Prologue
Senja’s Pov
Tubuhku melompat-lompat begitu bahagia, tak dapat menahan rasa senang. Aku baru mendapatkan email yang isinya bahwa aku telah diterima bekerja di Merloses Comwell Group. Bayangkan aku adalah seorang gadis yang sedari kecil berjuang untuk bisa hidup nyaman, akhirnya dengan segala usaha terbayar untuk bisa masuk di salah satu perusahaan dalam daftar Fortune 500. Aku sendiri tidak percaya, hingga harus mengulang-ulang membaca email tersebut.
“Kak, mulai masuk kerja kapan?” Dimas adik laki-lakiku satu-satunya, turut tersenyum bahagia untuk ku.
“Senin minggu depan Dek.” Jawabku sembari memeluk Dimas kencang.
“Kalau dapet gaji pertama ajak adek makan di KFC ayam goreng ya, kita makan disana kan udah lama banget gak makan begituan terakhir juga pas Bunda ulang tahun, itu juga tahun kemaren.” Bujuk Dimas.
“Okeh, abis itu kita ngemall ajak papa juga yaaa, kita belanja baju di mall.” Balasku membesarkan kedua mataku, tanda mengiyakan kemauan Dimas.
“Horeeeeeeeee!!” riuh Dimas begitu girang. Kemewahan kami mungkin bebeda dengan kemewahan yang orang lain miliki dan inginkan, tapi itulah kebahagiaan kami.
Aku berlari ke arah kamar, disana aku temui papa di atas kursi rodanya, papa sudah hampir 3 tahun ini duduk di kursi roda. Papa mengalami stroke, setelah dua tahun sebelumnya ibu kandungku meninggal, karena menjadi korban tabrak lari sebuah truk yang ugal-ugalan.
"Ayaaaah, aku keterima kerja di Merloses yah...!!" Papa membalas dengan memberikan senyum terbaiknya, dia berusaha untuk melipat keempat jari kanannya, untuk memberikan jempol padaku. Aku senang bercampur bangga melihat ekspresi papa. Aku membalas dengan mengecup ujung jempol papa, lalu memeluknya kuat.
“love you papa...”. Papa membalas perkataanku dengan anggukkan, dan di ujung matanya sebutir air mata kebahagiaan mengalir. Untuk sesaat kenangan masa kecilku menghampiri.
Sejak aku kecil, papa bekerja sebagai seorang buruh pabrik kasar, dan dikarenakan penyakit-nya, posisi sebagai tulang punggung keluarga beralih padaku. Semenjak SMU kelas 2 aku sudah bekerja sambilan, mulai dari sales HP, berjualan takoyaki, berdagang di pasar, hampir semua aku lakonin, selama itu halal. Setiap hari yang aku lakukan hanyalah belajar, lalu sepulang sekolah lanjut bekerja mencari tambahan uang untuk keluarga. Aku belajar mati-matian untuk bisa dapat beasiswa negeri, dan usaha memang tidak akan pernah berkhianat, aku menerima beasiswa di universitas negeri ternama di Jakarta.
Lalu mengenai ibu kandungku, dia meninggal ketika aku baru lulus kelas 1 SMU, semenjak itu papa menjadi seseorang yang berbeda. Dia berkenalan dengan seorang wanita dari warung malam dekat tempatnya bekerja, dan tak lama dari perkenalan tersebut papa menikahi wanita itu, membawanya ke rumah kami untuk tinggal bersama. Dua tahun dari pernikahan mereka, papa terkena stroke, dan membuat tugasku dalam keluarga ini semakin berat, aku yang baru setahun bekerja saat itu, harus menjadi pencari nafkah satu-satunya di keluarga. Tidak ada yang lebih aku harapkan dari mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji yang layak, hanya itu doa yang terus menerus aku panjatkan.
Aku lihat lemari bajuku, dengan engsel pintu yang sudah dipenuhi karat. Aku membuka kedua pintunya memperhatikan seluruh baju yang aku punya, tidak banyak hanya beberapa. Aku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, dengan mata yang masih melekat pada tumpukan pakaian yang aku punya. Aku tidak bisa sembarangan untuk hari pertamaku, termasuk berpakaian. Lama aku pautkan mataku pada tumpukan pakaian itu, hingga akhirnya aku putuskan untuk membeli pakaian baru untuk hari pertamaku. Perusahaan sebesar Merloses pasti menginginkan karyawan-karyawannya terlihat ‘WAH’ kan.