13. Memalukan

1185 Kata
"Arumi?" Secara bersamaan, mama dan Mas Jay menyebut namaku dengan wajah teramat kaget. Saling melepas katupan tubuh mereka, lalu mengambil lembaran kain yang tergeletak di lantai plester. Seperti terbius, kata-kata yang ingin sekali kulempar pada mereka, tercekat di tenggorokan. Ini lebih sakit, lebih memalukan. Terlebih, di depan Cakra dan Pak Hisyam, orang yang baru kukenal baru-baru ini. Bagaimana pandangan mereka terhadapku? Aku kehilangan keseimbangan badan. Tulang-tulang tubuhku rasanya rontok semua. Mereka benar-benar bukan manusia. Kukira, saat kutinggal pergi kemarin, mereka akan cepat sadar. Lalu, permohonan macam apa yang Mas Jay sampaikan lewat telepon dan pesan beberapa waktu lalu? Omong kosong. Berengsek! Set*n! Kambing! Ingin rasanya mengeluarkan semua umpatan yang menggunduk di hatiku. Mengabsen satu persatu nama hewan yang ada di kebun binatang. Melempar bom api ke arah mereka, yang kali ini benar-benar telah membuatku malu setengah mati. Lemas. Aku ambruk saat itu juga. Kehilangan tenaga, dan engsel di setiap sendiku copot seketika. "Arumi, apa-apaan kamu? Siapa mereka? Tak punya adabkah, sampai tak ketuk pintu dahulu?" Wajah Mas Jay memerah. Dia menghardikku dengan nada tinggi, membuat getar tubuhku semakin berguncang. Kukira, aku akan tahan. Nyatanya, air mataku lolos juga keluar. "Kamu sengaja mempermalukan Mama?" timpal mama, tak kalah membentak. Mendengar perempuan itu menyebutkan kata mama, Cakra tersentak. Pak Hisyam, yang tak mengerti, merasa malu sendiri melihat adegan tak pantas itu tak sengaja kegap. Mungkin, ia mengira bahwa pria yang tadi ia lihat tak berbusana itu bukanlah suamiku. Nanar mata Mas Jay, memandangku yang bersimpuh di lantai. Ia dikuasai amarah yang membakar jiwa. Seperti kehilangan akal sehat, ia menarik kerah kemeja blus yang kupakai. Seperti hendak menghajar musuh. Aku terangkat perlahan, posisiku yang luruh, kini setengah duduk. "Apa yang kamu mau, Arumi? Puas mempermalukanku?" Tepat di depan wajahku, angin kencang bernapas amarah dari mulut Mas Jay, terasa panas menerpa kulit wajah. Masih belum kuat untuk berbicara, aku hanya sesenggukan di tempat. Membasahi kedua pipiku hingga kuyup. Mengalirkan air pada kerudung yang kupakai, yang diikat bagian lehernya ke belakang. "Ngomong lah, kau, berengsek!" Nada itu semakin meninggi. Jleb. Pertama kalinya, dalam pernikahan kami, Mas Jay membentakku dengan kata-kasar. Terlebih, di depan orang yang sama sekali tak kukenal. Cakra dan Pak Hisyam, seperti mendapat tontonan gratis, tak perlu pergi ke bioskop. Ini sudah lebih menarik dari drama, dengan konflik yang luar biasa berat. Siapa yang salah? Apa aku? Kedatanganku? Atau, pintu yang terbuka, karena ia tak terkunci saja. Kenapa aku yang menjadi pusat kemarahan Mas Jay? Menahan malu, mama berbalik badan. Saat itu, mungkin perasaannya ingin lenyap dari tempat. Sementara, Mas Jay terus mengumpat dengn kata-kata semakin tak pantas. "Wanita kurang ajar! Tak tahu diuntung!" "Munafik! Bermuka tebal. Kau tak pantas hidup, Arumi." Tubuhku semakin terangkat, kala Mas Jay menarik paksa lengan kananku. Urat-urat di wajahnya semakin menonjol keluar. Kedua netranya membara, napasnya kian memburu. Tangan kekar yang dulu menyentuh lembut rambut lurusku, kini mencengkeram lengan dan kerah kemejaku dengan erat. Detik berikutnya, Mas Jay menjatuhkan tubuhku, dibantingnya ke depan. Aku yang masih lemas, terpelanting menjorok ke sudut pintu. Brak. Percayalah, sakit badanku tak seberapa dibanding perasaan yang kian tercabik, bertambah luka. Sigap, Cakra meraih bahuku yang terpental ke dinding. Kedua pundakku diusap, dibantunya untuk berdiri. "Astaghfirullah, Arumi," lirihnya, sembari terus berusaha membantuku berdiri. Tak puas, Mas Jay kembali maju beberapa langkah. Kini, ia seperti monster yang siap menghabisi mangsa. Tubuh kekar itu, dengan otot yang menonjol di kedua lengan dan dadanya. Kancing kemeja yang sedikit terbuka, karena terburu-buru memakai kembali bajunya. Cakra tak tinggal diam. Melihat Mas Jay seperti kesetanan, ia menegakkan badan. Terlebih, saat melihatku tengah meringis kesakitan, mengusap-usap bahu yang masih terasa ngilu. "Hei, apakah kau tak terlahir dari seorang