Bab 12
Setelah kejadian kemarin, satu malaman mas Ari gak pulang ke rumah. aku gak tau dia dimana dan tidur dimana semalam. mungkin dia buang suntuk dan pergi minum pun aku gak tau. ya mudah mudahan lah dia bisa berpikir dengan tenang dan tau mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Setelah aku siap menyuapin meri yang sedang serapan pagi, aku bergegas menghampiri anak bayi ku yang sudah bangun dari tadi dan langsung ku kasi ASi.
tok.. tok.. tok.. .
"nita buka pintu nya". suara ketukan dari pintu luar yang memanggil ku.
segera ku letakkan bayi ku di kasur dan pergi membukakan pintu.
" eh kamu mas" ucapku kepada mas ari yang baru saja pulang. dan melihat wajahnya yang lemas dan pucat. sepertinya dia baru minum.
"hmmm" ucap mas Ari cuek, dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
"mas tunggu, mas, aku mau ngomong" ucap ku menahan mas Ari.
"ahhkkk udah lah nit, kalau mau ngomong besok besok aja, aku capek mau tidur" ucap mas Ari setengah sadar.
" mas "... .
plak..
suara pintu kamar ditutup mas Ari tanpa menghiraukan ku.
Ya Tuhan.. .
pasti mas Ari sudah mabuk karena minuman, mungkin dia stres memikirkan masalah kemarin sampai dia mabuk seperti sekarang ini. tapi apa mas Ari gak kerja ya hari ini?
sepagi ini kan biasa nya mas Ari sudah siap siap mau pergi kerja, tapi barusan dia baru pulang ke rumah, entah habis ngapain dan dari mana mas Ari. aku juga gak tau.
ya mudah mudahan lah mas Ari berpikir positif dan bisa mengambil keputusan yang benar untuk keluarga kecil kami ini.
**
sudah hampir setengah hari begini mas Ari belum juga keluar kamar, aku pun ada sedikit rasa enggan untuk membangunkan dia. dari tadi aku pun belum masuk kamar, karena aku siapkan dulu semua pekerjaan rumah ku, siap itu aku mandikan dan kasih makan kedua putri putri ku. baru aku bisa duduk santai sebentar di kursi ruang tamu, sambil melirik lirik pintu kamar kami, mana tau mas ari sudah bangun.
"assalamu'alaikum"... . . . .
terdengar suara dari luar pintu mengucap salam.
siapa yang datang ya?? setau ku sih belum pernah ada tamu yang datang dengan sapaan begitu. ya kalau pun misalnya para tetangga, gak pernah tuh mengucap salam seperti itu. apalagi ibu mertuaku ataupun para ipar ku.
dari pada heran dan bertanya tanya, segera aku beranjak dari kursi dan membuka pintu.
" Wa'alaikumsalam " ucapku sambil membuka pintu.
"maaf dengan siapa ya mbak"? tanya ku heran melihat tamu wanita cantik dan seksi datang ke rumah ku tanpa di undang.
" m.. m.. mas Ari nya ada gak mbak"? tanya wanita itu.
"iya ada, tapi mohon maaf sebelum nya, mbak ini dengan siapa ya? tanya ku masih gugup. tapi ya, kalau di pikir pikir, wanita ini kok nggak asing bagi ku ya?? , seperti pernah lihat. tapi dimana yah?? ketemu dimana ya?? ?
" oh iya, maaf mbak, perkenalkan, nama saya Rara" katanya dengan tidak merasa malu.
deg.. . .
astaga.. .
wanita ini kan, teman chating an mas Ari dan perempuan yang sama yang di jodohkan ibu mertua ku.
" maaf, Rara ngapain datang kesini ya?? atau mungkin kamu salah alamat mungkin" ucap ku masih berharap bahwa wanita ini bukan wanita yang sedang dekat dengan suami ku.
"ohh enggak kok, mbak. aku gak salah alamat, kalo memang ini kediaman nya mas Ari berarti aku gak salah alamat dong" lirih nya dengan senang hati.
" jadi kamu ngapain datang kemari"? tanyaku sudah mulai emosi.
"oh tenang mbak, aku kesini cuman nganterin ini kok" kata Rara menyerahkan jam tangan mas Ari.
"i.. ini kan jam tangan punya mas Ari. " kuambil jam tangan itu dari tangan Rara aku merasa gugup dan sedikit bingung.
ngapain coba jam tangan mas Ari ada sama wanita ini?
"iya mbak, semalam mas Ari nginap di rumah ku dan dia nggak sengaja ninggalin jam tangan nya. ya, jadi aku berinisiatif untuk mengasih ini sama dia". kata Rara dengan bangga.
ya Tuhan.. . .
semalaman suamiku nggak pulang ke rumah, ternyata dia nginap berduaan di rumah wanita ini?? d**a ini rasanya sesak sekali menahan tangis. ingin rasanya menangis, tapi aku nggak mau terlihat lemah di depan selingkuhan suami ku ini.
" oh ya udah, biar aku aja yang ngasih jam tangan ini sama mas Ari. " kataku berusaha kuat dan menahan pedih.
"oh ya kamu boleh pulang sekarang, dan terimakasih sudah mengantar barang milik suami ku. kata ku lanjut dan berharap dia segera pergi dari rumah ku ini.
" hmmm oke deh. oh ya mbak, aku juga berterimakasih buat mbak nya, sudah mengijinkan mas Ari satu malaman bersama ku. " kata Rara, sepertinya dia sengaja bikin aku panas hati.
sabar.. . .
" iya, sama sama ya Rara si w************n"!! ucap ku gak bisa menahan emosi.
" a.. apa kamu bilang?? " kata Rara tersinggung.
" terus apa coba namanya?? wanita yang mengambil laki laki yang sudah ber istri?? w************n kan!! oh atau enggak, pelakor namanya ya? hahaha, Rara..Rara.. jadi perempuan itu yang baik baik aja, jangan suka mengganggu rumah tangga orang, kamu itu cantik dan masih muda, masa iya selera mu laki laki yang ber istri dan sudah punya anak?? tobat kamu" ucap ku lantang pada wanita selingkuhan suami ku itu.
"heh mbak,, makanya jadi istri itu yang baik baik juga, biar suami mu gak lari dengan perempuan lain seperti aku. mbak nya aja yang gak becus jadi istri, kok menyalahkan orang. ngaca dong mbak." kata Rara gak mau kalah juga.
ya ampun.. .
kok malah menyalahkan aku balik sih?? dia nya aja yang murahan, mau aja sama laki laki yang sudah ber istri. aku pun enggak mau kalah juga, aku lawan lagi mulut Rara yang lantam dan yang gak tau diri itu.
saking besar nya perdebatan kami orang orang pun pada datang, ipar dan mertua ku juga datang, dan mas Ari yang dari tadi gak keluar kamar, jadi keluar kamar gara gara mendengar perdebatan kami.
"nita.. ada apa sih ribut ribut?? " tanya mas Ari
"ini nih mas, kelakuan kamu, kamu enggak pulang semalaman ternyata main perempuan dibelakang aku"? tanya ku kepada mas Ari.
" kamu.. kamu tenang dulu nit, ini gak sepeti yang kamu bayangkan, aku bisa jelasin nit, kata mas Ari sedikit gugup dan malu melihat begitu banyak orang didepan halaman rumah kami yang menyaksikan perdebatan ku dengan selingkuhan mas Ari.
"cukup mas, Rara selingkuhan kamu itu sudah menjelaskan semuanya kepadaku"
"heh nita, kamu jangan cuman dengar dari sepihak dong, kamu dengarin tuh suami mu" kata ibu mertuaku dari depan rumah.
"iya nita, kamu jangan bikin malu lah keluarga kita" sahut mbak pita juga ikut membela mas Ari.
" oh iya yah.. ini yang namanya keluarga?? kalinya berdua juga ikut kan dalam masalah ini?? dan ibu juga kan dalang semua ini?" tanyaku lantang kepada ibu mertua ku.
"kalau iya memang kenapa nita? kamu mau apa?? kata ibu mertua ku.
Ya Tuhan.....
aku yang korban kok malah seolah olah aku yang tersangka ya???
kenapa nasib ku seperti ini ya Tuhan...
apa yang harus aku perbuat?? kuat kan aku....
" mas ini semua ulah kamu, kamu yang selesaikan sendiri," ucap ku kepada mas Ari yang dari tadi tunduk dan malu.
" dan kamu!!! w************n, sekarang kamu boleh pulang, kamu gak ada hak disini" kata ku mengusir Rara yang dari tadi juga malu melihat orang banyak didepan rumah.
para tetangga juga saling berbisik bisik satu sama lain. aku gak tau apa yang mereka bicarakan dan apa yang mereka pikirkan tentang kami.
segera ku tutup pintu dan menarik mas Ari masuk ke rumah. ibu mertua dan ipar ku pun ingin masuk ke rumah, tapi karena pintu udah keburu aku tutup, jadi mereka pun pulang ke rumah nya.
Bersambung..........