Billion dollars

1342 Kata
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, ternyata Richie tertidur semalam dalam lamunannya. Gorden kamarnya dibuka oleh seseorang, seketika sorot cahaya matahari yang mulai meninggi tersorot persis kearah wajah Richie yang memang tampan dan mempesona. ya siapapun pasti akan mengakui akan ketampanan pria satu ini dengan hidung mancung, bahu lebar, struktur wajah tajam dengan rahang yg tajam pula. " hemm...". deep voice Richie terdengar merdu. Dia terbangun sambil mencoba menghalau sinar matahari yang menyilaukan matanya menggunakan tangan. " Bangun pak, satu jam lagi bapak harus menghadiri rapat penting!". terdengar suara Brie memerintah. namun Richie masih belum sadar sepenuhnya, namun ia sudah tau siapa sosok yang tidak jauh berdiri di samping ranjangnya. " sejak kapan ada orang yang berani memerintah ku ?". jawabnya ketus dan masih belum beranjak dari kasurnya. Brie masih berdiri sambil tersenyum sinis mendengar ucapan bosnya itu. dia melirik kearah lukisan sang saudari kembar lalu menunduk dan menghela nafas panjang, ia merasa ini betul-betul menyakitkan entahlah rahasia dan luka lama serta keberadaannya didekat Richie ini masih betul-betul menjengahkan. dengan senyum getir dan meledek diapun mengucapkan kata-kata yang sontak membuat bosnya kembali naik pitam. " apa seharusnya di lepas dan di bakar saja foto wanita itu!". ucap Brie tersenyum sinis. membelalak mata bulat Richie ia bangkit dari tempat tidurnya dan dengan sigap kini berdiri di hadapan Brie, ia marah namun ia faham bahwa itu bentuk provokasi dari asistennya itu. " kamu itu sangat pandai memprovokasi orang ya..?". Richie menarik nafas panjang lalu berbalik badan dan memasuki toilet pribadinya untuk membersihkan diri dan bersiap. sementara Brie masih mematung disana dan memperhatikan setiap langkah Richie. " wanita bodoh itu sebenarnya beruntung mendapatkan laki-laki bodoh seperti anda, tapi sayang dia betul-betul bodoh karena mengkhianati anda dan anda tidak tahu itu!!". gumamnya lalu berlalu meninggalkan kamar Richie. *** Diruang makan seluruh pelayan dan koki telah selesai menata dan mempersiapkan sarapan untuk tuannya, dengan santai Brie berjalan menuju kesana sembari diikuti oleh beberapa bodyguard. " cello makan teasternya!". Brie memerintah Cello si penguji makanan untuk mencoba terlebih dahulu makanan yang tersaji. " sudah Miss dan seluruhnya aman ". ucapnya memberi laporan. " baik kembali bekerja ". peringatan Brie kepada Cello. Cello dan beberapa koki serta pelayan kembali kearah dapur untuk kembali bekerja. " Mr. Richie datang Miss ". lapor Tim kepada Brie. Richie dengan santai berjalan menuju meja makan. seketika orang yang berada disana seluruhnya memberikan hormat dengan menundukkan kepala padanya kecuali sang asisten yang masih sama berdiri dengan angkuhnya. Richie berhenti tepat di depan asisten pribadinya itu. " angkuh sekali padahal kau juga ku bayar ". ucapnya tersenyum sinis. mendengar itu Brie hanya menghela nafas panjang dan membalas senyuman sinis Richie. " makanan sudah seratus persen aman ". ucapnya tak menanggapi celotehan Richie. " ya aku percaya itu selama bukan kamu yang memasaknya ". ledek Richie mencoba menguji kesabaran Brie. " terserah...". Brie hanya tersenyum getir mendengar itu. huh ... pokoknya dia tidak boleh terpancing emosi oleh setiap perlakuan dan ucapan-ucapan yg dilontarkan bosnya itu, ok... dia harus tetap tenang demi misi dan tujuannya. gumamnya dalam hati yang Richie pun tidak tahu misi apa yang di bawa oleh Brie. Richie duduk di mejanya dan mulai mengambil satu persatu makanan yang ia inginkan untuk sarapan pagi ini, Brie mendekatinya dan berdiri di samping bos yang tengah melakukan sarapan pagi. ia membuka buku agenda yang cukup tebal dan mulai membacakan agenda apa saja yang harus dilakukan oleh bosnya hari ini. " jam sembilan nanti anda akan ada rapat dengan Mr. Zou Chang dari Tiongkok untuk proyek pembuatan jalan tol di kota X, pemerintah sudah mempercayakan proyek besar ini ditangan perusahaan kita dan mereka berharap perusahaan kita dapan memenangkan tander dari perusahan Chang group sebagai pendana ". ucapnya membacakan agenda pertama yang harus dijalankan oleh bos nya. Richie hanya mengangguk tanda mengerti sambil menikmati sarapannya. " setelah itu sekitar pukul setengah sebelas siang Mr. Robert Lewan akan mengunjungi pabrik amunisi kita, sekaligus untuk memberikan jawaban atas kesepakatan yang kita tawarkan bulan lalu. seharusnya ini jadi jalan perusahaan kita untuk mendapatkan hati Mr. Robert agar mau bekerja sama dengan Group kita dan menjadi pendana besar ". tambahnya. Richie menghela nafas panjang lalu meraih gelas air disampingnya sesegera mungkin menghentikan aktifitas sarapannya. " sialan...". umpatnya kesal sambil menggebrak meja makan marmernya. " sebetulnya aku tidak sudi menerima kerja sama dengan si Robert itu, anaknya yang sialan itu sudah membuat Ryn pergi untuk selamanya kamu ingat itukan?". lanjutnya marah. Brie masih berdiri tenang tanpa berkata apapun. Namun dalam hatinya dia sedang mengumpat penuh kebencian terhadap gadis kembarannya yang tidak berguna itu, entah mengapa ia sangat membenci sekali perempuan itu? " huh... seharusnya anda bisa mengambil kesempatan ini untuk memberikan pembalasan dendam untuk putera tersayang dari si Robert itu. itupun jika anda cukup pintar untuk mengambil kesempatan ini! ". munculah kembali sifat provokatif Brie. mendengar itu Richie sedikit terkejut, ia terkejut mengapa asisten pribadinya Sangat licik sekali padahal selama ini ia tak terlihat seperti itu. ia bahkan sebelumnya cenderung tidak pernah mau mengurusi atau ikut campur urusan pribadinya Richie. " apa ini kenapa kamu memberikan ide seperti itu?". tanya Richie menyelidik. " tidak ada ". jawabnya sambil tersenyum. " aneh... kamu itu!!". belum sempat melanjutkan ucapannya Brie memotong. " tidak usah berfikir buruk terhadap saya, yang tadi itu hanya saran kecil dari saya jika memang anda merasa tersakiti oleh keluarga Robert itu. maka hancurkan saja mereka selama anda memiliki akses untuk masuk kedalamnya!". tegasnya menjelaskan apa maksud ucapan provokasi tadi. " hei... bisnis ya bisnis dan urusan pribadi ya urusan pribadi understand?". gumam Richie. " lalu mengapa anda tadi merasa jengah dengan kerjasama ini?". timpal Brie memberikan pertanyaan skak mat. Richie berdiri dari duduknya ia kini berdiri tepat dihadapan Brie, ia tersenyum dan sedikit menggoda asistennya itu dengan mencolek ujung batang hidungnya yang mancung itu sambil berkata. " tapi yang tadi menarik saya bisa pertimbangkan ". ucapnya riang sambil berlalu meninggalkan Brie yang masih mematung. Richie pergi dan diikuti oleh Brie beserta beberapa bodyguard dan anak buah khususnya. *** tepat jam sembilan pagi meeting di laksanakan di aula milik perusahaan Bright Company yang dikepalai oleh Mr. Richie Abraham. sebetulnya ia adalah generasi ketiga dari takhta kekuasaan Bright Company CEO dan pendiri dari Bright Company adalah kakeknya yaitu mending Mr. Ben Abraham. kemudian setelah wafatnya Mr. Ben Abraham kedudukannya digantikan oleh sang putera yaitu ayahnya Richie yang bernama Ricardo Abraham yang kini tinggal di new York setelah menikah lagi dengan perempuan muda asli New York bernama Elisabeth krowz. dan kini hubungan ia dengan sang ayah memang tidak baik-baik saja bahkan dengan sang adikpun ia menjadi saingan bisnis, itu berawal dari hari dimana ayahnya membiarkan ibunya meregang nyawa sendiri ditangannya. Kini ia sangat membenci sang ayah dan sang adik Billy Abraham yang kini ikut dan mengurus sebagai besar perusahaan dari Bright Company. tapi tetap ia selalu mendapat kekuasaan yang lebih tinggi dari siapapun bahkan terakhir kali ia dapat merebut setengah dari saham milik anak perusahaan yang dijalankan oleh sang adik ditambah Anak perusahaan dari Bright Company yang ia pegangan sudah mulai bertumbuh menjadi perusahaan raksasa yang dapat diperhitungkan. kekayaan bersih Richie Abraham yang tercatat di tahun ini bahkan sudah mencapai sekitar 15 billion dollars, itu angka yang sangat jauh dibandingkan dengan kekayaan bersih yang dimiliki oleh Billy Abraham sang adik. Richie memasuki ruang rapat, terlihat jelas sudah ada beberapa orang yang sudah stand by didalam ruangan itu. " ohhh... Mr. Chang, apa kabar ?". ucapnya basa basi sambil menjabat tangan Mr. Chang dan kemudian memberikan pelukan hangat padanya. " kabar baik Mr. Richie, bagaimana dengan anda sendiri? ". tanya balik Mr. Chang. " sayapun baik...". jawabnya melepaskan pelukan lalu duduk di kursinya begitupun Mr. Chang duduk kembali ditempat yang sudah disediakan perusahaan itu. " jadi apakah bisa kita mulai persentasi untuk membahas proyek besar ini?". tanya Richie ramah. " silakan di mulai ". Jawab Mr. Chang. " baiklah...". akhirnya Richie dan teamnya mulai menjelaskan apa-apa saja yang menjadi maksudnya tujuan ia untuk meminta kerja sama dengan Chang company. ia menjelaskan dengan sangat detail mulai dari pembuka hingga points keuntungan apa saja yang akan didapat kedua belah pihak jika kerjasama ini dapat terjalin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN