14. Diarak Jangan?

1201 Kata
Kami semua menegang. Menyadari lelaki tua itu, yang tak lain adalah tetua ustadz di kampung mengetahui sebuah aib yang semula kututup rapat. Tapi kini, bangkai yang kusembunyikan itu akhirnya terkuak juga. Bahkan, langsung disaksikan oleh banyak orang. Mama dengan daster tipisnya, tertunduk. Mas Jay, dengan kolor dan kancing kemeja yang terbuka atasnya, tak bisa lagi mengelak. ***** "Jadi, bagaimana menurut Teh Arumi? Apa siap melihat ibu kandung sendiri, dan suaminya diarak satu kampung?" Tetua berjanggot hitam itu, menatapku menantikan jawaban. Kami semua duduk berhampar tikar anyam di ruang tengah. Ibu duduk sambil tertunduk. Mas Jay, menahan malu menggertak gigi berulang. Cakra dan Pak Hisyam, seakan terkunci di tempat. Niatnya untuk survey rumah dan tanah, malah mendapat wewenang menjadi saksi sebuah perzinaan. Beberapa orang yang melihat, duduk berjejer, siap menjadi saksi. Sementara, aku duduk agak menjauh dari mereka. Dengan tetap memerhatikan Pak Ustadz, yang tengah mencari solusi. "Sangat siap, Pak Ustadz. Saya serahkan sepenuhnya, kalau perlu, rajam saja mereka sampai mati. Lempari mereka batu-batu tajam. Biar batu itu yang membawa mereka ke neraka." Beberapa kepala mengangguk setuju, tetapi yang lainnya terbelalak mendengar penuturanku. Mama, dengan wajah sayu menatapku. Mungkin, tak menyangka anak semata wayangnya akan tega seperti ini. Anak yang dilahirkan, disusui dan diurusnya sampai besar. Air matanya mengalir deras di pipinya yang bersih. Putih. Seperti seumuran denganku. Mungkin, itu pula yang membuat Mas Jay tergoda. Mama, bisa dibilang lebih cantik dariku. "Seharusnya, dalam hukum Islam memang begitu, Teh Arumi. Tapi, kita gak menggunakan hukum itu di sini. Ada undang-undang yang melindungi seseorang, sehingga ada yang disebut hak asasi manusia. Saat kita melaksanakan hukum qisas disini, kita yang akan divonis bersalah." Napasku masih tak beraturan. Orang-orang memandangku dengan tatapan iba. Kurasa, hukum qisas dalam kasus seperti ini memang harus ditegakkan. Kalau tidak, ke depannya bisa jadi ada Mas Jay yang lainnya. Perzinaan semakin dianggap biasa. Karena mereka-pelaku zina-merasa hal itu adalah suatu yang wajar terjadi di zaman sekarang. Kebebasan, bukan berarti harus mendobrak adat dan syariat. Tetap harus ada batasan dalam pergaulan. Apa yang dilakukan Mas Jay dan mama, suatu aib yang sangat mencoreng nama baikku. Kalau papa masih ada, dia pasti menjadi orang yang paling terpukul karena merasa tak sukses mendidik istri dan anaknya. "Hukum qisas bagi pezina itu ada dua, Teh Arumi. Yang pertama ghair muhsan, bagi yang belum menikah, diarak keliling kampung, dicambuk seratus kali, lalu diasingkan selama setahun. Kedua, pezina muhsan, yaitu pezina yang telah menikah, dirajam atau dilempari batu-batu sampai ia mati," terang pak ustadz membuat bisikan-bisikan orang kembali terdengar. "Saya akan tanggung jawab, Pak Ustadz," selip Jayendra membuat orang-orang membulatkan mata. Tanggung jawab seperti apa maksud Mas Jay? Hatiku semakin saja hancur tak berbentuk. Apa selama ini.. aku hanya cinta sendirian? Lalu, apa yang dia berikan selama dua tahun ini? Atau aku hanya dimanfaatkan untuk numpang hidup dan makan. "Mohon maaf, tanggungjawab bagaimana, Jayendra?" Sebelum memvonis, pak ustadz bertanya lebih detil. "Saya akan menikahi Bu Sintia," jawab Mas Jay, tetap terlihat tenang. Berusaha menepis malunya dengan kalimat tanggungjawab itu. Lirih ucapan istighfar terdengar menyayat jiwa dari orang-orang yang menjadi saksi. Tak menduga, ucapan itu akan keluar dari mulut Mas Jay. Juga tak menyangka sosok alim seperti Mas Jay tega berbuat hal demikian. Apa ia tak mengerti agama? Atau, hukum agama tak berlaku lagi untuk manusia seperti mereka? "Dalam kasus ini, tentunya kita sudah tahu bahwa Jayendra dan Bu Sintia ini, pezina muhsan. Dan kasus ini, sudah di luar batas kewajaran. Kalian itu sudah mahram, hubungan Jayendra dan Bu Sintia adalah layaknya hubungan ibu dan anak. Saya tidak akan berbicara tentang dosanya seperti apa, hanya menyampaikan bahwa sampai kiamat terjadi pun, kalian tak akan pernah bisa ditikahkan. Sekalipun, Jayendra