Kedua mata Brie memerah nafasnya tersengal cepat, kali ini perempuan itu betul-betul marah terhadap Bos yang ada dihadapannya itu.
Tak berbeda dengan Brie, Richie juga tak kalah jengahnya dengan perlakuan yang baru saja ia dapatkan dari asistennya itu. Dia tidak habis fikir mengapa perempuan itu bisa begitu marah hanya karena dipeluknya? Suasana tegang masih terasa diruang tengah itu ketika tiba-tiba Jollyn yang sudah siap dengan hidangan buatannya itu tercengang melihat pemandangan menakutkan dihadapannya.
" prakkk...". suara mangkuk terjatuh memecah keheningan suasana di ruangan itu.
semua orang menoleh kearah sumber suara.
yang ternyata karena ketakutan Jollyn menjatuhkan mangkuk berisi sup buatannya, gadis itu kebingungan karena situasi sekarang. pertama ia bingung melihat ada seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang saling menodongkan senjata terhadap satu sama lain, dan yang kedua sekarang dia membuat kesalahan karena menjatuhkan mangkuk supnya.
" aduhhh bodohhh!!". pekiknya pelan.
melihat kehadiran Jollyn dan kebodohannya itu membuat Brie sedikit terganggu dan memutuskan untuk pergi begitu saja.
sementara Richie yang melihat kekacauan itu sedang menatap marah kepada Jollyn.
settt ... cepat sekali gerakannya kini dia sudah berada di hadapan Jollyn sambil menodongkan senjata api kearah kepala Jollyn.
" brengsek... siapa suruh Lo jatuhin mangkuk nya hah!!!?". bentak Richie marah sekali.
Jollyn begitu ketakutan sampai dia tidak bisa berkata-kata dengan benar.
" aa...emm...ma..aa..af ". ucapnya gemetar.
" bodoh !!! ngomong yang bener!!". bentaknya lagi.
" maaf tuan saya tidak sengaja?". ucap Jollyn parau karena menahan tangis.
" maaf... maaf... Lo pikir maaf Lo bisa selesain semua kekacauan yang udah Lo buat hah!?". entah mengapa Richie malah semakin kesal melihat Jollyn merengek dan menangis.
" stop... jangan nangis Lo tuh berisik tau ga?". Richie menurunkan todongannya.
Jollyn yang sedari tadi begitu ketakutan sudah tidak kuat lagi kakinya menopang berat badannya, ia tersungkur jatuh kelantai karena kakinya sudah merasa lemas sedari tadi.
" hiks ... hiks ... hiks...". Jollyn terisak menangis dilantai.
Richie menurunkan nada suaranya karena sudah merasa iba terhadap Jollyn dan memanggil para bodyguard untuk menyeret Jollyn keluar dari rumahnya.
" Sam, Tim sini cepat!!". panggilannya sedikit berteriak.
tak lama dengan terburu-buru kedua bodyguard yang bernama Sam dan Tim datang menghampiri.
keduanya memiliki perawakan tinggi besar yang membedakan hanya Sam berkepala plontos sementara Tim memiliki rambut gondrong, tapi keduay sama kelihatan menyeramkan dan cepat tanggap.
" ya bos?". ucap Sam.
" seret dia keluar ". ucap Richie, melirik Jollyn.
" siap!". ucap keduanya hampir bersamaan.
keduanya menghampiri Jollyn dan langsung memboyong perempuan itu menuju pintu keluar.
" lepaskan, aku bisa keluar sendiri ". ucap Jollyn sedikit berontak.
Sam dan Tim yang tadinya memegangi di kanan kiri tangan Jollyn dengan kasar dan sedikit mendorong tubuh Jollyn akhirnya melepaskan.
" keluar sana sialan!". umpat Sam.
" diam kau!". balas Jollyn sambil melangkah menuju pintu keluar.
