Sampai di pusat alun-alun Cicalengka. Jalanan padat, didominasi kendaraan roda dua. Merayap menuju sebuah gapura, akhirnya kami lolos dari jeratan kemacetan jalan raya.
Jarak ke rumah semakin dekat. Tiba-tiba, jantungku berdetak kian cepat. Kenapa tiba-tiba jadi ragu begini? Padahal, tadi sudah mantap sekali.
Cakra merasakan tubuhku bergerak tak keruan. Ia menangkap kegundahan yang kini kurasakan.
"Kenapa, Arumi?" tanyanya, sedikit berteriak agar terdengar.
"Gak apa-apa."
Ada satu hal yang kulupa. Dulu, kukatakan pada Cakra bahwa aku sudah tiada orang tua. Sebatang kara, tak ada sanak saudara. Bodoh sekali! Harusnya, saat Pak Hisyam mengajak saat mau melihat rumah, aku tak bersama Cakra.
Apa.. sekarang aja kubatalkan? Aku tak mau dicap pendusta. Atau, aku yang akan terpandang buruk nantinya.
Tak mungkin untuk kubatalkan. Aku sudah susah payah meminta tolong pada Cakra, orang yang baru saja kukenal. Nanti, dia kehilangan rasa percaya.
"Stop! Stop!" Aku menepuk-nepuk pundak Cakra.
Mendadak, Cakra mengerem motor. Diikuti Pak Hisyam, yang menggunakan mobil Fortuner hitam di belakang. Lalu, menyeret motor ke pinggiran.
"Cakra, apa kamu.. gak sedang sibuk? Aku rasa, kamu sudah habiskan waktu terlalu lama untukku. Kamu boleh pergi, kok, kalau semisal ada urusan." Tak bisa kusembunyikam wajah gundahku.
Kepala yang terbungkus helm itu menoleh. Keningnya berkerut. Juga, raut wajahnya yang keanehan. Nampaknya, Cakra bisa mengira ada yang tak beres denganku.
"Enggak, aku gak sibuk, kok. Lagian, masa harus pulang udah setengah jalan gini. Arumi, kalau mau bantu itu jangan setengah-setengah. Masa, aku harus kabur saat sebentar lagi gol," jawabnya santai.
Mataku beredar ke kanan dan kiri. Dua ratus meter lagi, di sebelah kanan adalah rumahku. Aku tak membayangkan, jika Cakra mengetahui sebuah kenyataan.
"Kenapa? Apa ada yang mengganjal? Katakan saja," suruhnya pelan. Setelahnya, ia melirik ke depan kaca mobil, mengangkat telapak tangannya ke arah dalam. Mengisyaratkan pada Pak Hisyam untuk menunggu.
"Baiklah, aku mau jujur, Cakra. Aku gak mau dicap sebagai pendusta. Aku sebenarnya masih ada mama, dan aku.."
Meski sempat tersentak dan mundur ke belakang, detik berikutnya ia berusaha mengulas senyum kembali. Lalu, memungkas pembicaraanku saat belum selesai.
"Ya, bagus, dong. Jadi mama kamu ada di rumah? Aku, sekalian kenalan juga sama mama kamu." Kedipan sebelah matanya membuat darahku berdesir.
"Gak bisa, Cakra. Aku.."
"Apa?"
Kupejamkan mata. Bersiap menyampaikan fakta sesungguhnya, bahwa aku bukanlah seorang gadis seperti yang ia kira. Bersiap dengan tanggapan Cakra kalau saja ia tak bisa menerima.
Selanjutnya, dia pergi, kabur atau membuang, aku tak peduli. Toh, dia bukan siapa-siapa untukku. Kenal saja baru hitungan hari. Tapi, kala mengingat kebaikannya, kenapa hatiku terasa berat untuk membuat sebuah pengakuan?
Kutarik napas dalam, kutembuskan perlahan.
"Aku sudah pernah menikah," jujurku lantang dan berkata cepat.
Sengaja kukatakan padanya sekarang, dari mulutku sendiri. Ketimbang nanti, tahu dari orang lain, lalu menimbulkan masalah yang lebih berat.
Kecewa. Itu yang bisa kutangkap dari bening bola matanya. Ia maju beberapa senti. Mengikis jarak di antara kami. Lagi-lagi, tak perlu waktu lama senyumnya terbit kembali.
"Ya, gak masalah, Arumi. Janda itu bukan suatu aib," katanya langsung berasumsi.
Janda. Belum, Cakra! Aku belum menyandang predikat itu. Aku, masih berstatus sebagai suami orang. Walau sebentar lagi, akan berubah menjadi janda muda.
Tit. Tit. Tit.
Suara klakson mobil Pak Hisyam mengagetkanku. Kami menoleh bersama menuju mobil belakang. Tampak dari dalam, Pak Hisyam mengangkat lengan, menunjuk-nunjuk arloji di tangannya sambil menatap kami. Kukira, obrolan kami terlalu lama membuatnya menunggu.
"Ya, udah. Pak Hisyam kasihan nunggu. Kita gak boleh bikin klien kecewa dan kesal. Nanti, gak jadi beli, gimana, hayo?"
Cakra, dengan sigap menegakkan lagi kuda besi yang kami naiki. Menyalakan mesin kembali dan melaju pelan di atas jalanan coran.
"Itu, ya, rumahnya?" Cakra menunjuk sebuah bangunan sebelah kanan, yang tak lain adalah rumahku.
Tanpa perlu kujawab, tepat di depan rumah, Cakra memarkirkan motor. Cakra sudah tahu dari foto bangunan rumahku. Jadi, aku tak bisa mengelak lagi. Aku tak bisa bayangkan, bagaimana reaksi Cakra saat Mas Jay keluar membuka pintu. Bagaimana jika tiba-tiba nanti, memeluk dan mengatakan rindu?
Aku menepuk kening sendiri. Kenapa harus khawatir seperti ini dengan Cakra? Ingat, Arumi. Dia bukan siapa-siapa.
Turun dari motor, Cakra melepas helm. Ia menunggu Pak Hisyam meletakan mobil ke samping kanan dekat kebun. Memarkirkan agar tak menghalangi jalan.
Sejenak, Cakra menghampiri Pak Hiysam. Mata keduanya menelaah kebun yang berada pinggir kiri rumah. Nampaknya, Pak Hisyam sudah srek memilih tanah ini.
Kulayangkan pandangan menuju rumah yang dtampak sepi. Pikiranku beralih pada penghuni di dalamnya. Apa Mas Jay ada di dalam? Lalu, sedang apa Mama? Gelisah itu kembali mengintai jiwaku. Bagaimana, kalau seandainya apa yang kulihat dulu, kini terjadi lagi?
Ah, Arumi. Jangan terlalu buruk pikiranmu itu!
"Kenapa diam saja? Kamu jadi, kan, jual rumahnya?" bisik Cakra memastikan, takut jika aku mengurungkan, lalu membuat malu dirinya.
Sungguh, bukan soal rumah yang kukhawatirkan, Cakra. Andai kamu tahu kejadian sesungguhnya. Tapi, aku tak bisa bercerita lebih banyak.
"Ja-ja-jadi, kok," jawabku gugup.
Kakiku berayun menuju sebuah pintu cokelat minimalis itu. Kuraih kenop pintu, mendorongnya ke dalam. Terkunci. Apa di rumah sedang tak ada orang? Kemanakah Mas Jay dan Mama? Pikiranku semakin melambung kemana-mana. Gundah jika hal yang aku takutkan benar-benar terjadi.
Ini rumahku, jadi aku punya kunci sendiri. Kuambil sebuah benda besi yang terselip di saku celana kulotku. Ragu, sejenak kulirik Cakra yang sabar menunggu.