menceraikan Teh Arumi, hubungan Jayendra dan Bu Sintia tetap anak dan orang tua. Jadi, tak akan ada pernikahan sah antara kalian." Kali ini, pak ustadz menerangkan dengan sangat tegas. Mas Jay.. Harusnya kalau memang tak cinta, lebih baik lepaskan aku sedari dulu. Kalau memang kekurangan nafkah batin, kenapa tak suruh aku berhenti dari pekerjaanku? Lalu, biarkan aku berdandan cantik di rumah, hanya untuk melayani suami saja. Atau, Mas Jay bisa mencari istri kedua kalau ia tak puas dengan pelayananku, karena aku terlalu sibuk bekerja untuk menghidupi keluarga. Bekerja malam, sering kudapatkan. Mungkin, hal itu yang membuat Mas Jay mendobrak aturan agama. Kalau menikah lagi, setidaknya itu jauh lebih terhormat daripada harus main belakang dengan ibu kandung sendiri. Percayalah, aku lebih rela punya adik madu daripada harus menyaksikan kenyataan pahit bahwa perempuan yang dijadikan selingkuhan itu adalah ibu kandung sendiri. Hening. Aku sesenggukan di tempat. Harusnya aku sadar, bahwa akhir-akhir ini pernikahanku sudah tak sehat. Kami jarang menghabiskan waktu berdua. Hanya sesekali, kalau aku libur saja. Sementara, Mas Jay bebas mengambil libur hari apapun, karena punya bengkel sendiri, bengkel yang sering sepi. Di sampingku, Bu Aninda, berusaha mendekat. Menyalurkan kekuatan agar aku tetap kuat. Ia mengusap-usap pundakku yang berguncang. Rumah ini terasa semakin mencekam. Setiap jengkal lantai yang kududuki, seperti dasar-dasar api neraka. Panas. Bergejolak. Sesak. "Saya tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuan Teh Arumi, jawabannya ada di Teh Arumi sendiri. Saya gak berani mengambil tindakan rajam di negara kita yang punya undang-undang sendiri." Sebenarnya, aku sudah tak kuat. Terlebih, saat mendengar Mas Jay berniat mau tanggungjawab. Kalau tak ada setitik iman, sudah kuambil pisau di dapur, lalu kutancapkan pada jantung keduanya. Atau kukebiri kejantanan Mas Jay, dan kutusuk rahim mama. Lalu, pikiranku melanglangbuana. Bagaimana kalau ke depannya.. mama hamil? Aku semakin tak kuat membayangkan. "Saya mengerti Teh Arumi sedang bersedih, jadi saya beri waktu sampai besok pagi agar Teh Arumi bisa ambil keputusan dan berpikir matang. Saya juga akan meminta pendapat pada tetua yang lain, bagaimana baiknya suami dan ibu Teh Arumi ini. Jayendra dan Bu Sintia, akan tetap diawasi agar tak bisa kabur kemana-mana," putus pak ustadz, berusaha menghargai keberadaanku, tanpa memutuskan hukuman oleh diri sendiri. Namun, aku tak mau mengulur waktu terlalu lama. Bisa saja Mas Jay mengelabui orang-orang, berpura-pura lalu kabur dari hukuman. Aku tak mau ia bebas begitu saja. Dengan berusaha menguatkan jiwa, mengumpulkan keberanian dan memantapkan keyakinan, kukatakan depan orang-orang. Sebuah keputusan yang amat berat. Entah tepat atau tidak, aku hanya mengikuti kata hati. "Arak saja mereka keliling kampung, Pak. Setelah itu, saya akan bercerai dengan lelaki binal itu. Lalu, saya akan putuskan hubungan ibu dan anak dengan Ma-, Bu Sintia maksud saya. Saya akan membawanya ke jalur hukum, biar semua orang tahu kebiadaban mereka. Setelah itu, saya serahkan seluruhnya pada Pak Ustadz. Mau dirajam, kek. Mau dibuang ke sarang ular, sarang buaya atau pun ke laut kidul sekalian. Saya sudah terlalu jijik dengan kelakuan mereka, yang melebihi hewan-hewan di jalanan," paparku dengan suara bergetar, diiringi sesenggukan yang mendominasi. "Teh Arumi yakin dengan keputusan ini? Terkait rasa malu yang akan ditanggung, apa Teh Arumi rela membiarkan Bu Sintia jadi tontonan orang-orang?" tanya Pak Ustadz, meyakinkan lagi. Menurutku, Pak Ustadz ini begitu meraba hatiku, sebagai anak sekaligus istri pelaku. "Mereka bukan siapa-siapa lagi bagi saya, dan saya gak perlu malu," jawabku terisak. "Sekali lagi, saya tanya, yakin?" "Iya, yakin sekali, Pak. Oh, ya, satu lagi. Rumah ini akan segera terjual. Jadi, cepat kemaslah barang-barang kalian. Sebelum pembelinya mau menempati," tandasku, mengarah pada Mas Jay dan mama. Dua orang itu tercekat. Mengangkat wajah menatapku tak percaya. Lalu, seulas senyum puas terangkat di sudut bibirku. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN