bc

Rafael's Family

book_age16+
72
IKUTI
1K
BACA
family
goodgirl
sweet
others
wife
husband
like
intro-logo
Uraian

Di kehidupan ini, setiap manusia pasti akan mengalami cobaan. Seperti halnya pada Via dan Rafael. Setelah kejadian penculikan itu, kondisi psikis Sean benar-benar terguncang. Sean yang dulunya menjadi anak yang ceria menjadi ajak yang lebih banyak diam. Setelah kejadian itu, Via dan Rafael membawa Sean pergi ke psikolog. Sean di diagnosis memiliki fobia terhadap darah.

Sebagai orang tua, tentu saja Via dan Rafael merasa sedih. Jika bisa di gantikan, Via akan bersedia menggantikannya. Walaupun Sean bukan anak kandungnya, tapi ia sangat menyayanginya. Sean adalah anak yang patuh dan menggemaskan. Via selalu berdoa agar Sean segera sembuh dari fobianya. Masih ada kemungkinan besar untuk Sean sembuh, yaitu dengan melakukan terapi bersama psikolog. Via dan Rafael akan selalu melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Via juga selalu di hantui rasa bersalah, karna ia merasa dirinya penyebab Sean seperti ini.

"Mom, apa Sean orang yang aneh?" Dahi Via berkerut mendengar ucapan Sean.

"Enggak, emang kenapa nak?"

"Kata temen-temen, Sean orang yang aneh. Karna Sean takut darah."

Via terdiam mendengar ucapan Sean. Hatinya terasa seperti tertusuk ribuan pisau saat melihat wajah sedih Sean. Via membawa Sean ke dalam pelukannya. Sean memeluk erat Mommynya. Pelukan Mommynya sangat membuatnya merasa aman dan nyaman.

"No, kamu bukan anak yang aneh. Putra kebanggaan Mommy ini adalah anak yang pintar, baik, sholeh, dan istimewa."

"Jangan dengerin kata orang Yan," ucap Farel yang tiba-tiba datang dan menghampiri adik dan Mommynya.

"Kamu tenang aja, aku selalu di samping kamu. Kalau ada yang nakal kamu bilang ke aku yaa. Biar aku marahin mereka." Farel tersenyum menatap adiknya. Sean juga tersenyum mendengar ucapan Kakaknya. Mereka pun saling berpelukan.

"Eh, ada apa ini kok pada pelukan?" Rafael datang bersama Alleta yang ada di dalam gendongannya.

"Yan... Yan... El... El." Sean dan Farel tersenyum ketika Alleta memanggil mereka.

"Sabar nak, Kak Sean sama Kak Farel gak kemana-mana." Rafael di buat gemas dengan tingkah putrinya itu. Rafael berjalan mendekat kearah istri dan anak-anaknya. Rafael menurunkan Alleta dan membiarkannya berjalan.

"My... My." Via gemas sekali dengan tingkah putrinya itu. Ia membawa Alleta ke pangkuannya.

"Mom, Sean mau pangku Alleta boleh?“ Via pun tersenyum dan memberikan Alleta ke pangkuan Sean.

"Yan... Yan... Yan." Celoteh Alleta.

Beginilah kehidupan mereka, ada suka dan ada duka. Rafael dan Via selalu berharap agar keluarga mereka selalu harmonis. Selalu ada disaat yang lain membutuhkan, dan tetap menjadi keluarga yang kompak.

Bagaimanakah kelanjutan kisah keluarga RaVi?

Dan apakah Sean bisa sembuh dari fobianya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1 - Orang Tua Terbaik
Hari ini, Via sedang menemani kedua putranya belajar. Setelah pulang sekolah tadi, mereka meminta Via untuk di temani mengerjakan tugas sekolah. Semenjak hamil anak kedua ini, Via tidak lagi terjun ke dapur. Untuk urusan memasak, Rafael yang turun tangan atau Bibi Tati dan Mbak Yeyen. Rafael juga melarang Via untuk memasak, apalagi kehamilan kali ini membuat Via sedikit kesulitan. Bahkan Via di sarankan oleh dokter untuk lebih banyak istirahat. Untuk sementara waktu, Rafael pun memindah kamar mereka menjadi di bawah. Bahkan Rafael menyediakan kursi roda untuk berjaga-jaga jika kondisi Via sedang menurun. Sebenarnya mereka sudah berencana untuk menunda anak hingga paling tidak Alleta berumur dua tahun. Namun takdir berkata lain, Tuhan telah mempercayai mereka kembali untuk menjadi orang tua. Menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah. Tapi Rafael dan Via terus belajar agar bisa menjadi orang tua yang baik dan menjadi orang tua seperti yang di inginkan anak-anaknya. "Mommy, tugas sekolah Kakak sudah selesai." "Punya Sean sedikit lagi Mom." Via tersenyum melihat anak-anaknya yang cukup rajin untuk belajar. "Kalian makan yaa, biar Mommy masakkan sup ayam." "Mommy gak usah masak. Biar Kakak aja yang minta tolong sama Mbak Yeyen. Kakak gak mau Mommy masuk rumah sakit lagi. Mommy harus banyak istirahat." Via menjadi terharu mendengar ucapan putra sulungnya. Memang benar, kehamilan keduanya ini cukup rewel. Beberapa kali Via sudah masuk rumah sakit karna kelelahan. Dan Via harus istirahat total. Keadaan janinnya juga sedikit lemah. "Sean tadi udah liat kok, Mbak Yeyen udah masak Mom. Sepertinya Daddy sudah berpesan sama Mbak Yeyen. Mommy duduk disini aja, atau Mommy mau minum? Biar Sean yang ambilkan." "Kakak aja ya Mom yang ambilkan minum. Biar Sean selesaikan dulu tugas sekolahnya. Mommy mau minum apa?" Via selalu mengucapkan syukur setiap harinya karna ia mendapatkan keluarga yang baik. Anak-anak yang perhatian dan menyayanginya. "Mommy mau teh hangat aja Kak." Farel pun menganggukkan kepalanya dan pergi ke dapur. Sedangkan Sean kembali menyelesaikan tugas sekolahnya. "Sudah selesai Mom." Sean menyerahkan bukunya dan buku Farel agar di periksa oleh Mommynya. Via pun menerima buku itu. Mereka sudah cukup pandai membaca dan menulis. Karna Via juga mendatangkan guru privat membaca dan menulis untuk Sean dan Farel. Apalagi sekarang Sean sudah duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar dan Farel duduk di bangku kelas dua. Berbeda dari Sean dan Farel yang ada di rumah bersama Via, sedangkan Alleta ikut pergi bersama Daddynya ke kantor. Via ingin menyusul ke sana, tapi Rafael melarangnya. Bukan tidak mempercayai suaminya, hanya saja Via takut jika Alleta mengganggu pekerjaan Rafael. Takut jika putri lucunya itu rewel. Dari sejak pagi tadi Alleta ikut pergi bersama Daddynya. Via juga sudah mempersiapkan semua keperluan putrinya itu. "Wah, Kak Farel sama Kak Sean pinter banget sih. Ini udah bener tulisannya, udah gak ada typo lagi." Via dan Sean sama-sama terkekeh pelan. Maklum saja, namanya juga manusia, masih harus banyak belajar lagi. Terkadang antara huruf b dan d itu sering terbalik. "Rajin belajar ya nak, agar cita-cita kamu bisa tercapai." "Siap Mommy! Sean sama Kak Farel pasti bisa buat Mommy sama Daddy bangga." Sean tersenyum sambil menatap Mommynya. Via juga membalas senyuman Sean sambil mengusap kepala Sean. "Mommy sehat selalu yaa. Sean gak suka liat Mommy sakit. Sean takut kehilangan Mommy." Sean memeluk Mommynya. "Gak ada pelukan senyaman ini, selain pelukan Mommy. Terimakasih Mommy, udah selalu ada untuk Sean. Sean sayang banget