Sorai orang-orang sekeliling semakin membuat gendang telingaku nyeri. Aku tak bisa berbuat apapun. Mundur beberapa langkah, aku ambruk di tanah. Tak sanggup lagi menopang beban yang kian berat, sementara tulangku melemah. Bersiap menyaksikan mama, yang kini seperti hiburan menarik yang ditonton ratusan orang.
Orang-orang itu mulai melangkah maju. Menggiring dua orang yang tertunduk malu. Dari kejauhan, terlihat tubuh mama berguncang hebat. Air mata yang membasahi dasternya terlihat berjejak. Mas Jay, tak berani angkat kepala. Ia hanya berjalan, seraya melihat ke bawah.
Aneh. Tiba-tiba perasaanku berubah begitu sakit. Padahal, dari awal aku yang paling emosi, murka dan tak sabar ingin melihat mereka diberi hukuman. Tapi, saat menyaksikan semuanya terjadi, tubuhku luruh seketika. Tak kuat lagi, aku meraung menyebut-nyebut nama mama.
Biarlah Mas Jay dihukum seberat apapun juga, aku sudah tak peduli. Tapi mengingat mama dengan wajah nestapanya, aku tetiba ikut merasa nelangsa.
Teringat dua puluh tiga tahun lalu, ia pasti berjuang untuk melahirkan seorang bayi yang kini telah dewasa. Tetesan ASI-nya membuatku bisa hidup sampai sekarang. Kasih sayang dan caranya memanja, masih terlintas dalam ingatan.
Cakra, dari belakang mulai mendekat saat orang-orang sekeliling akhirnya melajukan langkah. Sadila dan teman-temannya tetap melakukan apa yang kularang. Asyiknya mereka, melakukan siaran langsung di sosial media.
Sakit! Ini benar-benar sakit.
"Arumi, ayo, berdiri. Kita masuk ke dalam, ya." Suara lembut itu tak akan bisa menyembuhkan lukaku. Aku tetap bersimpuh dan memeluk lutut di tanah.
Detik berikutnya, kedua telapak tangan Cakra mendarat di bahu. Berusaha menarik tubuhku agar terangkat.
"Tegarlah, Arumi. Tegakkan badanmu, angkat kepalamu. Jangan biarkan mahkotamu jatuh. Jangan biarkan orang-orang menertawakanmu, Arumi."
Cakra berusaha membujuk agar aku melebarkan sabar. Mahkota? Apa aku punya mahkota itu? Setelah semua hidupku dirampas oleh takdir kejam yang melemparku ke dalam jurang nestapa.
Tapi, benar kata Cakra. Orang-orang seperti tertawa melihatku yang menggila. Kini, bukan mama dan Mas Jay saja yang menjadi pusat perhatian. Aku, seperti kemasukan setan meraung di tengah mereka.
Kutadahkan wajah. Langit mulai menunjukan lembayung yang menjadi warna favoritku. Kukira, setiap senja yang tercipta akan berakhir indah. Hari ini, senja mengeluarkan gumpalan duka yang ditumpahkan pada manusia lemah sepertiku. Apa salahku?
Aku harus bangkit. Jangan terus terlihat lemah seperti ini. Mereka, orang yang bahagia di atas lukaku, akan semakin mengencangkan tawa. Aku harus tunjukan bahwa aku kuat. Tak selemah yang mereka kira.
Perlahan, aku berdiri. Sekuat tenaga mengumpulkan kekuatan yang telah dimakan derita.
"Ayo, Arumi. Masuklah ke dalam," ajak Cakra, setelah berhasil membantuku bangkit.
Kubalikkan badan, tergopoh ke teras rumah. Dipapah Cakra dengan sabar. Sekejap, kulirik gerombolan orang yang mulai menjauh dari pandangan.
Punggung mereka, ingin kucakar sekarang juga. Orang-orang yang juga penuh dosa, menghantarkan mama dan Mas Jay pada neraka dunia. Mama dan Mas Jay, sudah mendapatkan balasan malu yang amat besar. Bukan hanya satu kampung, satu Indonesia akan tahu. Dari konten yang dibagikan Sadila dan teman-temannya.
Terisak, aku masuk ke dalam. Duduk di kursi minimalis, didampingi Cakra. Ia mengusap punggungku, seolah dengan sentuhan itu lukaku bisa sedikit reda.
Cakra bangkit dari tempat duduk. Ia berjalan ke dapur, mengambil air untukku minum.
"Maaf, ya, aku lancang masuk ke dapurmu. Tapi, aku rasa kamu harus dinginkan tubuh dan pikiran. Ini, habiskan minumnya," selorohnya dengan segelas air bening yang terlihat menyegarkan.
Segelas air bening itu kuteguk sampai tandas. Pak Hisyam, sedari tadi tak berbicara. Hanya menonton dan sibuk berpikir dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang tengah bergaung di kepalanya.
Sungguh, betapa malunya aku. Di depan Cakra dan Pak Hisyam, semuanya terbongkar begitu saja. Apa ini kebetulan? Atau Allah sengaja memberitahu semuanya, agar perzinaan mama dan Mas Jay segera berhenti.
"Sudah, tenangkan dulu hatimu, Arumi. Menangislah, sampai tak ada lagi stok air matamu untuk keluar lagi," ujarnya lagi.
