Bab 8
Aku gak nyangka, ibu mertua dan ipar ku tega berbuat seperti itu ke padaku. Aku salah apa ke pada mereka?? Kenapa mereka membenci aku??? .
Apa karena aku berbeda dengan suku mereka??
Kalo saja bukan karena mas Ari, aku gak sudi berhubungan dengan mereka. Aku hanya menghargai mas Ari saja sebagai suami ku.
Bayi ku sudah tertidur pulas, setelah aku siap mandi kan dan menyusui nya.
Di saat aku menemani meri bermain main, terdengar suara teriakan dari luar. Suara itu tak asing bagi ku.
" Nita!!!.. Nita!!!... Emang dasar kamu gak tau di untung ya" Teriakan ibu mertua terdengar dari luar.
Ya, itu memang ibu mertua, aku kaget disaat mendengar berteriak memanggil nama ku, dan ngatain aku gak tau di untung.
Segera ibu mertua menerobos masuk ke rumah.
" Maksud ibu apa" Aku masih terlihat tenang menghadapi emosi ibu mertua yang meluap luap.
Aku melihat wajah ibu memerah, seperti kena siram air panas. Dia sangat emosi sekali datang ke rumah ku, entah apa maksud dan tujuan nya aku juga gak tau.
" Heh nita,!! kamu jangan berpura pura bodoh ya, kamu bilang, kamu gak butuh ibu lagi kan, setelah apa yang sudah ibu bantu kemarin"
Ibu berdiri di hadapan ku, sambil menaruh tangan nya di pinggang. Seolah dia yang merasa benar dan tanpa melihat dari dua sisi.
"Maksud ibu apa, aku gak ngerti ibu ngomong seperti itu, sementara aku gak ada bilang bahwa aku gak butuh ibu lagi" Ku jelaskan singkat pada ibu.
"Alaah,, gak usah bohong kamu, pita yang bilang sama ibu, kamu cerita kan sama pita, kamu bilang kamu gak butuh ibu lagi" Ibu masih ngotot dengan tuduhan nya.
Aku udah duga mbak pita bakalan ngomongin aku gak benar, bukti nya ibu datang ke sini marah marah gak jelas, karena tuduhan mbak pita.
Ya Tuhan,,, tega sekali mbak pita memfitnah aku. Aku gak pernah ganggu hidup dan keluarga nya, kenapa dia mengusik aku?.
" Sumpah bu, aku gak ada cerita seperti itu pada mbak pita"
" Gak usah berlagak seolah olah kamu yang di tindas nita, kamu tuh berdosa sudah ngatain orang tua".
Ya Tuhan...
Siapa yang di tindas, siapa yang menindas??
Ingin rasanya aku menjumpai mbak pita, dan minta penjelasan nya kenapa dia tega melakukan ini kepada ku.
" Bu maaf, kalo aku memang ngomong seperti itu, tapi demi Tuhan bu, aku berani sumpah, aku tidak ngatain ibu seperti yang ibu tuduh kan"
"Memang dasar ya, kamu itu menantu yang gak bisa di harap kan dan gak tau di untung, malas aku me ladenin kau berdebat di sini" Ibu segera berlalu dari rumah ku.
[ Sebenar nya aku yang malas meladeni kalian yang selalu mengusik hidup ku, apa gak cukup kalian selalu menindas dan mengasing kan aku dari keluarga kalian ].
Aku sedih mendengar ucapan dan fitnahan yang di tuduh kan ke padaku.
Gak tahan rasa nya hati ini ingin menampar muka mbak pita yang memfitnah aku. Tapi aku berusaha sabar, kita lihat sampai di mana dia bertahan menindas aku.
*
Setelah ibu berlalu dari rumah, aku berusaha menenangkan hati yang rapuh.
Ku ambil handphone ku untuk sekedar melihat dunia maya, dari pada aku berlarut larut dalam fitnah mbak pita yang gak jelas.
