Sesuai perjanjian, hari ini di sisa cuti, aku memutuskan menemui orang yang berniat membeli rumah di daerah kampung halaman. Katanya, beliau memang sedang membutuhkan rumah di daerah Cicalengka untuk keperluan usahanya beberapa tahun ke depan.
"Pak Hisyam mau buka cabang galeri mebel di Cicalengka. Dia pemilik toko mebel terbesar di Bandung, mau buka cabang di sana. Saat kamu bilang mau jual rumah, ia ingin bertanya lebih lanjut."
Di belakang Cakra, aku manggut-manggut mendengar ceritanya. Berangkat saat jam siang, sengaja cari waktu istirahat agar tak mengganggu kesibukannya.
Membelah jalan provinsi di Bandung Timur, menuju jalan kabupaten ke sebelah utara. Kendaraan tampak sedikit lenggang. Nampaknya, orang tengah berisitirahat saat matahari ada di puncak seperti ini. Makan siang, atau tidur dalam beberapa menit untuk mengembalikan energi.
"Tapi, Cak. Rumahku bukan di pinggir jalan, lho, posisinya," ujarku baru teringat.
Kemarin, Cakra gak bilang kalau Pak Hisyam membutuhkan tempat untuk usaha. Dia hanya berkata, ada yang bertanya dan ingin tahu lebih lanjut.
Andaikata Pak Hisyam tak jadi membeli, aku harus berbesar hati. Kurasa, masih banyak orang yang ingin beli.
"Ya, gak apa-apa. Bukan untuk tokonya, kok. Kalau tempat jualannya udah dapat. Pak Hisyam butuh untuk gudang dan mes karyawannya."
"Oh, gitu. Semoga saja deal, ya," timpalku penuh harap.
Dapat terlihat di kaca spion sebelah kanan, Cakra mengintip lewat sudut matanya. Ia tengah menyelidik, kenapa sampai terburu-buru sekali aku ingin menjual rumah itu.
"Emangnya, kenapa mau dijual? Jangan tergesa, Arumi. Transaksi tanah, rumah dan kendaraan itu harus hati-hati."
Andaikata di rumah itu tak terjadi sesuatu, aku tak akan pernah menjualnya. Andaikata Cakra tahu, mungkin ia akan melakukan hal sama. Bahkan, sempat terlintas di pikiranku untuk membakar bangunan yang telah kotor itu.
Tapi, aku masih waras. Teringat perjuanganku yang begitu keras. Mengubah siang menjadi malam, malam jadi siang.
"Arumi, kamu dengar aku, kan?" Cakra mengeraskan volume suaranya. Aku yang melamun ke sembarang arah, segera memfokuskan diri.
"Iya, aku dengar. Aku cuma sedang butuh uang. Darurat," jawabku asal. Aku tak mau kalau sampai aib ini diketahui orang-orang. Aku juga tak mau, Cakra sampai tahu bahwa tujuanku menjual rumah adalah untuk melihat Mas Jay dan Mama menderita.
"Untuk apa?"
Aku tak menjawab. Entah apa jawaban yang tepat untuk kujadikan alasan. Pengobatan seseorang? Kubilang padanya, aku sebatang kara. Kebutuhan pendidikan? Aku sudah sarjana dan bekerja. Lalu, dana darurat apa yang bisa kupakai untuk dalih?
Melihat ekspresiku gelisah, Cakra akhirnya meminta maaf. Merasa bersalah karena menurutnya, ia mungkin terlalu ingin tahu urusan pribadi orang.
"Memangnya berapa yang kamu butuhkan?"
"Seharga rumah itu," jawabku santai.
"Aku bisa pinjamkan, kalau kamu keberatan menjualnya."
Tengah bising suara kendaraan lalu-lalang, aku harus mengeraskan suara agar terdengar.
"Aku gak mau berhutang budi terlalu banyak, Cakra."
Cakra terdiam. Matanya terus menyisir jalanan aspal yang memantul cahaya. Silau menusuk pupil mata. Namun, terlihat sekali pikirannya sedang kemelut. Entah apa yang sedang ia pertimbangkan.
"Ya, udah. Nanti, kalau masih kurang, bisa pinjam aku, ya."
Tak akan pernah kurang, Cakra. Aku pun sebenarnya tak membutuhkan uang. Yang aku butuhkan hanya kedamaian.
Alibi darurat itu, sebenarnya adalah tuntutan rasa. Hatiku yang terus mendesak agar rumah itu segera dijual. Emosiku yang melonjak, agar sakit hati terbalaskan.
Jika kubilang, beberapa hari terakhir aku tak akan balas dendam, nyatanya aku tak bisa. Mas Jay dan Mama tak bisa kubiarkan begitu saja. Aku janji, setelah ini aku tak akan pernah mengusik mereka.
Karena setelah semuanya selesai, Mas Jay dan Mama tak muncul lagi di hadapanku, aku akan memulai hidup baru sebagai sebatang kara yang sesungguhnya.
*****
Di sebuah ruang kantor pusat pemilik toko mebel terbesar di Bandung. Ruangan megah dengan desain unik dan beberapa kerajinan kayu menempel di dinding. Menambah kesan bahwa pemiliknya adalah pecinta seni tinggi.
Seorang pria berperawakan tinggi besar, duduk berhadapan denganku dan Cakra. Kutunjukkan sertifikat tanah dan rumah. Beberapa foto rumah dari arah depan dan samping yang pernah kupotret di memori ponsel dan menulis alamat lengkap rumah yang akan kujual.
Semuanya berjalan mulus, tak ada permintaan aneh ataupun komentar negatif dari calon pembeli.
Sepertinya, rumah minimalisku begitu memikat matanya. Meskipun kecil, tetapi indah untuk dilihat karena berseni.
"Tapi, ini kayaknya gak bisa dijadikan gudang untuk barang mebel. Terlalu kecil. Lokasinya, sih, cocok buat menyimpan persediaan barang."
Aku menatap Cakra, menunggu bagaimana tanggapannya. Padahal, ini rumahku. Kenapa pula harus menunggu dia yang angkat suara.
"Ada solusi lain, Pak," ujar Cakra membuatku antusias menunggu.
Pak Hisyam, sembari mereguk secangkir teh di gelasnya, menatap Cakra untuk mendengar saran. Kedua alisnya terangkat, menunggu Cakra mengeluarkan idenya.
Cakra beralih menatapku. "Apa di samping rumah kamu ada lahan kosong? Kulihat di foto itu, samping rumah sebelah kiri kebun," timpalnya serius.
Dalam foto yang kutunjukkan pada mereka, memang terlihat samping kanan dan kiri. Sisi kanan yang merupakan rumah tetangga, sementara sisi kiri kebun kosong terbengkalai. Pemiliknya merantau ke kota dan mengadu nasib di metropolitan. Alhasil, tanah kebun yang memanjang ke belakang tak terurus sama sekali. Hanya dirimbuni tanaman liar dan pohon pisang yang jarang sekali berbuah.
Ada beberapa jejeran tanaman bunga bakung, tanaman adas dan bunga sepatu. Satu yang menjadi rajanya, pohon beringin ukuran sedang namun rimbun dedaunan di bagian ujung kiri depan. Meneduhi jalan.
Aku menjelaskan pada mereka sesuai dengan kondisi yang ada. Juga adanya masjid depan rumah.
"Cocok!"
Suara tegas Pak Hisyam membuat binar mataku menyala. Kurasa, dia memang butuh tanah mendesak untuk keperluan usahanya. Katanya, sudah mencari daerah dekat alun-alun, belum ada yang mau jual.
Ya, rumahku emang tak terlalu pinggir jalan. Tapi, jika ditempuh dengan kendaraan, hanya butuh waktu lima menit saja untuk sampai ke pusat keramaian.
Sisi lain Cakra, membuatku terpana. Ternyata, ia pandai juga dalam hal menggaet klien. Kemarin-kemarin, yang kulihat sikapnya gak jelas saja. Banyak bicara dan sok asyik. Ternyata, dari sikap ramahnya dan asyik itu, orang mudah tergoda dengan tawarannya.
"Ada nomor telepon pemilik tanah itu?" Pak Hisyam memangku kedua tangannya.
"Kita bisa minta ke saudaranya. Rumahnya terpaut lima bangunan dari sana," jawabku antusias.
"Ekseskusi sekarang, siap?"
"Sekarang?" Tanyaku membuka mata.
"Ya. Kalau pemilik kebun itu mau menjual, kita transaksi nanti di tempat," kata Pak Hisyam mengulurkan tangannya ke depan.
Mengulur tangan, aku segera menyambut jemari Pak Hisyam.
"Deal!" Aku mengangguk pasti.
Setelahnya, kami keluar kantor bersama. Menyusuri jalanan yang sudah tak terlalu terik, karena matahari sudah mulai sedikit turun.
Aku sudah tak sabar melihat Mas Jay dan Mama terusir dari sana. Apa yang akan mereka lakukan? Memfitnahku balik? Atau bersandiwara seolah aku yang salah, jahat dan durhaka. Aku tak peduli. Aku sudah siap menerima seluruh konsekuensi.
Gosip tetangga, itu sudah pasti akan merambat. Tapi, aku juga tak peduli. Toh, sebentar lagi aku bukan lagi warga sana.
Sepanjang perjalanan, aku membayangkan bagaimana ekspresi Mas Jay dan Mama yang tercengang saat rumah itu tiba-tiba terjual. Mereka harus angkat kaki saat itu juga. Sementara, aku sudah merencanakan mengangkut barang-barang dengan menyewa mobil truk. Sisanya, semisal kursi, lemari besar dan kulkas, akan kujual murah.
Eh, tapi, kira-kira, saat aku kesana, Mas Jay dan Mama sedang apa, ya?
BERSAMBUNG...