15. Keliling Kampung

1231 Kata
Dua orang itu tercekat. Mengangkat wajah menatapku tak percaya. Lalu, seulas senyum puas terangkat di sudut bibirku. ***** Tak ada anak yang mau orangtuanya dipermalukan. Tak ada anak yang tega orangtuanya menjadi tontonan sehingga direndahkan. Tapi, bagiku, membayangkan mama dan Mas Jay diarak satu kampung merupakan hal yang mendamaikan. Betapa tidak, mereka sudah menghancurkan nyaris seluruh hidupku. Hingga kurasa, kehadiranku tiada guna. Kalau kubiarkan mereka bebas, terlalu enaklah hidup mereka, dan tentu saja hubungan haram itu akan berkelanjutan. Tak bisa dibiarkan. Setidaknya, mereka harus merasakan dampaknya. Akibat melakukan perbuatan yang keji, sangat dibenci dan tidak diridhai agama. Perzinaan yang kini merajalela, dianggap biasa oleh masyarakat Indonesia. Padahal, negara ini bukanlah bagian barat dunia. Ada adab, norma dan tatakrama yang nyaris dilupakan bangsa. Miris. Dan aku, tak mau menjadi bagian yang melupakan adab, norma dan tatakrama. Disamping syariat Islam yang sudah mengaturnya. Sore ini, langit berwarna biru tua. Percikan warna jingga mulai memancar dari peraduan. Mulai naik sedikit-sedikit, dengan malu-malu membuat paduan warna yang indah ditatap mata. Kutadahkan langit ke atas. Di langit sana, pasti papa sedang menyaksikan peristiwa menyakitkan ini. Ia pasti kecewa, menangis dan mengadu pada Allah. Mama, memakai daster tipis, tanpa berkerudung seperti biasanya berdiri di samping Mas Jay yang hanya memakai dalaman kaos tipis, kolor hitam corak abu. Di lehernya, dikalungkan sebuah karton besar yang bertuliskan, "Kami pelaku zina". Tanpa menyematkan kenyataan bahwa mereka adalah seorang mertua dan menantu. Itu akan lebih memalukan lagi. Tetangga sekitar mulai berdatangan. Seperti mendapat tontonan gratis, mereka mulai antusias menyaksikan pengarakan yang baru akan dimulai. Bisikan-bisikan dari mulut mereka, terdengar semakin meremukkan jiwa. Hatiku, sudah tak berupa. Beberapa orang di antaranya, kaget tak menyangka. Mama yang ramah, senang bergaul dan terpandang baik. Di balik kerudung dan perangai indahnya, menyimpan bangkai yang sudah membusuk. Yang bikin aku geram adalah, ketika beberapa orang di sana mulai membuka aplikasi kamera di gawai pintarnya. Mengambil gambar, entah untuk apa. Lalu, bersiap mulai merekam peristiwa pengarakan hari ini. Bahkan, sudah ada yang membuka fitur siaran langsung di YouTube untuk kepentingan konten pribadi. Tak bisakah mereka diam saja? Perbuatan mereka, malah membuat lukaku semakin perih. Apa di zaman sekarang, semua harus serba masuk sosial media? Aku tak ingin, jika suatu saat orang lain tahu bahwa Mas Jay dan mama adalah bagian dari masa laluku. Aku tak mau menanggung malu di masa depan. Cukup. Cukup saat ini saja, di depan orang-orang kampung. "Hei, Sadila. Ngapain kamu?" Aku tak bisa menahan emosi dalam keadaan kacau seperti ini. Kudekati perempuan remaja berusia sekitar dua puluhan, tiga tahun di bawahku. Perempuan berambut pirang itu menoleh, sementara tangannya masih lihai memegang ponsel untuk mengambil posisi tepat agar mama dan Mas Jay masuk dalam potretnya. "Hentikan, Sadila. Kelakuanmu itu gak beda jauh kayak mereka. Berhentilah menyebar aib orang. Hentikan live itu, Sadila!" gertakku dengan suara bervolume tinggi. Seketika, hening. Orang-orang sekitar mulai mengalihkan perhatian padaku. Namun, bisik-bisik itu masih terdengar bersedia di telinga. Entah topik apalagi yang mereka bicarakan di depan orang ramai begini. Berusaha kurebut ponsel yang digenggamnya erat, tetapi dengan cepat Sadila menjauhkan lengannya dari dekatku. "Terserah aku, dong. Ini, kan hape aku. Ck. Lagian, salah siapa juga? Salah mereka sendiri, lah. Ngapain berbuat serong kayak gitu," jawabnya ketus. Tak mau tahu, tak meraba bagaimana sakit dan malunya perasaanku. "Sadila, kamu hanya akan membuatku malu. Netizenmu yang udah ribuan itu, tak akan diam. Mereka pasti akan mencari tahu fakta selanjutnya kalau menonton siaran langsungmu ini! Lalu, nanti aku kebawa-bawa. Aku gak mau itu terjadi! Cepat hentikan siaran langsungmu itu, Sadila!" Bersikeras meraih tangannya yang masih memegang erat benda itu, tetapi Sadila malah menjauh setelah sebelumnya menepis lenganku berkali. Tak kupedulikan rasa sakit akibat tamparannya di lenganku. Gadis cantik itu, memiliki pengikut jutaan di sosial media. Kalau sampai tahu