Astaga,, apa aku gak salah lihat?? Aku kaget saat melihat beranda f*******:, di sana tertera status mas Danu. Dia juga terkena virus dari omongan mbak pita?? Sampai sampai mas Danu mempublikasi kan fitnah dari mbak pita terhadap ku....
Ku scroll ke bawah untuk melihat siapa aja dan apa aja komentar orang lain, karena sangat banyak yang berkomentar.
Aku gak salah kan???
Aku melihat mas Ari juga ikut berkomentar di status mas Danu. Nampak nya dari komentar nya mas Ari gak Terima mas Danu mempublikasi kan omongan yang belum tentu benar. Lagi lagi aku di buat tertegun dengan sikap dan pembelaan mas Ari terhadap ku.
Ya hanya karena mas Ari yang membuat ku bertahan di keluarga ini. Dan dia lah yang membuat aku tetap semangat menghadapi sikap dan perilaku dari keluarga nya.
*
Sore menjelang malam, mas Ari sudah pulang dari tempat nya berkerja.
Aku belum menyinggung status mas Danu yang di f*******: dan ibu mertua yang datang marah marah gak jelas ke rumah ini.
Setelah selesai makan malam, kami duduk berdua diruang tengah bersama mas Ari sambil menonton TV . Anak anak sudah pada tidur.
"Mah, kamu sudah lihat status mas Danu di f*******:"? Mas Ari mencoba membuka perbincangan kami.
" Iya mas, sudah. Kok tega ya mas Danu mempublikasikan omongan yang belum tentu benar"
" Tapi kamu gak tersinggung kan mah, atas status mas Danu itu" Tanya mas Ari .
" Gak kok mas, aku cuman heran aja, kok mereka seperti itu ya kepada kita, padahal kan mereka keluarga. Apalagi tadi siang ibu juga datang ke sini marah marah gak jelas"
" Masa sih mah, ibu datang ke sini ngapain maraha marah sama mamah coba"? Tanya mas Ari gak percaya dengan omongan ku.
" Iya mas, tadi siang itu ibu datang kesini marah marah ngatain aku gak tau di untung kata nya. Ibu juga bilang bahwa aku cerita sama mbak pita, dan aku gak butuh ibu lagi kata nya. Kan aneh" Ku lanjut memperjelas.
Tapi ku lihat lihat wajah mas Ari seperti nya gak terima, di saat aku bilang ibu datang ke rumah marah marah gak jelas.
Tapi saat membahas mas Danu, dia nampaknya biasa biasa saja, seperti ikut juga kesal kepada mas Danu. Tapi Giliran ibu yang marah marah sama ku, dia seperti nya gak percaya.
"Masa sih ma, ibu marah marah sama kamu, mungkin ibu menasehati aja kali mah", ucapan mas ari membuat ku tertegun.
Masa mas Ari gak percaya sama ku, kalo ibu datang cuman menasehati aku, ya gak mungkin dia sampai teriak teriak gitu dari teras rumah.
Lagian mas Ari tau sendiri juga kan gimana perlakuan ibu nya kepada ku. Kenapa dia tiba tiba begini ya? Seolah olah dia berpihak kepada ibu nya yang sudah menyalah kan aku.
" Loh mas, kamu gak percaya lagi sama aku"? Masa itu aja aku bohong sih sama kamu, kalo mas gak percaya, tanya aja sama ibu mu sendiri tuh" Ucap ku kesal melihat mas Ari gak percaya kepadaku.
"Mah, udah lah, aku tau ibu tuh gak suka sama kamu itu hanya gara gara kamu gak kasih cucu laki laki, cuman itu aja. Bukan berarti di segala sisi ibu juga jahat sama kamu"... Bentak mas Ari seraya berdiri dihadapan ku.
Deg
Sesak d**a ini rasanya di saat orang satu satu nya yang kita andalkan melindungi kita sudah gak ada kepercayaan lagi. Aku terdiam dan terkejut melihat tingkah mas Ari yang baru kali ini membentak ku selama kami menikah.
yang tidak pernah aku pikirkan pun terjadi.
Ya Tuhan,, apa yang sudah membuat mas Ari berubah seperti ini??
Bersambung.....