Bahana langkah kaki orang-orang mulai menghilang. Hening. Halaman mulai sepi. Hanya bayangan mama dan Mas Jay yang berputar di ingatan. Kini, mereka sedang menjadi buah bibir dan tontonan.
*****
Menjelang maghrib, Pak Hisyam memutuskan pulang. Berpamitan, tanpa banyak bicara.
"Istirahatkan dulu pikiran Anda, besok atau dua hari kedepan, kita bisa berbicara," sarannya ramah.
Aku mengangguk. Entah bagaimana jadinya, aku tak berharap lebih. Kalau Pak Hisyam tak jadi membeli, kurasa masih banyak orang yang berminat dengan rumah minimalis siap pakai ini.
Sementara, Cakra memutuskan untuk menemaniku, menungguku untuk kembali ke kosan.
Gerombolan orang yang sedang dalam arak-arakan itu, belum jua kembali. Sejauh apa mereka mempermalukan mama dan Mas Jay, aku tak tahu lagi.
"Seharusnya, kamu gak ikut kesini. Sudah kubilang tadi, kamu pulang aja," kataku lemas menahan malu.
Lelaki itu memandang lantai dengan tatapan kosong. Lalu, berbicara dengan hati-hati. Kini, tak kulihat kegajeannya lagi. Ia berubah menjadi lelaki dewasa, yang seolah punya banyak luka.
"Kenapa gak bilang kalau kamu masih bersuami?" tanyanya, masih enggan menatap wajahku.
"A-a-aku, kan, udah bilang, kalau aku udah pernah menikah, Cakra," bantahku gugup.
"Pernah? Kalau pernah berarti sudah tidak lagi, bukan?"
Sudah kuduga, Cakra pasti mengira aku janda, setelah tadi siang kuberi tahu sebelum sampai rumah.
"Aku.. sedang mengurus surat cerai," jawabku lemah.
"Tapi, tetap saja kamu masih bersuami," sahutnya bersikeras.
Hening. Cakra bergelut dengan batinnya sendiri.
"Ya, udah. Lebih baik kamu pulang aja. Kita berdua disini, akan menjadi fitnah. Nanti, aku bertambah masalah. Aku sudah terlalu lelah, Cakra."
Cakra, diam saja di tempat. Tak menggubris saranku untuk segera pulang.
"Setelah urusan jual beli rumah ini selesai, jadi atau tidaknya, pertemanan kita mungkin juga selesai. Tapi, sebagai tanda terima kasih karena telah membantu, aku akan tetap membayarmu," sambungku, melihat sorot mata Cakra yang tak biasa.
Kenapa Cakra terlihat begitu kecewa? Apa selama ini dia berharap lebih padaku? Padahal, kita hanya baru kenal beberapa hari saja. Seharusnya, Cakra tak melakukan itu.
"Kamu ingin kita gak berteman lagi?" Kali ini, ia mulai menoleh. Tatapan kami beradu.
Tiba-tiba, jantungku berdebar lebih cepat. Tatapan Cakra yang melontarkan peluru ke mataku, seperti ada sesuatu yang tak bisa diartikan.
"Bu-bukan, bukan begitu maksudku."
"Lalu, kamu pikir, aku membantumu karena butuh bayaran?"
Aku tergagu. Terbius oleh wajah tampannya, yang biasa terlihat konyol. Kini terlihat sangat dewasa dan begitu memesona. Dia begitu gagah kalau sedang serius seperti ini.
Astaga. Cepat kutepis perasaan aneh itu. Aku memalingkan wajah ke sembarang arah. Namun, wajahku rasanya panas. Sepertinya, pipiku pun mulai memerah.
"Aku gak butuh uang, Arumi. Itu tak perlu kucari," sambungnya membuat otakku berputar.
Apa maksudnya? Memangnya dia sultan, yang bisa langsung metik uang kapan saja. Meski sebenarnya, aku belum tahu pekerjaannya apa. Sehari-hari, hanya kulihat ia berlalu-lalang kesana-kemari tanpa henti. Mengangkat telepon, memutuskan sambungannya. Sesekali, menjadi pembawa acara atau moderator di masjid.
Apa Cakra sebenarnya hanya seorang pengacara? Pengangguran banyak acara, maksudnya. Aduh, kenapa harus pusing aku memikirkan orang itu.
Kalau bukan keuntungan finansial, lalu apa yang dia inginkan dariku? Apa dia.. menginginkanku? Ah, tak mungkin. Apalagi, dia telah mengetahui bahwa aku adalah istri orang.
"Lalu?"
Cakra membisu. Antara berbicara atau diam saja, ia terlihat mempertimbangkan sesuatu.
"Sudahlah, lupakan saja. Setelah urusan kita selesai, jangan berpikir terlalu jauh atau berpikir buruk. Kita biasa saja, berteman tanpa harus mencampurkan rasa di dalamnya."
Hah? Aku tercengang. Apa maksudnya? Bahasan Cakra semakin melebar saja. Rasa? Memangnya, selama ini aku melarutkan rasa dalam pertemanan yang baru seumur jagung itu? Perasaan, dari awal, aku bersikap biasa saja.
BERSAMBUNG...