Bab 11
Aku bisa kuat untuk menghadapi ipar ipar ku karena sudah menghina ku,. Tapi jika aku kembali mengingat perlakuan mas ari akhir akhir ini kepadaku, aku sangat sedih dan lemah. Aku gak bisa berbuat apa apa, karena mas Ari satu satu nya yang menjadi pelindung ku. Tapi harapan itu kini sudah sirna, entah sampai kapan aku bisa kuat, aku pun gak tau.
Ku lihat mas Ari sedang berbaring di kamar, sikap nya akhir akhir ini sudah dingin kepada ku. Bahkan komunikasi kami pun sudah berkurang. Semenjak dia main fisik dengan ku, aku melihat tidak ada rasa penyesalan sedikit pun di wajah mas Ari. Bahkan sampai sekarang dia belum meminta maaf kepada ku.
Aku bertahan saat ini hanya karena satu alasan yaitu kedua anak ku. Aku memikirkan masa depan anak ku.
Aku berusaha memaafkan mas Ari dan memilih tetap bertahan. Aku mendekati mas Ari dan duduk di samping kasur tempat dia berbaring dan mencoba membuka percakapan kami.
"Mas,, " Ku panggil mas Ari supaya dia ber alih menghadap ku.
"Iya kenapa nit" Tanya mas Ari yang belum berbalik melihat ku.
Ya sebutan nama itu sudah gak lazim lagi kudengar dari mulut mas Ari semenjak kejadian yang kemarin.
"Mas masih marah ya sama aku" Tanya ku mengalah.
Ya seharusnya mas Ari lah yang bicara seperti itu kepada ku, karena dia yang sudah main fisik terhadap ku dan membuat anak anak takut. Tapi demi kelangsungan rumah tangga kami yang damai, aku harus melakukan nya.
"Gak, aku gak marah lagi kok nit" Jawab mas Ari cuek tanpa melihat ku.
"Oh ya, mas lagi sibuk ya" Tanya ku ingin bercerita kepadanya. Ya sekedar bertukar pikiran lah.
"Aku lagi capek nit, aku lagi gak mood untuk bercerita" Tolak mas ari.
"Oh ya udah, mas istirahat aja lah dulu" Ucap ku mengerti dengan tingkah cuek nya.
Segera ku tinggal kan mas Ari di kamar, dan aku keluar dari kamar, menuju ruang tamu untuk duduk santai sambil nonton.
Ku lihat di atas meja ruang tamu, ada ponsel mas Ari. Aku pun berinisiatif untuk mengambil dan memeriksa ponsel mas Ari.mumpung mas Ari masih berasa di kamar sedang golek golek. Mungkin ada petunjuk di ponsel nya, kenapa sikap dan tingkah mas Ari kepada ku.
Aku pun sudah gak sabar ingin mengotak atik ponsel mas Ari. Dan ternyata memang benar.
Astaga......
Aku melihat banyak chat dan panggilan masuk ataupun panggilan keluar dari ibu mertua, ibu kandung mas Ari.
Aku penasaran apa aja yang di bicarakan mereka melalui chat itu. Dengan hati hati aku membuka dari bawah chating an mereka dan membaca dengan teliti yang di bicarakan mereka.
Dan ternyata...
Ya Tuhan....
Berarti selama ini mas Ari berubah kepadaku itu semua karena hasutan ibu mertua? Kok tega sekali ibu mertuaku membuat masalah dalam keluarga ku ya Tuhan...
Ya, didalam chating an itu, ibu mertua kau menghasut dan membujuk mas Ari supaya kami berpisah, dan berbagai alasan dan tawaran di kasih ibu mertuaku ke pada mas Ari, supaya mas Ari setuju dan tergiur dengan tawaran itu.
Ya, ibu mertua menawar kan kepada mas Ari, jika mas Ari mau mencerai kan aku, maka ibu mertua akan memberi uang dengan jumlah yang banyak, dan akan kasih modal buat usaha yang di tekuni mas Ari.
Dalam balasan chat dari mas Ari sih, dia seperti gak terlalu tertarik dan dia masih belum memutuskan untuk tawaran ibu mertua. Makanya mungkin sampai sekarang mas Ari masih berada bersama ku sekarang.
Tapi yang membuat ku tidak habis pikir, disaat ibu mertua menawarkan tawaran baru buat mas Ari, seperti nya mas Ari sangat welcome dengan tawaran itu. Ya Tuhan hati ku sangat teriris.
Ya, ibu mertua juga menawarkan jikalau mas Ari bercerai dengan aku, maka ibu mertua sudah menyediakan perempuan yang baik dan yang bisa membuat mas Ari bahagia. Dan perempuan itu juga satu suku dengan mereka. Dan sebelum kami bercerai mas Ari dan perempuan itu sudah bertemu empat mata??.
Tega sekali mas Ari mengkhianati pernikahan kami. Sementara aku masih baru melahirkan anak keduanya, dan dia main perempuan dibelakang ku.
Ada juga chating an mereka berdua dengan perempuan itu yang katanya bernama Rara.
Aku membaca chating an mereka berdua yang begitu mesra, air mata ini tidak terbendung lagi. Di saat membaca, air mata ku terus mengalir dari pipi. lebih sakit rasanya disaat kita tau orang yang kita cintai berkhianat, dari pada tamparan yang di layang kan mas Ari kepada ku tempo hari.
Ya Tuhan... Apa yang harus aku perbuat???
Apakah aku harus menyerah dengan pernikahan ini???
Separah apa kah kesalahan ku sehingga aku mendapat kan penghianatan dari suami ku???
Rasanya aku pengen mati saja, tapi bagai mana nantinya dengan anak anak ku??
Semasih aku hidup saja, nenek nya tidak menyayangi mereka, apa aku harus merelakan anak anak dirawat nenek nya biar aku bisa mati????
Dan apakah aku juga harus merelakan mas Ari buat perempuan pilihan ibu mertua???
Sesak sekali rasanya d**a ini, sehingga tangis ini pun tidak bisa di pendam. Aku pun menangis tersungkur di bawah kursi. Aku tidak tau apa yang harus aku perbuat lagi.
Sakit... Sakit... Sakit.. Sekali rasanya.
**
karena begitu keras nya aku menangis, mas Ari sampai keluar dari kamar, dan menghampiri aku yang sedang meratapi nasib.
"nita, kamu kenapa" tanya mas Ari santai.
"mas, kamu tolong jujur sama aku, apa yang sudah terjadi kepada mu" kataku meminta kejujuran mas Ari.
"maksud kamu apa sih nita"? tanya masa Ari yang masih belum mengerti.
" ini mas, apa yang sudah terjadi di ponsel mas ini" tanya ku menunjukkan ponsel mas Ari yang sudah aku pegang dari tadi.
begitu melihat ponsel nya ada di tangan ku, wajah mas Ari langsung berubah, seperti pencuri yang sudah tertangkap basah. ya memang nampak sekali dari wajah mas Ari. ada yang disembunyikan, dan yang disembunyikan nya itu aku sudah tau. dan aku hanya meminta penjelasan dari mas Ari.
"heh nita, apa gak mu mengotak atik handphone saya?, meskipun kamu itu istri ku, aku juga punya privasi yang gak harus kamu tau semuanya tentang aku". jawab mas Ari masih membela diri.
" oh iya ya mas, aku gak perlu tau ya, jika kamu sudah berkhianat kepadaku, dan kamu sudah mengotori janji suci pernikahan kita". kata ku lantang kepada mas Ari.
"oh ja.. ja. di kamu sudah tau nit"? tanya mas Ari gugup ketahuan.
" iya mas, aku sudah tau semuanya, tentang perempuan itu dan juga tentang tawaran ibu mertua. dan sekarang aku butuh kepastian dari kamu mas," ucap ku tegas kepada mas Ari.
"jadi mau kamu apa sekarang nita" suara mas Ari nampak pasrah, krena sudah ketahuan.
"mas, aku mau, kamu yang dulu mas, yang selalu perhatian dan humoris dalam rumah tangga kita, aku gak mau bercerai dari mas" ucap ku, karena anak anak ku masih kecil dan masih membutuh kan sosok seorang ayah.
"tapi bagai mana mungkin nit"? tanya mas Ari kebingungan.
" ya udah sekarang terserah mas aja, mas yang sebagai kepala rumah tangga seharusnya tau mana yang baik, dan mana yang buruk.
aku meninggalkan mas Ari sendirian di ruang tamu, aku biarkan dia berpikir jernih, supaya dia bisa mengambil keputusan yang terbaik bagi nya.
harapan ku sih mas Ari kembali seperti dulu. mas Ari yang penyayang, lemah lembut dan perhatian kepada aku dan anak ku.
bersambung.. . .. .