Getar tanganku, memasukan kunci pada lubangnya.
Klik.
Kudorong pintu perlahan, membuka sandal lalu berjalan pelan tanpa suara. Di belakang, Cakra dan Pak Hisyam melakukan hal sama.
Benar-benar sepi. Tapi, beruntung rumah ini dalam keadaan rapi dan bersih. Sepertinya, setiap hari mama tak absen membersihkan.
"Dimana mama kamu, Arumi?"
Pertanyaan Cakra membuat mataku mengerejap. Pertanyaan sama yang sedari tadi mengganggu ingatan. Aku pun tak tahu, Cakra.
Hanya gelengan kepala pelan sebagai jawaban. Aku melanjutkan langkah kaki ke arah dapur, berniat mengecek halaman belakang rumah. Kamar ibu hening. Kamar kosong untuk anakku, juga sama. Menuju dapur, ada yang tak biasa. Aneh. Biasanya bias cahaya terang dari atap fiber memantul ke dapur lewat kaca jendela. Tapi, kali ini gelap.
Hatiku semakin tak keruan. Mengingat, kejadian waktu itu pun listrik dipadamkan, suasana gulita. Hanya lilin yang menjadi pelita.
Dan, bodohnya! Kenapa Cakra dan Pak Hisyam malah berjalan mengendap seperti yang mau maling saja. Mereka mengikuti apa yang kulakukan. Kenapa tadi tak langsung kubiarkan duduk, lalu kusuguhi air putih atau teh hangat.
Dalam suasana keruh karena teringat kejadian waktu itu, aku tak bisa berpikir jernih. Menuju sekat antara dapur dan halaman belakang, aku termangu. Gelap. Seperti ada tabir yang sengaja dipakai tirai di sana.
Seluruh kunci rumah yang kujadikan satu, masih kupegang di tangan. Terlihat di celah pintu, bagian itu memang terkunci. Aku semakin yakin ada yang tak beres di luar.
Dengan tangan yang kian gemetar, aku berusaha membuka kunci.
Klik.
Hanya tinggal menarik kenopnya saja, pintu akan terbuka. Tapi, kenapa rasanya segundah ini? Aku takut. Benar-benar dilanda ketakutan besar.
Kutarik napas dalam, lalu kuembus pelan lewat mulut. Meyakinkan diri sendiri bahwa tak akan terjadi apapun hari ini. Berpikirlah baik, Arumi. Mas Jay dan mama mungkin sedang keluar. Tak mungkin mereka melakukan hal bejad di belakang rumah dengan atap terbuka.
Kuletakan tangan di gagang pintu, menarik perlahan hingga pintu itu menimbulkan bunyi. Karena memang bagian pintu ini jarang digunakan, kecuali untuk menjemur dan sesekali bersantai saja.
Brak.
Bola mataku hampir saja melompat keluar saat menangkap dua sosok yang kukhawatirkan itu berada di depanku. Dengan kondisi yang lebih menjijikan dari kemarin, membuat ususku mulai bekerja hendak mengeluarkan seluruh isinya.
Wlo.
Cakra dan Pak Hisyam terbelalak kaget. Bahkan, Cakra, dengan khas kegajeannya, menutup setengah wajah dengan telapak tangan.
"Astaghfirullah, aku masih di bawah umur," bisik Cakra tengah ketegangan kami.
Waktu seolah berhenti. Suasana semakin mencekam. Rumah ini, benar-benar telah menjadi neraka.
Dengan posisi tak senonoh, mama dan Mas Jay sedang saling bertaut badan. Mereka berhenti, saat tiga pasang mata kami, menangkap basah kelakuan asusila mereka.
"Arumi?"
Secara bersamaan, mama dan Mas Jay menyebut namaku dengan wajah teramat kaget. Saling melepas katupan tubuh mereka, lalu mengambil lembaran kain yang tergeletak di lantai plester.
BERSAMBUNG...