9. Mama Mau Bunuh Diri

1059 Kata
Aneh-aneh saja. Kenapa tak bilang langsung? Tapi, aku penasaran dengan yang hendak ia bicarakan nanti di pesan chat. Kira-kira apa yang ia inginkan sebagai timbal balik sebuah bantuan? ***** Aku sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Perjalanan dari Cileunyi ke Antapani membuat tubuhku serasa ringsek karena jarak tempuh yang biasanya membutuhkan setengah jam, kini habis sampai satu jam setengah. Macet dan kondisi mobil yang berdesakan, suatu hal yang malas kuhadapi di perjalanan. Entah kemana kendaraan-kendaraan itu berlalu-lalang. Membuatku pusing saat kembali pulang. Teringat pertanyaan sang hakim di ruang kantornya terkait alasanku menggugat cerai. "Jadi, apa alasan Anda menggugat cerai suami Anda?" Aku terdiam. Bagaimana menjelaskan padanya? Kurasa, aib ini tak perlu diumbar. Tapi, apa alasan yang tepat agar gugatanku dikabulkan? Bila bercerita sesuai fakta, sungguh aku tak akan kuat menahan malu jika suatu saat berita perceraianku menyebar ke khalayak. Masuk berita dengan tagar bercerai karena selingkuh dengan mertua. Tak lucu, kan? Terlebih, mungkin orang lain takkan percaya. Tapi, memang itu faktanya. Lalu, apa aku harus menutupi kebusukan dengan kebohongan? "Su-su-suami saya selingkuh, Pak. Kepergok dengan mata kepala saya sendiri sedang berdua di kamar tanpa sehelai benang apapun," jawabku gugup. Dengan tenang, bapak berkacamata itu mencatat hal-hal penting di buku kecilnya. "Apa ada saksi lain?" "Gak ada, Pak." "Kejadiannya dimana?" "Rumah saya sendiri." "Di rumah ada siapa saja?" "Ada ibu saya, Pak." Bapak berkacamata itu kemudian mengangkat wajah. Melempar sebuah pertanyaan yang membuatku sungguh ingin muntah. "Dimana ibu Anda waktu kejadian? Apa dia tak tahu ada perempuan lain yang diajak ke rumah?" Deg. Berusaha menjelaskan kejadian, tanpa menyebutkan wanita itu adalah Mama merupakan hal yang sangat sulit. Menceritakan kembali kejadian malam itu, membuat getar di tubuhku tak bisa disembunyikan. "Pulang kerja sebelum subuh, saya sengaja ambil cuti dan pulang lebih cepat. Dapat bagian kerja malam di rumah sakit. Di waktu jam segitu, saya rasa semua orang tengah tertidur lelap. Yang saya temukan hanya rumah yang gelap. Di kamar, tak ada sosok yang saya cari. Ternyata, suami saya ada di bilik kamar sebelah." "Memangnya di rumah ibu ada berapa kamar?" "Tiga," jawabku pasrah. Astaga. Aku terkena pertanyaan jebakan, kan. Aku sendiri yang menjelaskan. Untungnya, di rumah memang ada tiga kamar. Jadi pak hakim tak perlu curiga pada Mama. "Benar ibu anda tak tahu-menahu soal itu? Saya rasa, setelah kegap berzina, ibu Anda pasti melihat juga." Susah payah, aku menelan ludah. Bagaimana menjelaskan padanya kalau Mama lah wanita itu. Ia pasti akan sangat jijik mendengar pengakuanku. Tanpa bicara, aku hanya menggeleng lemah. "Baiklah. Apa ada alasan lain?" "Gak ada, Pak." Pak hakim tampak membaca kembali catatan yang ia pegang. Coretan yang masih tak beraturan itu terlihat menyeramkan jikalau k****a. Semua itu tentangku, tentang Mas Jay dan selingkuhannya. "Begini, Bu. Dalam hukum Islam, sebuah hukuman perzinaan itu harus ada saksi laki-laki minimal empat orang. Itu buat ambil tindakan hukuman. Ya, dalam Islam memang seharusnya perzinaan yang dilakukan orang telah menikah adalah rajam sampai mati. Tapi di sini gak berlaku. Masih ada hak asasi manusia yang menjadi benteng pertahanan. Sementara, menurut undang-undang, paling cuma ditahan selama setahun. Singkat, bukan?" Kudengar dengan baik penjelasan hakim. Apapun hukumannya, aku tak peduli. Kalaupun buruknya harus mengambil tindakan hukum Islam, dirajam sampai mati, apa ruginya buatku? "Sa-saya, gak masalah, Pak. Yang penting, saya cepat berpisah dengan dia." "Nah, kalau hanya tuntutan perceraian saya akan proses secepatnya. Dengan syarat, pelapor dan terlapor harus menghadiri sidang nanti." Aku pasrah. Semoga, gugatanku segera dikabulkan oleh hakim. Ah, betapa kikuknya aku saat berhadapan dengan pak hakim. Pertanyaan-pertanyaan lain, yang bahkan seperti sedang menjebakku. Sebentar lagi, aku akan resmi menjadi janda. Untung saja, belum dikaruniai anak. Ya, mungkin itu alasan Allah tak memberiku kepercayaan di dua tahun pertama pernikahan. Allah ingin menunjukkan padaku bahwa Mas Jay tak pantas disebut ayah. Berkali melakukan program hamil, tetapi belum membuahkan. Ternyata, ini maksud Allah dibalik takdir yang begitu pilu. Dering ponsel dari gawai pintar membuat fokusku teralih. Kulihat layarnya menyala. Ada sebuah pesan masuk di sana. Nomor tak dikenal. [Assalamualaikum, Arumi. Ini aku, Cakra.] [Waallaikumsalam] Lekas aku menjawab salam, tanpa basa-basi apapun. Tak sampai satu menit, balasan sudah sampai lagi di ponselku. [Masa depan. Itu yang aku butuhkan] Aku mengernyitkan dahi. Apa maksudnya? Kurasa Cakra adalah salah satu orang unik di dunia. Aku benar-benar tak biasa menghadapi orang sekonyol dia. Biasa dengan Mas Jay, yang memiliki perangai lemah lembut, dewasa dan pendiam. Eh, bukan pendiam. Diam-diam menghanyutkan tepatnya. Kupikir, dia meminta pekerjaan untuk ke depannya. Jangan sampai terlihat bodoh dengan bertanya apa maksudnya, Arumi. Iyakan saja. Bukankah, harga diri seorang lelaki adalah bekerja? Masa depan seorang lelaki adalah profesi. [Iya. Secepatnya datang ke sini, bantu aku tawarkan rumah. Sertifikat ada di sini] [Ok] Jawaban terakhir percakapan kami, hanya jawaban singkat yang dipenuhi emotikon senyum. Aku tak berniat membalasnya lagi. Kuletakkan kembaki ponsel di atas bantal. Drrttt. Drrttt. Benda yan baru saja kusimpan, bergetar kembali. Dengan nada dering berbeda. Ada telepon masuk. Tanpa melihat nama siapa yang muncul di layar, aku langsung menggeser tombol hijau. "Kenapa, Cak?" "Hei, aku bukan cecak. Ini aku Jayendra, Arumi. Alhamdulillah, kamu angkat juga." Suara yang menusuk gendang telingaku terdengar nyaring. Aku segera menjauhkan ponsel dari sisi telinga. Melihat nama yang muncul di sana. Ya ampun. Kenapa aku tak lihat dulu? Andai tahu bahwa Mas Jay yang menghubungi, aku tak akan pernah mengangkatnya. "Kamu dimana, Arumi? Pulanglah. Mama sakit gara-gara ingat terus sama kamu." "Bukan urusan aku. Urusi saja selingkuhanmu itu," jawabku ketus. Mendengar suara Mas Jay, tiba-tiba saja darahku bergolak. "Arumi, dia itu mama kamu. Ingatlah, Sayang. Aku juga suamimu. Masih harus kamu hormati sampai kapanpun." Aku berdecak. Suami macam dia, pantaskah untuk kuhormati? "Bilang sama Mama, jangan berlagak sakit. Soal kita, aku sudah urus perceraian ke pengadilan. Tinggal tunggu waktunya saja, ya, Mas. Oh, ya, satu lagi. Siap-siap angkat kaki dari rumahku. Bawa perempuan yang kamu tiduri kemarin, kemanapun kamu mau." "Apa yang kamu bicarakan, Arumi?" "Apa ada hal penting lain? Aku gak mau buang-buang waktu untuk berbicara dengan orang sepertimu." Tanpa memberi kesempatan Mas Jay untuk berbicara kembali, aku segera menyentuh tombol merah. Sambungan terputus. Beberapa pesan masuk dari Mas Jay kembali membuat getar panjang di ponselku. Menyesal? Untuk apa? Tak ada yang perlu disesali. Semuanya harus segera berakhir. Berusaha mengatur napas yang memburu, kubasahi lidah dengan istighfar. Mengusap d**a yang terasa sangat bergemuruh. Ponsel terus menyala. Pesan terakhir yang terbaca, sebelum aku memutuskan untuk memencet tombol off membuat mataku membola. [Pulanglah, Arumi. Mama mau bunuh diri] BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN