Saat ini, Sean, Gilang, dan Triple sudah ada di taman. Mereka menunggu Farel keluar dari kelasnya. Memang mereka berbeda kelas dengan Farel. Mereka berada di sekolah yang sama dengan Arsen, Rara, dan Zia.
"Itu Kak Farel." Tunjuk Ella ketika melihat Farel yang menghampiri mereka sambil membawa tas khusus bekal.
"Maaf sedikit lama," ucap Farel pada adik-adiknya.
"Gak papa Kak," sahut Ella dan di angguki yang lainnya. Setelah selesai cuci tangan, mereka pun memakan bekal yang mereka bawa. Mereka juga saling berbagi satu sama lain.
Setelah selesai makan, mereka ikut bergabung bermain bersama teman-temannya. Farel memisahkan diri, ia pergi bermain bersama teman-teman sekelasnya.
"Pak Guru! Bu Guru!" Teriak salah satu murid laki-laki itu sambil berlari menuju ke ruang guru. Hal ini membuat beberapa murid mengalihkan perhatiannya ke murid tersebut. Murid laki-laki itu terlihat panik.
"Ada apa nak?"
"Itu Bu, ada yang bertengkar di sana. Keningnya si Dafa berdarah Bu." Adu anak itu.
"Astaghfirullahalazim." Beberapa guru pun pergi ke tempat kejadian. Namanya anak-anak pasti ada saja kelakuannya dan mengakibatkan pertengkaran.
"Apaan tuh ramai-ramai?" Gilang terlihat sangat kepo.
"Paling juga lagi mainan," sahut Ella.
"Itu heboh banget, ada bu guru sama pak guru juga." Ella, Eza, Erik, dan Sean pun menjadi penasaran karna mendengar ucapan Gilang.
"Ya udah, kita liat aja yuk!" Ajak Ella. Mereka pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sesampainya di tempat kejadian, mereka melihat anak murid kelas 3 Sekolah Dasar itu babak belur. Entah perkara apa yang bisa membuat mereka sampai berkelahi. Bahkan di kening seorang anak laki-laki bernama Dafa itu sampai mengeluarkan darah.
Sean merasakan kakinya sangat lemas seperti jelly, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, rasanya iya juga ingin mual.
"Darah." Ella langsung menoleh kearah Sean ketika mendengar Sean bergumam. Sean terduduk di lantai karna tidak kuat melihat darah. Apalagi darah yang keluar di kening Dafa cukup banyak, sehingga harus di larikan ke klinik terdekat.
"Sean!" Pekik Ella. Seorang guru pun menghampiri Sean karna mendengar pekikan Ella. Beberapa guru di sekolah tersebut sudah banyak yang mengetahui keadaan Sean. Via yang memberitahu keadaan putranya kepada pihak sekolah. Hal itu Via lakukan agar Sean mendapat perlindungan dari teman-temannya yang jahil. Hal itu juga sedikit bisa membantu Via agar dirinya tidak terlalu khawatir dengan keadaan Sean. Tentunya itu semua juga ada campur tangan dari Rafael. Mereka mau yang terbaik untuk anak-anak mereka. Triple E juga sudah mengetahui kondisi Sean, sehingga mereka bisa menjaga Sean bersama-sama dari teman-teman mereka yang jail.
"Mommy," ucap Sean dengan lirih, dan setelahnya Sean pun pingsan. Seorang guru laki-laki tadi juga langsung membawa Sean ke klinik terdekat dari sekolah mereka. Seorang guru laki-laki tadi juga meminta rekannya untuk menelpon orang tua Sean.
***
Mendengar kabar dari pihak sekolah mengenai putranya sedang pingsan, membuat Via panik bukan main. Kebetulan disini sedang ada orang tua Rafael. Via menitipkan Alleta yang sedang tertidur pulas kepada mertuanya. Rafael berusaha membuat istrinya tetap tenang. Hormon kehamilan kali ini membuat Via sangat sensitif.
"Kamu tenang dulu sayang, jangan panik gini. Sean pasti baik-baik aja." Rafael memeluk Via sambil mengusap punggung istrinya. Apalagi Via sampai menangis seperti ini.
"Aku khawatir banget sama Sean. Ayo Mas, kita ke klinik dekat sekolah Sean!"
"Minum dulu, tenangin diri kamu. Kalau kamu udah tenang, baru kita berangkat. Percaya sama aku, Sean baik-baik aja." Via menerima segelas air dari mama mertuanya.
"Terimakasih Ma." Siska menganggukkan kepalanya. Setelah itu, ia pergi ke kamar Alleta untuk melihat cucunya itu.
"Sudah merasa lebih baik." Via pun mengangguk.
"Pa, Via titip Alleta sebentar ya."
"Lebih baik kalian segera berangkat, kami akan menjaga Alleta dengan baik."
"Makasih banyak Pa." Dani pun tersenyum. Via dan Rafael pun segera pergi untuk menemui Sean.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di klinik yang ada di depan sekolah anak-anak mereka. Dengan tergesa-gesa Via keluar dari mobilnya, dan Rafael pun segera mengikuti langkah istrinya.
"Sayang, pelan-pelan aja. Ingat kandungan kamu, jangan lari-lari." Mendengar ucapan Rafael membuat Via menekankan langkahnya. Ia mengusap perut buncitnya.
"Maafin Mommy sayang, hampir aja Mommy mencelakai kalian." batin Via.
Via dan Rafael melihat Sean yang masih tertidur di atas brankar. Sean masih belum sadarkan diri, wajahnya terlihat masih pucat. Via segera menghampiri putranya itu. Seorang guru laki-laki yang menolong Sean tadi pun meminta waktu untuk mengobrol dengan Rafael. Rafael pun mengiyakan saja, ia juga ingin tau hal apa yang membuat putranya seperti itu. Mereka sedikit menjauh dari tempat Sean dan Via berada.
Via menitihkan air matanya ketika melihat keadaan putranya seperti ini. Hatinya merasa sangat hancur, jika bisa, ia rela menggantikan posisi putranya. Sean masih terlalu kecil untuk menanggung semuanya.
"Maafin Mommy sayang, Mommy belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kalian. Mommy gagal jagain kamu nak. Seharusnya kamu tidak menanggung semua ini," ucap Via dengan lirih. Semenjak kejadian penculikan itu, Via selalu merasa bersalah terhadap Sean. Seandainya ia tidak mengajak anaknya pergi pada saat itu, pasti Sean tidak akan seperti ini.
"Mommy," gumam Sean. Via segera menghapus air matanya.
"Iya sayang, Mommy disini." Via tersenyum ketika melihat Sean membuka matanya. Sean langsung duduk dan memeluk Via. Ia merasa masih lemas, memeluk Mommynya membuat energinya perlahan pulih. Mommynya adalah obatnya, ia sangat membutuhkan Mommynya. Via membalas pelukan Sean dan mengusap punggungnya. Sesekali ia mencium pucuk kepala Sean.
"Sean takut Mom."
"Mommy selalu ada di dekat kamu sayang, kamu gak perlu takut." Sean pun menganggukkan kepalanya. Ia percaya Mommynya pasti akan selalu ada untuknya.
"Terimakasih Ya Allah sudah mengirimkan malaikat tak bersayap untuk Sean dan Kak Farel. Semoga Mommy diberikan umur panjang dan kesehatan. Sean sayang Mommy, dan semoga suatu saat nanti Sean bisa buat Mommy dan Daddy bangga. Aamiin."
"Sudah lebih baik?" Sean pun mengangguk, tapi ia belum mau melepaskan pelukannya. Kepalanya juga terasa masih pusing.
"Pusing ya? Sini Mommy pijat." Dengan telaten Via memijat pelipis Sean. Sean memejamkan matanya, pijatan Mommynya menjadi obat yang ampuh dari pada meminum obat yang pahit.
"Oh iya Mommy lupa, kamu minum dulu." Via menguraikan pelukannya, dan ia mengambil air minum yang sudah di sediakan di atas nakas yang berada di samping brankar. Sean menerima minum itu dan segera meminumnya.
"Sudah Mom." Via menerima gelas tersebut dan meletakkan kembali ke tempat semula. Via merapikan rambut Sean, rasa khawatirnya sudah meluap ketika melihat wajah Sean sudah jauh lebih baik dan tidak sepucat tadi.
"Sean." Sean dan Via pun menoleh ke sumber suara.
"Daddy." Sean tersenyum senang, dan Rafael pun membalas senyuman Sean. Ia melihat semua interaksi antara Via dan Sean. Lagi dan lagi Rafael sangat bersyukur bisa mendapatkan Via. Seorang perempuan yang hadir dalam hidupnya, dan Rafael sangat bersyukur karna Tuhan telah mempertemukan dirinya dan Via. Via adalah orang yang sangat tulus, bahkan ia mau merawat Farel dan Sean dengan penuh kasih sayang walaupun ia tau, bahwa Farel dan Sean juga bukan anak kandungnya. Rafael mendekat kearah anak dan istrinya.
"Gimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?"
"Sudah Daddy."
"Kita pulang yaa, kamu istirahat di rumah." Sean pun mengangguk. Lagi pula ia juga kasihan kepada Mommynya, semenjak kehamilan kedua ini, Mommynya mudah sekali kelelahan. Ia tidak mau melihat Mommynya sakit.
Setelah Sean benar-benar merasa lebih baik, mereka langsung pulang kerumah. Untuk menjemput Farel nanti ia akan meminta tolong kepada Aland, Nathan, atau Farhan.
Sebelum masuk kedalam mobil, Sean menyempatkan diri untuk mencium perut Mommynya.
"Mas, aku duduk di bangku belakang sama Sean gak papa kan? Kayaknya Sean juga masih sedikit lemes." Rafael pun tersenyum dan mengangguk. Di tempat duduk belakang, Sean merebahkan dirinya, dan menjadikan paha Mommynya sebagai bantalnya.