Cakra. Dengan gamis putih polos berpeci warna senada. Sebuah mik yang dipegangnya bahkan hampir jatuh. Lantas, dia mengembalikan fokus untuk menutup acara.
Aku terhenyak, terpaku di tempat.
*****
Di tepi selasar masjid, aku duduk menghadap kolam yang direcoki ikan. Selesai kajian, orang-orang membubarkan diri. Sengaja, kutunggu di luar. Mengingat tujuan awalku adalah untuk menemui Cakra. Meminta bantuan yang kedua kalinya.
Takdir Allah, mempertemukanku dengan Cakra di sini. Entah karena kata hati atau hanya kebetulan.
Berpangku tangan, lututku terlipat. Melihat lincah gerak ikan-ikan yang saling berkejaran. Meski di air yang sedikit keruh, tak menghambat kegesitan mereka.
Aku harus seperti ikan. Walaupun berada dalam alam yang kotor, bahkan tak terlihat oleh khalayak ramai tetapi tetap tenang menjalani pelayaran.
Suara dehaman dari belakang memecah renungan. Mengubah posisi duduk, aku menegakkan badan. Tetap berlipat lutut, meletakan kedua tanganku di atasnya.
"Sudah kubilang, kita bakal ketemu lagi."
Tanpa berbalik badan untuk melihat, aku sudah tahu bahwa Cakra akan menghampiri. Oleh karena itu, sengaja duduk disini sampai jamaah telah pergi.
"Kok bisa tahu aku ada di sini?"
Aku tersenyum kecut. Betapa percaya dirinya dia. Secara tidak langsung mengatakan bahwa aku tengah mencarinya. Ah, tapi memang begitu pula kenyataannya. Jadi malu sendiri.
"Boleh aku duduk?"
Seperti pertama bertemu, dia meminta izinku lagi untuk duduk di sampingku. Duduk agak berjauhan, berjarak sekitar satu meter dari pandangan. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Tadi, fokus sekali mendengarkan. Teringat ibu di rumah, ya?" tanyanya membuka percakapan lebih intim.
Sedikit mendelik, kutembuskan arah pandang ke langit yang biru. Andai Cakra tahu, yang kuingat dari seorang ibu saat tausyiah tadi bukanlah kebaikan. Tapi, kekecewaan yang begitu besar karena jauh dari dugaan bisa berbuat anormal. Kalau ia tahu, pasti sama-sama tak menduga. Pasti, aku yang disangka mengada-ada.
Di hamparan langit sana, aku melihat bayangan papa sedang menatapku sembari menitik air mata. Andai dia disini, pasti aku sudah dipeluknya.
Jika seorang ibu sudah tak bisa lagi menjadi tempat bersandar paling nyaman untuk pulang, lalu dimana lagi aku bisa mendapatkannya?
"Teleponlah ibumu, agar kangenmu terobati," saran Cakra membuatku tergugu.
"Aku udah gak punya orang tua," jawabku cepat. Kalau saja Mama tak mencabik-cabik hatiku sampai hancur, pasti kami saat ini tengah bersama.
Penuh bersalah, Cakra meminta maaf. Padahal, akulah yang seharusnya melakukan hal itu. Karena telah berdusta padanya.
"Oh, begitu, ya. Maaf banget, ya."
"Gak masalah," jawabku tertunduk lesu. Antara merasa bersalah dan malas untuk membahas.
"Tapi, saudara kandung ada?"
"Gak ada. Aku anak tunggal."
"Kalau begitu, cepatlah menikah. Biar ada teman hidup."
Perkataannya membuatku hampir saja terjengkang. Susah payah, aku menelan ludah. Apa aku terlihat seperti perawan yang belum bersuami?
Andai Cakra juga tahu, bahwa aku telah menikah. Dan tak semua suami bisa dijadikan teman hidup yang baik. Beberapa dari belakang justru menikam dengan pedang. Seperti apa yang Mas Jay lakukan sekarang. Perih sekali.
"Calon suami sudah ada?"
Aduh, lelaki ini sungguh bertele-tele. Sedari kemarin, saat aku berbicara sepuluh kata, dia selalu membalas berlipat kata. Kalau bahasannya tentang itu, enggan sekali aku melanjutkan dialog dengannya. Menyebut atau mengingat nama mama dan Mas Jay membuatku makin mual.
"Aku kesini, bukan mau bahas tentang jodoh. Aku mau minta bantuan sama kamu. Itu pun kalau gak keberatan," sahutku pada inti. Tanpa menjelaskan bahwa aku sudah pernah menikah, kuharap Cakra mengerti bahwa aku tak ingin membahas hal itu.
Dia mengedikkan kepala. Tanda bersedia dan tak keberatan. Obrolan seputar orang tua dan perjodohan seolah tersisihkan.
"Dengan senang hati. Gimana?"
"Apa kamu bisa dipercaya?"
Tawa di bibirnya terbit kembali. Tangannya melepas peci yang dipakai. Memainkan dengan jemarinya sendiri.
"Kamu pikir, dengan menjadi pembawa acara di acara pengajian, aku adalah orang jahat?" Netranya mengintimidasiku.
Tatapan itu seolah melempar panah menembus jantung. Debaranku kali ini menjadi lebih cepat, tak biasa. Segera, kutolehkan pandangan ke sembarang arah.
Apa ini? Kenapa jantungku tiba-tiba semakin cepat debarannya. Berusaha senormal mungkin, aku lantas menyahut cepat.
"Aku gak ada kenalan di sini. Cuma baru kenal kamu. Aku mau jual rumah."
Berniat menjeda ucapan, tetapi Cakra segera memungkas perkataanku yang baru sampai tenggorokan.
"Aku gak ada niat beli rumah, Arumi." Saat menyebut namaku, nadanya berubah semakin lembut.
Keningku berkerut. Aku belum selesai bicara, tapi dia sudah membalas saja. Cakra, Cakra.
"Aku mau minta tolong, bantu iklankan rumahku."
Menahan malu, Cakra tertegun. Lalu, berusaha menormalkan kembali perasaanya.
"Oh, tentu. Kalau begitu, boleh banget. Kebetulan, aku banyak kenalan di sini. Dari tukang asongan, tukang kerupuk, cangcimen, tukang cuankie, tukang ngajar, tukang bikin gambar bangunan, tukang mengobati orang, tukang nyuruh orang. Aku punya banyak koneksi."
Kenapa seperti iklan saja? Apa dia sedang promosi diri? Cara bicaranya yang ringan membuat kedua alisku terangkat. Mulutku sedikit terbuka mendengar kelancaran ia berdialog.
"Kenapa tukang semua?"
"Ya. Semua pekerja di dunia ini memang disebut tukang, bukan, kalau sudah ahlinya?"
"Tukang nyuruh orang, maksudnya apa?"
"Bos. Mereka kan tukang nyuruh anak buahnya," jawabnya cengengesan.
"Ah, lupakan saja. Pokoknya, secepatnya aku mau rumahku terjual di kampung. Bisa bantu? Nanti, aku kasih kamu bagiannya," potongku cepat. Dalam keadaan hati yang sedang hancur begini, bertemu Cakra hidupku malah semakin puyeng.
"Bagian apa?" tanyanya menatap dalam bola mataku.
"Ya, uang lah. Upahnya, maksudku."
"Jangan, deh."
Badanku berbalik menatapnya. Ia masih anteng memainkan peci yang kini dilipat di tangan.
"Kamu gak butuh uang?"
Bukan menjawab, kali ini dia hanya tersenyum. Tangannya merogoh benda di saku gamisnya. Sebuah ponsel pintar disentuh oleh jempolnya. Setelah layar ponse itu menyala, ia menyentuh tombol buku telepon.
"Simpan nomor kamu di sini. Nanti, aku beritahu apa yang kubutuhkan sebagai upahnya," suruhnya sembari melayangkan ponsel miliknya ke hadapanku.
Misterius sekali. Kenapa tidak langsung bicara saja? Biar tak mengulur waktu dan rumah lebih cepat dipromosikan. Aku sudah tak kuat ingin melihat Mas Jay dan Mama luntang-lantung di jalanan, lalu menyesali perbuatan dan mendapat karma.
Terpaksa, kuambil benda itu. Lalu menuliskan dua belas digit angka di sana. Setelahnya, kukembalikan lagi benda itu pada pemiliknya.
"Oke. Setelah pulang dari sini, aku akan japri kamu, ya. Kalau kamu masih betah di sini, silakan nikmati kenyamanan rumah Allah ini sendiri. Aku pulang dulu," pamitnya lalu berdiri dan melenggang dari masjid.
Senyumnya terbit selama ia berjalan maju. Kulihat punggungnya sampai ia hilang dari pandangan. Bersama kendaraan yang saling bersilang, Cakra lenyap dari jalanan.
Aneh-aneh saja. Kenapa tak bilang langsung? Tapi, aku penasaran dengan yang hendak ia bicarakan nanti di pesan chat. Kira-kira apa yang ia inginkan sebagai timbal balik sebuah bantuan?
BERSAMBUNG...