perempuan? Bisa-bisanya bersikap kasar kepada perempuan yang lemah!" Suara tegas Cakra, begitu memantul di telinga. Dia ternyata bisa seberani itu. "Siapa kau ikut campur urusan kami?" Mas Jay menjeda ucapan, lalu menyambung lagi. "Oh, atau jangan-jangan gara-gara lelaki ini kau pergi dari rumah, Arumi? Ini lelaki selingkuhanmu itu?" Mas Jay berpaling ke arahku. Tertawa kecil, menyepelekan. Ucapan itu sungguh tak pantas untuk dikeluarkan dari mulut busuknya. Dia yang bersalah, tapi malah mencari kesalahan orang yang tak benar. Itu hanya tak lebih dari fitnah. Mas Jay sengaja mengalihkan pembicaraan, agar kesalahannya teredam. Tak terima, aku mulai mengumpulkan tenaga dan keberanian. Di sini, di relung hatiku terdalam. Ada luka tak berdarah. Perih. Tapi, kenapa harus terus diratap? Mas Jay dan mama terlalu murah untuk kujadikan alasan kesedihan. Air mataku terlalu berharga kalau harus terus berjatuhan. Mulai bangkit, tiga langkahku membuat jarak dengan Mas Jayendra hanya terhitung satu meter. Plak. Rasa murka, emosi dan kecewa kutumpahkan dalam tamparan keras di pipi Mas Jay. "Jaga bicaramu itu, Jayendra! Kau yang selingkuh, bukan aku. Kau yang berkhianat bukan aku. Kau yang kurang ajar, bukan aku. Istri mana yang tak akan angkat kaki, jika rumah hasil jerih payah kerja kerasnya malah dinodai oleh suaminya sendiri? Kau sudah gila, Jayendra. Lihatlah, bahkan saat aku pergi, kalian malah melanjutkan hubungan terlarang kalian. Siapa yang tak akan murka saat menyaksikan kedua kali, suami berselingkuh dengan ibu kandung sendiri?" Telunjukku, tak segan kuangkat tinggi-tinggi. Menunjuk wajahnya yang begitu menjijikan. Lebih dari sampah comberan. Uraianku yang menggema, mengagetkan cecak yang tengah menonton pergulatan kami. Cakra dan Pak Hisyam, tak kalah menegang. Sebuah fakta terungkap, kenyataan perselingkuhan itu bukan lagi menjadi rahasia. Cakra dan Pak Hisyam membeku di tempat, mendengarkan narasi yang kulontarkan berbaur dengan emosi. Tak akan ada yang menduga, bahwa perselingkuhan ini benar-benar terjadi. Kalau saja aku bercerita tanpa bukti, aku yang bisa dianggap bersandiwara. Tapi, kini, aku bersama Cakra dan Pak Hisyam menyaksikan secara langsung kebejadan mereka. "Arumi, diam kamu, Arumi! Berhenti permalukan orangtuamu sendiri depan orang lain!" Mama mulai membuka suara, semenjak sedari tadi tertunduk lesu, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Bukan aku yang mempermalukan kalian. Kalian yang mempermalukan diri sendiri di rumahku! Berengsek! Laknat! Aku sumpahkan kalian diseret ke neraka!" Mataku bertambah panas, api membakar seluruh jiwa dan pikiran. Aku kehabisan akal sehat untu bersikap tenang. Lagi-lagi, sumpah serapahku terdengar menggetarkan siapa saja yang mendengar. Sebuah lengan mendarat di bahuku, memaksaku untuk mundur saat hendak melangkah maju. "Berhenti, Arumi. Istighfar, tenangkan dirimu," bisik Cakra, menarik tubuhku ke belakang. Aku masih memandang Mas Jay dan mama dengan sangar. Mereka, tak sadar jua saat kutinggalkan. Pak Hisyam, sedari tadi hanya memerhatikan. Tak bersuara. Sementara, di belakang tanpa sadar, orang-orang dari luar masuk tanpa permisi. Pintu rumah memang terbuka sedari tadi kami masuk. Menjelang ashar, orang-orang menunggu waktu salat. Tetiba mendengarkan keributan di rumahku. Mereka penasaran, lalu masuk begitu saja ke dalam. Mulai kehilangan sadar, aku meluruhkan badan. Dengan cepat, Cakra membantuku agar tetap kuat berdiri. Jangan sampai terlihat lemah depan mereka. Saat tubuhku berbalik, beberapa tetangga tengah memandangku iba. Sebagian berbisik-bisik. Seorang lelaki tua berpeci hitam, memakai sarung dan koko berwarna sama menggelengkan kepala. Tak menduga dengan apa yang terjadi. Ini seperti sebuah rekayasa. Tapi nyatanya, ini sebuah fakta. Kami semua menegang. Menyadari lelaki tua itu, yang tak lain adalah tetua ustadz di kampung mengetahui sebuah aib yang semula kututup rapat. Tapi kini, bangkai yang kusembunyikan itu akhirnya terkuak juga. Bahkan, langsung disaksikan oleh banyak orang. Mama dengan daster tipisnya, tertunduk. Mas Jay, dengan kolor dan kancing kemeja yang terbuka atasnya, tak bisa lagi mengelak. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN