Ponsel terus menyala. Pesan terakhir yang terbaca, sebelum aku memutuskan untuk memencet tombol off membuat mataku membola.
[Pulanglah, Arumi. Mama mau bunuh diri]
Kubuka pesan terakhir. Deretan kalimat yang memaksaku untuk pulang terlihat seperti sebuah permainan. Aku seperti bola bekel yang bebas Mas Jay lempar dan tangkap kapan saja.
[Kenapa harus lapor aku? Kalau mau bunuh diri, silakan.]
[Sudah kubilang, jangan cari aku. Anggap saja kita tak pernah saling bertemu di masa lalu.]
Centang abu-abu dengan cepatnya berubah menjadi biru.
[Arumi, sadarlah, ini Mama kita]
[Kenapa begitu keras hatimu, Arumi?]
[Bagaimana kalau akhirnya Mama kehilangan nyawanya sekarang? Pulanglah, sebelum yang tersisa hanya sesal]
[Ingat, Arumi. Setiap langkahmu yang keluar tanpa rida suami, malaikat akan melaknatmu.]
[Pulanglah, sebelum Mama benar-benar meregang nyawa, Arumi.]
Kurenungi kalimat yang ia tulis. Malaikat akan melaknatku? Lalu bagaimana, dengan perbuatan mereka? Apa malaikat akan melaknat mereka juga?
Pesan-pesan lainnya yang tak k****a, kubiarkan begitu saja. Selain pandai bersembunyi, ternyata sisi lain kedua orang yang dulu begitu dekat denganku itu adalah pandai bersandiwara.
Kukira, itu hanya akal-akalan Mama dan Mas Jay agar aku cepat pulang. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang mereka takutkan sekarang? Apa penyesalannya hanya sebuah dusta semata. Takut kehilanganku, atau takut kehilangan fasilitas yang kuberikan. Entahlah.
Aku yakin, Mama tak akan sampai berbuat sehoror itu. Ia tak akan berani untuk mengakhiri hidup dengan cara demikian.
Mereka hanya sedang menipu, agar aku segera pulang. Apapun ancamannya, tekadku takkan berubah. Aku tak akan kembali apapun alasannya, sekalipun Mama mengancam mau bunuh diri. Itu bukan lagi urusanku, tetapi urusannya dengan Allah.
Semakin berisik, segera kumatikan ponsel. Aku hanya ingin bernapas tenang saat ini. Berdamai dengan kehidupan yang sedang tak memihak. Beringsut menuju ranjang, aku merebahkan badan.
Beberapa hari lagi cutiku berakhir. Aku harus mempersiapkan diri untuk bergelut kembali dengan pekerjaan. Mengurus para pasien rumah sakit yang butuh penanganan.
Bulan madu yang kurencakan berbeda jauh dengan realisasi. Kususun rencana kehidupan selanjutnya. Apa yang harus kulakukan? Nyatanya, hidupku kini serasa tiada arti. Tak ada guna.
Semuanya terasa hampa. Aku terombang-ambing dalam luka yang kian menganga. Jiwaku kosong, sunyi dan bertambah sepi. Kusandarkan punggung pada dinding dingin tertiup hawa.
Jam dinding terus berdenting bersuara. Jarum jamnya tak berhenti mengitari angka-angka. Layaknya kehidupan, akan terus melaju ke depan tanpa bisa dijeda.
Kalau saja bisa kuputar waktu, aku tak akan menikah dengan pria b******k seperti Mas Jay dan tak ingin terlahir dari rahim seorang ibu sebejad Mama.
*****
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan malam. Tanpa sadar, air mataku mengalir membasahi bantal. Perlahan, kuusap hingga tak berjejak.
Kulirik arloji di tangan. Menjelang Maghrib, siapa yang datang mengetuk pintu. Selanjutnya, suara salam menyapa telinga.
Cakra. Ada apa dia datang di waktu Maghrib? Langkahku tergesa membuka pintu. Pria itu tengah berdiri menatapku dengan tampilan islami hendak ke masjid.
Badanku meminggir, mempersilakan dia masuk. Barangkali ada informasi penting.
"Aku gak akan masuk, karena langit sudah mulai gelap."
Baru saja kupersilakan dia untuk masuk, Cakra sudah berucap duluan. Aku terus berusaha setenang mungkin agar tak terlihat usai menangis.
"Ya, ada apa, Cak?" Akhirnya kutanyakan apa maksudnya datang di jam segini. Mataku beredar ke sekeliling. Takut terjadi fitnah, atau orang salah sangka. Sepi. Tak ada sesiapa. Hanya sebuah motor terparkir pinggir rumah orang.
"Soal rumah yang mau dijual, apa aku boleh lihat sertifikatnya dulu? Aku udah coba tawarkan ke beberapa rekan, ada dua orang yang bertanya. Tapi, mereka mau lihat sertifikat kepemilikannya lebih dulu. Kalau ada, foto rumahnya, boleh kirim ke w******p?"
Mendengar kabar baik itu, aku menjadi lebih bersemangat. Rumahku di kampung halaman akan segera terjual. Dengan itu, Mas Jay dan Mama akan segera terusir dari sana.
Cepat sekali Cakra bertindak. Padahal, belum genap dua puluh empat jam, ia sudah kembali membawa kabar baik.
Cekatan juga lelaki ini. Tak salah aku meminta bantuan padanya. Kurasa, Cakra memang dapat dipercaya.
"Oh, ya? Lebih baik, aku ketemu langsung aja sama yang mau beli. Gimana?"
Cakra terdiam sejenak. Aku segera menyambung ucapan. Barangkali, dia merasa tersinggung karena takut merasa tak dipercaya.
"Maaf, Cak. Bukan gak percaya. Maksudnya, biar ngobrolnya langsung dan enak, gitu," tandasku. Kutunjukan wajah bersalahku.
Lelaki berkopiah itu tersenyum halus. Kukira, dia akan marah, tetapi tidak.
"Tentu, itu lebih baik. Kalau gitu, besok sore kita berangkat ke kantornya, ya. Bawa sertifikat rumah dan fotonya kalau ada. Andai mereka mau lihat kondisi rumah asli ke kampung halaman, kamu harus siap berangkat ke sana pada saat itu juga."
"Ya, tentu. Besok kita ke sana."
Semangatku semakin membara untuk segera bertransaksi jual beli rumah itu. Semua kenangan didalamnya, seperti terus membunuh diriku perlahan. Sebab itu, aku ingin melenyapkan semuanya tanpa sisa.
Senyumku mengambang, teriring suara azan yang menggema. Cakra, dengan ulas senyum di bibirnya terus berdiri tegak di ambang pintu. Masih belum berlalu.
"Cak?"
Aku melambaikan telapak tangan di depan wajahnya. Entah apa yang tengah lelaki itu lihat. Ia seperti mengarah satu titik di wajahku dengan fokus.
"Astaghfirullah," gumamnya dengan tubuh bergetar.
"Kenapa masih mematung di tempat? Itu udah ada panggilan," lontarku seraya mendelik mata ke atas.
"Panggilan? Apa?" Kali ini, dia merasa kikuk. Padahal baru saja ia berbicara serius seperti makhluk normal lainnya. Biasanya, kan, gak jelas.
Menyadari lengkingan merdu bunyi azan, ia membetulkan peci yang sudah rapi. Sebelah tangannya mengusap wajah salah tingkah.
"Ah, ya. Aku mau ke masjid. Ini gara-gara kamu, sih," ucapnya tersenyum malu.
"Aku? Kenapa?" Memundurkan kepala, kedua alisku terangkat.
"Enggak," sahutnya cepat.
Tuh, kan. Baru saja kulihat dia layaknya manusia normal, kini sudah kembali kumatnya.
"Oh, ya. Arumi, aku saat ini akan salat di masjid, menjadi bagian makmum dari seorang imam. Tapi, suatu saat aku yang akan menjadi imam. Dan kamu, bersiaplah menjadi makmumku di belakang."
Seluruh tulangku mengeras. Mataku kian terbuka. Apa yang diucapkan Cakra barusan, mengingatkanku pada beberapa tahun lalu. Sebelum ikrar suci itu digemakan di udara.
Mas Jay, dengan wajah manis menatapku hangat berucap penuh cinta. Kenapa bisa sama? Apa semua laki-laki memang berucap demikian pada wanita?
Tubuhku yang menegang mungkin dianggap sebagai sebuah reaksi rasa bagi Cakra, tetapi justru aku tengah berkutat dengan masa lalu sendiri
Mas Jay, janji yang telah kamu ucapkan beberapa tahun di depan para saksi ternyata kamu ingkari. Kamu merusak seluruh hidupku.
Lalu, kehadiran Cakra yang berucap sama, apa kelak akan menghancurkan hidupku seperti Mas Jay?
Dengan cengiran gigi yang khas, Cakra berlalu dengan segumpal senyum yang terlempar ke mataku. Aku, masih tergugu di tempat dengan sorot mata sendu. Andai Cakra tahu, bukan perkataaanya yang kini mengganggu pikiran. Namun, sosok Mas Jay yang membuatku hampir gila kalau tak punya setitik iman.
BERSAMBUNG...