dengan berat langkah, ia meninggalkanku sendiri di kos. Namun, pesannya sebelum pergi membuat mataku membola.
"Kita bakal ketemu lagi, kok. Kalau butuh bantuan, kamu bisa pergi ke dekat pusat perbelanjaan. Rumahku dekat sana. Tanyakan aja, Cakra Pancasila."
Aku menelan ludah. Nama yang unik. Apa dia lahir di saat hari Pancasila? Atau, karena orangtuanya teramat cinta dengan Indonesia. Ah, lupakan saja. Buang-buang waktu memikirkan hal itu.
Namun, aku menahan tawa melihat tingkah konyolnya. Ia begitu percaya diri meski berkali mendapat perlakuan dingin.
Ah, Cakra. Ada-ada saja.
*****
Tiga hari ini waktuku hanya dihabiskan untuk merenung. Mencari solusi dan jalan bagaimana baiknya kisah ini agar berakhir. Aku ingin segera menutup buku dengan Mas Jay. Membuka lembaran baru, dimana orang yang membuat remuk hatiku tak akan menggoreskan namanya kembali.
Kalau tahu begini, aku tak akan ambil cuti berlama-lama. Percuma, di tempat ini aku pun belum ada kenalan. Orang-orang yang kos disini pun kebanyakan pekerja dan mahasiswi. Punya kesibukan tersendiri.
Aku membuka ponsel. Menyentuh layarnya hingga menyala. Terdapat puluhan panggilan tak terjawab dari nomor Mas Jay dan Mama. Ternyata, mereka mencariku.
Puluhan pesan tak terbaca, langsung kuhapus begitu saja. Tak ingin membacanya satu persatu.
Saat kupegang benda pipih itu, panggilan tersambung kembali.
Nomor dengan nama kontak 'Beloved' itu tak menyerah. Tetapi, aku tetap membiarkan. Setelah panggilan mati, aku segera mengaktifkan mode pesawat di aplikasi w******p.
Entah kenapa, jika teringat kembali adegan tak senonoh itu rasanya jiwaku kembali bergejolak. Tak mampu lagi menangis, air mataku telah habis terkuras. Yang tersisa hanya puing dendam dan seonggok amarah.
"Berselingkuh dengan sepuluh wanita di luar, masih bisa kumaafkan, Mas. Tapi, kalau kamu sudah tak waras sehingga berselingkuh dengan mertua kamu sendiri, itu sudah di luar batas kewajaran. Itu bukan khilaf namanya, tapi kamu kesetanan!"
Aku bergumam sendiri. Meremas celana kulot yang kupakai, lalu merebahkan tubuh ke atas kasur.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa dengan pergi seperti ini semuanya bisa selesai? Tidak. Aku tak boleh lemah. Jangan diam saja. Aku harus segera bertindak agar semuanya selesai.
Hari ini juga, aku akan pergi ke pengadilan untuk mengurusi perceraian. Setelah itu, menawarkan rumah pada orang-orang. Mas Jay dan Mama harus cepat pergi dari tempat itu. Rumah yang kubangun dengan penuh butir keringat.
Tapi, siapa yang harus dimintai pertolongan untuk menawarkan rumah dan tanah? Orang baru sepertiku, apalagi indekos akan sulit dapat kepercayaan orang-orang.
Ah, ya. Cakra. Aku harus mencarinya untuk meminta bantuan!
*****
Sesuai petunjuk yang ia paparkan saat terakhir bertemu, aku menyusuri jalanan. Berjalan kaki dari rumah menuju pusat perbelanjaan. Sembari melihat-lihat daerah sini agar cepat hapal.
Perjalanan yang berjarak satu kilometer dari rumah kos, lumayan membuat tubuhku bugar. Di bawah sinar matahari pagi, dengan mata yang masih bengkak karena beberapa hari ini terus mengeluarkan cairan duka.
Melewati sebuah masjid dengan kubah berwarna biru. Puluhan pasang sandal tampak berderet di selasar masjid. Sepertinya, sedang ada kajian.
Aku mendekat. Rasanya, semenjak bekerja dan menikah sudah lama tak ikut kajian seperti ini. Entah apa yang membawaku kesini, aku membuka sandal. Lalu mengayunkan kakiku ke dalam.
Duduk di barisan paling belakang, dekat dengan seorang ibu yang tampak mendengarkan sembari menahan kantuk. Duduknya sempoyongan, sedikit lagi saja, ia bisa terjengkang ke belakang.
Sosok pria berpeci dan sematan sorban di pundaknya tengah menyampaikan ceramah di depan mimbar. Entah kenapa, bahasan yang sedang ia paparkan sekarang seperti tengah menyindirku yang baru saja datang.
"Ibu mengandung selama sembilan bulan, melahirkan lalu membesarkan. Apalagi yang anaknya banyak, itu dilakukan berulang kali. Yang kita harapkan hanya satu, ya, Bu, ya. Anak-anak kita saleh salehah, menjadi jembatan kita menuju surga. Sebaliknya, kita sebagai seorang anak dari seorang ibu, harus juga bisa berbakti. Jangan sampai hati mereka terluka gara-gara kelakuan dan perkataan kita sebagi seorang anak. Jangan sampai kita jadi penerus Malin Kundang, anak durhaka..."
Kalimat demi kalimat terus berlanjut. Aku seperti tersindir oleh untaian-untaian ilmu yang disampaikan.
Mungkin, aku telah menyakiti perasaan Mama. Tapi, ia lebih mengoyak jiwaku. Kututup mata rapat.
Jika ada anak yang durhaka kepada orang tua. Lantas bisakah sebaliknya? Jika seorang anak bisa dikutuk menjadi batu, lantas bisakah seorang ibu dikutuk menjadi ratu batu? Apa seorang ibu yang mengkhianati anaknya sendiri, disebut ibu yang durhaka?
Aku menahan genangan air agar tak jatuh. Tahan, Arumi. Kenapa bisa bersedih lagi?
Mama, masih adakah surga di telapak kakimu?
Saat mataku kembali terbuka, sosok yang bertausyiah di depan telah kembali ke belakang mimbar. Ceramah itu selesai disampaikan. Namun, aku tercekat saat melihat sosok yang kini menjadi moderator tengah menatapku.
Cakra. Dengan gamis putih polos berpeci warna senada. Sebuah mik yang dipegangnya bahkan hampir jatuh. Lantas, dia mengembalikan fokus untuk menutup acara.
Aku terhenyak, terpaku di tempat.
BERSAMBUNG...