Ia sangat merasa lega sekarang akhirnya dia keluar juga dari rumah aneh penuh drama mengerikan itu.
ia masih menyusuri jalan di pagi buta ini, entahlah dia akan pulang dengan apa karena di pagi buta seperti ini biasanya belum ada kendaraan umum lewat?.
***
Richie yang merasa lelah akan apa yang dia lalui dimalam tadi kini sudah berbagi diatas kasur kamarnya.
begitu luas kamar si tuan muda penerus takhta kekuasaan BR company itu, kamar yang sangat amat penuh kekejaman dimana-mana disudut kanan kiri kamar terpasang berbagai jenis senjata api atau senjata tajam. yang tentunya semua berfungsi dengan baik bukan hanya sekedar pajangan untuk menghiasi interior kamar saja.
dan kini ia tengah memandang tepat kearah dinding depan kamar nya yang dimana terdapat sebuah foto wanita cantik ya ... itu seperti Brie asisten kepercayaannya. Apakah laki-laki tampan nan gagah ini betul-betul sangat terobsesi dengan kecantikan sang sekretaris?
" Ryn...". gumamnya lembut sambil menatap nanar pada lukisan itu.
tunggu ... bukankah itu Brie mengapa Richie malah memanggil nama Ryn? memangnya siapa Ryn ?
Ia memejamkan mata berusaha untuk mengingat kembali masa-masa indah ketika masih bersama Ryn.
ya, Ryn wanita cantik di foto itu adalah Ryn bikan Brie. Ryn dan Brie memang saudari kembar identik dengan kemiripan fisik hampir sembilan puluh persen.
Ryn adalah pacar dan sekaligus cinta pertama Richie, namun sayangnya ia telah meninggal sekitar tiga tahun lalu karena sebuah insiden.
Richie masih ingat betapa manis dan cantiknya Ryn ketika melakukan fitting baju pengantin yang akan mereka kenakan dihari pernikahan mereka nanti, ia masih ingin momen itu dan sangat jelas tergambar di otaknya.
***
diruang ganti ia sedang menunggu Ryn keluar dari ruangan ganti, ia sudah tidak sabar untuk melihat betapa cantiknya Ryn yang di balut gaun putih pilihannya.
" sayang gimana?". ucap Ryn yang baru saja keluar dari balik pintu ruang ganti.
untuk beberapa detik Richie terbengong karena kecantikan Ryn.
" sayang kenapa kok bengong gak bagus ya?". tanya Ryn memastikan.
" ngg... nggak sayang, aku cuma bingung aja kok bisa kamu secantik ini ". jawab Richie sedikit menggombal.
" ihh... apaan sih, jadi kamu suka sama gaun yang ini?".
" suka... suka sekali, kamu cantik sayang kalau pakai gaun ini dipernikahan kita ". Richie sekali lagi meyakinkan Ryn.
" he'em aku juga suka deh sama design gaunnya, ok kalau gitu berarti fix kamu pakai tuxedo yang itu aku gaun yang ini ". ucapnya dengan manis dan Richie menyetujui apapun yang dikatakan oleh Ryn itu karena laki-laki tampan itu begitu mencintai calon istrinya itu.
" ok, kita temui perancang itu lalu setelah itu aku akan bawa kamu ke suatu tempat yang indah. kamu mau?". ucap Richie.
" kamu mau bawa aku kemana?". tanya Ryn pemasaran.
" rahasia nanti juga kamu tahu dan pasti kamu bakal suka sekali dengan tempat itu ".
" emm... kamu muali main rahasia-rahasiaan ya sama aku ". goda Ryn sambil mencubit hidung mancung Richie.
" terserah dong...". goda balik Richie membalas mengacak rambut Ryn.
" uh, jangan begitu nanti berantakan ". Ryn merapikan kembali tatanan rambut miliknya.
kedua pasangan bahagia itu masuk kesebuah ruangan. Yaitu ruangan milik sang desainer yang ditunjuk sebagai perancang busana pengantin mereka.