sama Mommy. Tunggu Sean besar ya Mom, Sean pasti bisa buat Mommy sama Daddy bangga." Via pun mengusap punggung Sean dan beberapa kali mencium kening Sean. "Mommy juga sayang banget sama Sean dan Kak Farel. Terimakasih sudah hadir di dalam hidup Mommy. Kamu dan Kak Farel akan selalu menjadi putra kebanggaan Mommy dan Daddy." Sean mengeratkan pelukannya, namun ia tetap hati-hati agar tidak menghimpit calon adiknya yang ada di dalam perut Mommynya. "Mommy, ini tehnya." Sean pun melepaskan pelukannya. Via pun tersenyum. "Terimakasih Kakak." Farel pun tersenyum. "Sama-sama Mommy." "O iya Mom, kata Mbak Yeyen masakannya udah siap. Mau makan sekarang?" tanya Farel. "Boleh, kalian pasti juga udah lapar kan?" Sean dan Farel pun mengangguk. Padahal setelah pulang sekolah tadi, Via sudah menyuruh anak-anaknya makan terlebih dahulu. Namun mereka memilih untuk mengerjakan tugas sekolahnya. "Ya udah, ayo!" Ketika hendak beranjak dari duduknya. Via, Sean, dan Farel pun mendengar suara mobil dari depan. Sean dan Farel langsung tersenyum lebar ketika mendengar suara mobil itu. Mereka sudah hafal dengan suara mobil itu dan mereka tau pemiliknya. "Yey! Baby mochi squishy pulang!" pekik Farel dan Sean bersamaan. Via tersenyum melihat kedua putranya yang sangat antusias ketika tau jika Alleta dan Daddynya sudah pulang. Farel dan Sean memang memanggil Alleta dengan sebutan baby mochi squishy karna Alleta memiliki tubuh yang gempal dan pipi yang chubby. Hal itu membuat siapa pun yang melihat Alleta akan merasa gemas. "Assalamualaikum." "Kum." Alleta meniru ucapan Daddynya. Rafael yang gemas pun menggigit pelan pipi Alleta. "No! No Dy!" Alleta menjambak rambut Daddynya karna kesal. Via, Sean, dan Farel tertawa karna melihat Alleta yang menjambak Daddynya. "Aduh, sakit sayang." Rafael pun menggenggam tangan Alleta yang ada di rambutnya, dan melepaskannya secara perlahan. Walaupun Alleta masih kecil, tapi kekuatannya lumayan juga untuk anak berumur sepuluh bulan itu. Rafael pun menurunkan Alleta dari gendongannya. Alleta sudah cukup lancar berjalan. Alleta mulai bisa berjalan di umur sembilan bulan. "Dy kal!" "Daddy gak nakal sayang, Daddy cuma gemes sama kamu." Rafael mendekat kearah Via dan anak-anaknya. Mereka bergantian menyalami Rafael. Rafael pun mencium pipi Via dan anak-anaknya secara bergantian. "Salim dulu nak sama Mommy, Kak Farel, dan Kak Sean." Walaupun masih kesal dengan Daddynya, Alleta tetap menuruti ucapan Daddynya. "My! Dy kal." Adu Alleta pada Mommynya, setelah ia selesai menyalami kedua kakaknya dan Mommynya. "Uh, anak cantiknya Mommy. Daddynya nakal ya?" Alleta mengangguk. "Kul Dy, My." "Mommy disuruh mukul Daddy?" "Heem." "Nanti Daddy kesakitan dong, nanti kita hukum aja Daddynya. Biar gak tidur bareng Alleta sama Mommy." Alleta menganggukkan kepalanya mengerti. "Heleh gaya kamu Al, padahal kalau mau tidur yang kamu cariin juga Daddy." Rafael gemas sekali dengan putrinya ini. Memang benar, jika ingin tidur, Alleta selalu mencari Daddynya. Anak Daddy sekali bukan? "Kamu bersih-bersih aja dulu Mas, biar Alleta cuci tangan sama aku. Setelah itu kita makan siang bersama." "Alleta biar sama aku aja. Kamu duluan aja ke dapur sama anak-anak." "Tapi..." "Udah gak papa." Via pun menurut, Rafael mengambil alih Alleta dari pangkuan Via. Alleta pun menurut, ia melupakan kekesalannya kepada Daddynya karna Daddynya mengajaknya cuci tangan. Alleta sangat senang bermain air. Via mengajak Sean dan Farel untuk pergi ke dapur. Untuk masalah makan selama hamil kedua ini, ia sedikit kesulitan. Kadang setiap makan ia bisa saja mual. Terkadang ia hanya makan buah dan s**u saja. Sebagai seorang suami, tentu saja Rafael harus pandai-pandai memilih makanan agar Via dan calon anak mereka tetap sehat. Via benar-benar bersyukur karna Rafael mau menemani dan membantunya mengurus rumah. *** "Ini bekalnya, kalian jangan nakal yaa. Dengarkan apa kata ibu gurunya. Kak Farel, Mommy titip Sean yaa." "Siap Mommy! Mommy tenang aja. Sean aman sama Kakak." Via ikut tersenyum ketika Farel tersenyum padanya. Karna gemas, ia pun mencium pipi Farel bergantian hingga membuat Farel terkekeh geli. "Sudah Mom, malu di liatin orang." Via pun menghentikan aksinya. Mereka menatap sekeliling mereka, dan benar saja banyak orang yang menatap mereka. Via dan Farel saling bertatapan dan kemudian tertawa kecil. "Sini Sean, Mommy mau peluk kamu." Dengan senang hati Sean langsung memeluk Mommynya. Via mengusap kepala Sean dan sesekali mencium kening Sean. "Sehat-sehat adik kecil, jangan buat Mommy kesusahan yaa. Harus jadi anak baik." Sean berbicara pelan di depan perut Mommynya yang mulai tampak membuncit. Via pun tersenyum mendengar ucapan Sean. "Yan... Yan... El... El... kut!" Alleta memberontak di gendongan Daddynya. Ia ingin ikut bersekolah bersama kedua kakaknya. Apalagi ia melihat berbagai permainan di sekolah itu. "Sstt... Kak Farel sama Kak Sean sekolah dulu nak. Alleta main sama Daddy aja nanti yaa." "Kut Dy! Kut Yan, El." Via menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu. Selain dekat dengan Daddynya, Alleta juga sangat dekat dengan Sean dan Farel. Apalagi kedua kakaknya itu juga sangat menyayangi Alleta. "Ikut Mommy sama Daddy yuk! Kita main ke taman. Kak Farel sama Kak Sean sekolah dulu ya. Nanti kalau udah pulang sekolah, Alleta boleh main lagi sama Kakak." Alleta masih memberontak di dalam gendongan Rafael. Ia masih kekeuh ingin ikut sekolah bersama kedua kakaknya. Ucapan Mommynya belum berpengaruh padanya. "Mas, bawa ke dalam mobil aja dulu. Biar aku yang tenangin. Kamu antar Sean sama Farel sampai dekat gerbang." Rafael pun mengangguk. "Tunggu sebentar ya nak, Mommy sama Daddy bawa Alleta ke mobil dulu." "Iya Mommy," ucap Farel dan Sean bersamaan. Sudah hal biasa bagi mereka jika Alleta ikut mengantar Farel dan Sean ke sekolah. Namun karna sudah satu minggu ini Via tidak mengantarkan kedua putranya, jadi Via ingin sekali ke sekolah anak-anaknya. Hal itu lah yang membuat mereka juga harus mengajak Alleta. Rafael harus ikut karna Alleta itu mudah di bujuk oleh dirinya. Setelah membantu Via menenangkan putrinya, Rafael pun turun dari mobil dan menghampiri kedua putranya. Farel dan Sean bergantian berpamitan dan memeluk Daddynya. "Yang rajin ya belajarnya nak. Jangan nakal, dengarkan apa kata Bapak atau Ibu gurunya ya. Nanti makannya bareng Gilang, kakak-kakak kamu yang lainnya, dan triple E. Saling berbagi ya, jangan bertengkar." "Siap Daddy!" Tak lupa pula Rafael memberi uang saku kepada kedua putranya. "Nih uang sakunya, gak usah beli minuman yaa. Kalau sisa nanti di tabung." Farel dan Sean pun tersenyum. "Terimakasih Daddy." Rafael pun tersenyum dan mengangguk. "Masuk sana, keburu bel. Daddy pulang dulu. Nanti kalau belum di jemput, tunggu aja di pos satpam ya. Atau ikut sama Papi Aland." Farel dan Sean pun mengangguk. "Terimakasih Mommy, Daddy sudah menjadi orang tua terbaik untuk Farel dan Sean." batin Farel. Setelah mengantarkan kedua putranya ke sekolah, Rafael dan Via pun mengajak Alleta pergi ke taman. Hari ini Rafael sedikit senggang, jadi ia bisa meluangkan waktu untuk keluarganya. Alleta sudah berhenti menangis, ia menangis karna ingin ikut bersama kakak-kakaknya sekolah. Melihat wajah dan hidung Alleta yang memerah dan mata yang sembab membuat Via dan Rafael sedih. Namun bagaimana lagi, mereka juga mengajarkan, tidak semua hal bisa di turuti. Untuk membuat Alleta senang kembali, mereka pergi ke taman bermain.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook