Mbak Pita Mengadu

1082 Kata
Bab 10 Setelah kejadian yang kemarin, aku sudah gak sudi melihat mas Ari berlama lama. Aku masih gak menyangka mas Ari sanggup berbuat seperti itu kepada kau, setelah 5 tahun pernikahan kami. Sebelum nya, jangankan main tangan, membentak ku saja mas Ari belum pernah. Dia kelihatan baik dan pengertian terhadap ku. Tapi kali ini aku heran kenapa dia sampai segitu nya main fisik kepada ku, di saat aku mengatakan mas Ari membela keluarga nya. Apa yang salah dengan perkataan ku?? Apa dengan sikap nya kepada ku tidak menunjuk kan dia membela keluarga nya?? Mas Ari masih lebih berpihak kepada ibu dan ipar dari pada aku istri nya dan anak-anak nya. "Hai nita" Suara mbak pita mengejutkan ku yang sedari tadi menyusui anak ku dan bengong memikirkan perlakuan mas Ari yang kemarin. Ada apa lagi dia datang kemari? Apa belum puas dia memfitnah aku? Ku lihat dulu sampai dimana permainan mu mbak pita. "Iya, ada apa mbak datang kesini lagi" Suara ku agak menantang. "Tenang dulu nita,, aku gak ngapain kok kemari, aku cuma prihatin aja kepada mu" Kata mbak pita tanpa rasa bersalah. "Maksud mbak apa?, belum puas mbak memfitnah aku"? Tanyaku agak lantang. " Tapi kan kenyataan nita, kamu kan gak membutuhkan ibu mertua kita lagi, lah aku ngomong kenyataan nya kan"... Kata mbak pita dengan angkuh nya. Ya Tuhan.... "Plak.. Plak.. " Aku menampar wajah mbak pita, karena dari tadi dia datang saja aku sudah geram melihatnya, apalagi tanpa rasa bersalah. "Heh, nita kurang ajar kamu ya, berani kamu menampar aku" Kata mbak pita sambil mengelus pipi nya yang sudah memerah bekas tamparan ku. "Dengar ya mbak, jangan gara gara kamu itu istri dari abang suami ku, bukan berarti kamu berharap untuk ikut campur dengan keluarga ku, apalagi untuk mengadu domba aku dan ibu. kita itu sama mbak, kita sama sama menantu di sini, jadi jangan kita dengan berbuat seperti itu mbak udah hebat" Ku beranikan untuk mengutarakan isi hati ku yang sangat membenci mbak pita. "Awas kamu yah nita, kamu akan menyesal telah menampar aku, akan aku balas kau" Kata mbak pita gak mau kalah. "Iya coba aja mbak, aku gak takut apalagi menyesal telah menampar mu. Bahkan tamparan itu pun belum cukup untuk menutup mulut mbak yang kurang didikan itu". " Dasar kamu ya niat" Mbak pita segera berlalu dari rumah ku. Aku tau dia udah ketakutan dan kesakitan gara gara tamparan ku itu. Rasanya pun pengen ku jambak jambak tuh rambut nya biar dia jera. Untung saja mas Ari sudah pergi tadi bekerja, kalo sempat dia ada disini aku juga gak tau entah siapa yang di bela dia, aku istrinya atau mbak pita istri abang nya itu. ** Sore nya aku jalan jalan di depan rumah sambil menggendong anak ku. Aku melihat mbak pita dan ibu mertua dan juga beberapa tetangga sedang bercerita. Aku pun gak tau entah apa yang sedang mereka bicara kan. Mungkin saja mbak pita cerita tentang aku sudah menampar dia. Aku bodoh amat lah, yang penting mereka tidak mengganggu hidupku. Tidak berapa lama, aku sudah masuk kembali ke rumah karena anak ku sudah tertidur. Dan aku meletakkan nya di kasur. Setelah ku tidur kan, aku duduk di kursi ruang tamu sambil bersantai santai dan menemani meri bermain. "Nita!! Nita!!! Suara itu terdengar dari luar, membuat aku terkejut. Dan suara itu tidak asing bagi ku. Ya dia adalah abang ipar ku mas danu. Dia ngapain kesini ya?? Apakah mbak pit mengadu sama dia. Ahhk ngapain aku takut, selagi aku benar aku gak akan takut. " Iya kenapa mas" Tanya ku dengan tenang. "Kamu gak usah sok hebat ya nita, apa hak mu sudah menampar istri ku pita" Ketus mas danu. Tuh kan benar tebakan ku tadi. Huhh dasar tuh mbak pita ya,, tenang.. Tenang.. Nita, "Iya emang kenapa mas, mbak pita itu memang pantas ditampar mas, suruh dia itu sekolah kan dulu mulut nya baru ngomong, mas juga sebagai suami harus mengajar istri nya dengan becus" Ucap ku tanpa takut. "Emang pita ngomong apa tentang kamu" Tanya mas danu yang masih emosi. "Tanya aja tuh sendiri sama istri mu" Ucap ku lagi. "Awas kau ya nita, kalo sampai berani lagi menampar istri ku kamu bakal berurusan dengan ku" Ancam mas danu. "Ya udah silahkan kan aja mas, mungkin besok atau lusa juga akan ku jambak jambak tuh mbak pita istrimu yang mulut comberan itu. Mas kira aku takut? Kalo mas membalas saya, apakah mas gak malu berurusan dengan lawan jenis, sama adik ipar pulak itu, dan akan ku permalukan kembali kamu mas danu, jika ancaman mu itu terjadi pada ku" Ancam ku balik kepada mas danu. "Oh tunggu kamu ya nita, kamu pasti menyesal, dasar kamu orang yang gak tau di untung. Kamu bilang, kamu gak membutuhkan orang tua yang sudah membantu kau berapa hari di sini, emang gak ada akhlak kamu" Mas danu masih menuduh aku dengan fitnahan mbak pita. Di kiranya aku takut apa?? Coba aja kalo berani, dengan bukti apa dia mampu mengancam ku nanti nya. "Makanya aku bilang tadi mas, pulang dulu baru sekolahkan dulu tuh mulut istri tercinta mas itu, karena apa yang di omong kan nya itu cuman fitnah mas, kalian memang sudah termakan omongan mbak pita" Ujar ku menjelaskan. "Jadi maksud kamu aku lebih percaya kamu dari pada istri ku gitu??, hellow ngaca dulu dong kamu,,,, kamu tuh bukan siapa siapa aku yang harus aku percaya i nita" Kata mas danu. "Ya udah terserah kamu aja mas, aku juga gak berharap sih supaya kamu percaya sama kamu, aku cuman kasih tau kebenaran nya aja" Ucapku lagi. "Ahk udah lah, gak usah kau banyak ngomong nita!!! Sekali lagi ku tekan kan jangan coba coba untuk bermain kasar lagi terhadap istri ku pita". Tegas mas danu ke padaku. Mas danu langsung berlalu keluar dari rumah ku. Kita lihat aja mereka pikir aku takut sama mereka!?,. Aku pun bisa membalas mereka. Kali aja ibu ati itu bukan ibu mertua ku, pasti aku juga berani melawan nya. tapi karena statusnya masih menjadi ibu kandung dari suami ku, jadi aku masih menghargai nya dan bisa menahan emosi ku terhadap ibu mertua. Aku bisa kuat untuk menghadapi ipar ipar ku karena sudah menghina ku,. Tapi jika aku kembali mengingat perlakuan mas ari akhir akhir ini kepadaku, aku sangat sedih dan lemah. Aku gak bisa berbuat apa apa, karena mas Ari satu satu nya yang menjadi pelindung ku. Tapi harapan itu kini sudah sirna, entah sampai kapan aku bisa kuat, aku pun gak tau. Ya Tuhan.. Beri aku kekuatan untuk menghadapi semua ini....... Bersambung.......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN