Bab 9
Aku gak percaya, mas Ari tega membentak ku, hanya karena aku kasih tau, bahwa ibu mertua datang ke rumah marah marah.
Tapi aku benar loh, aku gak bohong, kenapa mas Ari gak percaya sama aku ya???
Aku ngerti, bagai mana pun ibu mertua ku itu tetap ibu kandung yang melahirkan mas Ari.
Tapi aku ngomong kan seadanya aja, aku gak bermaksud untuk buat mas Ari benci sama ibu kandung nya, itu dosa.
Pagi nya aku duduk sambil menyusui bayiku,aku masih termenung memikirkan perlakuan mas Ari kepada ku kemarin.
"Mah, aku pergi berangkat kerja ya"ucap mas Ari.
"Loh mas kok gak serapan" Tanyaku.
"Gak usah, aku serapan di tempat kerja ku aja" Sambung mas Ari.
Sikap mas Ari mulai dingin terhadap ku. Yang biasanya dia siapin serapan di atas meja dan kami selalu makan bersama di meja makan, tapi semenjak mas Ari membentak ku, dia tidak melakukan itu lagi.
"Oh ya udah, hati hati ya mas" Tangan ku sudah meraih tangan mas Ari, maksud ingin mencium punggung tangan nya, seperti biasa yang ku lakukan. Tapi kali ini mas sama sekali tidak melihat ku bahkan dia tidak kasih tangan nya untuk ku cium.
Ya Tuhan....
Sakit rasanya, orang satu satunya yang ku harapkan sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap ku.
Selama ini ibu mertua dan ipar ipar ku, bersikap tidak adil terhadap ku aku masih bisa Terima. Aku masih kuat menghadapi nya.
Tapi jika mas Ari yang seperti ini, rasanya sudah tidak sanggup lagi......
"Nita"!!!!
Terdengar suara dari luar memanggil ku, segera ku tidurkan bayi ku dan menghampiri suara yang memanggil ku ke ruang tengah.
Dari jauh aku melihat seseorang sudah duduk di kursi. Ternyata itu ibu mertua ku, beliau ngapain lagi ke sini ya?? Apa dia...... ???
Ahh sudah lah gak baik juga berprasangka buruk sama orang.
Sambil berjalan menuju ruang tamu, ku hampiri ibu mertua yang sudah duduk menungguku dari tadi.
"Ada apa bu" Tanya ku singkat.
"Heh, nita!! Jangan pikir kamu akan menang dengan menguasai Ari anakku ya" Ketus ibu mertua.
Aku gak ngerti apa yang ibu mertua katakan, apa maksudnya aku menang???
Emang siapa yang lagi bertanding???
Dan maksudnya menguasai???
Apa coba yang ku kuasai mas Ari, toh dia itu suamiku, ayah dari anak anakku.
"Maksud ibu apa bu? Aku nggak mengerti" Tanya ku bingung.
"Udah gak usah sok bodoh deh kamu nita, aku sebagai ibu nya Ari tidak akan diam, kalo Ari tuh lebih berpihak ke kamu dari pada aku ibu yang melahirkan nya".
" Bu,, aku nggak menguasai mas Ari kok, dan aku juga nggak merasa mas Ari lebih berpihak kepada ku. Terus kenapa ibu ngomong seperti itu"?? Tanya ku lirih.
"Ehh, dengar ya nita, aku akan membuat Ari benci sama kamu, dan akan melihat perubahan sikap Ari kepadamu". Kata ibu mertua mengancam ku.
Setelah mengancam ku, ibu mertua langsung berlalu keluar, tanpa pamit. Aku masih heran dan termenung dengan kata kata ibu mertua barusan.
Ya Tuhan, apa mas Ari berubah sikap nya kemarin kepada ku gara gara omongan ibu nya?.
Atau mungkin mas Ari terkena hasutan ibunya???...
*
Malam nya setelah kami siap makan malam, seperti biasa aku menidurkan kedua putri ku. Dan setelah itu ku dapati mas Ari yang sedang duduk di kursi sambil menonton TV.
Aku duduk, pas di samping kursi mas Ari duduk dan tidak lupa juga aku membuat kan teh untuk mas Ari.
"Mas, tadi siang ibu datang ke sini lagi loh" Ucapku membuka percakapan.
" Terus kenapa nit? Kan bagus ibu datang kesini untuk melihat cucu nya" Kata mas Ari santai.
Kalo ibu datang kesini untuk melihat cucu cucu nya sih aku gak apa apa. Tapi kenyataan nya kan bukan, dia malah datang kesini cari keributan dengan ku, dan malah mengancam ku.
" Ibu datang kesini bukan untuk melihat cucu nya mas" Ucapku agak kesal. Karena mas Ari kira ibu datang kesini dengan baik.
"Terus ibu ngapain coba datang kesini kalo bukan nengok cucu nya nit?"
Astaga!!!
Aku terkejut di saat mas Ari menjawab perbincangan kami dengan sebutan nama?.
Biasa nya mas Ari memanggil ku dengan sebutan "mah"
Tapi ini kok beda,....
"Mas, ibu datang kesini marah marah lagi sambil ngancam aku mas" Ucapku agak kesal, karena dua perubahan yang ku dapati dari mas Ari.
"Aduh... Nit!!! Kamu jangan ngada ngada dulu deh, gak mungkin lah ibu datang kesini marah marah lagi, apalagi buat ngancam kamu segala".
" Mas, aku ngomong jujur, aku nggak bohong" Nada bicara ku agak ku tinggi kan karena melihat mas Ari lagi lagi gak percaya dengan omongan ku.
"Nita!!! Cukup ya, selama ini kamu memburuk buruk kan ibu ku, ibu ku gak seperti itu orang nya, aku lebih kenal ibu dari pada kamu" Bentak mas Ari seraya berdiri dihadapan ku.
Deg
Ingin rasanya aku menangis dan mati saja, karena percuma, yang selama ini aku banggakan yang selalu belain aku dihadapan keluarga nya, telah berubah seratus delapan puluh derajat. Kini mas Ari seperti musuh bagi ku.
" Mas,,, kenapa kamu berubah mas? Kamu gak pernah loh bentak bentak aku seperti ini, dan selama ini kamu percaya dengan omongan ku". Aku masih berusaha untuk tetap tegar .
"Nita cukup ya, aku tuh udah capek, tiap hari terus dengar kamu ngoceh ini itu, aku tuh di tempat kerja capek nit, jadi jangan tambahin beban kalo aku udah di rumah".
" Secapek apa sih kamu mas?, masa cuman dengar aku curhat saja kamu capek, mungkin di luaran sana kamu tahan tuh dengar cerita yang gak bermutu dari kawan mu"
"Udah, nit , tolong ya, jangan di bahas lagi" Ucap mas Ari.
"Iya mas,, belain aja terus tuh keluarga mu" Ucap ku dengan emosi.
Mendengar aku berkata seperti itu, emosi mas Ari mulai memuncak lagi, dia bangkit dari tempat nya dan melemparkan barang barang yang ada di sekitarnya,
"Apa kamu bilang?,, duarrr....
Suara barang barang di lemparkan mas Ari ke lantai.
Ya Tuhan... Apa yang membuat suami ku seperti ini, aku melihat mas Ari seperti kesetanan, semua barang barang pecah dan hancur karena emosi nya. Aku takut melihat sikap mas Ari.
Anak anak kami pun terbangun dengan kegaduhan yang di buat mas Ari. Aku meninggal kan mas Ari dan berlari ke kamar untuk melihat kedua putri ku.
"Nita!!! Masih kau bilang aku membela keluarga ku" Mas Ari juga mengikuti ku ke kamar sambil melemparkan pas bunga yang hampir mengenai kaki ku.
Ya Tuhan,, sampai segitu emosi nya mas Ari sehingga dia gak peduli dengan anak kami yang sedang menangis.
Meri anak pertama ku, menangis dan ketakutan melihat ayah nya yang seperti kesetanan masuk ke kamar.
"Mas, udah cukup mas, kasihan anak kita, mereka menangis dan ketakutan" Ucapku menahan emosi mas Ari.
"Diam kamu!!!! "
Plak .... plak....
deg
Mas Ari menampar ku dua kali.
Apa aku gak salah? Lima tahun kami menikah, mas Ari belum pernah main tangan seperti ini kepadaku. Ya Tuhan sakit sekali rasanya melihat perbuatan mas Ari terhadap ku, apalagi aku melihat anak pertamaku meri, sepertinya ingin menghalangi mas Ari, supaya dia gak memukul ku lagi.
Aku menangis sambil ku peluk meri yang berusaha menolong ku. Aku bangga sama dia, masih kecil sudah memiliki rasa untuk menolong orang yang tertindas.
Aku takut... Aku gak berani menatap, bahkan menjawab kata kata mas Ari.
Aku biar kan dia menggila dengan emosi nya, kalo aku lawan bisa bisa aku mati di tangan nya. Karena baru kali ini aku melihat mas Ari hilang kendali dan sepertinya aku tidak mengenali nya.
Bersambung.......