se-Indonesia, aku yang akan kena getahnya. Dimana-mana, pasti bakalan banyak orang melihatku iba. Aku tak mau itu terjadi. "Sadila! Kesinikan hape kamu, Dila! Kurang ajar, ya!" Aku terus berusaha meraih ponsel tersebut. Namun, beberapa orang justru malah membela Sadila. Membantunya untuk melakukan perekaman video, lalu menepis dengan kasar tanganku hingga sedikit lebam kehijauan. "Hei, Arumi. Sudahlah, jangan mikir malu lagi. Ini risikonya zina, apalagi dengan ibu mertua sendiri. Hiiyyy. Lebih horor daripada nonton film hantu," bela seseorang di samping Sadila. "Salah siapa juga, malah berzina kayak gitu," timpal yang lainnya. Kini, orang-orang seperti menyudutkanku juga. Allah. Aku tak salah apapun. Aku hanya ingin, tak terbawa-bawa dalam kasus mereka. Aku ingin hidup tenang. Tak ada yang membelaku, bahkan Cakra dan Pak Hisyam, hanya menontonku saat bertarung dengan Sadila. Sedari tadi, mereka belum pergi juga. Entah bagaimana selanjutnya transaksi kami. Pak ustadz keluar dari masjid, bersama para tetua lainnya. Bersiap mengarak dua orang yang kepergok berzina, bahkan kini bukan hanya olehku sendiri, tetapi oleh banyak orang. Aib itu telah terbuka lebar. Tak bisa lagi untuk kusembunyikan, apalagi kututup rapat. Ucapan Sadila terngiang di telinga, ketika pengarakan akan segera dimulai. "Bisa tambah naik pamor nih, aku. Berita ini akan naik dan viral!" baiknya pada teman di sampingnya. Tak bisa lagi melawan, aku hanya mampu mengelus d**a. Berembus napas pasrah. Percuma mencari aman, ke depannya aku akan terbawa juga. Beberapa waktu kemudian, riuh suara sorakan terdengar memekik di telinga. Mereka, tetangga-tetangga yang menyaksikan semakin datang dari berbagai arah. Beberapa dari mereka membawa tomat, telur mentah bahkan batu kecil dari jalan. Barang-barang yang mereka bawa, dengan ringannya dilempar ke arah mama dan Mas Jay. Diiringi sorakan yang semakin kompak terlantun. "Wuuuuuu" "Pezina lacur! Usir saja mereka!" "Jangan biarkan mereka hidup! Usir! Usir! Usir!" Menyaksikan mama yang kini berlumur telur, bercampur warna merah dari tomat, yang sebagiannya telah busuk, membuat hati kecilku menjerit. Tiba-tiba saja aku merasa tak terima. Melihat orang yang telah mempertaruhkan nyawanya demi keberlangsunganku hidupku, diperlakukan seperti itu. Siapa yang rela? Anak mana yang akan tega? Pak Ustadz, mengangkat tangannya ke atas. Mengisyaratkan agar semuanya berhenti. Aku, yang semakin merasa nelangsa, berusaha sekuat tenaga untuk melangkah ke tengah mereka. "Cukup! Hentikan! Cukup!" Seperti kesurupan, aku meminta mereka berhenti. Jeritanku membuat suasana sepi. Mereka memandangku dengan berbagai ekspresi. "Hentikan perbuatan kalian! Apa dengan melempari Mama seperti itu, artinya kalian suci? Tak punya dosa? Merasa bersih karena tak berbuat zina? Kalian sama saja kejinya! Manusia-manusia yang dirasuki setan! Hentikan! Dan, tolong, semuanya pergi!" Bukannya iba, orang-orang di sekeliling malah memandangku seperti mengejek. Tapi, memang benar bukan? Bahwa tak ada yang suci di dunia. Semua orang adalah pendosa, hanya berbeda jalan saja dalam berbuat dosa. "Teh Arumi, mohon maaf, bagaimana maksud Teh Arumi?" Masih dengan perangai tenang, pak ustadz berusaha bertanya. "Sa-sa-saya, mau pengarakan ini dibubarkan saja, Pak," jawabku dengan susah payah. Merasa ragu, tak akan kuat menahan luka jika melanjutkan acara duka ini. "Apa maksud kamu, Arumi? Dengan begitu, para pezina akan semakin berani berbuat dan lantang, karena hukuman kita sudah mati," timpal Ki Soleh, yang tak lain adalah kerabat dari Pak Ustadz, salah satu tetua kampung yang disegani. "Betul, hukuman ini pun terlalu ringan sebenarnya, Arumi. Harusnya mereka dirajam sampai mati. Tapi, seperti yang Pak Ustadz sampaikan, kita gak bisa ambil keputusan melanggar undang-undang di sini," balas yang lainnya. "Hukuman ini tak bisa ditarik atau dibatalkan. Hukuman tetap hukuman, tak ada alasan apapun termasuk karena iba. Itu sudah menjadi konsekuensi pezina!" "Betul!" "Betul!" "Betul!" Sorai orang-orang sekeliling semakin membuat gendang telingaku nyeri. Aku tak bisa berbuat apapun. Mundur beberapa langkah, aku ambruk di tanah. Tak sanggup lagi menopang beban yang kian berat, sementara tulangku melemah. Bersiap menyaksikan mama, yang kini seperti hiburan menarik yang ditonton ratusan orang. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN